Sistem Konglomerat

Sistem Konglomerat
Menangkap


__ADS_3

Rumah mewah yang berdiri tegak tanpa gentar dengan hal apapun yang terjadi didalamnya.


Satu orang kini menghadapi Enam orang yang tidak kalah kuat dengannya terlebih lawan memakai senjata. Meski tidakpun akan kesulitan baginya untuk mengalahkan Enam orang itu.


Namun Bram bukan anak kemarin sore juga yang akan menyerah hanya karna gertakan semata. Baginya yang sudah berkecimpung dan menjadi penguasa bawah tanah. Gertakan hanyalah sambal acan yang terkadang hanya pedas dilidah saja.


Bram kembali ke Mode tenangnya, Dia mengambil cukup banyak nafas yang dalam dan berkata. "Apa untungnya kalian menangkapku? Aku bisa memberikan kalian apapun itu. jika kalian mengikutiku! Ada banyak harta yang kumiliki bahkan wanita mana yang kalian ingin akan aku berikan" Bram ingin bernegosiasi dengan enam orang itu, Pikirnya, jika otot tidak bisa makanm dengan otak menghadapi, tentunya. Tapi tidak ada yang bersuara diantara Mereka, Mereka hanya saling pandang saja.


Bram menggertakan giginya kesal "Atau kalian bisa memiliki rumah ini. aku akan memberikannya" Ucapnya lagi, dengan sedikit nada yang tinggi dia bukan orang yang terlalu penyabar. jika terlalu lama diabaikan tentu dia akan meluapkannya.


"Tangkap dia, Bos akan senang mendapat hadiah ini!" Kata Sadam, Kata itu adalah perintah yang tak bisa diabaikan.


Segera dua orang yang sempat terhenti itu bergerak. dibantu oleh dua orang lainnya. Bram terlihat pucat. dia menarik lemari kaca yang ada disampingnya dan merobohkannya ke arah dua orang itu kemudian melompat ke sisi yang berbeda agar tak terkena imbasnya.


Tapi dua orang itu berguling cepat hingga tidak ada yang terkena lemari itu. dua orang yang menyusul melemparkan pisau kecil ke arah kaki Bram. Namun tidak akurat. Pisau itu melenceng. Bram tersenyum meremehkan. tapi hal yang tak terduga. pisau itu hanyalah pengalihan semata.


Beng!! pukulan berat Sadam menyarang dirahang Bram. Tulang rahang tuanya sedikit bergeser.


Bram mengalirkan energi Qi ke rahangnya untuk mengurangi sakit. Belum dia bangkit berdiri, satu serangan kaki mengarah lagi kepadanya. tapi dia dapat menangkis dengan tangan bahkan dapat memberikan pukulan yang mendorong Bawi mundur kebelakang.


Dia bisa menggunakan Qi dalam pertarungan, Namun Qi yang dapat dia keluarkan tidak mampu bertahan lama.


Sadam melihat ada balutan energi berwarna biru di kedua lengan Bram, Dia pun hanya berdecih saja. "Kau kira hanya kau yang bisa." Sadam segera mengeluarkan Qi yang lebih baik dari punya Bram. tentunya itu lebih sangar dengan derak listrik berada dilengan kanannya.


Disusul oleh lima orang lainnya yang juga mengeluarkan hal yang sama, meski tidak lebih baik dari apa yang dikeluarkan oleh Sadam.


Namun itu membuat Bram mengucurkan banyak keringat.

__ADS_1


"Apa kalian dari Organisasi kultivator? Bukankankah aku juga anggota. Meski diperingkat rendah. mengapa aku hendak ditangkap?" Bram mengajukan pertanyaan yang sia-sia. Mereka mana tau, Tapi hanya berpura saja.


"Kau sudah tau. mengapa tidak menyerah?" Bawi yang kini bersuara. Dia tidak mengiyakan, juga tidak mengelak. "Jika kau tidak melawan, Kami tidak akan menyakitimu" Ancam Bawi dengan tatapan yang melotot. karna hanya mata yang nampak yang lainnya tertutup seperti seorang ninja.


"Baik, Aku akan menyerah" Bram menghilangkan energi Qi ditangannya dan berdiam.


Bawi memandang Sadam dengan senyuman dan Sadam memberikan tanggapan dengan mengangguk. "Ikat dia!" Perintah Bawi kepada Empat lainnya.


