
"Maaf kan aku Nin" Ucap Zai yang membuyarkan lamunan Nindi
Nindi mengambil pakaian nya dan mengaitkan Bra nya dengan wajah murung tak percaya apa yang di alaminya, Nikmat memang, Dan keseruan nya membuatnya ingin kembali merasakan hal yang semalam dia rasakan. Tapi dia sadar dia sudah salah jalan. Tapi dia juga tak bisa kembali layaknya dulu lagi.
Dilema menghampiri!
Kak Zai adalah pacar teman nya, Tak mungkin kan dia menjadi perebut pacar teman, Mau di taruh dimana mukanya jika orang lain tau hal ini?
Nindi mengusap wajah nya dan meminta tissu kepada Zai kemudian mengelap sesuatu yang lengket di perut nya yang mulai mengering menandakan kejadian semalam bukan mimpi tapi kenyataan bahwa milik nya telah di jebol, Dan ingatan itu masih mengiang di kepalanya.
Isaknya mulai terdengar dan dia terus menunduk, Zai langsung berpindah ke belakang untuk menenangkan hati gadis cantik yang terluka itu.
"Aku tidak menyalahkan mu Kak Zai, Aku hanya kesal saja dengan diriku sendiri, bagaimana nanti kalau Vera tau tentang masalah kita ini, dan Ah...." Nindi berteriak di samping telinga Zai yang memeluknya. dia tak kuasa meluapkan emosinya.
"Ini adalah kesalahan Fatur, Dan juga salahku yang tak pernah menyangka si brengsek Fatur itu telah merencanakan Niat buruk kepadaku" Tambahnya dengan membenamkan kepalanya didada Zai.
Zai tidak menyela, Dia hanya menjadi pendengar yang baik sembari memeluk dan mengelus rambut Nindi.
Hingga Nindi berhenti terisak dan nafasnya mulai tenang, Zai pun berkata. "Jika Vera tau, Aku akan menjelaskan kejadian sebenarnya, Dia pasti mengerti, Kamu tenang saja" Lalu Zai mencium kening Nindi dengan mesra
"Sangat bahagia memiliki pendamping seperti Kak Zai" Ucap nya Nindi tulus sambil mengelus pipi Zai dengan lembut kemudian mendekatkan wajah nya. dan mereka berciuman kembali.
Kini dengan kesadaran nya yang sesadar sadarnya Nindi tak lagi malu, dia beraksi lebih dulu, Dia ingin melupakan semua hal yang terjadi dengan melakukan nya lagi dan mengulang keindahan yang semalam dia rasakan
Tapi Zai menahan nya "Jika kau ingin meneruskan, lebih baik ke hotel saja, Aku takut nanti ada kerumunan orang yang mendatangi mobil karna melihat mobil bergoyang dari malam hingga pagi" Ucap Zai menyadarkan Nindi yang sudah duduk di paha Zai.
__ADS_1
"Emm" Sahut Nindi kemudian mencium keseluruhan wajah Zai.
"Berpakaian lah" Ucap Zai lagi lalu dia membenahi pakaian nya yang terbuka dan membetulkan posisi tongkatnya yang sudah berdiri sedari bangun dari tidur nya.
Nindi memakai pakaian nya, Zai melihat dari kaca tengah Mobil, Setelah memastikan Nindi sudah selesai dia pun langsung melajukan Mobilnya mencari Hotel berbintang.
'Aku tak menyangka bisa senakal ini' Batin Nindi yang senyum senyum sendiri lalu berpindah ke Co-Driver. Sambil terus memandang wajah tampan yang mempesona di hadapan nya
'Jika aku tau nikmatnya seperti ini, Mungkin aku akan lebih dulu melakukannya daripada orang tuaku sendiri' Dia tertawa dalam hati 'Mungkin setelah ini aku tak bisa dengan orang lain,
Karna yang aku rasa milik Kak Zai sangat besar dan panjang penuh sesak serta sangat pas memenuhi kedalaman dan kelebarannya, dan yang aku dengar dari Jeni milik pacarnya sangat kecil hanya bisa menggosok sebentar sudah lepas, Ugh aku bisa gila jika terus memikirkan hal ini'
Zai menyetir dengan sebelah tangan sembari mengelus pucuk kepala Nindi yang menyandarkan kepalanya di bahu Zai dia tak tau apa yang sedang dipikirkan oleh Nindi. dia hanya Fokus terhadap jalan di pagi itu.
