
Dua buah Mobil van itu terus mengikuti Zai hingga mendekati tikungan. Segera kedua mobil berhenti menutupi Langkah Zai.
"Siapa kalian!?" Zai berpura-pura panik dan ketakutan.
Tiga orang keluar dari satu Mobil yang ada di depan membawa selembar kain yang langsung menutupi kepala pemuda itu.
Lalu menarik kedua tangan Zai dan membawanya masuk kedalam mobil, Zai yang memang berpura-pura panik. Berusaha menggerakan badan dan melawan dan sebuah pukulan di tengkuk kepalanya membuatnya harus berpura-pura pingsan.
Suara tawa pun terdengar dalam mobil itu.
"Betapa mudahnya tugas ini!" Ucap Anjas.
Zai hanya tersenyum, sebetulnya sangat mudah untuk melumpuhkan mereka. Namun Zai hanya ingin menghabisi di tempat. Dimana tidak ada sorot kamera yang bisa menjadi bukti bahwa dia akan menghabisi banyak orang dalam sekali gebrakan.
Hanya melewati beberapa menit. Mobil berhenti setelah memasuki sebuah gudang yang cukup besar. Dalam gudang itu, ada puluhan orang yang sudah menunggu. Termasuk Fredy dengan gayanya duduk ditemani oleh dua wanita yang memijat tubuhnya antara bahu dan juga kakinya.
Sangat indah untuk dilihat. Tapi sayang dia memilih lawan yang salah kali ini. Dia sengaja mengumpulkan banyak orangnya bukan berpikir tidak mampu untuk menghukum satu orang. Akan tetapi, dia ingin lawan kalah dalam mental sebelum di hukum. Dan itu merupakan kebiasaan yang dilakukannya terhadap orang lain jika ada orang yang menyinggungnya.
"Bawa pemuda itu ke hadapanku, cepat!" Ucap Fredy.
Dua orang dari dua sisi yang berbeda memapah Zai yang tak sadarkan diri, menurut mereka. Padahal Zai begitu tersenyum di balik penutup kepala itu.
"Jas, kau tidak salah tangkap bukan?" Tanya Fredy lagi. Dia melambaikan tangannya meminta kepada dua wanita itu untuk berhenti sebentar. Lalu berdiri.
"Aku sangat ingat wajahnya Bro! Tak mungkin aku salah orang. Aku kira orang yang bersaing denganmu adalah anak dari kalangan atas. Tak taunya hanya pejalan kaki biasa!" Ucap Anjas.
__ADS_1
Fredy menggerakan jarinya hingga terdengar bunyi keretak lalu menarik penutup kepala yang ditutupkan ke kepala Zai.
Seketika dia terbelalak matanya mendapati bahwa orang yang ditangkap tersenyum ke arahnya. Namun itu hanya sebentar saja, setelah itu dia dapat mengendalikan diri dan berkata "selamat datang teman di tempat siksaan bagi orang yang telah menyinggungku" ucap Fredy.
Dia tersenyum senang. "Ambil kamera dan rekam, lalu kirim ke Selly. Aku ingin melihat wajah ketakutannya. Ini untuk membuatnya tidak lagi bertingkah kekanak-kanakan!" Perintah Fredy kepada salah seorang yang berada disana. Entah siapa?
Satu orang langsung mengeluarkan ponsel dari sakunya dan berkata "aku sudah siap Kak Fred!"
"Ayo kita mulai berpesta!" Ucap Fredy seraya tersenyum. Beberapa orang langsung mendekati Zai dan mengayunkan serentak tangan mereka sambil tertawa.
Namun Zai bergeming ditempat. Hanya aura tak kasat mata yang keluar dari tubuhnya. Membentuk sebuah perisai yang menahan semua ayunan tangan itu untuk tidak mengenai tubuhnya.
Berjarak lima sentimeter dari tubuh Zai. Tangan semua orang yang ingin memukul itu tidak bisa lagi diteruskan apalagi ditarik kembali. Tidak ada yang mengetahui dengan pasti apa yang sebenarnya terjadi. Namun kini mereka ketakutan ketika tangan pemuda yang hendak mereka aniaya melambai dengan bebas. Tangan itu seolah membawa petaka dan ada rasa mencekam yang dapat dirasakan dan juga seringai yang ditunjukan terasa lebih menakutkan.