Ke empatnya segera bergerak merentangkan tali panjang dan melilitkannya ditubuh Bram. lalu menutup kepalanya dengan kain hitam yang sudah disiapkan.


"Ayo bawa keluar" Perintah Sadam.


.............


"Terima kasih Pak Salim atas waktu yang kau luangkan" Zai tersenyum dan menyalami Salim.


"Besok aku akan kembali kesini untul mengambil hasilnya"


"Baik, aku akan tunggu dan mempersiapkan acara sederhana untuk menyambut Pak Zai"


Setelah melewatkan banyak omong kosong. mereka berpisah. Zai membawa Amanda yang hanya diam.


"Kau cukup pendiam untuk seorang gadis yang pandai bela diri" Zai menyenggol bahu Amanda "Aku ingin menikmati hari ini bersamamu. Mungkin saja besok aku akan mati ditanganmu" Zai tersenyum mencandai Amanda. "Hei cobalah tersenyum, Karna ku yakin bunga akan malu melihat senyummu lebih indah daripada mereka" Zai memegang kepala Amanda dan menatapnya.


Mendengar kalimat pujian, Hati wanita mana yang tak bergemuruh. Bagai karang yang baru diterpa ombak sedang. sejuk menyenangkan.


Amanda merasakan panas di wajahnya. Pipinya bersemu merah melambangkan dia malu dan ada sedikit terbias senyumannya. yang memang bisa menggetarkan dada

__ADS_1


"Nah begitu lebih cantik" ucap Zai lagi.


"Sedari tadi, memangnya aku tidak cantik?" Amanda menatap Zai dan bertanya dengan sedikit kesal diwajahnya.


Zai meraih dagu Amanda "Tentu cantik, tapi yang ini lebih, Bahkan aku slalu berdebar ketika didekatmu, Ingin selalu bersamamu setiap waktu" Gombalan Zai akhirnya keluar. Salah satu Skill Menipu yang dimilikinya mampu meyakinkan Amanda, dan meletakan bunga cinta yang mekar dihatinya.


"Terima kasih" Sekalipun kata itu tak pernah keluar dari mulutnya jika berhadapan dengan orang lain. tapi kali ini, Kata itu mengucur sempurna tanpa terbata.


'Antara cinta dan dendam, inilah yang kurasakan saat ini. Dilema menyerbu hati, memenjarakannya, mengekangnya dan menahannya dengan emosi yang sulit dikendali. Baginikah caramu (Author) membuatku jatuh cinta. Tidak adakah jalan yang lebih indah ketika aku mengenalnya. mengapa harus disaat hati dan pikiran bertentangan untuk menerimanya. Tolong (Author) pilihkan jalan terbaik dari yang terbaik untuk jodohku'


Zai tidak tau apa yang dipikirkan oleh Amanda. Dia masih memegang dagu yang sedikit terbelah. Bukan karna luka, itu terbentuk secara alami dan menambah kesan cantiknya.


"Ayo jalan, Anggaplah hari ini adalah hari terakhirku melihat dunia" Ucap Zai lagi, Dia membuka jemarinya dan mengaitkan dijemari Amanda lalu menariknya. Itu adalah sebuah kehangatan yang dapat dia berikan kepada Amanda.


Dan ini adalah kesempatan untuk menaklukan hati Amanda yang sedikit lebih keras dari wanita-wanita yang dimilikinya sebelumnya.


Kini Zai mengemudikan Range Rover milik Amanda. sedang Mobilnya ditinggalkan di Parkiran Exsklusif di Rumah Sakit. Dan akan dibawa ke Bengkel untuk perbaikan.


"Kamu mau kemana sayang?" Zai menatap Amanda. dia terus banyak bicara hanya untuk meluluhkan wanita itu.


"Terserah"


Zai tidak lagi berbicara. dia melajukan Mobilnya menuju pegunungan. Ingin menikmati hawa sejuk pegunungan dan menunggu momen Sunset yang indah disana.


Setengah jam berlalu, Itu cukup lama bagi dua orang yang tidak saling bicara dan asyik dengan pikiran mereka masing-masing.


Mobil menepi ketika tiba disebuah tebing, Zai menghentikannya. "Temani aku untuk melihat Sunset"

__ADS_1


__ADS_2