Sistem Konglomerat

Sistem Konglomerat
Emosi


__ADS_3

Dibawah sinar rembulan yang redup. Tidak ada lampu jalan yang membantu menerangi.


Delapan orang dengan tangan memegang sebuah senjata mengarah dengan pasti. Tujuannya sama. Yakni, satu mobil yang berjarak lima puluh meter dari tempat mereka berdiri sekarang.


Mereka tidak mengira lawan membawa senjata. Untungnya mereka selalu mempersiapkan diri dari segala kemungkinan.


"Dua orang mendekat dan jadi pengalihan!" sang pemimpin berkata pelan.


Meski mereka ragu dengan cara ini, tapi tetap dua orang maju dengan mental baja menguatkan hati dan menerima nasib. Karena ini per taruhannya nyawa. Bukan main-main, seperti dua teman mereka yang lebih dulu mati tertembak karena tak siap dengan keadaan.


Zai dapat merasakan lewat udara ada yang mendekat dari sebelah kanan dan kirinya. 'Jika aku naik ke atas, enam orang akan langsung menembakku, pilihannya hanya kolong mobil saja' dia harus berpikir cepat, segera dia tiarap dan masuk kedalam kolong Mobil yang sedikit lebih aman. Ketika empat kaki semakin dekat. Dia langsung menembak. Dua tembakan bergantian keluar dan merobohkan dua orang itu. Kemudian dia hadiahi lagi dengan tembakan selanjutnya.


Dua orang mati lagi dengan tragis. Dengan kepala yang berlubang.


"Dia sudah menembak enam kali, hanya ada satu peluru saja yang tertinggal. Tak mungkin dia membawa pistol lebih dalam pakaiannya." Kata sang pemimpin. Temban ban Mobil itu agarbdia terjepit dan kita bisa langsung membakarnya dibawah sana" sambungnya lagi.


"Baik" sahut salah satu yang mendekat. Mereka Bukan penembak jitu jadi akan sulit menembak dalam jarak lima puluh meter.


Door! Cusss! Ban langsung mengempes dan benar saja. Zai mulai terjepit. Jika keempatnya ditembak otomatis dia akan terkurung di bawahnya.


"Ini tidak bisa dibiarkan" Dia menembak sembarang. Mencoba mengenai salah satu, tapi itu hanyalah trik agar penembak itu mengira dia sudah kehabisan peluru. Dan mungkin mereka akan bertindak gegabah.


Dan benar saja, ketika Zai keluar. Seseorang langsung berteriak. "Kau sudah terkepung cepat keluar!"


'Apakah semua sudah siap?' Tanya Zai kepada sistem dalam pikirannya.


(Tuan bisa mengatur jubah perang sesuka hati dengan mengalirkan Qi keseluruh tubuh. Senjata apapun tidak akan pernah menembusnya. Bahkan nuklir sekalipun) kata Sistem.


Kalimat itu sungguh membuat Zai terperanjat. Dia tak menyangka bahkan nuklir yang bisa memusnahkan setengah kota tidak dapat menembusnya. 'Ini memang tidak bisa dipakai dengan akal. Logika tidak bisa dipakai jika dengan sistem pendukung seperti ini' batinnya tertawa senang.


Zai merangkak dengan pistol M1911 yang disembunyikan di balik pakaiannya. Dan satu ditangan kanannya sebagai pengalihan

__ADS_1


Tujuh orang mendekat dengan hati-hati. Satu orangnya lagi berkata "buang senjatamu!"


Zai menuruti saja. Dia membuang pistolnya ke aspal.


"Tendang kesini!" ucap orang itu lagi, berteriak menatap tajam pemuda itu dalam keremangan malam.


Ketika salah satu mengambilnya. Zai langsung menghadiahi dengan tembakan beruntun yang keluar hampir setiap detiknya tanpa bernafas.


Door! Door! Door! Enam kali tembakan terdengar


Enam orang terjatuh tanpa tau kematian yang cepat menghampiri mereka, dengan semua orang yang memiliki kepala berlubang. Zai sengaja menyisakan satu, entah itu pemimpinnya atau anak buahnya. Dia tak terlalu peduli hal itu. Sekarang langkah kakinya begitu mendominasi perasaan orang yang tersisa.


Orang itu jatuh terduduk dengan perlahan bau pesing tercium menyengat. Jika ada banyak orang pasti akan ada yang membullynya. Tapi untungnya, kini mereka hanya berdua berhadapan.


"Aku bertanya sekali, jika kau ingin hidup jawab, jika ingin mati. Diam saja!" Zai mengibaskan rambutnya yang sudah mulai panjang menutupi pandangan. "Siapa yang menyuruh kalian untuk membunuhku?" Tanya Zai dengan nada membentak.


