Sistem Konglomerat

Sistem Konglomerat
Tugas Sampingan diantara tugas utama


__ADS_3

"Tidak masalah Kak" sahut Bella dengan senyuman manisnya lalu mengulurkan tangannya kepada orang yang berada dihadapannya.


"Salam kenal, Aku Bella!" Ucapnya.


Farhan terdiam, Katanya terbungkam oleh kecantikan yang mengalihkan dunianya. 'Hanya dengan menatap matanya saja, aku bisa merasakan seperti ada pelangi yang indah bertengger disana. ada kesejukan yang dalam pada tatapan' Farhan segera menyentuh dadanya.


Melihat kelakuan adiknya, Zai segera memberikan senggolan, "Kenapa dengan jantungmu, Apakah sakit" Ucapnya lagi "Tuh sambut tangannya, Masa di biarin ngegantung"


Farhan sekali lagi melihat ke arah tangan Bella dan mengulurkan tangannya juga yang sebelumnya tersimpan dibelakang.


"Farhan!" Sahutnya.


"Adik Kakak ternyata Pemalu" Candanya lalu Bella pergi sambil melambaikan tangannya.


Zai mengetuk pintu ruang kepala sekolah sambil terus tertawa kecil melihat wajah Farhan.


"Sudah Kak, Aku malu"


"Tadi bilangnya sudah bukan anak kecil lagi waktu bicara sama Nenek, Tapi Kok malah merah gitu wajahnya ketemu sama Bella, Apa jangan jangan-"


Belum selesai Zai bicara pintu segera terbuka.


"Maaf ada keperluan apa?" Kepala Sekolah itu bertanya sambi tersenyum, Dia seorang wanita yang cukup berumur dengan kisaran umur Tiga Puluh Lima tahun dengan berat badan yang lumayan berisi.


"Ah iya Bu. Maaf sebelumnya menggangu, Saya hanya ingin mendaftarkan Adik saya sekolah disini, Bisakan?" Zai menjawab sekaligus bertanya.


"Oh. tentu, Silahkan masuk kedalam" Ucapnya.


Setelah beberapa waktu berlalu Dan semua Administrasi berhasil dilakukan. Farhan langsung di arahkan oleh salah satu guru menuju kelasnya sedangkan Zai tetap bertinggal di ruangan Kepala Sekolah.


"Jadi apa yang ingin kau bicarakan lebih lanjut?" Tanya Winarti selaku kepala Sekolah sambil mengedipkan mata menggoda pemuda didepannya karna Paras yang luar biasa.


Sedikit informasi, Winarti menjabat sebagai Kepala sekolah menggantikan sang ayah pemilik dari sekolah itu sendiri dan dia masih lajang.


"Karna adik saya sekolah disini, tentu tak elok kalau sayang tidak mendonasi beberapa ribu untuk sekolah ini kan? jadi bisa kah ibu memberikan rekening untuk ku?"

__ADS_1


"Jangan panggi ibu dong kalau tidak ada orang, Aku masih lajang lo" Ucap Winarti mempromosikan dirinya.


Zai mengernyitkan keningnya 'Sepertinya Kepsek ini terpesona' "Oh ibu masih lajang, Semoga ibu lekas dapat pasangan. Ngomong ngomong mana rekeningnya biar, saya masih ada kegiatan yang cukup mendesak siang ini" Ucapnya lagi


"Apakah tidak bisa lama, Boleh tidak minta Wa kamu tampan" Ucap nya lagi merayu sambil menyodorkan Rekening Bank atas nama sekolah.


Zai segera mengambil ponselnya dan mentrasfer sejumlah uang lalu dia mengulurkan tangan "Saya permisi dulu Bu, Masih ada lain waktu" Ucapnya lalu pergi setelah berjabat tangan sebentar.


Zai bergidik bahunya saat menutup pintu dia menarik nafas yang dalam sebentar lalu menghembuskannya. dan berjalan menuju Mobilnya.


..............


(Ding.. Tugas baru terpicu)


(Rincian Tugas : Buat sebuah perusahaan baru di bidang teknologi)


Ya/tidak


'Ya'


Zai segera mengambil ponselnya yang berada dalam saku celana setelah dia mengomfirmasi tugas baru "Mon, Bagaimana dengan permintaanku?"


