Sistem Konglomerat

Sistem Konglomerat
Mei Chan


__ADS_3

Asap hitam terbawa angin semakin meninggi. Warna merah masih berkobar dengan berani. Melahap bangunan yang kokoh berdiri. Sebentar lagi, semua akan hancur terlahap api..


Dua orang datang dengan menggunakan Motornya untuk melihat lebih dekat apa yang terjadi. Mereka adalah Oda dan Sakti. dua orang berbeda kebangsaan. Satu asli Indonesia. satu lagi berasal dari jepang.


Mereka berdua mendapat undangan dari Jing Wei untuk berkunjung ke Villanya. Tapi mereka harus terlambat karna ada sebuah urusan yang harus mereka selesaikan lebih dulu.


"Sepertinya disini terjadi perkelahian sebelumnya" Kata Oda dengan sedikit kurang fasih berbahasa indonesia.


"Kau benar, Jelas terjadi pertarungan. Coba kita lebih dekat" Kata Sakti.


Dua Motor Benelli mendekat dengan suara knalpot yang meraung cukup nyaring.


"Kita harus melapor pada pemimpin, Sepertinya Jing Wei sudah berakhir" Kata sakti. Segera dia memutar balikan Motornya dan meninggalkan Oda yang masih penasaran dengan keadaan didalamnya.


Tapi dia tetap mengikuti jejak Sakti dengan cepat menyusul dengan Motornya.


Sepeninggal mereka dari tempat itu, Bangunan Villa mulai roboh dan lantak ketanah.


Mereka berdua dengan ngebut mengemudikan Motor. Hanya memerlukan dua jam. Mereka pun sampai kedalam Markas Organisasi.


"Sampaikan kepada pemimpin ada hal yang mendesak" Katanya kepada penjaga. Melihat kedua orang itu yang terges-gesa. Penjaga langsung menghubungi Mei Chan sebagai Nyonya muda dari pemimpin. dia yang memegang kendali atas atas organisasi jika Pemimpin sedang tidak bisa diganggu


Setelalah mendapat konfirmasi. Dua orang itu masuk dengan berjalan cepat meninggalkan Motor mereka diluar. Mereka menaiki Speedboat untuk melintasi sungai yang cukup luas menuju sebuah pulau buatan yang didirikan dengan harga yang cukup fantastis.


Sakti menepikan Speedboat itu dan melompat dari sana. Di iringi oleh Oda yang melakukan hal yang sama. hanya beberapa langkah saja mereka sudah melihat kecantikan yang menggugah jiwa sedang santai duduk bersandar menatap rembulan yang sudah tiba dengan sinar terangnya


Dengan rambut yang terurai. Mata bulat yang indah dengan dilengkapi bulu mata lentik serta alis yang sedikit melengkung dan dengan hidung yang sedikit mancung. bibir berlipstik merah mudah begitu menggoda. Menyesap anggur dengan mulut sedikit terbuka. Begitu anggun.


Dengan dres warna hitam panjang namun ada belahan yang juga memanjang hampir kepinggang dibagian kanan. Menampilkan kaki jenjang dan paha putih seperti salju dimalam hari.


Siapa yang tidak tergoda dengan bentuk keindahan ini, Maka dia dapat dikatakan tak normal.

__ADS_1


Sakti membungkuk, Sedang oda begitu terpana dan termangu. Jika tidak Sakti yang menyadarkan dengan menginjak kakinya. mungkin dia akan tetap terdiam dalam hayalan.


"Kabar apa yang membawa kalian ketempat ini malam-malam begini?" Nadanya pelan dan lembut terdengar seperti orang bernyanyi.


"Jing Wei telah mati!" Ucap Sakti.


"Siapa yang membunuhnya?" tanya Mei Chan tanpa menatap keduanya.


"Sepertinya pemuda yang sebelumnya kita bicarakan dalam pertemuan Nyonya pemimpin" Sahut Sakti lagi.


"Apa yang membuatmu berasumsi seperti itu?" Mei Chan banyak bertanya. Tapi Sakti tidak berani tidak menjawab pertanyaan dari Mei Chan. Seberapa banyakpun itu, tetap dia akan menjawabnya.


"Kami berdua diundang oleh Jing Wei ke Vilanya, Katanya dia telah menculik wanita milik pemuda itu, Dan ketika kami datang Villa milik Jing Wei sudah terbakar. Tak mungkin dia membakar Villanya sendiri"


"Apakah kalian sudah memastikan Jing Wei mati?"


