Sistem Konglomerat

Sistem Konglomerat
Mengganggu Wanitanya 2


__ADS_3

Terima kasih sudah mendukung karya ini dengan doanya dan juga like nya, Apalagi Votenya.


Jangan lupa bersaran lah yang baik agar karya ini dapat meningkat menjadi lebih baik...


Salam dari pedagang, Pengangguran dalam gang.


Zai menunggu tubuh itu terjatuh kemudian dengan kakinya dia menginjak tangan pemuda itu, Zai langsung menginjak remuk tangan itu kemudian sekali lagi menedeng dagu sang pemuda hingga melemparkan nya ketanah dan terjadi beberapa kali hingga pemuda itu pingsan.


"Sudah Ka Cukup, Kasihan dia" Ucap Vera yang tak ingin Zai sampai membunuh orang itu.


Meskipun dia merasa nyaman karna di tolong lagi, Tapi dia tak ingin karna dia ada orang yang meninggal.


Zai berbalik mendatangi Vera yang menegurnya "Aku akan mengantarmu pulang" Ucapnya kepada Vera lalu mengalihkan pandangan nya kepada yang lain dan berkata lagi. "Terima kasih sudah membantu Vera, Jika kalian ada perlu silahkan hubungi aku" Ucap Zai sambil menyodorkan kartu namanya kepada Roy.


Roy menyambut dengan uluran tangan nya dan berterima kasih karna dia juga di tolong, Jika pemuda di hadapan nya tidak datang, Dia tak tau bagaimana akhir cerita mereka.


"Kami juga berterima kasih kepadamu" ucap Roy


Mungkin mereka hanya berbeda beberapa tahun, Tapi dalam segi kekuatan mereka jelas tertinggal, Itu akan menjadi sebuah motivasi bagi Roy, Karna untuk melindungi orang yang di sayangi haruslah punya kemampuan.


"Ver, Pacarmu tampan sekali" Bisik Gadis yang ada di samping Vera.


"Apa kamu mau, Kita bisa berbagi" Canda Vera


"Hust mana ada begitu, Aku hanya kagum saja, Bukan hanya tampan, tetapi juga Baik dan bisa melindungi, itu sesuatu yang selalu aku impikan" Ucap gadis itu


"Yah, Padahal aku ingin berbagi dengan mu Nin" Ucap Vera sambil terkekeh senang bisa mengerjai teman dekatnya itu.


"Sayang, Ayo balik" Ucap Zai bersuara sembari tangannya meraih tangan Vera dan menuntunnya ke Mobil.

__ADS_1


"Ugh, Punya pacar seperti itu enak banget ya, Tampan, Kaya dan juga baik" Ucap Nindi sambil menoleh kesamping dan tertawa kecil lalu dia mengambil motornya. "Woy pulang...!" Tegur Nindi yang melihat delapan orang yang masih terbengong.


Setelah mendengar teriakan Nindi, Mereka semua pun bergerak, Roy dan ke tiga pemuda lainnya hanya menggeleng pasrah, Untung nya pacar mereka tidak mempermasalahkan keuangan mereka masing masing.


Di perjalanan notifikasi Sistem terdengar.


(Selamat tuan mendapatkan 10 Poin Sitem atas kebaikan menolong orang lain, Rajin rajin lah berbuat kebaikan karna dengan kebaikan akan mendapatkan manfaat dan keuntungan yang dilipat gandakan) Ucap Sistem dalam kepalanya.


........


Setelah Mobil Zai melaju mereka pun pergi dari tempat itu menyisakan teriakan kekacauan yang tersisa.


Beberapa saat ada Mobil polantas yang lewat, Dan berhenti di tempat itu, Ada empat orang di dalamnya dan keluar secara bersamaan. Salah satunya adalah wanita yang merupakan Polwan yang berlari untuk memeriksa kondisi sepuluh orang yang tergeletak di jalan di temani oleh tiga orang lainnya.


"Cepat telpon Ambulance. kita harus segera membantunya" Teriak Polwan itu dengan lantang.


.........


"Tidak apa, Biarlah, Nanti saja di pikirkan masalah itu" Ucap Zai dengan santai. Sekarang dia berada di rumah dengan Vera berada dalam dekapan nya..


