Sistem Konglomerat

Sistem Konglomerat
Penggalangan Dana 2


__ADS_3

"Aku ingin tau siapa pelukisnya?" Seorang pemuda berdiri dan dia bertanya.


Semua mata memandang ke arahnya, dia merasa bangga dipandang oleh orang lain dan kesombongan pun muncul dihatinya. dia membenarkan sedikit kerah bajunya lalu berkata kembali, "Aku akan membelinya dengan harga seratus juta jika aku tau siapa yang membuatnya" Ucap pemuda itu lagi.


Segera saja ledakan suara terdengar riuh ketika mendengar syaratnya hanya ingin tau siapa yang melukis.


Sebenarnya pemuda itu tau siapa pelukisnya. hanya saja dia pura-pura tidak tau, Karna dia menyukai wanita itu sang pelukis dia pun ingin membuktikan dengan uangnya bahwa dia orang kaya yang baik hati.


"Tunggu sebentar, Saya akan bertanya kepada pelukisnya lebih dulu" Ucap Jabbar, dia tak mau mengambil keputusan sendiri, karna bisa saja orangnya tidak ingin dikenal oleh publik meskipun dia terampil. ada sebagian orang yang seperti itu menyembunyikan dirinya dan hanya memunculkan karyanya saja.


Segea Jabbar turun dari panggung. Dan dia terlihat berbicara dengan seorang wanita.


Setelah itu dia berbalik dan naik lagi ke panggung.


"Maaf, Pelukisnya tidak ingin orang lain tau siapa dia, dan dia berkata, Jika kamu membelinya dia akan sangat berterima kasih" Jabbar menyampaikan apa yang dikatakan oleh sang pelukis


"Baiklah, aku akan membelinya dengan harga yang aku tawar" ucapnya lalu duduk kembali


Tepukan tangan meriah diberikan kepada pemuda itu.


Setelah gemuruh tepukan berhenti, Jabbar terlihat ingin berkata lagi "Siapa kah nama anda? Saya akan mencatat dengan nama besar sebagai penyumbang besar"


"Aku Ridwan, Anak dari pengusaha PT Anugrah" Ucapnya sekalian dia membawa usaha ayahnya agar terlihat betul bahwa dia orang kaya.


Sebagian orang yang memang mengetahui Nama Perusahaan itu hanya diam manggut-manggut karna memang tau itu perusahaan yang cukup besar.


"Baiklah kita lanjut lagi->"


Zai berdiri dari kursi yang didudukinya lalu dia berjalan dan pergi meninggalkan acara lelang yang masih berlangsung.


Terlihat dia menuju belakang panggung dan mencari Maira. "Pak. Mairanya ada?" Tanyanya kepada Satpam yang berjaga.

__ADS_1


Dia ingin nelpon tapi Ponselnya tertinggal di Mobil, Zai tak ingin berjalan mengambil ponselnya karna dia cukup malas untuk hal itu.


"Ada didalam, Adek siapanya?"


"Katakan saya pangerannya!" Ucap Zai datar.


"Tunggu sebentar Bapak panggilkan"


"Mm" Zai mengangguk lalu bersandar pada dinding beton dengan satu kaki ditekuk dan menapak kedinding.


"Ada apa? Kenapa tidak telpon saja?" Maira menghampiri Zai yang terlihat santai.


"Aku ingin menyumbang juga tapi tidak ingin ikut melelang" Zai menjelaskan niatnya. Bisakah aku bertemu dengan Pemimpin Pelaksana nantinya"


"Hem, Tentu bisa lah, Siapapun boleh menyumbang" Sahut Maira lalu mengajaknya masuk, Meskipun dilarang orang luar masuk selain panitian, Maira bisa menjelaskan alasannya kepada panitia yang lainnya.


"Siapa Mai, Tampan banget, Pacar?" Salah satu wanita dalam ruangan itu bertanya sambil terus matanya tak berkedip manatap Zai.


"Ada kesempatan dong buat aku, Hai kenalin, Namaku Sisilia! Biasa dipanggil Sisi"


Zai menyambut uluran tangan yang diberikan kepadanya. "Panggil aku Zai!" Ucapnya lalu menarik tangannya. tapi masih ditahan oleh Sisi dengan genggaman erat.


Maira memiliki hati yang meradang melihat itu, "Sil" Maira memanggil dengan suara pelan tapi dengan mata yang melotot kearah Sisil. tapi sisil tak menggubrisnya.