...........
"Begini Bu, Karna minimnya informasi, jadi kami masih belum bisa menangkap siapa pelakunya, tapi kami sudah mengantongi siapa saja orang yang ada disana saat itu" Sahut polisi itu. sebut saja namanya Herman.
Bu Dian menyodorkan Amplop entah berapa isinya, Tapi jika dilihat dengan seksama dapat dipastikan berisi uang yang cukup banyak karna ketebalan nya.
Herman langsung mengambil dan membuka tasnya dengan cepat lalu melemparnya dan menutupnya kembali "Tenang saja Bu, tunggu kabarnya satu hari lagi, Saya pastikan nama orang itu dan beserta alamatnya akan sampai kepada ibu sebelum teman yang lain menangkap pelakunya" Ucap Herman dengan pelan.
"Baiklah, Aku akan pergi dulu" Ucap Bu Dian berlalu.
Herman pun pergi dari tempat itu dan mengajak satu temannya. untuk melakukan tugas..
__ADS_1
............
Sedangkan di ruangan kantor yang tertutup dua orang berbincang santai. "Paman Torax, Bagaimana dengan tugas yang bos berikan kepadamu?" Tanya Ferdinan. meskipun dalam jabatan dia lebih tinggi sedikit daripada Torax tapi dia tetap menjaga kesopanan karna Torax lebih tua dari nya puluhan tahun.
"Aku sudah menculik seseorang dan menahan nya di markas besar Macan Hitam dan soal tugas yang lainnya, Aku juga sudah menyusupkan beberapa anak buah kita kedalam markas mereka, Tinggal menunggu hasilnya saja penyelidikannya saja" Sahut Torax sambil menyeruput kopi yang di buatkan oleh OB
"Entah apa yang di pikirkan oleh Bos sehingga menginginkan mereka untuk tunduk dengan kita, Apa kau tau alasan nya" tambah Torax bertanya
"Mungkin bos ingin menjadikan penguasa tunggal di kota ini. dan mengibarkan sayap nya ke kota lain, Tapi itu hanya perkiraanku saja, Nanti ku tanyakan jika bos sedang menelpon atau jika bertemu di rumah" Sahut Ferdinan, Mereka pun melanjutkan perbincangan tentang hal lainnya.
...........
Seseorang di kursi besar miliknya. duduk dengan santai sembari membaca laporan yang di berikan oleh anak buahnya..
"Hem anak baru yang Bisa mengalahkan dua Penguasa kota bagian memang bisa dianggap hebat. apalagi sekarang bisa menyatukan dua kekuatan itu, Aku tak sabar ingin bertemu, Sekuat apa memangnya orang itu, Sudah lama tinju ini tidak digunakan dengan baik" Gumamnya senang lalu berjalan ke tempat latihan nya yang sudah lama tidak terpakai.
Orang itu mendorong pintu dan memasuki tempat pelatihan yang sudah lama sekali tidak dimasuki, Terlihat dari debu yang menebal di sepanjang jalan.
Dia memeluk Samsak tinju yang telah lama dia tinggalkan di dalam mensionnya. dan mulai meninju dan menendang kemudian meninju lagi sambil berlompatan.
Hingga pagi terlewatkan dengan latihan nya.
Sosok itu mengambil handuk untuk mengusap peluh yang membasahi wajahnya. kemudian mengambil ponselnya dan mendial kontak anak buah kesayangan nya.
"Undang orang itu ke mension ku, Aku ingin bertemu dengan nya"
__ADS_1
"Baik bos, Aku akan segera mendatangi markas nya" Sahut orang di ujung telpon.
Sosok itu pun memutuskan sambungan kemudian melanjutkan lagi latihan nya. dengan semangat dia memukul Samsak itu dengan kekuatan yang tersembunyi miliknya hingga menghancurkan samsak itu..