
Dua orang dalam satu ruangan sedang berkultivasi. Mereka berdua menyerap esensi yang merupakan energi alam, dimana itu tersebar diantara langit dan bumi.
Dapat dirasakan aura alam yang menyebar itu ditarik sedemikian rupa dan dipaksa menjadi bentuk bola energi ditelapak tangan.
Sudah berapa waktu mereka melakukannya dengan berbagai botol-botol kosong yang sudah dipakai isinya, terberai tak tentu arah. Bola energi yang mereka ciptakan masih sangat lah kecil, bukan seperti yang mereka harapkan. Namun mereka tetap bersukur karna untuk energi dunia ini sangatlah tipis sekali. Entah kapan mereka akan bangun dan mengetahui bahwa apa yang mereka miliki, Saat ini sudah berganti pemiliknya.
.............
Zai membawa Mei Chan kedalam rumah yang menjadi markas besar organisasi kultivator. Sekarang semua itu miliknya dan tidak ada yang bisa mengganggu gugatnya.
"Apakah kau tau dimana Kak Jun berkultivasi?" Zai bertanya kepada Mei Chan yang kini duduk disampingnya.
"Dia biasanya ada di sebuah pulau ditengah laut, tapi aku tidak tau pasti yang mana pulau yang dia tempati sekarang, karna seringnya dia berpindah-pindah lokasi" sahut Mei Chan.
"Aku akan menyuruh yang lain untuk memeriksa semua pulau yang ada di indonesia" kata Zai dengan gampang. Jika bagi orang lain itu akan sulit, tapi baginya itu adalah hal yang sangat mudah. Dengan kekuasaan dan banyaknya uang serta bawahan, hanya perlu beberapa hari untuk menemukan pemimpin organisasi dan satu orang lagi yang tidak tau rimbanya kemana.
"Apakah kau mau ikut, aku mau berkunjung ke suatu tempat" kata Zai.
Mei Chan menggeleng, "biarkan aku disini. Jika Kak Jun keluar dari pelatihan dan datang kesini, Maka aku bisa menghubungi secepatnya dan membuat seolah tidak pernah terjadi apapun sebelumnya." Katanya bergelayut manja. "Sebelum kamu pergi, bisakah kita melakukannya lagi?" tanya Mei Chan dengan sedikit malu dan pengharapan.
"Tentu!" sahut Zai. Jika wanita meminta. Tak elok jika menolaknya.
Mereka berdua pun menuju kamar yang sebelumnya menjadi saksi bisu pertarungan mereka berdua dan mulai melakukan aksi yang memang mereka sepakati.
__ADS_1
............
Dua jam terlewat.
Kini Jam sudah menunjukan pukul 19:20 dan Zai berada didepan rumah yang cukup besar dan memiliki halaman luas.
Ada momen dimana dia mengingat suatu kesalahan dimana dia terus dipukuli dibawah pohon oleh sepupunya. Anak dari Alfi, Kakak ibunya yang kebetulan pernah bertemu dihotel waktu itu.
Dia melihat sekeliling dan membunyikan klakson. Satu orang Satpam datang membuka pintu pagar kecil disamping dan bertanya "Ada urusan apa?" tanyanya Satpam itu datar dan sedikit wajah kesal karna membunyikan Klakson pada malam hari dan mengganggu dia yang sudah terlelap. Dia menatap Zai dengan ketidaksenangan, Menurutnya jika orang penting akan membawa Mobil mewah kerumah itu. Tapi ini hanya Xenia. Meskipun tidak butut, itu biasa saja. "Jika tidak ada urusan penting pergi saja. karna tidak ada orang dirumah ini. Semuanya sedang keluar kota" kata Satpam itu lagi.
"Bagus" Zai mengacungi jempolnya kepada Satpam itu lalu melakukan panggilan.
"Aku sedang diusir oleh Satpam, jadi aku tidak bisa menemuimu didalam" kata Zai. Dia tak perlu mengeluarkan amarah hanya untuk seorang Satpam. hanya perlu memanggil yang ada didalam saja untuk menyelesaikan urusan yang ditunda.
