Sistem Konglomerat

Sistem Konglomerat
1Milyar Pertahun


__ADS_3

"Bajingan itu memang harus diberi pelajaran, Agar dia tau bagaimana caranya bersikap sopan" Sepeninggal Zai yang menarik Maira menjauh, Syam dirundung malu ditambah pujaan hatinya dibawa kabur dari hadapanya, Dia memiliki tangan yang terkepal erat hingga ujung kuku-kukunya menusuk kedalam daging, mengalihlr darah sedikit dari selanya, lalu dia pun pergi, Serasa tak memiliki wajah jika terus bertahan untuk waktu yang lama diruangan itu.


"Kasian dia ya, Mengejar terlalu lama, Eh dicuekin dan malah dengan orang lain, Padahal dia cukup ganteng tajir lagi" Ada seorang wanita yang berkomentar setelah Syam pergi, Mereka pun mulai meng-ghibah dengan bebas tanpa sadar semua itu akan begitu menyakitkan ketika orang yang dighibah mendengar.


...............


Waktu berlalu, Dan acara penggalalangan dana atau juga yang mungkin bisa dianggap lelang barang buatan tangan berakhir, Semua orang sudah pergi dari Aula.


Maira menarik tangan Zai untuk kembali keruangan dan bertemu dengan Kak Jabbar.


"Kak! Apakah Kakak ada waktu?" Setelah begitu dekat Maira segera bertanya. sambil menampilkan senyum terbaiknya. meskipun bukan senyum untuk kekasih tapi itu sedap dipandang mata.


Orang yang disebut Kak Jabbar pun menoleh, Karna dia tadi sedang sedikit sibuk merapikan barang-barang miliknya. "Sepertinya ada sekitar lima belas menit, Ada apa memangnya?" Dia pun bertanya sambil melihat waktu yang ada di jam tangannya.


"Ada temanku ingin bicara Kak! katanya dia ingin menyumbang" Maira menarik Tangan Zai lagi, sedetik pun dia tak pernah melepaskan pegangan tangannya dari pergelangan tangan Zai dari taman hingga berhadapan dengan Kak Jabbar diruangan.


"Kita cari tempat duduk dulu" Lalu dia melangkah kearah kursi yanh juga ada mejanya. lalu menggerakkan tangannya meminta dua orang itu untuk duduk "Tapi maaf sekali nih, karna aku ada kesibukan yang lain, Jadi dipercepat saja, berapa yang ingin disumbangkan?"


Zai tersenyum dengan kesopanan orang yang bernama Kak Jabbar ini. "Aku mungkin akan menyumbang satu milyar saja, Tapi aku akan melakukannya setiap tahun, Bagaimana?"


"Apa? Setiap tahun" Dua orang yang berada didekatnya seakan dipukul dengan keras kepala mereka ketika mendengar hal itu, Bukan nominalnya yang mereka kagetkan tapi pertahunnya.

__ADS_1


Setelah meredam keterkejutannya, Jabbar segera menguasai dirinya kembali lalu dia berkata dalam hati 'Aku yang memiliki usaha sendiri saja tak mampu untuk mengeluarkan uang sebesar itu jika harus pertahun, tapi dia.... Aku harus mencari tau latar belakangnya, Orang ini cocok dijadikan teman, kaya tapi juga tidak terlihat sombong, tidak seperti kebanyakan generasi kedua orang kaya'


"Baiklah, tapi uang seperti ini bukan wewenangku, Kita harus membicarakan hal ini dengan mendetail kepada pihak yayasan dan dengan sebuah perjanjian yang tidak merugikan si Pendonasi dan juga Yayasan" Jelasnya lalu terlihat dia mengambil ponsel dalam tasnya dan tidak memperlambat waktu.


"Aku ada kesibukan mendadak sayang, Aku tak bisa jemput kamu Ya, Maaf" Mungkin dia menelpon pacarnya atau juga istrinya, Entahlah!


Kemudian dia mendial lagi sebuah kontak, Ketika tersambung dia langsung berbicara "Pak rektor, Mohon minta waktunya sebentar karna ada hal penting yang saya ingin bicarakan kepada anda dan juga para dewan"


"Langsung saja datang keruanganku" Sahut Pak Rektor itu.


