
Selepas kepergian Calvin dan Linda. Zai ditemani Laila keluar dari Resto. Diantar oleh Arthur yang setia melayani Bos baru resto tempatnya bekerja. Meski sudah cukup larut malam.
Empat orang tengah menunggu mangsa mereka keluar dari persembunyian. Dengan jaring tipis yang dipasang di kepala untuk menutupi identitas mereka yang tidak biasa. Keempatnya dengan sabar dan penuh keyakinan akan mendapatkan yang diinginkan.
Sudah dua jam mereka menunggu, kejenuhan akhirnya mendatangi mereka. Namun Archi melihat tiga bayangan yang keluar dari balik pintu, segera dia berseru "mangsa kita sudah keluar dari persembunyiannya. Ayo kita hampiri mereka!"
Keempatnya bergerak dengan cukup lincah dan terlatih. Mereka mungkin sudah terbiasa melakukan hal itu. Entah sudah berapa banyak mangsa yang mereka makan dan jual kepada para penggila wanita muda? Tapi kali ini mereka berniat untuk berpuas diri lebih dulu. Dengan menggilir di hadapan pemuda itu. Rencananya. Namun terkadang alur cerita tak sesuai rencana. Dan bisa berubah kapan saja sesuai dengan kehendak pembuat cerita.
Laila masuk kedalam Mobil dengan santai. Tidak terganggu dengan pergerakan empat orang yang kini menuju ke arah mobil yang di naikinya, meskipun dia menyadari hal itu. Namun dia tetap cuek saja. Karena yakin Zai akan cepat menyelesaikannya. Zai menutupkan pintu untuknya..
"Selamat jalan Pak, hati-hati dijalan. Hanya mobil ini yang dapat saya sediakan dengan cepat!" Ucap Arthur membungkuk. Sedangkan Zai berputar ke depan dan menarik pintu di sebelah kemudi.
Sebuah ayunan pemukul bisbol mengarah ke tengkuk belakang Zai. Ada senyuman yang terukir di wajah sang pemukul. Namun detik selanjutnya. Kejutan indah didapatkan olehnya. Tongkat pemukul bisbol itu remuk menjadi beberapa bagian. Segera dia melompat mundur.
Zai mengusap tengkuknya dan berkata "sepertinya nyamuk dikota ini cukup besar hingga bisa menggelitik tengkukku" ucap Zai seraya berbalik.
Sedangkan Arthur terkejut ketika mendengar pukulan itu apalagi melihat tongkat keras remuk dan hancur ketika menghantam tulang rawan pada kepala itu.
'Apakah tulangnya terbuat dari besi?' Arthur. Serta yang lainnya yang ada disana yang telah menyaksikan itu mungkin akan sepakat mempertanyakan hal yang sama. Terlebih orang yang memukul itu.
Zai segera menutup pintu dan berpaling menatap seseorang yang kini berdiri tiga meter darinya. "Apakah aku bersalah kepadamu? Apakah aku menyinggungmu. Apakah kau menginginkan wanitaku" Zai bertanya dengan cepat sambil berjalan mendekati orang yang telah memukul dia sebelumnya.
"Aku–" orang itu tak bisa lagi melanjutkan ucapannya. Karena tangan Zai sudah berada di lehernya tanpa dapat dihindari.
Tiga orang yang berada di belakang pun gemetar. Mereka tak menyangka mendapat sasaran yang salah. Namun mereka tidak bisa lari walaupun ingin. Tidak ada yang tau alasannya. Bahkan mereka saling memandang tanpa dapat bicara. Seakan mulut mereka terkunci.
"Ingatlah di kehidupan selanjutnya. Hanya karena hasrat kau mati!" Kata Zai.
Kraak! Terdengar bunyi renyah
__ADS_1
Zai memberikan sejumlah kekuatan untuk menghancurkan leher orang itu seperti meremas mie gemez, begitu mudah.
Zai melempar tubuh tanpa nyawa itu ke sembarang arah lalu mendekati tiga orang yang mematung.
"Aku merasa kalian begitu banyak berdosa. Jadi aku akan membantu orang yang belum menjadi korban kalian" Zai memberikan pukulan tanpa Qi yang murni hanya pukulan fisik biasa.
Satu, dua, tiga. Bam!
Ketiganya mendapat pukulan yang sama. Yaitu di kantong menyan mereka. Tidak ada yang berteriak meski air mata mengalir di wajah. Bahkan air liur menyembur dari mulut mereka.
Zai menghilangkan tekanan tak kasat mata yang dilakukan olehnya kepada tiga orang itu. Hingga mereka dapat bersuara dengan ringisan yang menjadi. Bahkan berteriak minta ampun.