"Hei! Siapa yang ngijinin kamu masuk kesini" Suara lelaki datang dari belakang, Mata semua orang yang ada disana menatap kearah suara.


Terlihat seorang pemuda dengan wajah yang memerah bukan karna malu tapi marah, marah melihat kedekatan Maira dengan pemuda yang mengalahkannya waktu balapan itu.


"Oh kamu? Aku belum menagih hutang janji yang kau ucapkan dulu! apakah harus sekarang?" Zai menatap Syam dengan ekspresi datarnya


"Hutang apa? Aku tak pernah memiliki hutang denganmu, Jangan bicara sembarang nanti orang akan salah sangka. orang kaya sepertiku tak mungkin memiliki hutang denganmu" Syam sangat kesal dengan melihat wajah pemuda itu, apa lagi dengan mengungkit masalah yang lalu yang tak ingin dia ingat lagi.

__ADS_1


Sejak saat itu dia tidak pernah lagi hadir di sirkuit balapan liar, Karna masih menahan malu.


"Apakah perlu aku keluarkan bukti, Aku punya rekamannya Loh, jika kamu memaksa aku bisa memperlihatkan ke semua orang" Zai tersenyum dengan santai


"Omong kosong dari mana, Satpam....." Jelas Syam tak ingin termakan umpan Pemuda itu yang ingin membeberkan bukti, meskipun dia tidak yakin apakah memang ada bukti, tapi untuk menghindari hal yang tak diinginkan dia harus memanggil satpam "Usir dia" Ucapnya lahi setelah melihat Satpam yang berjaga dipintu masuk berada disampingnya.


Dengan bingung Satpam itu terdiam, dia bingung apa yang harus dia lakukan. dia merasa serba salah.


"Adek mohon kerjasamanya, Ikut Bapak keluar Yuk" Dengan sopan Pak Satpam itu berbicara, karna dia yakin semua orang yang ada diruangan itu adalah orang berduit, Jika dia menyinggung salah satunya. termasuk mengusir pemuda dihadapannya ini, Mungkin saja dia akan dipecat dari pekerjaan.


"Pak Ahmad! biar kami yang menyelesaikan urusan kami, Bapak tunggu diluar saja" Maira maju dan menengahi.


Dengan cepat Pak Ahmad pergi, Sungguh dia tak ingin berurusan dengan mereka.


"Pak Satpam tunggu!" Teriak Syam, Tapi Pak Ahmad tak ingin menoleh atau berhenti dari langkahnya. "Sial!" Gumamnya lagi, Kesal melanda hatinya.


"Aku yang membawanya kesini Syam! Jadi kau tak perlu mencari ijin dari siapapun, jika kamu tidak suka? aku bisa keluar!"


Lagi-lagi semua orang termangu, Maira yang tak pernah marah-marah, sekarang meledak emosinya hanya karna seorang lelaki.


"Sepertinya Maira menyukaimu" Ucap Sisi disamping Zai. dia sengaja berada disana. "Tapi jika kau juga menginginkannya, kau akan dalam bahaya, karna banyak orang dikampus ini yang mengidolakan dia. tapi sayang dia tak pernah menerima satupun.


Dia belum berpengalaman soal cinta, Jika kau ingin yang berpengalaman? Hubungi aku!" Ucapnya pelan sambil menggunakan kode tangan


Zai tidak menanggapi dengan serius ucapan sisi, Dia hanya tersenyum saja lalu menarik tangan Maira, "Kita keluar saja, jika kau melawan orang idiot berarti kau sama idiotnya" Ucap Zai, Perkataannya tidak nyaring bahkan sangat pelan tapi menusuk dihati.


Maira langsung tersenyum, bukan karna kata-kata yang barusan Zai ucapkan tapi dia tersenyum karna tangannya dipegang oleh Zai.


Zai tidak melepaskan pegangan tangannya, dia terus menarik Maira hingga sampai ketaman, Setelah duduk dia pun melepaskannya. "Maaf"


"Tidak apa, Kau benar, jika melawan orang idiot maka sama idiot, Aku suka kalimat itu, Apa tadi kau melihat wajah marahnya, Tapi tidak bisa berbuat apa-apa" Maira tertawa lepas menambah kecantikannya bersinar.

__ADS_1


__ADS_2