"Dia dari keluarga Anggoro?" Ucap orang itu terbata. Dia menelan ludahnya cukup banyak. Karena hidupnya akan berakhir jika orang ini tak melepaskan sesuai janjinya.


"Telpon dia, dan katakan padanya kau menunggu disini, cepat!" Bentak Zai lagi.


"Pakai ponsel temanmu"


"Mereka tidak ada yang memiliki kontaknya, dan aku tidak hafal" ucap orang itu dengan bertambah perih dihati.


"Berdiri dan ambil! Aku akan berdiri dibelakangmu" kata Zai.


Orang itu langsung berdiri dan berbalik dengan senyuman licik di bibirnya. 'Dasar bodoh' batinnya mencibir pemuda itu.


"Jangan berpikir kau bisa hidup jika ingin membodohiku" kata Zai dari belakang yang langsung mengubah senyum orang itu menjadi cemberut.


'Apakah dia tau apa yang kupikirkan?' Batinnya lagi. "Aku tidak berani bos. Aku hanyalah manusia kecil yang ingin mencari makan" ucapnya pelan.

__ADS_1


"Siapa saja yang pernah kau bunuh. Yang diperintahkan oleh keluarga Anggoro?" Zai menyelidik. Karena ibunya mati ditabrak. Setelah itu tetangganya yang baik mati karena begal. Jika bukan sopir taksi menolongnya mungkin dia juga akan mati saat itu.


"Ada beberapa orang" sahutnya.


"Siapa saja?" Zai meberatkan suaranya


"Aku tak tau namanya" ucap orang itu, Zai langsung menodongkan senjata di pelipis orang itu "tolong jangan bunuh aku, aku akan mengatakannya, dua orang perempuan dan satu anak kecil"


Door! Zai langsung menembaknya tanpa sadar. Hatinya langsung bergemuruh. Mata merah menyala diliputi dendam.


Zai berbalik dan mendatangi Maira. "Kau pulanglah! bawa salah satu mobil mereka. Aku ada urusan yang harus aku selesaikan" kata Zai, dia membantu Maira keluar dari Mobil dan membawanya menuju Mobil Civic yang terparkir di jalan.


"Baik… kamu harus berhati-hati. Aku mencintaimu" ucap Maira. Dia mengatakan itu agar Zai tidak gegabah dalam mengambil keputusan yang akan merugikan hidupnya. Dan dia sendiri akan kehilangan orang yang dicintai.


"Aku juga" tapi Maira tidak mendengar. Mobilnya lebih dulu melaju daripada perkataan Zai.


Segera Zai memasuki Mobil Sigra dan memutar balik posisinya, tujuannya adalah rumah Anggoro.


Tidak berapa lama waktu yang diperkukan untuk kesana.


Malam itu, sebuah mobil melesat tanpa peduli itu jalanan ramai atau tidak. Dia hanya fokus dengan satu tujuan saja.


(Ding…. Peringatan.. Terdeteksi keadaan tuan rumah sangat panas. Dan harus didinginkan. Jika dalam sepuluh detik tidak meredam panas ini. Maka sistem akan otomatis mendinginkannya)


Zai langsung menepikan Mobil yang dikendarainya.


'Sebelumnya ada orang yang ingin membunuhku, mengapa kau tidak memperingatkannya?' Zai membentak sistem dengan menghempaskan pistol ke setir.


(Sistem hanya menguji ketangkasan dan kejelian tuan rumah dalam melihat sebuah kondisi. Karna sistem akan menghilang seiring berjalannya waktu. Tuan rumah akan mandiri dan harus belajar mengontrol diri) jawab sistem dengan datar dan tanpa perasaan


Zai menarik nafas yang dalam mencoba menenangkan pikirannya. 'Jadi kau akan meninggalkanku?' Zai bertanya dengan pelan kini.

__ADS_1


(Benar, tuan sudah tergolong mampu dengan banyak aset yang diperoleh karena menyelesaikan tugas dari sistem. Dan dividen yang sudah terkumpul dalam sistem akan diberikan kepada tuan rumah dalam acara perpisahan. Tenang saja. Semua hadiah tidak akan hilang karena itu adalah kerja keras tuan rumah juga. Sistem hanya pendukung saja)


Ada rasa yang hilang ketika sistem membahas tentang hal itu. Sudah berapa bulan dia bersama dengan sistem. Mengingat pertemuannya ketika dia sedang sakit dan lumpuh pada kaki dan tangannya. Itu adalah pertemuan yang hampir membuatnya tidak percaya. Sekarang mendengar agenda perpisahan. Rasanya seperti tidak rela…


__ADS_2