Sistem Konglomerat

Sistem Konglomerat
Ancaman


__ADS_3

Mereka pun menyelesaikan pertarungan mereka, Sebenarnya Zai merasa ini terlalu cepat, Tapi waktu tidak memihak banyak.


Zai segera berdiri dan bertanya dengan lembut "Apakah kamu bisa bangun?"


Lina menggeleng kan kepalanya, Melihat itu Zai langsung mengangkat Lina ke kamar mandi dan dia segera membasuh pusakanya lalu berkata " Aku akan merapikan bekas kita tadi, Takutnya Ortumu pulang cepat" Ucap Zai


Segera dia pergi keluar dan mencari pakaiannya, Setelah itu dia merapikan peralatan dan menaruhnya langsung dikamar Lina yang dekat dengan ruang tamu.


Zai juga mengambil se ember air untuk ngelap sisa bau kencing yang ada, Dan menyemprot wewangian untuk menyamarkan baunya. sungguh dia tak menyangka hal itu benar terjadi


Zai membawakan pakaian untuk Lina dan memakaikannya langsung setelah memandikannya, Lalu mengangkat kembali menuju kamarnya.


"Sayang, Aku akan pergi, Titip salam untuk orang tuamu, Jika aku sudah sampai di Jakarta, Aku akan segera menghubungimu, Tarima kasih banyak untuk kesenangan malam ini dan jangan lupakan aku" Zai membelai rambut Lina kemudian mengecup kening itu dengan lembut ketika dia sudah menurunkan Lina kekasur


"Makasih juga, Meskipun masih perih ditempat itu, Aku senang dapat memberikannya kepadamu untuk yang pertama kali, Hati-hati dan jangan lupakan aku" Sahut Lina yang langsung merentangkan kedua tangan nya "Peluk aku untuk sesaat lagi" Katanya lagi


"Tentu aku tidak akan melupakanmu! Kamu adalah wanitaku, Tidak satu pun orang yang akan memilikimu selain aku!" Ucap Zai dengan tegas dan yakin


Lina melonggarkan pelukannya dan mengangkat kepala nya untuk mengecup bibir Zai sebelum berpisah.


"Semoga yang aku tanam menjadi benih yang menghasilkan anak" Ucap Zai sambil terkekeh.


"Ihhh kamu ini, Jangan sekarang lah, aku masih kuliah, Malu nanti"

__ADS_1


"Jika benar itu terjadi kita akan segera menikah" sahut Zai lalu keluar dari kamar Lina dan menuju pintu.


Ceklek...! Pintu terdorong dari luar, "Eh Nak Zai mau kemana?" Bu Faridah yang datang segera bertanya.


"Aku mau pulang Bu, Soalnya mau ke jakarta ada urusan bisnis, Rencananya tadi malam berangkat, Tapi yah, Lina minta temenin dirumah" Sahut nya dengan sedikit bumbu kebohongan.


"Ibu makasih banyak loh, Nak Zai sudah mau temenin Lina, Sekarang Lina nya Mana?"


"Dia ketiduran Bu dikamar, Mungkin karna kami begadang nonton tvnya jadi dia ngantuk sekali katanya"


Lina yang mendengar ucapan Zai itu serasa ingin muntah, 'Pintar sekali dia bohongin Mamaku' Dalam hatinya memuji kepintaran Zai.


"Apa tidak mau sarapan disini dulu Nak?" Bu Faridah sekali lagi bertanya


"Maaf lain kali aja ya Bu" Ucapnya mengulurkan tangan, Bu Faridah juga mengulurkan Tangannya dan bersambut, Zai mencium tangan itu untuk menghormati yang tua.


Mobilnya pun melaju dijalan raya, Entah mengapa hatinya ingin kembali ketempat dimana Kakak beradik itu, untuk menghilangkan kegelisahan dalam hati dan pikirannya dia pun segera membanting setir di belokan yang dia temui untuk putar balik kearah Kontraka Madina.


Sepuluh menit berselang, Zai menghentikan Mobilnya di bawah pohon yang tidak terlalu jauh dari Kediaman Madina sekarang.


Dia melihat ada empat orang dengan dua Motor, memarkirkan Motornya didepan Kontrakan dan segera dua orang berjalan menuju pintu, dua lagi masih berada di Motor.


Zai terus memperhatikan gerakan mereka yang sangat mencurigakan. Lalu dia mengambil ponselnya.

__ADS_1


"Kenapa tidak di angkat Sih...." Zai menggerutu.


Zai kembali menelpon Madina tapi masih belum ada respon, "Biar ku telpon Nindi saja, Siapa tau dia tidak kemana mana, Hari ini kan tanggal merah, Jadi tak mungkin dia sekolah"


Selagi Zai sibuk menelpon, Dua orang itu berhasil membuka pintu, Entah mereka memakai trik apa, Yang pasti mereka bisa dengan mudah membukanya.


Setelah dua orang itu masuk, Dua orang yang tersisa juga ikut masuk.


"Sial tidak ada respon" Segera Zai keluar dari Mobil dan berlari menuju Kontrakan itu.


"Aaaaaaa...! Siapa kalian? Mau apa kesini?" Teriak Nindi yang saat itu baru keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk di dadanya.


Mendengar suara teriakan, Madina langsung keluar dari kamar dan mendapati empat orang ingin menangkap Adiknya.


"Bajingan dari mana ini" Swooosh Bugh..! Madina langsung melompat dengan tendangan keras menghantam punggung salah satu dari empat orang yang berada paling belakang, Mereka tidak tau bahwa dirumah itu ada dua orang gadis kakak beradik yang cantik.


Satu orang terseok dan kepalanya membentur dinding beton, Hingga sedikit mengeluarkan darah.


Dengan gerak cepat, Pisau berada di leher Nindi yang tak bisa bela diri "Jika kau melawan, Gadis ini akan segera mati, Dan itu bukan hanya ancaman" Sosok itu berkata dengan sedikit menekan pisaunya ke leher putih dan darah merah keluar dari goresan itu.


"Auu.. Sakit, Lari Kak Dan cari bantuan, Aku tidak akan apa apa!" Nindi berteriak dan tersenyum mencoba tenang


Madina menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Kak. cepat pergi" Teriak Nindi lagi, 'Maafkan aku Sayang, setelah ini aku akan kotor dan tak pantas lagi bersamamu' dalam hatinya merasakan perih dan bulir air mata terjatuh


"Jon, Ikat dia lebih dulu!" Penodong itu segera memerintahkan Jono, Takutnya wanita itu berubah pikiran...


__ADS_2