
Di pinggiran kota, atau lebih tepat nya di depan markas Tiger White yang berada di Gedung lama, Yang sudah tidak terpakai lagi.
Entah akses dari mana yang membuat Mahendra sebagai ketua nya bisa membuat markas besar nya di Gedung bekas itu. Torax belum bisa menyelidiki nya secara keseluruhan.
Torax dan Amat berdiri di depan pintu besar itu. Dan menunggu Penyampai pesan datang membawa Mahendra kehadapan nya.
Sementara di dalam, Mahendra di iringi ratusan orang berada di belakang nya berjalan dengan penuh dominasi nya. Sedangkan Angga memberi kabar nya kepada Anggoro, Bahwa Torax sekarang berada di markas Tiger White.
Pintu besar begetar dan terdorong ke samping dengan dua orang yang mendorong nya
Menampil kan sosok gagah yang terlihat kuat dan punya tubuh kekar. Di tambah ratusan orang yang siap menghukum.
"Aku tersanjung melihat sosok yang terkenal di masa lalu mengunjungi tempat ku yang biasa ini" Ucap Mahendar yang maju satu langkah.
"Begini kah sambutan dari ketua Tiger White untuk seorang senior" Sahut Torax tersenyum.
"Haha haha, Maaf karna aku tidak sempat menaburi bunga di lantai untuk menyambut mu, Jadi ada keperluan apa sang legend berkunjung" tanya Mahendra sambil menatap remeh.
"Haha haha Tidak perlu bertabur bunga, Aku hanya ingin orang orang tau, Bahwa aku, Torax masih memiliki taring yang tajam"
Prok prok prok "Memang Sang Legend yang bisa seperti itu, Tapi seharus nya kamu duduk saja dirumah menikmati masa tua hingga ajal menjemput, Biarkan kami yang muda yang menggantikan ketenaran mu di masa lalu" Ucap nya.
"Bagus, Sangat bagus, begini saja, Bagaimana jika kita mengadakan pertandingan tiga lawan tiga untuk menghindari kerugian dari anggota, Tunjuk kan keberanian mu dengan menerima tantangan yang tua ini!"
"Ooh hoo, yang muda tak mungkin mengalah, Baik aku akan meminta dua anggota terbaik ku, dan satu nya lagi aku sendiri yang akan menantang mu" Ucap nya dengan tatapan tajam yang seakan menusuk.
"Ide bagus, tulang tua ku sudah tidak bisa bertarung seperti dulu, Tapi aku sudah menyerahkan posisi ketua dengan orang lain, Bisa kah kita bertaruh"
Mahendra mengernyitkan dahi nya, "Baik lah, Aku ingin beradu pukulan dengan pewaris Macan Hitam yang baru, Apakah dia pantas bersaing dengan ku di kota ini, Jika aku menang, Macan Hitam akan tunduk dengan ku, Bagaimana?" Ucap nya.
Zai keluar dari mobil nya dengan pakaian santai nya. Langkah kaki nya biasa saja, Tidak ada aura dominasi yang keluar dari nya. "Jika kami menang apa yang bisa kamu berikan?" Tanya Zai yang sudah berada di samping Torax.
__ADS_1
Mahendra menelisik Zai dengan seksama lalu berkata meremehkan "Jadi bocah ini yang akan menjadi pemimpin Macan Hitam selanjut nya, ckckckck Sangat menyedihkan, Tidak perlu tiga lawan tiga, jika dia bisa mengalahkan ku di pertarungan, Maka aku akan tunduk sebagai tangan kanan nya, Tapi jangan salahkan aku, jika tangan dan kaki nya patah, karna aku tak akan menahan kekuatan ku" Ucap nya lantang.
Semua anggota tersenyum mendengar ucapan Mahendra, mereka sudah tau kekuatan dari ketua mereka yang sanggup melawan banteng hidup.
"Ini adalah kemenangan besar yang sudah di pastikan"
"Kau benar, Ini akan jadi sejarah, dan orang dari luar kota akan segan jika mendengar nama besar kita yang dapat mengalahkan Organisasi legend"
Mereka pun tertawa di belakang dan bersiap merayakan kemenangan.
