Sistem Konglomerat

Sistem Konglomerat
Permen Lolipop


__ADS_3

Sebelum Jono memberikan ikatan, Nindi menginjak kaki penodong itu dengan kuat kemudian dia menendang seperti tendangan kuda kebelakang, dan dia menemukan pusaka kecil di tendangannya.


Penodong itu termundur kesakitan tapi goresan pada lehernya bertambah dalam dan darah lebih banyak keluar.


Melihat adiknya sudah lepas dari todongan, Madin segera bergerak dia memang pandai dalam bela diri, Tapi dua lawannya juga bukan kaleng kaleng yang mencari kematian dengan mudah.


Mereka juga terlatih, Ketika Madina melayangkan tendangannya Lagi, Salah satu menangkapnya dan menahannya untuk tidak bergerak.


Madina segera menarik kakinya tapi tidak bisa. dia pun melambungkan tubuhnya mengangkat kaki sebelah kirinya. tapi hal yang sama terjadi, Kini dua kakinya sedang di pegang dengan erat oleh dua orang yang tertawa melihat paha mulus yang lembut.


"Lepaskan...!" Madina berteriak.


Puk...! Sebuah pukulan dari sapu melayang ke kepala salah satu dari orang yang menangkap kaki Kakaknya. tapi pukulan itu tidak berarti apa apa bagi mereka yang sudah mendapatkan kesenangan.


Ketika Nindi hendak memukul lagi, Satu orang menangkap tangannya dan menarik handuk yang melilit ditubuhnya.


"Bajingan kalian, Toloooong...! Kami di ram..." Mulutnya langsung di bekap dan tak bisa lagi berteriak.


Swooosh.... Satu sosok melompat tinggi dengan dua kaki terbuka langsung menendang dua sosok yang menangkap Kaki Madina.


Setelah itu, Sosok itu melompat lagi dengan menendang dinding dan mengayunkan tangannya ke arah orang yang mendekap Nindi,


Melihat pahlawannya datang dengan tinju, Nindi memberikan sikutannya di dada penjahat itu lalu menunduk hingga ayunan tangan Zai tepat mengenai batok kepala orang itu.


Zai langsung meraih Lina dan memeluknya. "Maafkan aku terlambat, Hingga kalian merasakan pelecehan" Zai melonggarkan pelukannya dan menyentuh darah yang menetes di leher Nindi, Raut wajahnya segera berubah menjadi dingin dan terlihat kejam.


"Mundurlah kebelakang" Pintanya kepada Nindi.

__ADS_1


Nindi segera menjauh dan mendekati kakaknya.


"Luka Mu Nin" Madina segera menyentuhnya "Maafkan Kakak yang tak bisa menjagamu" bulir air matanya jatuh menahan perih dihati.


"Aku akan baik baik saja Kak, Sudah ada Kak Zai juga"


"Apa kalian tau konsekuwensi dari menyentuh wanitaku?" Zai mendekat Dengan tinju yang mengayun bagai raungan yang sangat menakutkan. mengarah kepada orang yang memegang pisau yang sudah berdiri.


Sosok itu mengayunkan pisau nya ke kiri dan kekanan lalu menusuk kearah tinju Zai yang hampir saja mengenainya. Tapi sayang dia salah menilai lawan, Zai tak gentar meski pisau itu akan melukai tangannya.


Dia membuka kepalan tangannya dan menangkap pisau itu lalu meninju dengan tangan kirinya ke arah rahang bawah hingga tubuh penjahat itu melonjak ke atas. setelah itu Zai langsung menendang tepat di leher orang itu.


Braaak sosok itu melayang kebelakang hingga menabrak kulkas dan terduduk tanpa bergerak lagi.


Tiga orang yang menyaksikannya terkejut dengan adegan cepat itu, Mereka mundur perlahan, Tapi Zai tak akan membiarkan mereka lari, Karna hukum saat ini berada ditangannya.


"Jangan harap kalian bisa lari setelah melakukan hal ini" Zai bergerak sambil berucap dengan cepat dia sudah berada di hadapan orang yang kepala nya berdarah diawal. Dia mencengkram leher orang itu dan melemparnya kepada dua orang yang ingin lari.


