
Satu hari berlalu kembali dan pada Pagi setelahnya Zai mengantar Nindi kerumahnya.
Hal yang tidak disangka adalah rumah itu adalah rumah yang sangat Zai kenali. Karna di rumah itu pernah ada momen yang tak terlupakan..
Tapi Zai tidak memberitahukan nya kepada Nindi bahwa dia pernah kerumah tersebut.
"Apa tidak masuk dulu Kak?" Tanya Nindi setelah sampai di depan pintu rumahnya.
"Aku ada kerjaan yang harus aku selesaikan, Jadinya buru buru, Kita juga masih bisa ketemuan, Tinggal telpon saja, Jika aku tidak ada kesibukan aku bisa menemuimi langsung" Sahut Zai menolak untuk masuk kedalam.
"Yah padahal mumpung Kakakku tidak ada dirumah, Kita bisa melanjutkan nya lagi!" Nindi terlihat merengut sambil berkata.
"Kau tinggal berdua saja memangnya?" Tanya Zai
"Iya Kak, Kakak ku juga orangnya sibuk dengan tugasnya, Hingga kadang lupa perhatikan adik satu satunya yang cantik jelita ini, Makanya aku sering diluar daripada dirumah" Keluh Nindi
"Lantas kemana orang tua mu?" Zai ingin mendengar sedikit cerita sebelum pergi.
"Orang tua ku ada di bandung, Karna Kakakku ditugaskan disini, Jadinya orang tua ku menyuruhku untuk mengikuti Kakak, Tapi Kakak sibuk dengan dunia dan aku pun sibuk dengan duniaku, Kami seperti dua orang asing dalam satu rumah"
Mendengar cerita Nindi, Zai pun Paham dengan Madina yang selalu sibuk dengan tugasnya menjadi Polwan. 'Ugh nasib sulit ditebak, dulu aku menginginkan seorang saudara, Tapi tidak mendapatkannya, Ada yang punya saudara tapi tidak menemukan rasa persaudaraannya' Zai membatin.
"Aku akan pulang saja, Aku mau kekantor dulu dan berganti pakaian" Ucap Zai lalu berbalik
Nindi berlari kecil kemudian meraih tangan Zai dan menciumnya di pipi sebelah kanan sebentar, "Hati hati dijalan" Ucapnya dengan malu.
"Tentu" Sahut Zai dengan tangan yang mengusap pucuk kepala Nindi. Jelas Nindi merasakan kasih sayang yang mengalir melalui ubun kepalanya.
'Senang rasanya, Beginikah kalau jatuh cinta, Hati terus bertanya tanya, Detak jantung terus berdegub bila didekatnya' Sambil melambaikan tangan nya melihat Mobil Zai yang melaju dengan pelan di komplek itu, Hatinya terus memikirkannya.
Nindi berbalik dan masuk kedalam rumah.
Zai berpapasan dengan sebuah Mobil Jazz berwarna merah keluaran terbaru dengan jelas Zai dapat mengenali pengemudi itu. 'Untungnya aku sudah keluar, Jika tidak akan ada pertempuran yang tak bisa dijelaskan bagaimana kejadiannya' Setelah membatin sebentar, Zai kini berada di jalan Ahmad Yani menuju rumah untuk berganti pakaian sebelum ke kantor. Sadewa Group.
__ADS_1
..........
Madina sampai di halaman rumahnya dan memarkirkan Mobilnya, Dia melihat ada bekas Ban Mobil yang baru di tinggalkan disana. lalu dia bergegas masuk "Nin...!" panggilnya, Tapi tidak ada jawaban dia mencoba lagi hingga kepintu kamar adiknya, lalu mengetuk.
Suara ketukan pintu terdengar dari dalam kamar, Tapi Nindi berada di kamar mandi jadi dia tak bisa membukakan Pintu, "Ah untungnya Kak Zai sudah pulang, Takutnya akan ada banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh Kak Madin jika ketahuan membawa laki laki kerumah, Dasar perawan tua itu, Kenapa juga dia tidak mencari pacar dan selalu menasehatiku untuk tidak berpacaran" Keluhnya sambil membersihkan tubuh nya yang masih ada lengket dan bau susu kental putih cap enak.
Madina mendorong pintu kamar yang memang tidak dikunci itu, kemudian duduk di tepi ranjang setelah mendengar ada guyuran air di kamar mandi.
