
Sebuah mobil mewah terparkir di tepi jalan. Lamborghini edisi terbatas berwarna merah cerah harus penyok di tabrak mobil biasa yang dikendarai oleh Zai.
Zai memang memilih untuk tidak terlihat mencolok jadi dia menggunakan mobil biasa yang dipakai untuk ke pasar oleh pembantu.
Seorang gadis cantik berlari menuju Mobilnya. Dia baru meninggalkannya sebentar. Kini sudah penyok di bagian belakang.
Dengan teriakan yang cukup nyaring dia langsung menendang pintu Mobil yang dinaiki oleh Zai.
"Hei apa kau bodoh!?" Teriaknya, tak lupa menggedor pintu.
Zai yang tersadar dari keterkejutannya. Segera dia menurunkan kaca mobil dan memperhatikan gadis cantik itu.
Cukup cantik untuk ukuran seorang gadis yang baru tumbuh. Gadis itu sempat terpana dengan ketampanan yang dimiliki oleh Zai. Namun segera dia tersadar setelah beberapa detik menatap.
"Keluar kau dan ganti rugi. Aku tidak mau tau. Kau harus menggantinya secepatnya. Mobil ini baru dibelikan sebagai kado tadi malam. Sekarang aaah" wanita itu kesal setengah mati.
"Baiklah akan aku ganti, tenanglah nona!"
Gadis itu melirik kearah pakaian yang dikenakan oleh pemuda itu. Dia menemukan pakaian yang cukup bermerek. Namun mobil yang dikendarainya tidak menjanjikan sama sekali.
Sang gadis melipat tangannya didada menopang melon yang bergetar karena emosinya yang semakin meningkat. Lalu berkata "akan aku laporkan kau ke polisi jika tidak bisa mengganti rugi dalam waktu sepuluh menit!" Kata gadis itu.
Zai memanggil Hendri untuk mendatanginya dan meminta pertolongan kepadanya untuk mengurus dan membersihkan kesialannya.
"Bawahanku akan menanganinya sebentar lagi. Aku ada kesibukan yang lain" ucap Zai.
"Kau mau meninggalkan masalah ini begitu saja, tidak semudah itu ferguso!" Ucap gadis itu
Dua menit setelahnya Hendri datang membawakan Mobil sport bugatti.
"Bawahanku sudah datang. Sebagai permintaan maaf. Aku akan mentraktirmu makan siang. Bagaimana?"
Gadis itu mendelik, dia tidak menduga bahwa pemuda itu kaya hingga memiliki bawahan yang mengendarai Bugatti.
__ADS_1
"Tuan muda! Biarkan aku yang mengurusnya, jika sudah selesai akan aku kabari Tuan secepatnya!"
"Terima kasih Hen! Aku tinggal pergi lebih dulu"
Tanpa meminta persetujuan gadis itu, Zai memutar pergelangan tangannya yang dicengkeram oleh gadis itu hingga kini berganti. Dia yang mencengkramnya dan menarik.
"Ayolah! Apapun akan aku penuhi sebagai permintaan maafku" ucap Zai menarik gadis itu hingga kedepan pintu Mobil bugatti. Dia membuka pintu lalu berkata "kita belum berkenalan. Namaku Zai!" Zai mengulurkan tangannya.
"Aku Selly!" Gadis itu mulai tersenyum manis. Lalu dua masuk kedalam Mobil dan Zai menutupkan pintunya. Lalu berputar dan masuk melewati pintu satunya lagi.
"Meskipun pertemuan kita harus melalui sebuah insiden. Tapi aku senang bisa bertemu dengan gadis secantik kamu!" Ucap Zai merayu. Meski tidak ada lagi skil menipu. Tapi bermodalkan tampan saja pun wanita akan percaya dengan rayuan. Apalagi bermodalkan uang!
Selly tersenyum malu mendengar kalimat pujian yang diungkapkan oleh Zai tanpa ragu. Dia mengakui bahwa dia cantik.
Memiliki tubuh yang berkembang sempurna membuat dia banyak dilirik dan diincar oleh lelaki. Bahkan Fansnya ada begitu banyak. Dia seperti idol yang di idolakan oleh kaum adam.