Baam! Sepuluh orang terlempar tanpa tahu penyebabnya.
Zai masih berdiri dengan entengnya, dia tersenyum menatap Fredy yang membelalakan mata menatap dirinya. Zai perlahan berjalan. Setiap langkahnya seolah memberi teror pada hati siapapun yang memandangnya.
Langkah kaki mereka tertahan, seolah dipaku di tempat, tak bisa kemana-mana walau pikiran mengajak untuk berlari.
Melihat kekuatan sederhana yang ditunjukkan oleh pemuda itu. Tentu mereka takjub sekaligus takut. Bagaimana tidak? Jika sepuluh orang terlempar hanya dari kibasan tangan.
"Semuanya jangan takut, dia hanya seorang diri dan yang sebelumnya adalah kebetulan, mungkin dia memakai trik di lengan bajunya. Ayo jangan beri ampun!" Fredy memberi semangat. Untuk membangkitkan perasaan mereka yang tenggelam akibat keterkejutan yang dilakukan sesaat yang lalu oleh pemuda yang dia tidak tau namanya tersebut.
Kembali semua orang yang ada disana bergerak. Semuanya termasuk Fredy sendiri maju untuk memberikan pukulan dan tendangan.
__ADS_1
Lima belas orang benar-benar ingin mendambakan bulan. Dengan membuat tangga berharap bisa meraihnya. Akan tetapi pohon besar yang ada dihadapan mereka siap untuk menghancurkan apa saja dan menumbangkan mereka.
Arg! Satu orang dipatahkan tangannya oleh Zai. Kini Zai tidak menggunakan aura tubuh. Dia memakai teknik bela diri kuno untuk menghancurkan mereka satu persatu.
Arg! Kaki yang menendang ditangkap oleh Zai dan langsung dipatahkannya ditempat. Lima tarikan nafas berlalu, sudah delapan orang terkapar, diantaranya patah tangan dan patah kaki. Namun Zai tetap membiarkan hidup. Karena sebenarnya bukan salah mereka. Yang salah hanya pergaulan saja.
Dimana satu orang yang menjadi pemimpin di antara belasan orang itu harus dididik lebih ketat lagi. Agar tidak pernah lagi memaksa ataupun membully orang lain yang lebih lemah dari mereka.
Enam orang lainnya mundur perlahan, tak dapat mereka pungkiri. Kekuatan orang yang mereka hadapi kali ini sungguh di atas dari rata-rata orang ahli.
Tersisa Fredy yang tetap berdiri dan tidak mau mengakui kekalahan.
"Kau salah memilih lawan Bro!" Zai menepuk tangannya yang berdebu. Setelah membuat beberapa gerakan untuk melumpuhkan serangan delapan orang. "Mungkin orang lain akan takut kepadamu, tapi aku tidak! Hanya anak dari manajer umum saja kau begitu merasa hebat!" Ucap Zai
"Pasti Selly yang menyatakan latar belakangku, baguslah! Setidaknya aku tidak perlu untuk menutupinya lagi, dan harusnya kau berlutut di kakiku. Sebab aku bisa saja meminta ayahku untuk membunuh semua keluargamu, hahaha!" Fredy jelas tertawa, dengan sikap sombong yang dimilikinya. Namun benar apa yang dikatakan oleh Zai. Bahwa dia Fredy salah memilih lawan.
Zai cukup tersenyum melihat Tingkah Fredy yang bisa di bilang bodoh. Sebab, sudah di ujung kehidupan malah semakin sombong dan meminta Zai untuk berlutut.
"Tidak seharusnya kau memintaku untuk berlutut!" Zai bergerak mendekat dan memberikan tendangan pada lutut Fredy tanpa dapat dihindari kecepatan gerakannya.
Fredy hanya bisa menangis, berteriak, tak bisa bangun. Sebab salah satu tempurung kakinya retak dan hancur dari dalam.
Erangan dan tangisan bercampur menjadi satu seperti sebuah kesatuan yang tak bisa dipisahkan.
"Apakah ini untuk pertama kalinya kau diperlakukan seperti ini?"
__ADS_1
Zai tentu memahami dan hal itu tidak sepatutnya dipertanyakan lagi, sebab jawabannya sudah diketahui dengan jelas. Namun Zai hanya bertanya tanpa ingin dijawab, seolah pertanyaan itu hanya ingin mengejek kesombongan yang sebelumnya..