
Pancaran sinar mentari pagi menghangatkan hati. Memberi warna baru dalam hidup yang terlalui.
Hamparan pasir putih menunggu air laut menghempas kepadanya. Deburan ombak tidak terlalu tinggi. Namun suasana itu begitu sangat damai. Ingin dia membuat sebuah kediaman di pulau dengan pemandangan yang indah.
Zai berdiri dari duduknya, bahkan dia tidak tidur semalaman untuk memulihkan semua kekuatannya yang habis.
'Sepertinya sistem telah meninggalkanku. Aku berhutang banyak kepadanya. Demi untuk mempercepat proses dan mempertahankan hidupku, dia rela berkorban. Apakah misi menjadi yang terkuat di organisasi cultivator sudah selesai ya? Aku merindukan notifikasi itu' batinnya merasakan perpisahan itu begitu cepat. Zai mendekati pinggir laut dan berteriak lantang. "Sistem! Aku merindukanmu" katanya.
Teriakan itu membangunkan dua orang yang tertidur. Dan segera mereka terjaga. Ketika bangun dan mengerjapkan matanya. Mata berbinar seolah ini tidak nyata.
"Mar kita sudah kembali. Kau lihat! Itu rumahku" Fahri begitu senang dan mengapit kepala Umar dengan kedua tangannya lalu mengarahkan ke arah rumahnya.
"Aku juga tau itu rumahmu, sakit ini! Apa kau mau kepalaku terkilir, seenaknya saja memutar" ungkap Umar yang kesal dengan kelakuan Fahri.
Dia segera berdiri dan berlari ke rumahnya. Sebelum sampai dia kembali lagi dan mengajak Zai untuk ikut. Zai hanya mengangguk dan Umar juga mengikuti mereka.
"Ayah!" Seorang bocah berumur lima tahun berlari dan melompat ke pelukan Fahri.
"Dimana ibumu nak?" Fahri bertanya kepada anaknya.
"Ibu di dalam Yah! Dia sedang menunggu ayah." Ucap Bocah lima tahun yang sudah sangat lancar bicara itu.
"Mainlah dulu! Ayah ada tamu" kata Fahri, dia menurunkan anaknya dari gendongan.
Zai melihat hal itu, timbul keinginannya untuk memiliki anak. "Dari sekian banyaknya wanita yang kutiduri dan ku beri zat putih. Tidak ada satupun yang mengandung, apakah aku tidak normal?" Dia bergumam dengan sedikit tertekan dihatinya.
"Fatimah, aku pulang!" Kata Fahri bersemangat.
__ADS_1
Seorang wanita keluar memakai daster yang cukup pendek. Itu kebiasaan fatimah karna tak pernah ada yang berkunjung ke rumahnya selain sahabat satu-satunya, yaitu Umar. Namun Umar pun tak pernah masuk kedalam. Sering berada diluar jika berkunjung 'takut menjadi fitnah' Kata Umar yang sering diucapkannya.
"Aku sangat mengkhawatirkanmu tau?" Kata Fatimah yang langsung memeluk Fahri dengan erat. "Apa kau baik-baik saja. Dan bagaimana kau bisa membuat konten yang begitu menarik sayang!" Fahri dicerca dengan berbagai pertanyaan.
"Tentu aku baik-baik saja sayang, seperti yang kau lihat" kata Fahri.
"Apa kau tau. Akun kita kan terhubung jadi aku bisa melihat ada begitu banyak penayangan dari video yang kau buat. Kau sangat hebat!" Puji Fatimah yang memberikan ciuman di pipi. Umar yang melihat itu memiliki wajah yang mau. Segera dia berpaling. Sedang Zai melihat rumah yang sangat sederhana itu. Lebih baik dari rumahnya di masa lalu, lebih buruk dari rumahnya yang sekarang ada beberapa.
"Fahri! Aku mau menelpon. Bisakah kau pinjamkan aku telepon" Zai bersuara memecah kemesraan mereka.
"Bisa Pak" sahut Fahri. "Sayang, pinjamkan aku ponselmu, ponselku kehabisan daya" ucap Fahri menatap istrinya, Fatimah.