Tapi baru kali ini dia merasakan pujian yang sederhana itu dapat menyentuh perasaannya.
Mereka sampai di sebuah Resto tertentu. Tentunya itu adalah Resto yang dipilih oleh Selly sendiri. Sebab di Resto itu katanya ada masakan spesial yang di favoritkan oleh dia.
Zai turun lebih dulu lalu membukakan pintu untuk Selly. Hal sederhana itu membuat hati Selalu tersentuh. Memang wanita memiliki sisi yang mudah tersentuh jika diperlakukan dengan lembut. Tapi akan memiliki sisi sebaliknya jika salah dalam memperlakukannya.
-
-
-
"Lady First!" Ucap Zai sebelum Selly bertanya kepadanya.
"Baiklah!" Ucapnya dengan tersenyum manis. Lalu memesan makanan sesuai kehendaknya.
Dan pelayan mencatat apapun yang dipesannya. Kemudian Selly menatap Zai dan bertanya. "Kamu mau makan apa?"
__ADS_1
"Apa yang kamu pesan, samakan!" Ucap Zai. Dia tidak terlalu peduli dengan makanan. Sebab tanpa makan pun dia tetap akan merasa kenyang. Walaupun Qi di bumi cukup tipis. Tapi setiap nafasnya menghasilkan Qi yang cukup untuk memenuhi kesehariannya.
"Tambah satu porsi dalam setiap menu!" Pintanya kepada pelayan yang berada di samping berdiri dengan pakaian atasan putih dan bawahan hitam.
"Apakah ada tambahan lagi?" Tanya pelayan itu.
"Tidak ada, itu sudah cukup!" Ucap Selly.
Pelayan itu undur diri meninggalkan dua orang yang tengah berbincang sambil tertawa.
"Hay Selly!" Panggil seseorang dari belakang.
Selly menoleh dan menemukan seorang pemuda berdiri dengan tiga temannya. Dia merasa jijik dan berkata "aku lagi sibuk dengan pacarku. Kau jangan mengganggu!"
Mendengar kata pacar. Zai merasai ini hal yang sering terulang. Dan dia akan menjadi pacar sewaan/pura-pura dan skemanya akan tetap sama meski berbeda kota atau negara.
Dia menghela nafas pelan.
"Apa aku tak salah dengan Selly? Bahkan aku lebih tampan dan keren daripada dia. Atau apakah kau hanya mencari alasan saja untuk menghindariku. Kita ini sudah dijodohkan dari kecil oleh orang tua kita! Ingat Selly kau itu calon istriku! Jika orang lain mendengar atau melihat calon istrinya pergi bersama lelaki lain yang lebih rendah harkat dan martabatnya. Apakah orang tuamu tidak malu?"
"Cih. Siapa juga yang mau denganmu? Mengapa kau tidak kawin dengan ayahku saja? Bukankah dia yang menjodohkan?" Selly menatap jijik orang itu.
"Aku akan membuat video dan menguploadnya di sosial media. Biarkan semua orang tau, bahkan ayahmu tahu bahwa anak kesayangannya telah mencoreng nama baik dengan pergi bersama laki-laki lain dan tertangkap basah olehku calon suaminya"
Fredy mengeluarkan ponselnya dan membuat rekaman video. Tapi Selly tidak mempermasalahkannya. Dia lebih mendekatkan tubuhnya ke arah Zai hingga melon yang berkembang itu menyentuh dan dapat dirasakan oleh Zai.
"Sebarkan saja. Ini juga sebuah keuntungan buatku. Aku tidak takut!" Selly malah menantang.
Tentu saja kata-kata yang diucapkan oleh Selly menikam jantungnya. Apalagi perbuatannya yang kini dilihat oleh kedua matanya.
Tak pernah dia merasa dipermainkan seperti ini. Malu, dia jelas malu. Banyak orang yang memandangnya. Dia seolah dilecehkan harga diri didepan umum. "Kau. Tunggu saja. Aku akan memaksa ayahmu untuk membawa kau ke pelukanku. Dan kau!" Tunjuk Fredy ke arah Zai yang duduk dengan santai. "Mataku akan memantaumu!"
Zai melambaikan tangannya ke arah Fredy. "Aku juga akan memantaumu!"
__ADS_1