"Tidak, Kami hanya memperkirakannya saja. Tapi dilihat dari kebakaran dan hancurnya villa itu. terjadi pertarungan yang dahsyat sebelumnya. Apakah saya perlu menghubungi Jacky?" tanya Sakti.


Namun Mei Chan tidak mempermasalahkan pandangan penuh gairah dari Oda. Dia memang bangga jika dipandang oleh orang dengan penuh minat. Tapi dia akan menghajar orang yang menyentuh tanpa pesetujuan dia.


Pernah suatu ketika ada dari anggota Organisasi yang berani berniat menyentuhnya. Seketika itu juga dia membunuh orang itu dengan teknik kilat yang sulit dilihat oleh mata biasa. Padahal yang dibunuhnya itu adalah kultivator yang cukup disegani di Organisasi. Semenjak itu tidak ada lagi yang berani untuk berniat melecehkannya.


"Tidak perlu, jika kau menghubunginya sekarang, tentu itu akan memicu kecurigaannya kepadamu. Dia akan mengira kau ikut dalam rencananya Jing Wei, lebih parah lagi jika kau yang dituduh otak perencanaannya." Kata Mei Chan.


"Baiklah... Kami menunggu perintah" Kata Sakti.


"Aku akan membicarakannya dulu dengan suamiku, Akan aku kabari secepatnya" Kata Mei Chan. Kembali dia menyesap anggur. Matanya sedikit berubah warna merah namun masih dapat mengontrolnya. "Pergilah kalian, Aku ingin sendiri" tambahnya lagi dengan melambaikan tangan.


"Permisi Nyonya Pemimpin" Sakti menarik lengan Oda. Seketika Oda tersadar dari lamunannya dan bertanya kepada Sakti.


"Sak, Apa yang kau lakukan? Bukankah kita akan memberi laporan" Katanya denga bingung ketik mendapati Sakti terus menariknya ke tepi sungai.

__ADS_1


"Jangan banyak omong, Ayo kita kembali" Kata Sakti, ada edikit kedongkolan dihatinya


"Kamu aneh Sak" Ucap Oda yang juga kesal.


"Kamu yang aneh, Dasar otak mesum, Apa kau tak ingat kejadian lalu? tentang kematian Sun Li yang dibunuh oleh Nyonya besar ketika dia hendak menyentuh tangannya. Apa kau mau jadi yang sekanjutnya? mungkin kali ini matamu akan di congkel dan diberikan makan anjing" Kata Sakti dengan sangat kesal.


Setelah itu dia mengemudikan speedboat dengan kecepatan penuh.


.............


Sedang Zai sudah tiba dirumah Juli ditengah malam. Kini rumah itu sangat sepi. Sebab penghuni yang lain sudah pindah kerumah baru. Dia bersama Juli mandi bersama dan akan melewati malam yang panas bersama.


"Kapan kau akan ke Banjarmasin?" Tanya Juli yang ada dalam pelukan Zai.


"Tidak lama lagi" Sahutnya seraya mengecup kening Juli. "Tidurlah lebih dulu" katanya lagi. Zai mengambil ponsel setelah Juli memejamkan mata. Dia lupa bahwa dia berkata akan pulang kepada Neneknya.


Segera dia mendial Kontak Farhan, Namun tidak diangkat. Setelah mencoba beberapa kali dia memutuskan untuk mengirim pesan saja.


Ketika dia akan menghubungi Amanda, Amanda lebih dulu menghubunginya dan bertanya "Kamu dimana?"


"Aku sedang ada sedikit urusan" Bohong Zai. "Kamu dimana sekarang?" Tanyanya balik.


"Aku dirumah. Sekarang aku sendirian dirumah besar ini. apa kau tak bisa datang malam ini?"


"Sepertinya aku tidak bisa untuk malam ini, Mengapa tidak besok, aku janji akan menemanimu" Kata Zai menghibur.


"Baiklah... Tapi janji ya!?"


"Tentu, Aku bukan orang yang ingkar janji" Sahutnya lagi.


"Selamat malam" Amanda langsung menutup telpon setelahnya.

__ADS_1


Zai berpikir cukup keras bagaimana caranya menghadapi beberapa wanita yang pastinya akan memusingkannya dengan segala sifat dan sikap yanv pastinya berbeda-beda pula..


__ADS_2