Entah mengapa, Setelah meminum paksa Pil Milik Zai, dia merasa harus tunduk dengan orang itu, Kadang dia merasa aneh dengan dirinya. tapi dia merasa dirinya lebih kuat dari sebelumnya dan banyak hal baru yang dia dapat, Ada rasa ketenangan dan damai yang selama ini tidak dia dapat meski bergelimang harta dan wanita, Dia merasa hidupnya selalu diujung tanduk hingga untuk tidur pun terkadang akan kesulitan memejamkan mata.


"Atur saja dulu, Aku akan berkunjung jika kau sudah menyelesaikan semuanya" Ucap Zai lalu mengakhiri panggilan dan mulai menghidupkan mesin Mobil dan melaju kembali kejalan utama.


.............


Enam Orang sampai di Puri Mansion Jakarta Barat, Jaya membuka gerbang dengan kunci yang sudah diberikan oleh Zai. Kemudian Sadam memasukan Mobilnya.


"Sayang, Besar sekali rumah ini" Halwa berdecak kagum melihat sekitar ketika dia turun dari Mobil.


Dia memang tidak terlahir dari keluarga kaya jadi belum beradaptasi dengan gaya orang kaya.


"Kamu jangan heran, Semua yang dimiliki tuan mudaku, adalah hal yang selalu bagus" Sadam segera mengatakan hal itu agar Halwa tidak terkejut lagi nantinya jika mendapati suatu yang luar biasa.

__ADS_1


Sadam membuka garasi, Ketika dia menaikan pintu garasi itu, Segera terlihat tiga buah Bugatti mewah yang mempesona berjejer rapi satu barisan memanjang kebelakang.


Kini giliran Silvia yang terpesona melihat Mobil Mewah itu, dia berlari segera dan menyentuh Bodynya dengan ujung Jarinya, dia ingin sekali melompat kedalam dan duduk disana Tapi suara Jaya menghentikan Niatnya "Jangan, Nanti tuan muda marah, Itu masih baru. bisa dilihat dari kursi yang masih terbungkus" Ucapnya.


Mereka semua memandang Mobil itu dengan penuh minat.


"Lebih baik kita masuk dan cari kamar masing masing" Sadam kembali bersuara membuyarkan hayalan dua wanita itu, Hanya siti yang tidak menonjolkan keinginannya melihat Mobil mewah itu, entah tidak berminat atau dia terlalu pandai menyembunyikan keinginannya.


"Apa kau tidak menyukainya?" Jani bertanya sambil menggenggam jemari tangan Siti lalu melangkah mengikuti semua orang yang sudah duluan memasuki Rumah.


"Siapa yang tidak suka, Tapi begini saja aku bahagia, Asalkan bisa bersamamu selamanya" Sahut Siti dengan senyum gembira dia menyandarkan kepalanya pada bahu Jani sambil mereka berjalan bersama.


...............


Zai melajukan Mobilnya dengan santai dan dia melihat seorang wanita yang sepertinya membutuhkan bantuan dia pun segera menepikan Mobilnya dikiri jalan


(Ding Misi tambahan terpicu)


(Rincian Tugas : Tolonglah wanita yang sedang membutuhkan pertolongan.


Ya/Tidak


'Ya'


Segera Zai turun dari Mobil, Tanpa tugas pun dia akan menolong, karna menabur kebaikan itu akan berbuah kebaikan yang banyak nantinya.


"Apakah Ibu perlu bantuan?" Tanya Zai dengan sebuah senyuman yang memikat.


"Emangnya tidak merepotkan?" tanya balik ibu cantik itu.


"Tidak, Biar saya yang mengganti Ban nya, Kasian ibu, Cantik cantik masa ganti Ban sendiri" ucap Zai lalu berjongkok dan mengambil pralatan yang sebenarnya sudah ibu itu siapkan.


'Seperti pernah melihat pemuda ini, tapi dimana ya'


Selama wanita itu berpikir Zai pun menyelesaikan pergantian Ban yang dilakukannha, lalu dia berkata "Apakah ibu ada Tissu?" sambil menengadah dia bertanya.

__ADS_1


"Ada di dalam, Ibu ambilkan" Segera wanita itu mengambilkan Tissu yang masih utuh yang belum terbuka segelnya


"Terima kasih Bu, Semoga tidak ada lagi kendala pada Mobil ibu," Zai segera mengembalikan tissu itu setelah menyimpan semua pralatan dongkrak dan yang lainnya. "Aku Permisi dulu Bu, Hati hati dijalan" Ucapnya lagi


__ADS_2