Sistem Konglomerat

Sistem Konglomerat
Menjual Informasi


__ADS_3

Semua orang terkejut dengan perkataan yang terlontar dari mulut Zai. Bahkan Farhan merasa tidak nyaman dengan gadis disampingnya.


Diam! Farhan terdiam dalam sebuah pertanyaan. Apa yang salah dengan dirinya? sedangkan Kakaknya boleh!!


"Hahahahahaha" Gelak tawa keluar dari mulut Zai setelah melihat semua wajah bingung mereka. "Sudah, Aku hanya bercanda saja" Ucapnya kepada semua orang tanpa melihat mimik wajah mereka lagi. Zai segera mengayunkan tangannya yang berisi makanan ke mulut dan menikmati setiap gigitan nikmat itu.


Zai tidak berbicara lagi. Karna dia memang mempertahankan prinsip. kalau makan tidak boleh bicara. karna akan mengurangi syukur akan nikmat yang diberikan oleh Author.


Setelah lima belas menit. Mereka semua menyelesaikan makan. Zai berjalan kekamar tanpa menghiarukan pandangan penghuni rumah. Dia segera mandi dan berganti pakaian lalu membuka Leptop untuk melihat perkembangan Pt Pilar Indah.


Zai meraih ponselnya lalu memanggil nomor yang tertera dilayarnya dan menghubungi pihak dari Pt Pilar indah.


"Sambungkan aku dengan Bosmu!" ucap Zai langsung setelah tersambung.


"Mohon maaf sebelumnya. Ini dari mana ya?" Sahut Pihak sana.


"Katakan saja dari @Juba, Dia akan mengerti" Ucap Zai.


"Baik tunggu sebentar. Saya akan memberitahu lebih dulu kepada atasan" Sahut wanita itu dengan sopan.


Zai menunggu beberapa saat hingga telpon tersambung kembali dan itu langsung terhubung dengan Xander. "Apa maumu?" Tanya Xander tanpa basa-basi.


"Sabar dulu Bos. Nyantai." Ucap Zai. dia tidak ingin terburu-buru. "Aku akan memberimu pilihan. Jual atau hancur" Sambunnya lagi.


"Kau brengsek, keparat! aku tidak akan pernah menjualnya kepadamu" Ucap Xander dengan murka.


"Itu pilihanmu. Maka kau akan menunggu menit-menit kehancuranmu."Zai langsung memutus sambungan telpon dan mulai menjual informasi yang dimiliki oleh Pt Pilar Indah kepada saingannya. Selain mendapat untung uang, Dia juga mendapat untung atas kehancuran.

__ADS_1


Tidak berapa lama, Alisya dan Aisya masuk kedalam kamar Zai dan memeluk Zai dari samping. Zai terpaksa menutup leptopnya untuk melayani dua wanita yang sudah terlalu lama menganggur itu.


"Sebaiknya kita keluar mencari hotel. Aku tidak ingin Nenek berpikir yang macam-macam. Apalagi jika Farhan tau kelakuan Kakaknya bersama dua wanita cantik. Aku tak ingin dia rusak karna aku." Ucap Zai tanpa menepis rangkulan tangan Aisya dan Aliysa.


"Oke, Ayo kita goyang Hotel di Kota Jakarta ini!!" Aisya sangat bersemangat mendengarnya. Segera dia mencari baju dalam kopernya. begitu pula dengan Alisya. Dia tak ingin ketinggalan.


Zai menggelengkan kepalanya melihat tingkah mereka. Untungnya hanya mereka berdua. jika semuanya dia pasti bingung bagaimana menanganinya. Dua wanita itu tanpa malu bertelanjang dihadapan cermin sembari memilih baju untuk mereka pakai. Zai keluar dan berencana menunggu diruang tamu. Karna nalurinya sudah hampir tak terbendung melihat keindahan itu.


Sepuluh langkah berjalan dia mendengar ada bunyi yang tidak asing ditelinganya. Ada nafas mesum yang terdengar.


Tentu Zai tau siapa itu. Dia segera mendekat dan menengok dari atas sofa.


"Kalian ini masih kecil" Ucap Zai sambil mendorong sedikit kepala Farhan. Setelah itu dia berkata kembali. "Antarkan dia tanpa kekuarangan satu pakaianpun. Jika tidak akan ku adukan sama Maira" Ancamnya sambil tertawa.