Bugh Bugh.. dua tendangan langsung mengenai punggung mereka.


"Ma-Maafkan kami, Kami hanya ikut ikutan saja, Dia lah dalang sebenarnya" Salah satu dari dua orang itu menunjuk sosok yang tersandar di kulkas tak bergerak.


"Aku tak peduli siapa dalangnya, Jika sudah berniat menganggu wanitaku, Apalagi sudah berani melukai dan melecehkan maka akan aku hancurkan" Zai mengayunkan kakinya lagi dan menendang dua dagu yang ada di hadapannya. hingga mereka telentang dan kepala mereka membentur lantai.


Zai menginjak pusaka mereka. dia tak lagi memikirkan hal yang lainnya, dia bertindak seperti ini karna sangat marah. Lalu mencekik leher dua orang itu hingga terdengar bunyi Klik.. Dua leher patah dengan bersamaan


Kemudian dia meraih ponselnya dan segera menelpon Bawi. lalu mengatakan untuk membawa mobil yang sedikit besar untuk mengangkut empat orang yang sudah jadi mayat.

__ADS_1


Dua puluh menit setelahnya, Sebuah mobil sampai di didepan kontrakan. turun delapan orang dari Mobil itu dan menemui Zai yang sudah menunggu dalam pelukan dua wanita cantik yang masih ketakutan.


"Kalian berdua masuklah dulu ke kamar, aku akan mengurus semua mayat ini dulu, Ingat jangan keluar sebelum aku masuk ke kamar kalian!"


Madina dan Nindi segera masuk ke kamar dan Zai menutup rapat pintu itu.


"Dua orang bawa motor yang ada diluar dan bawa ke markas" Zai memberi pengaturannya.


Setelah dua orang itu berangkat, Zai kembali berkata "Salah satu dari kalian belilah karung, Buat mayat ini didalam karung dan pindahkan dalam mobil lalu buang kelaut"


"Baik ketua" Bawi segera manyahut lalu dia duduk di sofa setelah Zai meninggalkan mereka dan masuk kedalam kamar Kakak beradik itu.


"Apakah kalian tau siapa empat orang itu, Atau ada diantara kalian berdua yang bersinggungan dengan orang yang berpengaruh?" Zai bertanya setelah menutup pintu kamar itu.


Madina menggeleng, "Kau tau aku seorang pilisi. tapi aku merasa tidak pernah ada orang yang aku singgung atau apakah orang yang selama ini mengejarku yang menyuruh mereka berempat, Tapi rasanya itu tidak mungkin, karna aku tau dia orang yang baik, Hanya saja hatiku sudah jadi milikmu" Ucap Madina


"Aku sepertinya ingat dengan orang yang melukai leherku ini, Dia Ojol yang kemarin mengantar makanan" Nindi segera mengatakannya setelah dia mengingat hal itu.


"Kalau kamu yakin itu Ojol yang kemarin, Kita akan melupakan masalah ini karna sudah berakhir juga,, Bagaimana dengan lukamu sekarang?"


Zai bertanya dengan duduk di apit oleh dua wanita cantik itu.


"Sudah agak baikan setelah di obati tadi, Meskipun terkadang ada rasa perih jika terlalu banyak bergerak" Sahut Nindi yang kini melingkarkan tangannya di lengan Zai dan menyandarkan kepalanya di bahu Zai.


Begitu Pula dengan Madina yang bermanja, "Kakiku juga sakit, Karna mereka tadi mencengkramnya dengan erat" Ucap Madina curhat.


Zai melihat pergelangan kaki Madina yang memang sedikit ada perubahan warna, Karna kulitnya berwarna putih maka kebiruan itu sangat kontrak terlihat.

__ADS_1


"Apa kalian berdua lapar?" Zai segera bertanya.


"Jelas lah, Tapi aku ingin makan yang lainnya, seperti lolipop mungkin" Tunjuk madina keselangkangan Zai


__ADS_2