"Ampun tuan! Kami salah!" Satu orang mencoba bangkit dengan masih memegang tongkat yang mungkin tidak akan bisa lagi berdiri. Dia meminta hidup. Walaupun tak bisa lagi mengencani wanita.
Sedangkan dua lainnya masih meringkuk dalam kesakitan.
"Aku ingin bertanya! Berapa banyak korban yang sudah kalian bunuh? Berapa banyak wanita yang kalian perkosa dan jual?" Zai bertanya.
Mendengar itu kemarahan Zai memuncak. Meskipun dia juga seorang pendosa besar. Tapi dia tidak pernah membunuh orang yang tak bersalah. Dia akan menghukum lawan dan menghargai teman.
Tangannya berayun dan pukulan keras diberikan tepat di ubun-ubun lelaki itu hingga pecah.
Praak! jelas dia mati ditempat.
Dua orang mencoba berlari ke dua arah yang berbeda. Namun sesuatu terasa seperti vakum penyedot debu menarik tubuh mereka kembali ketempat semula dimana mereka sebelumnya meringkuk di tanah.
"Apa kalian pikir bisa lepas dari kematian. Jangan naif dan bodoh. Sampaikan salamku kepada dewa yama. Bahwa aku akan mengirim lebih banyak orang yang seperti ini nanti!" Selesai berkata. Dua tinjunya langsung menghantam dua kepala.
Praaak! Kepala itu meledak hanya tersisa tubuh tanpa kepala yang terjatuh dengan darah yang merembes.
__ADS_1
Arthur yang berada tidak jauh dari tempat itu dan menyaksikan semua yang bosnya lakukan seolah telah menonton film action pertarungan fantasi. Dimana yang kuat mendominasi dan membantai yang lemah
'Tuan sangat hebat!' Seru Arthur dalam hati. Dia memuja bosnya itu layaknya dewa tanpa sayap yang datang dari surga untuk membunuh penjahat.
Setelah semua beres. Zai mengumpulkan keempat jasad itu dan menghancurkannya seperti debu hingga tidak ada bukti. Serta menghilangkan darah yang tercecer.
Zai menoleh ke arah Arthur dan berkata "Besok pagi periksa beberapa cctv yang ada di sekitar sini dan kau harus menghapusnya bagaimanapun caranya!" Perintah Zai. Meskipun dia seorang diri bisa. Tapi untuk apa punya anak buah jika harus melakukannya sendiri juga?
"Baik bos!" Jawab Arthur. "Aku tidak akan mengecewakan harapan bos kepadaku" tambahnya
Pagi kembali datang. Angin sepoi menghembus masuk kedalam ruangan. Seorang wanita berdiri di balkon dengan pintu yang terbuka. Dia menatap mentari yang cerah bersinar.
Menikmati sentuhan hangat yang datang dari belakang. Wanita itu segera membuka jemari dan menyatukan celah diantaranya. Lalu berbalik badan dan menemukan pemuda yang kini menatapnya dengan senyuman.
"Terima kasih atas semuanya Laila!" Kata manis yang didengar disaat sang surya memberi cahaya. Sangat mendamaikan hati.
Laila memberikan tanggapan dengan anggukan dua kali. Setelahnya mereka berpelukan cukup lama dan, melakukan sesuatu lalu mandi bersama.
Hingga matahari meninggi. Mereka keluar dari Hotel dan pergi karena Laila sudah mendapatkan titik koordinatnya dengan meretas jaringan satelit.
Segera tangan melambai ke arah taksi. Dan mereka masuk kedalam. Kemudian meminta untuk diantarkan ke sebuah tempat.
Tiga puluh menit berlalu. Mereka sampai di sebuah pantai. Mereka turun di bibir pantai dan menatap sebuah pulau yang cukup jauh dan terhalang kabut.
Keduanya melompat dan langsung melesat terbang dengan kecepatan cahaya.
Wosh!
Hanya beberapa menit yang diperlukan untuk melewati rentang jauh ratusan Mil. Keduanya melayang diudara setelah sampai pada tujuan. Terlihat Pantai yang masih asri dengan banyak binatang laut serta binatang yang terperangkap di pulau itu.
__ADS_1
Zai menggunakan mata emasnya untuk menjangkau kejauhan dan dapat melihat sebuah vila besar berada di tengah pulau. Segera keduanya melesat kembali dan muncul di atas, tepat dimana mereka dapat melihat beberapa orang yang sedang berlatih keterampilan beladiri.
Boom!......