"Ih-kakak mengganggu saja." Ucapnya malu dan dia melihat wajah Bella yang juga malu dia segera mengambil bantal dan menutup wajahnya.


"Aku hanya bercanda, Tapi ingat jangan berlebihan. Kalian masih harus sekolah" Ucap Zai mengingatkan lagi. Setelah itu dia pergi bersama Alisya dan Aisya yang sudah memanggilnya.


Mereka pun masuk ke Mobil Xenia milik Zai "Sebelum ke Hotel lebih baik kita jalan-jalan saja dulu." Aisya memberi ide. "Bagaimana menurutmu Al?" Tanya Aisya sambil menatap Alisya yang berada disamping Zai.


"Aku sih... Oke-oke saja.... Sayang Gimana?" setelah menyahut pertanyaan Aisya, Alisya segera bertanya kepada Zai dengan wajah imut yang dipasang.


"Terserah kalian." sahutnya dengan mengangkat kedua bahu dan tangannya. lalu mulai menyetir kejalan utama.


.............


Kelap-kelip lampu ditengah kota. Menghiasai tempat-tempat nongkrong anak muda. "Apakah mau ke Club?" Zai bertanya menghentikan pembicaraan dari dua wanita cantik itu.

__ADS_1


"Jangan deh, Lebih baik kita nongkrong santai aja. Cari Cafe yang pemandangannya bagus." Pinta Aisya bersemangat.


"Ini pertama kalinya aku jalan-jalan di Jakarta." Ucap Alisya menatap kagum gedung-gedung pencakar langit yang berdiri kokoh. dia menurunkan kaca Mobil dan mengeluarkan kepalanya menghirup udara malam. Begitu pula aisya, Dia melakukan hal yang sama ketika melihat kelakuan Alisya. dan mereka berdua berteriak. "Uuuuuuuuuuu, Aku sangat bahagia" Mereka berdua tertawa setelahnya.


Zai lagi-lagi menggelengkan kepalanya. "Sudah cukup, Nanti ditegur Polisi." Ucap Zai mengingatkan mereka.


Mereka pun patuh dan menarik kepala lalu menutup kaca lagi. Zai melihat Cafe yang tidak terlalu rame pengunjung. Segera dia memarkirkan mobil diparkiran.


"Disini saja tidak apakan?" Tanya Zai lagi dengan menoleh kebelakang. Dia merasa seperti seorang sopir yang sedang membawa majikan untuk jalan-jalan.


"Tidak masalah" Sahut mereka berdua dan mereka bertiga keluar dari Mobil.


Kini dia merasa seperti seorang pangeran dengan dua istri cantik dikedua sisinya. Banyak pasang mata yang memandang mereka ketika mereka bertiga lewat. Bahkan ada yang berkata. "Tuhan, Sisakan untukku wanita cantik yang seperti itu." Katanya. Dia merasa iri dan ketika melihat kesamping, Hanya ada wajah laki-laki yang tidak ganteng yang menjadi temannya.


Mereka jomblo dan hendak berniat melirik wanita yang tidak berpasangan. Tapi mata mereka silau ketika melihat Satu orang menggandeng dua wanita.


Ada juga dimeja yang lainnya seorang lelaki yang berpasangan tapi matanya terus memandang mereka bertiga. Byuuuur!! Semburan air langsung menyembur kewajah lelaki itu.


"Mata kau itu harus dicuci agar tidak perlu mencuci mata lagi." ucap sang wanita yang begitu kesal. dia segera meninggalkannya.


Sang lelaki bergegas keluar mengejar. sebelum itu dia harus membayar makanan yang sudah tersaji meskipun belum dimakan.


Begitulah lelaki, Sulit untuk mengendalikan mata. Namun. meski matanya memandang orang lain hatinya akan tetap setia kepada pasangan.


Mereka menemukan tempat untuk bersantai pada lantai dua di balkon cafe yang memiliki pemandangan yang cukup indah.


Pelayan langsung mendatangi mereka dan menawarkan apa yang bisa ditawarkan dengan ramah dan sopan.

__ADS_1


Sesekali pelayan wanita itu melirik Zai yang bersandar pada kursi. 'Tampan sekali pemuda ini, pasti dia anak bos. Terlihat dari pakaian yang bermerek dan dua wanita yang ada disampingnya. Kemungkinan juga dua wanita ini adalah wanita panggilan, Aku pasti juga bisa ikut dalam antrian' pikirnya dengan segala bayangan yang ada dikepalanya.


__ADS_2