Untung nya Ferdinan belum pulang, Jadi dia bisa bermain dengan gadis muda yang haus akan belaian itu.


Meskipun kadang dia merasa bersalah jika bertemu dengan Ferdinan karna telah menghancurkan masa depan adiknya, Tapi dia tak rela jika melepaskan daun muda yang terus bermanja kepadanya.


Zai memutuskan sambungan telpon nya setelah menyuruh Udin dan kawanan nya pulang ke markas besar.


Udin di tempatkan Zai di markas besar bersama dengan amat dan juga jalu, Mereka menjadi pemimpin disana. dan Torax serta Ferdinan berada di kantor keamanan yang berdiri tegak di gedung berlantai tiga..


Jam Dinding masih menujuk kan pukul 15:47, "Kak, Masih ada waktu sebelum Kak Ferdinan pulang, lebih baik kita melakukan itu" Ucapnya dengan malu, Karna setelah dia pingsan dan di tinggalkan oleh Zai beberapa hari yang lalu, Saat tersadar di malam malamnya dia selalu susah tidur, Teringat selalu akan rasa yang sebenarnya tak wajar.

__ADS_1


Dia hampir dua jam sekali membuka pintu kamar Zai untuk memastikan apakah ada orangnya di dalam, Tapi nihil, Hal itu membuatnya kecewa, Dan terpaksa dia bermain jari sendiri karna area itu sangat gatal dan menginginkan milik Zai memasukinya.


"Bagaimana jika Ferdinan tau dengan hubungan kita ini?" Tanya Zai sembari memutar mutar rambut Vera dengan tangannya.


"Biar aku yang bertanggung jawab menjelaskannya, Kakak tak perlu khawatir karna Kak Ferdinan sangat menyayangiku" Sahut nya yang mulai bergerak dan mencium bibir Zai dan langsung menyedotnya.


Mereka pun bertukar air liur dan saling menyatukan lidah.. hingga pertempuran pun harus di skip.


(Maaf membuat anda kecewa hihihi)


......


Di dalam rumah sakit, Ada sepuluh orang yang terbaring di tempat tidur. Dan masih belum bisa di tanyakan siapa pelaku yang membuat mereka jadi seperti itu.


Ada beberapa orang yang menunggu mereka sadar dari pingsan nya. Termasuk polisi yang berjaga untuk menanyai mereka agar penyelidikan dapat berlanjut.


Polisi sudah memeriksa jalan itu, Tapi tidak ada cctv disana jadi menyulitkan mereka untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


"Baiklah Bu Dian, Jika anak anda sudah sadar, Harap telpon kami lagi, Agar kami segera kesini dan melaksanakan tugas" Ucap salah seorang polisi yang menunggu lama dari tadi.


"Baik Pak Fajar, Terima kasih sudah hadir disini, Saya ingin pelaku nanti di hukum berat atas perlakuan mereka kepada anak kami"


"Akan kami usahakan Bu, Kami permisi dulu" Ucapnya lalu mengajak Polisi disampingnya untuk pergi beranjak dari Rumah Sakit.


"Nak.. Lekas sembuh Ya, Agar ibu bisa tau siapa yang membuatmu seperti ini" Ucap Bu Dian sambil mengelus pucuk kepala anak nya dan mencium keningnya. dia sangat sayang dan memanjakan anak nya, Hingga anak nya dengan semaunya berbuat apa yang dia kehendaki.


Seseorang mendorong pintu dengan keras setelah memastikan kamar itu memang tujuannya.


Bu Dian menoleh karna mendengar langkah kaki cepat, "Sayang, Anak kita...!" Ucap Bu Dian memeluk Suaminya yang baru datang.

__ADS_1


"Siapa yang melakukannya, Apakah mamah sudah mengetahuinya?" Tanya Pak Shodiq


Dian menggelengkan kepalanya "Hanya menunggu Robby siuman baru polisi bisa menanyainya, Entah sampai kapan baru bisa sembuh, Kata dokter tulang tangan nya remuk, dan juga rahang nya tergeser, Aku tak mau tau kau harus mencari pelakunya dan membunuh nya beserta keluarga nya. Aku yakin bukan hanya satu orang yang melakukan penyerangan itu, Karna ada sembilan orang teman Robby yang juga terkapar di ruangan rumah sakit.


__ADS_2