'Ugh awas saja jika kamu tidak bisa menjelaskannya, Pasti Mobil yang berpapasan dengan ku tadi orang nya, Berani ya anak kecil ini membawa laki laki kerumah, Atau jangan jangan dia tak pulang semalaman, Dan baru di antarkan pagi ini' Dengan amarah yang meningkat wajah nya merah memikirkan hal yang tidak baik tentang adiknya.
Ketika pintu kamar mandi terbuka, Madina langsung berdiri dengan kedua tangan berada dipinggangnya.
"Kemana kamu semalaman?" Madina menatap Netra Nindi yang baru keluar di ikuti suara yang keras.
'Kenapa dia tau aku tak pulang?" Batin Nindi bingung mempertanyakan apakah kakak nya ini bisa jadi dukun.
"Apa kamu sekarang berubah porfesi menjadi dukun? Kamu yang tak pulang, Kemana saja tidur, Apakah dengan lelaki diluaran sana ? Aku ini saudaramu yang kesepian dirumah, Kakak tau tidak.?" Nindi mencecar Madina dengan berbagai pertanyaan tanpa menjawab apa yang ditanyakan untuknya.
Pertengkaran pun terus berlanjut, Dengan alasan tugas negara Madina memberikan penjelasan nya. dengan alasan kesepian Nindi pun mengungkapkan kesedihannya.
Di dalam kamarnya, Setelah menyelesaikan mandinya dan berpakaian rapi ala kantor.
Zai keluar dari kamarnya dan langsung menuju meja makan, Dia mengambil roti dan memberinya sedikit selai lalu memakannya untuk sarapan pagi itu. dan juga menyeruput kopi panas yang sudah tersedia di atas meja.
Setelahnya dia pergi keluar dari rumah menuju Mobilnya, Dan melajukan mobil nya menuju Kantor.
Ponsel nya berdering dia langsung menjawab dan menaruhnya ditelinga. "Ada kabar apa?"
"Bos mau di apakan orang yang sudah kita culik ini?" Tanya Udin yang menjaga orang yang mereka culik.
"Dimana kalian menyekapnya? aku akan kesana"
"Di markas besar Bos" Sahut Udin
__ADS_1
Zai langsung memutuskan sambungan telpon dan menuju ke Markas besar Macan Hitam. dia mengcari kontak Wilhan dan menelponnya.
"Kirim kontak Sekertaris di Kantor kepadaku" Ucapnya.
"Baik Presdir" Sahut Wilhan yang menyegerakan untuk mengirim Kontak Yunita setelah Bos nya itu memutuskan sambungan telpon.
Zai menerima Kontak dan langsung memangilnya.
Dering dua kali berbunyi setelahnya terdengar suara lembut "Hallo..!"
"Yunita, Apakah ada schedule hari ini untuk ku" Tanya Zai langsung tanpa basa basi.
Mendengar suara dari telpon adalah Presdir mudanya, Yunita mempunyai wajah yang memerah kembali setelah mengingat momen saat itu. "Ada beberapa Janji dengan Klien, Tapi jika bapak sibuk, Saya masih bisa menanganinya Pak!" Ucapnya.
"Kau memang cukup pintar, Jika ada yang tak bisa kau tangani, Segera hubungi aku di nomor ini" Ucap Zai kemudian memutuskan lagi sambungan telpon.
Tak terasa Mobil Sai sampai di depan Pintu besar dengan Klakson dua kali pintu besar segera terbuka. Mobil masuk kedalam.
Kemudian seseorang bergegas membukakan pintu untuk Zai.
Zai memberikan Uang, "Beli makanan dan Rokok untuk teman teman yang lain nya" Ucap Zai.
"Baik Bos, Terima kasih" Ucapnya senang.
Zai bukan hanya memperlakukan mereka dengan baik tapi juga memberikan mereka gajih, Meski tidak besar tapi cukup untuk orang yang dirumah. dan pekerjaan mereka tentunya lebih baik dari sebelumnya. meski masih bergelut dalam dunia seperti itu.
Terlihat Udin menyambut Zai di depan pintu lantai dua. "Selamat pagi Bos" Sapanya sembari memberikan sebuah surat undangan.
"Apa ini Din?"
"Kemarin ada yang mengantarkan ini ke Markas. Katanya minta berikan kepada Bos, Kami tak berani membukanya"
'Sebuah Undangan, Hemmm.... Nanti saja di pikirkan, Mana orangnya?"
__ADS_1
"Didalam gudang, Mari saya antar" Ucap Udin yang langsung berjalan ketika melihat Zai menganggukkan kepala.