"Tidak perlu membual dengan berpura-pura kau menjadi salah satu tamu dirumah ini, Aku tau para tuan muda yang tinggal disini selalu membawa teman yang setidaknya memiliki Mobil Sport tidak seperti ini" katanya lagi mencibir seraya menunjuk Mobil Xenia yang dipakai oleh Zai.
Zai hanya tersenyum menanggapi, namun dia tidak pergi dari sana dan Mobilnya pun tidak dimatikan. 'Sampai pada satpamnya pun sombong, sombong yang tidak ketulungan. Aku merasa malu jika ingat memiliki garis darah dengan mereka. jika bisa aku akan membuang hal itu ' Dia menggeleng melihat Satpam itu melambai tangannya terus mendesak Zai untuk pergi
Tidak berapa lama, Seseorang terlihat berlari dan menuju gerbang besar dengan tergesa-gesa.
Orang itu tidak lain adalah Sakti. Anak sulung dari Pak Anggoro. Dia memang jarang ada disana dan juga tidak tinggal disana. Tapi karna Zai menghubunginya sebelumnya dan mengatakan akan berkunjung, dia langsung senang dan lebih dulu mengatur sebuah perjamuan didalam rumah.
Namun dia harus mendapat panggilan lagi yang membuatnya tidak senang, karna Satpam berani mengusir dan membual tentang.
__ADS_1
"Mur! apa yang kau lakukan? Dia adalah tamuku, mengapa mengusirnya? apakau tak ingin hidup lagi, Hah?" Sakti murka dengan banyak pertanyaan dimulutnya yang keluar.
Orang yang dipanggil Mur atau Murjani nama lengkapnya langsung menggigil, menggigil bukan karna kedinginan, melainkan karna ketakutan.
Orang yang paling berpengaruh dari keluarga Anggoro selain tuan besar Anggoro adalah Sakti anak pertama yang jarang bicara. Tapi ketika bicara dan marah dia akan meneriaki orang itu dan terkadang akan memukulnya.
Beruntung Murjani ini tidak langsung digampar hanya ditanya apakah mau hidup atau tidak. Tentu dia memilih hidup.
"Maafkan aku Tuan! aku salah" ucap Murjani dengan berlutut ditempat menghadap ke arah Zai. Dia tau jika hanya meminta maaf ke Tuan Sakti, pasti tetap akan disalahkan. Makanya dia langsung berpikir cepat, dan dari pikirannya itu dia langsung uraikan. Seperti sekarang dengan memohon ampun kepada orang yang sebelumnya dia rendahkan.
"Aku tak mengurusi tentang hidupmu, karna kau tidak bekerja denganku. Sakti! urus dia dengan baik" kata Zai dia menutup kaca Mobil. Sakti sendiri langsung membuka lebar gerbang besar itu hingga memungkinkan Mobil Xenia itu masuk kedalam pekarangan.
"Mulai hari ini kau ku pecat, jangan mengeluh karna ini demi kebaikanmu sendiri" ucap Sakti meneriakan Murjani yang terduduk lesu.
Inilah namanya kesombongan yang tidak baik dan membawa kerugian bukan keuntungan.
Sakti meninggalkan Murjani yang masih terduduk tak menerima kenyataan pahit itu. Dia tidak lagi memperdulikan orang yang sudah dia pecat dan bergegas menuju Mobil Zai yang sudah terparkir.
"Silahkan masuk Tuan Muda" Ucap Sakti dengan sopan. Dia menghilangkan adab yang harusnya dia yang menerima perlakuan seperti itu, tapi dia memahami orang yang ada didekatnya ini layaknya gunung yang kokoh tak bisa untuk dirubuhkan.
Zai mengangguk, hal itu sudah pasti dia lakukan. Meskipun dia tidak pernah bersinggungan dengan sakti dalam keluarga Anggoro. Tapi dia tetap menerima kesopanan itu sebagai bentuk Tuan Muda dari bawahannya.
Langkah kakinya untuk pertama kali dalam sejarah hidupnya menginjak lantai didalam rumah itu. Jantungnya merasakan sesak dan ada bagian yang dia ingin tunjukan kepada mereka yang pernah menghina keluarganya dan tak pernah mengijinkannya masuk walau untuk bertemu seorang Kakek yang bernama Anggoro.
__ADS_1