"Tunggu, aku ambilkan sebentar" kata Fatimah.
Tidak lama kemudian, Fatimah kembali dan memberikan ponselnya.
Semua orang yang menjadi bawahannya dia hubungi melalui telepati. Dia terus memperluas jangkauan pikirannya dan membayangkan lokasi semua orang yang akan dihubungi. Dalam benaknya, dia seperti keberadaan dewa yang mencengkram bola dunia dan sedang mencari beberapa orang dengan titik-titik koordinat yang bertanda.
Cukup lama, memerlukan sepuluh menit waktu yang telah dia habiskan dalam pencarian itu, dia dalam keadaan duduk bersila dengan mata terpejam seperti seorang pertapa.
'Saddam, jika kau bisa mendengarkan suaraku, aku sekarang berada di sumatra di dekat pantai dalam sebuah rumah seseorang yang menyelamatkanku' ucap Zai.
Seseorang di tempat yang jauh disana sedang duduk bersama lima orang lainnya. Dia mendengar sebuah pesan suara yang memasuki kepalanya. Dia lantas mengangkat tangan menyuruh yang lain untuk diam. "Ini dari tuan muda" katanya lalu dia menfokuskan pikirannya untuk mengirim suara juga. 'Ya tuan, aku mendengarmu. Aku akan menjemputmu sekarang' sahut Sadam
'Beri aku nomor teleponmu, biar aku bisa membagikan lokasi' kata Zai.
Segera Saddam memberikan nomor teleponnya dan Zai menulisnya di pasir dengan ranting kayu yang kebetulan berada didekatnya.
__ADS_1
Setelah itu, telepati langsung terputus karena kepala Zai pusing, mungkin karena belum terbiasa.
Zai langsung memasukan nomor telepon itu kedalam Ponsek istri Fahri setelah itu dia segera men sherLock posisinya. Lalu kembali ke dalam Rumah Kayu milik Fahri.
"Ayo makan! Istriku sudah memasak nasi dan lauk, tapi maaf hanya seadanya saja" kata Fahri.
Zai mengangguk. "Kemana Umar?" Zai bertanya setelah duduk dilantai.
Tidak ada meja makan dirumah itu, jadi mereka makan di piring kaca sederhana dengan semua sajian sederhana saja. Ada Kopi serta teh panas yang menemani makan.
Meskipun katanya orang sumatera tidak pelit lauk. Namun bagi keluarga Fahri hanya itu yang dapat disajikan, bukan pelit.
Lewat tengah hari, suara gemuruh terdengar di atas laut. Semua orang keluar dari rumah untuk melihat hal apa yang membuat kehebohan di luar begitu berisik.
Semua mata menatap kagum helikopter yang mendarat di bibir pantai. Dan menurunkan beberapa orang yang juga membawa beberapa kotak. Entah apa isinya?
Saddam berjalan dengan tenang memimpin jalan bagi semua orang yang mengikutinya. Semua orang memandang dan membukakan jalan untuk rombongan itu.
Ada kebingungan di wajah semua orang yang melihat. Mereka tidak berani bertanya atau menghadang jalan. Tentu hanya orang yang berkuasa yang bisa datang dengan helikopter. Namun pertanyaan mereka lagi. Untuk siapa mereka datang?
Seorang anak kecil berumur lima tahun berlari dengan kencang. "Ayah, ibu!" Dia masuk kedalam rumah tanpa salam dan berteriak.
"Ada apa Nak? Mengapa kau berlari seperti itu, kita sedang ada tamu" kata Fatimah dengan lembut. Dia sudah tidak lagi memakai daster pendek karena ada Zai didalam rumah.
"Di Pantai ada dua pesawat besar ibu! (Anak kecil taunya hanya pesawat) dan ada beberapa orang yang keluar dari pesawat" kata Amin.
"Terus mengapa kau lari?" Tanya Fatimah seraya menyeka keringat Amin dengan handuk.
__ADS_1
Mereka menuju kesini ibu…..