
"Aku akan ijin dulu dengan mama dan ayah" Ucap Lina (Lina sekarang panggilnya Mama dan ayah ya)
"Memangnya kamu ada rencana kemana?" Tanya Zai
"Cukup temani aku jalan-jalan sebentar saja" sahut Lina lalu masuk kedalam dan ijin kepada orang tuanya.
Karna orang tuanya sudah mengenal baik jadi mereka menginjinkan saja, Mereka pikir bersama Zai anaknya akan aman dari segala kejahatan.
"Ayo pergi" Lina langsung masuk ke mobil sedangkan Zai masih berdiri bengong.
'Tidak biasanya Lina bertingkah begini' Zai tidak lagi memikirkan hal itu dia langsung masuk ke Mobil dan menghidupkan starter kemudian berangkat.
Di dalam Mobil tidak ada diantara mereka yang berkata. entah mengapa lidah mereka berdua kelu. dan sibuk memikirkan hal masing-masing.
"Mau makan Bakso?" Tanya Zai
"Terserah saja" Sahut Lina cepat.
"Kamu kenapa sih?" Tanya Zai yang mengulurkan tangannya untuk mengusap pucuk kepala Lina yang cemberut.
"Aku hanya Bosan" Sahut Lina tanpa menghindari sentuhan Zai di kepalanya.
Zai melihat ada gerobak Mie Bakso di pinggir jalan, Dia pun menepikan Mobilnya.
"Kita makan disini saja" ucap Zai lagi lalu keluar dari Mobil dan memutar kemudian membukakan pintu untuk Lina, "Silahkan Tuan Putri" ucapnya lagi membuat wajah Lina malu diperlakukan seperti itu, Karna semua orang terlihat memandang kearah mereka.
"Aku malu, Tidak jadi saja" Lina mencoba menarik kembali pintu mobil tapi di tahan Zai dengan kakinya.
"Sudah sampai disini, Masa harus cari yang lain lagi, Sudah jangan dipikirkan, mereka hanya iri saja" Ucap Zai kemudian meraih tangan Lina dan menuntunnya.
Lina berjalan dibelakang dengan wajah merah, Zai meraih kursi lalu menyuruh lina untuk duduk. "Aku akan pesan dulu untukmu yang super besar" Ucap Zai sambil menyentil hidung Lina yang sedikit mancung.
"Iih, Sudah sana" sambil mendorong tubuh Zai dengan pelan.
"Paman, Mie Bakso dua ya" Ucapnya setelah sampai ditempat penjual.
"Oke Den, Minumnya apa?"
"Teh es saja Paman, Dua ya..." Pintanya lalu kembali ke tempat Lina duduk.
__ADS_1
"Mereka sangat serasi ya" Bisik dua orang yang agak jauh duduknya.
"Kau benar, wanitanya cantik, lelakinya tampan, Ugh aku juga ingin memiliki lelaki seperti itu"
"Kau tidak cocok dengan dia, Lebih cocokan aku" Sahut temannya dengan percaya diri.
"Cih... mana ada yang seperti itu, Mana mau dengan yang bau sirih dimulutnya" Cibir temannya lagi
Zai duduk berhadapan dengan Lina dengan penghalang meja dan peralatan makan yang tersedia.
"Permisi...." Ucap Paman penjual Mie Bakso "Silahkan dinikmati" Tambahnya lagi lalu pergi ke aktifitasnya.
"Kemana kamu berapa hari ini? Sepertinya tidak ingat denganku, Apa ada wanita lain?" Lina menyodorkan banyak pertanyaan.
"Aku sibuk mengurus bisnis keluarga, Sekarang aku ingin menjadikan usaha maju dan saat kau lulus nanti kita bisa jalan ketingkat yang lebih tinggi" Sahut Zai tanpa menjawab pertanyaan yang lain.
Lina percaya saja, Karna Skil menipu milik Zai selalu aktif dan orang akan tertipu meski dia berbohong.
"Makan saja yang banyak, Kau terlihat lebih kurusan" Ucap Zai lagi sembari menuangkan Tomat kedalam mangkuk Lina.
"Makasih sayang" Ucapnya tersenyum.
Senyum yang bisa mengalihkan dunia. senyum yang bisa menggetarkan dada. Sebuah senyum yang selalu membuat hati bertanya-tanya. Senyum itu untuk siapa?