"Ayo kita Ambil bir beberapa peti, Kita harus merayakan nya" Ucap Anggota yang ada di belakang
Beberapa orang pun bergegas masuk kedalam markas mengikuti nya untuk mengangkat beberapa peti.
"Kamu terlalu percaya diri, Tapi aku suka dengan itu" Ucap Zai lalu menggulung lengan baju nya dan maju tiga langkah.
Mahendra juga maju tiga langkah dan mereka kini berhadan hanya berjarak tiga meter saja.
"Orang tua, Mengalah lah, aku tak ingin tulang rapuh mu remuk karna tinju ku ini" Ucap Zai membalas sambil meniup kepalan tangan nya.
"Kau sangat meremehkan ku Nak" Ucap nya, Lalu bergerak berlari kemudian melompat dengan ayunan tangan yang mengarah ke kepala Zai.
Melihat lawan yang tak bergerak Mahendra kembali mendengus "Jika kau ingin mati, akan aku kabulkan
Zai hanya berdiam diri saja, Dan bahkan belum bergerak meskipun di celoteh oleh lawan
'Sistem, berapa lama lagi proses peningkatan kekuatan dan kecepata nya berakhir' tanya nya melalui pikiran.
(Menghitung mundur 100...... 99)
Swoosh pukulan nya menderu membawa angin yang siap menghancurkan kepala lawan. Zai melompat mundur untuk memperlebar jarak sambil menunggu proses selesai.
__ADS_1
"Apa kau takut beradu pukulan dengan ku hingga menghindar?"
(50.... 45...)
Zai tersenyum, "Bukan aku takut, Tapi lihat ketidakmampuan mu dalam menyentuh ku, Menghindar juga salah satu dari pertahanan" Ucap nya.
Marah, Jelas Mahendra marah, Jika orang yang lebih kuat menurut nya yang mengejek, mungkin dia akan terima, Tapi ini bocah yang baru menginjak dunia sudah berani, sungguh dia akan malu jika tidak membunuh orang yang menjadi lawan nya ini.
(20.. 13..)
Zai tersenyum mendengar suara dari Sistem yang menandakan proses akan segera selesai. Dia melompat ke samping lalu memiringkan tubuh nya kala tendangan Mahendra seperti menusuk ke arah depan.
Zai memukul kearah wajah, tapi mahendra berbalik ke belakang dengan kaki terangkat dan tangan menapak lantai. Dia berpurtar dua kali dengan cara itu..
(54321 Proses selesai, kekuatan dan kecepatan sudah di tingkatkan)
"Kali ini giliran ku" Gumam Zai.
Zai berlari kedepan karna jarak mereka kini tidak berada pada jarak yang mudah dalam melakukan serangan. Setelah satu meter mendekat dia melompat setinggi setengah meter, Dengan kekuatan dan kecepatan yang meningkat pukulan nya akan sulit untuk di hindari.
Mahendra dengan trik yang biasa dia lakukan dalam latihan, dia juga melayangkan pukulan cepat yang seperti bayangan jika di lihat oleh mata biasa.
Tapi mata Zai cukup tajam, Dia melihat celah nya dan memasukkan kepalan tangan nya di sana.
Braaak...! Mahendra termundur karna tak dapat menangkis pukulan Zai, Dan terlihat oleh semua oramg hidung nya mengeluarkan darah. 'Ini memalukan'
"Ternyata yang di katakan Tiger itu hanya anak kucing hutan" Zai memprovokasi nya, membuat kemarahan Mahendra semakin memuncak.
Dia menyeka darah yang keluar dari hidung nya yang bengkok, Dia merasakan sakit disana. Dan kini dia mengayun kan lagi tinju nya dengan raungan kemarahan. Mencecar Zai dengan berbagai pukulan, sikutan, dan tendangan yang masih bisa Zai tangkis dengan baik.
"Mengalahlah orang tua" Ucap Zai di sela serangan nya. Sambil menangkap tinju Mahendra dan menggengam nya dengan erat, kemudian menekuk nya kebawah.
__ADS_1
Aaaaaaaaaaaaaaa teriakan panjang keluar dari mulut nya, bukan teriakan menertawakan tapi teriakan kesakitan akan pergelangan tangan nya yang seperti nya terkilir..