
Sementara itu di tempat lain. Seorang wanita merasakan gelisah pada hatinya. Yang entah mengapa dia ingin sekali kembali ke tempat tinggal sebelumnya. Namun dia tetap melangkah walau ragu menyelimuti hatinya.
Dia berada di halaman rumah yang cukup besar namun tidak terlalu mewah, itu adalah rumah dimana dia pernah lahir dan besar. Dia melihat sekeliling tempat yang tidak terlalu berubah banyak, sejak/sebelum dia meninggalkan rumah itu.
Terlihat dua lansia duduk dibawah pohon menyirami sebuah batu yang bertuliskan nama seseorang.
Wanita itu mendekati kedua lansia itu dab melihat aktivitas mereka lebih dekat. Ada namanya terpahat di sebuah batu yang menonjol ke atas. Air matanya mengalir seperti aliran sungai yang dibuang penghalangnya. Sangat deras mengucur. Bahkan dia terisak. Ada rasa sakit dihatinya ketika membaca tulisan itu. Dimana ada tanggal hari kematiannya.
"Ayah, ibu!" Wanita itu berkata dan bersimpuh dikaki kedua pasangan lansia yang kebingungan, dan berkata lagi. "Maafkan anakmu yang tak pernah pulang selama beberapa tahun ini, pasti kalian banyak merasakan sakitnya hati."
"Nak! Siapa kamu?" Dengan suara yang sedikit bergetar salah satu dari keduanya bertanya.
"Apakah ibu tidak mengenali wajah cantik anakmu lagi" Mey Chan mendongakkan kepalanya agar mata wanita tua itu dapat mengenali wajah yang sudah lama tidak dilihat.
"Mey, Anakku! Benarkah ini dirimu" keterkejutan segera terpancar dari matanya. Dan kedua tangannya menggosok kedua bahu Mey Chan yang tersenyum. "Kau masih hidup?!" Katanya lagi dengan bersemangat dan langsung memeluk anak semata wayangnya yang sudah lama dianggap meninggal di sebuah gunung, waktu kemping.
Lelaki di belakangnya juga langsung memeluk, mereka bertiga saling berpelukan. Suasana haru terjadi disana. Dengan deburan cinta, air mata, dan kenangan yang lama terkubur bangkit kembali.
"Tidakkah kamu tahu, bahwa kami setiap pagi akan menyirami batu nisan yang kami beri nama kamu ini setiap hari, tanpa lelah. Hari itu kami mendapatkan kabar bahwa kamu telah meninggal bersama beberapa temanmu yang naik gunung, kami tak kuasa menahan keterkejutan itu, ibumu jatuh sakit… lihatlah dia sangat kurus, bukan?" Kata ayahnya Mey Chan.
"Maafkan aku ayah, saat itu aku terpaksa tak pulang karena takut akan dianggap pembunuh dari semua teman-teman yang meninggal waktu itu. Karena jika aku kembali seorang diri, itu akan menjadi pertanyaan publik yang akan menyeret kalian berdua juga. Maafkan anakmu ini" katanya sambil terisak sedu.
"Lebih baik kita ke dalam, aku akan menceritakannya dan ada hal bahagia juga yang akan aku bagikan kepada kalian" Mey Chan mulai tersenyum dan membantu ayahnya untuk berdiri lalu mendorong kursi roda yang sekarang ada ibunya duduk disana.
Mey Chan mulai menceritakan kehidupannya setelah hari itu…
Ditempat lain.
__ADS_1
Tok.. tok.. tok.. ketukan pintu begitu mendesak..
"Masuk!" Kata orang yang didalam.
Segera pintu terbuka, Orlando menatap pemuda yang kini berada di depannya yang terlihat nafas kembang kempis. Dia bertanya segera "Ada apa?"
"Gawat pak Bos. Perusahaan kita sedang dilaporkan oleh beberapa orang. Katanya teknologi yang kita kembangkan bermasalah dan mereka menuntut ganti rugi dan memaksa perusahaan kita untuk tutup produksi"
"Bagaimana bisa, siapkan pengacara. Kita akan melakukan pembalasan" sahut Orlando.
