
Mendengar untaian kalimat yang menyentuh perasaan, Bulir air mata perlahan keluar dari pupil matanya yang mulai berkaca.
Sungguh dari kebanyakan orang yang bersyukur hanyalah orang yang benar benar kekurangan..
'Sistem, dimana alamat rumah yang kudapatkan, Aku akan memberikannya untuk nenek ini'
(Jl intan RSPP Cilandak Barat, tuan bisa melihat Peta di Maps sistem)
'Terima kasih sistem' Zai segera mengucapkan kalimat itu, Karna sistem seolah sudah memperkirakan masa depan jadi memberikan rumah karna menolong Wanita yang diculik.
'Sekarang bagaimana caranya untuk membuat Nenek ini mau menerima rumah itu' Hati nya berpikir lagi
"Apakah Nenek sendirian saja tinggal disini?" Zai pura pura tidak tau.
"Aku bersama dengan Cucu laki lakiku satu satunya, Tapi dia sekarang sakit, sudah enam bulan lamanya tidak pernah sembuh"
"Kenapa tidak dibawa ke Rumah Sakit Nek?" Zai segera bertanya
"Perlu uang yang banyak Nak, Sedangkan dengan apa yang kau lihat, Nenek hanya bisa berjualan gorengan saja" sahutnya sedih dan terlihat air mata ketidakberdayaan jatuh dimatanya.
Zai segera memeluk Nenek itu lalu berkata, "Aku bisa menyembuhkan cucu Nenek, Tapi dengan Syarat, Bisakah Nenek tinggal dengan ku? Aku sudah lama tidak memiliki keluarga yang menganggap keberadaanku, Jadi aku ingin Nenek menjadi Nenekku, Bagaimana?"
Maimunah menatap wajah yang berbicara setelah Zai melepaskan pelukannya, Terasa pelukan yang sangat kesepian akan kasih sayang keluarga.
"Jika kau bisa menyembuhkannya, Jadi pelayanmu hingga ahir hidupku tanpa digajih aku rela Nak, Tapi jika aku ikut denganmu, Bagaimana dengan cucuku?"
"Kau tenang saja dia juga akan ikut, Dimana sekarang cucumu itu Nek?"
"Dalam kamar Nak" Sahut Maimunah.
Zai segera berdiri dengan masih sedikit menunduk karna rumah itu dari luar hingga kedalam sama rendahnya.
Zai melihat seorang anak laki laki yang kisaran berumur tiga belas tahun terbujur di atas kardus bekas yang dihempari oleh sarung sebagai pelapis.
Zai meraih tangan kurus itu dan mencari nadinya, Setelah diam beberapa detik dia pun sudah dapat menyimpulkan penyakit itu.
'Ini kekurangan sel darah merah, Dan komplikasi yang lainnya karna kurangnya Gizi''
Zai pun segera membeli Pil Penambah darah dan memberikan langsung ke mulut Anak itu.
Maimunah segera menyerahkan segelas air putih setelah melihat pemuda itu mengelurkan sebutir pil dari sakunya.
Dia tidak bersangka buruk, Karna tak mungkin orang yang terlihat kaya menambah derita mereka dengan memberikan racun untuk cucunya.
__ADS_1
Zai merebahkan kembali tubuh Anak kecil itu lalu menunggu beberapa detik hingga efek obat bekerja dengan maksimal.
Selang beberapa detik setelahnya, Anak itu terbangun dengan mata cerah, Dia tidak lagi merasakan pusing dan lemes pada tubuhnya. Dia menemukan tubuhnya cukup kuat untuk berjalan "Nek..!"
Maimunah segera memeluk Cucu satu satunya itu dan bertanya "Bagaimana perasaanmu Cu?"
"Semuanya baik Nek dan tidak pernah sebaik ini" Sahut sang cucu yang diketahui bernama Farhan
"Ucapkan terima kasih pada kakak ini" Pinta Maimunah kepada Farhan.
Segera Farhan menengok ke arah samping dan terlihat seorang pemuda yang lebih tua darinya duduk dengan tenang menatapnya.
"Terima kasih banyak atas pertolongannya" Farhan segera mendekat dan meraih tangan Zai dan mencium punggung tangan itu.
"Kau belum sembuh sepenuhnya, Bisakah kau ikut Kakak tinggal dirumah Kakak? Kakak akan merawatmu dengan Baik dan juga Nenekmu" Zai segera mengutarakan keinginananya.
dia akan mendapat keluarga setelah hampir tiga belas tahun tidak pernah memiliki keluarga yang di anggap.