"Hentikan senyumanmu, Nanti kamu akan membuat orang lain salah paham" Ucap Zai.
Mereka pun makan dengan santai sembari menikmati cahaya neon yang menghiasi gemerlap malam sebagai pengganti bintang.
Selesai makan, Zai langsung mengantar Lina pulang, sebelum keluar dari Mobil Lina berinisiatif mencium Zai, Hingha ciuman itu sedikit memanas, Tapi tidak terjadi Hal yang lebih karna mereka tidak ingin ketangkap basah sedang bergoyang di Mobil dan diarak keliling komplek.
Lalu Zai kembali pulang dan tidur membuang lelah, Berdoa saja besok akan menjadi hari yang lebih baik.
Dua hari terlewat setelah insiden, Yunita tidak muncul ke Kantor, Zai pun bertanya tanya, Ada apa dengan wanita itu.
"Wil, Apakah Yunita ada ijin?" Tanyanya melalu telpon
"Tidak ada ijin Bos, Mungkin dia lagi sakit, nanti saya akan memeriksanya kerumahnya"
"Tidak perlu, Biar aku saja" Sahut Zai lalu memutus sambungan telpon dengan segera.
__ADS_1
Zai merapikan berkas-berkas yang ada dimejanya lalu keluar dari ruangannya.
"Al, Bagaimana kabarmu?" Zai menelpon Alisya sebentar karna dia tak ingin kejadian seperti Lina yang Ngambek terjadi juga kepada wanitanya yang lain.
"Baik sayang, Kamu hari ini ke Sini Gak? aku sedang masak enak nih"
"Boleh Juga, kalau nanti siang ga ada kerjaan lain, Dadah sayang" Ucap Zai lalu memanggil kontak yang lain.
"Hallo sayang.." terdengar suara berbisik
"Hallo juga, kamu dimana sekarang?" Tanya Zai kepada Aisya.
"Aku lagi ada mata kuliah, Nanti aku telpon balik" Bisik Aisya lalu memutuskan sambungannya.
'Sulit juga punya banyak wanita, aku mengira hidup akan lebih indah jika memiliki banyak keindahan, memiliki lebih dari satu keindahan akan mengacaukan pikiran, hanya memiliki satu keindahan akan melirik keindahan yang lainya.'
Zai langsung masuk ke Mobilnya dan melaju menuju Kost Yunita.
Sepuluh menit berlalu ada sekelompok orang berkumpul didepan Kost. Zai langsung menepikan Mobilnya dan segera turun.
"Jika kau tidak mampu membayar, Katakan, Semua itu bisa dipertimbangkan" Ucap sosok tua bau tanah sambil menelisik tubuh Yunita yang padat berisi dengan kemolekan yang sempurna.
Zai terus mendekat kearah Suara dan menemukan Yunita terduduk sembari menangis, Dia mencoba mencari tau akar penyebabnya dengan diam di belakang sekelompok orang itu.
"Itu kan Hutang ayahku, Aku tidak tau apakah itu benar atau tidak. bisa saja kau menipuku" Ucapnya terisak bulir air mata terus terjatuh.
"Coba kau lihat sendiri, Ini adalah tanda tangan ayahmu sendiri. dan dia pernah bilang, jika dia tidak bisa membayar cari anakku, pesannya, Sekarang kau ingin mengelak. mau aku laporkan kepolisi kamu, Hah" Ucap Lelaki tua itu langsung mengayunkan tangannya kearah wajah Yunita.
Tapi sebuah tangan langsung menangkap pergelangan tangan itu.....
...............
Di suatu tempat yang jauh dari kota banjarmasin.
"Kenapa Red masih tidak mengirim pesanannya?" Tanya Seseorang yang terlihat seperti seorang Bos. kepada salah seorang dari empat orang yang ada disana.
"Kami juga belum menerima informasi ketua, Mungkin saja ada sedikit kendala hingga dia menunda keberangkatan pesanan" Sahut Orang yang ditanya.
"Cepat cari informasinya, Aku tidak ingin kendala ini merusak semua bisnisku, Pesanan ini akan segera di antar ke Taiwan"
__ADS_1
"Baik ketua..." Sahut Bawi lalu menoleh.
"Ikut aku kebanjarmasin, Kita akan menyelidiki alasan Red tidak mengirim pesanannya, Jika dia tidak bisa memberikan jawaban yang jelas, Kita bekukan saja dia" Ucap Bawi kepada tiga rekannya.