'Baru beberapa hari aku duduk di kursi ini menjabati posisi tertinggi tapi sudah ada yang ingin merusak citra perusahaan. Siapa sih yang berani melakukan hal ini?' Orlando membatin. Segera dia menelpon Monte untuk membahas masalah yang sedang menerjang perusahaan..
Monte pun datang dengan segera setelah mendapat panggilan itu
"Salam tuan besar!" Ucap Monte yang langsung masuk, karena memang pintu tidak tertutup.
"Aku juga terkejut ketika tuan besar mengatakannya. Tidak aku sangka, padahal semua izin operasi diakui oleh dunia. Bahwa milik kita adalah salah satu yang terbaik dari beberapa perusahaan teknologi yang terdaftar secara global. Tuan besar benar, pasti ada yang tidak suka dengan perusahaan kita, aku akan menyelidikinya secara garis besar agar bisa menarik kesimpulan dari dalang ini" ucap Monte dengan lancar..
Di Sisi yang berbeda.
Ada tawa dari beberapa orang yang duduk saling berhadapan di meja bundar di salah satu resto terbaik di kota itu.
"Aku sangat senang melakukan hal ini, jika perusahaan itu jatuh dan bangkruk. Kita bisa meraup keuntungan yang besar" salah satu berbicara dengan keadaan mabuk.
"Kau benar! Mengapa tidak sejak dulu menghancurkan mereka. Aku paling benci dengan PT Megah Jaya, sebab! sejak mereka berdiri semua consumer melarikan diri ke pihak mereka, hingga membuat perusahaan ku membengkak dengan hutang. Jika tidak ada Bos besar kita ini, tidak mungkin aku bisa tertawa hari ini" ucapnya lalu mengangkat gelas dan meneguk habis isinya.
"Ini semua juga berkat kalian, bersenang-senanglah" ucap orang yang dipanggil bos itu.
__ADS_1
Mereka tertawa bersama seperti dunia milik mereka dan melupakan apa yang akan didapat dari perbuatan mereka.
…….
Zai menyentuh kedua kening Rey dan ilham, lalu mengalirkan energi. Terlihat energi warna hijau keluar dari telapak tangan Zai dan masuk kedalam kepala keduanya.
Netra Zai bergerak ketika merasakan pergerakan dari dalam tanah. Dan dia langsung mengakhiri sesi penyembuhan. Meskipun belum sembuh sepenuhnya. Setidaknya itu akan menahan kehidupan keduanya sedikit lebih lama.
"Biar kami yang menjaganya" kata Saddam. "Tuan fokus saja menghadapi dia. Dan langsung bunuh tanpa ampun" katanya lagi.
Zai tidak menyahut, dia benar-benar seperti orang yang berbeda sekarang. Yang sebelumnya dia selalu bercanda dengan wajah tampannya. Kini wajahnya sangat serius dan terlihat dingin.
Segera Zai bergerak dan memberikan perlindungan kepada mereka. Seakan dia adalah makhluk immortal yang bisa melakukan segalanya.
Kemana sistem? Apakah dia mengorbankan diri dan merasuki tubuh Zai?
Raungan murka keluar dari dalam tanah seiring dengan itu muncul naga hitam yang sudah pada bentuk sempurnanya. Dia menatap pemuda yang memojokkan nya dengan sebuah seringai.
Jun Bai meliukkan tubuhnya. Bergerak sangat lincah dengan bentuk barunya. Namun Zai juga bergerak sangat lincah. Dia menghindari serangan api yang menyembur dari mulut naga itu. Kemudian memberikan serangan juga berupa pedang yang terbentuk dari api.
"Pedang api pemusnah!" Gumamnya. Teknik itu dia dapatkan dari pecahan bagian teknik naga melahap matahari.
Sekarang naga benar-benar akan melahap matahari. Ketika dua serangan beradu.
Fenomena alam terjadi. Dimana awan gelap menggumpal seperti mau hujan dengan kilat yang menyambar bercabang.
Semua orang menatap langit yang sama dimana mereka sekarang bernaung di bawahnya.
__ADS_1
"Sebelumnya gempa, sekarang langit seolah runtuh. Ada apa ini?" Hampir semua orang mempertanyakan yang sama.