Mungkin Zai memang yatim piatu setelah kedua orang tuanya meninggal, Tapi masih ada keluarga dari pihak ibunya yang masih terbilang cukup kaya, Hanya saja mereka tidak pernah menganggap keberadaan Zai sebagai bagian dari keluarga mereka.
Entah apa alasannya, hingga saat ini dia masih belum menemukan jawabannya dan dia tak ingin juga lagi peduli tentang hal itu
Farhan menoleh kearah Neneknya, Dia sempat mendengar pembicaraan Neneknya dengan Pemuda itu, Tapi hanya untuk memastikan kebenaran saja.
"Siapa Namamu, Apakah kau pernah sekolah?"
"Farhan! Pernah sekolah dasar Kak" Sahut Farhan
"Nanti Kakak akan sekolahkan Kamu juga, Bagaimana?" Ucap Zai sambil tersenyum.
Perasaan senang segera menyelimuti hati Farhan dan dia langsung memeluk erat Zai dengan kebahagiaan, Dia pernah menginginkan hal ini, Melanjutkan sekolahnya yang tertahan terlebih mendapatkan Kakak yang sangat baik, 'Benar kata Nenek, Semua akan indah pada waktunya'
"Ayo kita tinggalkan tempat ini, Ikut kerumah Kakak"
"Baik Kak" Sahutnya bersemangat
Maimunah merasa mendapat kebahagiaan yang sempurna, Dibalik kesusahan ada kemudahan itu lah yang selalu dia yakini, Hingga terbukti sekarang, Ada sang pencipta yang memperhatikan setiap insan.
Mereka bertiga segera berangkat meningggalkan tempat itu,
Banyak kenangan yang terlewati hingga Maimunah merasa enggan tapi dia tetap melangkah dibelakang pemuda yang dikirim tuhan untuk menolong mereka berdua.
.............
__ADS_1
Disebuah rumah yang dibilang elit, Seorang wanita muda yang berumur dua puluh tahun sedang menatap pemandangan dari balkon yang berada di laintai dua rumahnya. dia masih terbayang seorang pemuda tampan yang menolongnya.
Dia pun segera menghubungi Kontak itu.
Beberapa kali panggilan tapi tidak mendapat jawaban tidak membuatnya putus asa. dia mencoba lagi hingga hampir sepuluh kali baru tersambung.
"Hallo" Suara tegas terdengar sangat gagah
"Ini aku Maira! Apakah kamu sibuk?"
"Aku lagi pindahan jadi lama baru bisa ngangkat telpon, Maaf ya"
"Pindahan, Aku bisa membantumu, Katakan alamatnya" Dengan suara bersemangat Maira mangatakannya.
"Tidak perlu, Tidak banyak yang dibawa" Sahut Zai mematahkan semangat yang menggebu dari Maira.
"Dimana alamatnya, Biar nanti aku bisa berkunjung"
"Jl Intan RSPP Cilandak Barat Nomor xxx)
"Aku akan kesana, tunggu saja" Mungkin saja Maira sudah terpikat dengan pesona Zai yang ditampilkan.
Apalagi dia tidak pernah menemukan lelaki yang kuat mental seperti itu, Jika orang lain yang menjadi penyelamatnya, mungkin hanya menyelamatkan dirinya, Tapi tidak menyelamatkan kesuciannya.
Dia salut dengan pemuda itu, dan kekagumannya bertambah banyak setiap memikirkannya.
Segera dia berganti pakaian dan menuruni tangga dirumahnya.
"Mau kemana Nak?" Suara lembut menghentikan langkahnya yang berlarian kecil.
"Eh ada Mamah! Mau ketemu teman Mah"
"Kamu bersemangat sekali, Lelaki mana yang mau kau temui? Ajak kerumah dong, Kenalin sama Mamah" Goda sang mama.
"Teman mah, Bukan siapa siapa, Udah ah nanti aku kenalin" Ucap Maira kemudian mencium tangan Mamanya dan juga cipika cipiki sebentar "Aku pergi dulu"
Segera dia berlari lagi.
"Hati hati Nak" teriak Mamanya sambil menggelengkan kepala " Jika sudah jatuh cinta begitulah" Gumam sang mama lagi
"Ada apa Bunda" Tanya lelaki paruh Baya sembari memeluk dari belakang, "Apa yang kamu gumamkan"
"Ihh Papah bikin malu saja, Nanti di lihat orang tau" Ucapnya ingin melepaskan tangan yang mengusap perutnya.
__ADS_1
Lalu berbalik menatap wajah yang mulai terlihat keriput itu "Anak kita, Sepertinya jatuh cinta"