"Mm baiklah.." Tutup nya lagi telpon lalu melihat kearah Pemuda dihadapannya. "Bisakan ikut dengan ku bertemu dengan Rektor dan juga para dewan?"


"Baiklah, hati-hati" Ucap Zai lalu mengikuti Jabbar dibelakang. Mereka pun berbincang santai diperjalanan dan mengenalkan diri kembali masing-masing.


Tok tok tok Jabbar mengetuk pintu Ruangan Rektor. setelah terdengar ada suara meminta masuk, Jabbar segera mendorong pintu sambil menekan pegangan pintu kearah bawah.


Terlihat didalam ruangan ada tiga orang yang sedang berbincang, mereka semua kisaran umur berada pada umur 46 tahun.


"Duduklah" Orang yang berada ditengah meminta mereka berdua untuk duduk. "Ada hal apa sebenarnya?" Tanya orang itu lagi yang tidak lain adalah Rektor kampus itu sendiri, Sambil menatap wajah Jabbar dan seorang lagi yang duduk disampingnya.


Jabbar juga menatap Pak Rektor lalu menyahut "Teman saya ini Pak, ingin menyumbang uang satu milyar pertahun untuk jangka panjang yang belum ditentukan, Saya tidak bisa mengambil keputusan, Jadi semua urusan akan saya limpahkan kepada Pak Rektor selaku yang memiliki wewenang tinggi"

__ADS_1


Dua orang dewan dan juga Pak Rektor memiliki wajah yang seketika berubah dari datar menjadi terkejut, dan itu bertambah tercengang ketika memikirkan akan ada pertahun uang masuk, Dan mereka saling memandang ada sedikit senyuman yang terpampang disudut bibir mereka. Entah apa yang mereka pikirkan tapi kita berbaik sangka saja dulu.


Pak Rektor yang diketahui bernama Bram langsung mengulurkan tangannya ke arah Zai untuk saling bersalaman. dan Zai melihat itu juga langsung mengulurkan tangannya. satu persatu dari dewan itu menyalami Zai dan memperkenalkan diri.


"Jadi bagaimana agar kita sampai pada kesepakatan ini?" Tanya Rektor Bram menatap Zai.


Orang yang ditatap pun tersenyum lalu dia berkata "Semua harus detail laporannya, Kemana masuknya, kemana perginya! dan aku akan mengirimkan Pengacara saya untuk mengurusnya. karna ini akan menggunakan jangka panjang, Apakah ada yang dipertanyakan lagi?"


Terlihat wajah mereka sedikit hilang semangat mendengar kata-kata yang diucapkan anak muda itu, "Terserah kepada Nak Zai saja, Kami berharap dengan adanya kesepakatan kerjasama ini, Akan sangat membantu buat orang yang tidak mampu"


"Hemm, Kalau begitu kita akan mengadakan pertemuan lagi di lain waktu dan tempat yang lebih cocok untuk membicarakan hal ini, aku akan mengabari Kak Jabbar, Jika waktunya sudah tiba!" Sahutnya lagi


Kemudian dia melirik kepergelangan tangannya dimana disana ada Jam tangan merek RM yang melingkar dengan indah "Sepertinya aku ada kesibukan yang lain lagi, Jadi aku akan undur diri" Zai pun berdiri kemudian mereka berjabat tangan kembali


"Saya juga akan pergi Pak Rektor" Ucap Jabbar lalu dia mengikuti Zai dari belakang dan mereka saling berbicang lagi


"Padahal untung didepan mata tapi tidak bisa mengaisnya! Hah" Salah satu dewan langsung bersuara ketika dua orang anak muda itu pergi sambil menghela nafas pelan.


"Kau benar, Mungkin buka rezeki kita" Sahut dewan satunya lagi. mereka pun berbincang santai melanjutkan apa yang sudah mereka bicarakan sebelumnya.


Sedangkan Zai tidak tau apa yang mereka pikirkan dan rencanakan, Dia masih bersikap tenang "Aku akan menjemput Maira, Semoga kedepannya kita bisa bertemu lagi" Ucap Zai sambil menatap Jabbar yang juga sepertinya ingin mereka berpisah ditempat itu.

__ADS_1


__ADS_2