Sistem Konglomerat

Sistem Konglomerat
Pertarungan pertama


__ADS_3

"Pangeran hanya berpesan kepada kami, jika tuan muda sudah keluar. Maka segera mengabari" kata prajurit


"Antarkan saja aku langsung ke tempatnya berada sekarang!" Kata Zai.


"Baik tuan muda, ikuti saya!" Ucap prajurit itu lagi


Langkah kaki tidak terlalu panjang. Namun mereka tetap cepat sampai pada tujuan. Sebab tidak jauh dari kamar yang ditempati oleh Zai adalah kamar milik Kang Hong.


"Pangeran! Tamu tuan ingin bertemu" kata prajurit itu seraya mengetuk pintu beberapa kali.


Kang Hong yang sudah bersiap segera memutar handle pintu dan menariknya.


"Saudara Zai. Kita langsung pergi saja ke arena, sepertinya yang lain juga sudah bersiap" kata Kang Hong.


Tentu Zai hanya mengangguk dan berkata "pimpin jalannya!"


"Prajurit, kau kembalilah ke tugasmu!" Ucap Kang Hong sambil menatap wajah prajurit itu.


"Baik pangeran, hamba undur diri" sahutnya.


Zai dan Laila mengikuti Kang Hong dari belakang menuju arena yang sudah disiapkan.


Terdengar gemuruh teriakan ketika Kang Lai memasuki kawasan yang dihadiri oleh ribuan masyarakat yang turut meramaikan jalannya pertandingan perebutan tahta.


Begitu pula ketika Kang Jun memasuki kawasan itu. Riuh tepuk tangan diberikan kepada Pangeran kedua.


Namun hanya sedikit yang memberikan tepuk tangan kepada Kang Hong. Sebab dia adalah kandidat terlemah. Meskipun dia orang yang paling bijak diantara tiga bersaudara seayah itu.


Ketiganya duduk tidak terlalu berjauhan dengan masing-masing perwakilan berdiri di dekat mereka duduk. Hanya Kang Hong yang membawa dua orang, satu laki-laki dan satunya wanita yang memakai cadar.

__ADS_1


Satu orang terlihat melayang di udara. Memakai pakaian berwarna hijau dengan jenggot serta kumis yang memutih sudah menutupi mulutnya.


"Perkenalkan. Namaku adalah Keng Siong!" Suaranya tidak nyaring namun jelas didengar oleh semua orang yang hadir disana.


"Baiklah. Sesuai dengan hari yang disepakati. Siapapun pemenangnya. Maka akan langsung dinobatkan sebagai putra mahkota" kata Keng Siong, dia menjeda perkataannya karena ada begitu banyak tepuk tangan.


Dia mengangkat tangannya membuat penonton berhenti. Lalu melanjutkan lagi "Tidak perlu menunggu waktu yang lama. Karena matahari sudah begitu tinggi. Silahkan kepada para pangeran untuk mengatur perwakilannya dan menaiki arena yang sudah disediakan!" Pintanya. Seraya menyapukan pandangannya kepada tiga pangeran yang duduk dengan santai.


Kang Lai melambaikan tangannya. Perwakilannya yang ada di belakang langsung melompat tinggi ke arena.


Dia menyapukan pandangannya dan mengangkat kedua tangan dan berkata. "Bersorak untuk kemenangan pangeran Kang Lai!" Pintanya kepada semua orang.


"Dia terlalu percaya diri" ucap Laila. "Padahal hanya dengan lambaian tangan tua saja. Dia akan mati" kata Laila bersuara. Dan itu jelas didengar oleh beberapa orang yang dekat dengannya.


"Jika langsung membunuh. Pertarungan ini tidaklah seru. Aku ingin membuat semuanya sedikit lebih berselera" kata Zai yang tak kalah arogan dalam kata-katanya.


Kang Hong hanya tersenyum kecut saja. Meski begitu dia tetap percaya dan yakin dengan kemampuan Zai bahwa dia yang akan memenangkan pertandingan itu.


"Tidak masalah!" Sahut Zai. Dia segera melompat ke arena dan menatap perwakilan Kang Lai.


Semua orang pun menatap pemuda berpakaian aneh itu dengan tatapan yang kurang mengenakan. Bagaimana mungkin pangeran Kang Hong bisa memenangkan pertarungan jika yang dia bawa adalah cecunguk kemarin sore yang belum mengerti arti hidup dan mati. Setidaknya itu tanggapan mereka terhadap Zai yang berpakaian, pakaian bumi


"Kau begitu sombong anak muda. Apa Kau ingin dibikin rempeyek. Pulang sajalah sana!" Kata Zhong Gong menatap hina. Seorang pemuda berpakaian aneh begitu arogan menganggap ranah raja bumi tahap awal seperti angin. Bagaimana dia tidak membenci? Namun dia harus mentolerir perkataan itu. Karena tak ingin membunuh seorang anak muda yang tak mengerti.


"Apa kau takut orang tua? jika begitu, tunggulah malaikat maut menjemputmu di rumah sambil memeluk guling" ejek Zai dengan tingkah kekanak-kanakan. Dia dianggap orang anak kecil, maka lebih baik bersikap layaknya anak kecil juga.


Kang Hong semakin terkejut dibuatnya, seraya menggelengkan kepalanya dia membatin 'dasar Kau ini. Bisa-bisanya bikin kelucuan di arena'


Kaisar yang memandang dari kursi kebesarannya juga menggelengkan kepala melihat tingkah Zai. Jika bukan karena dia tau tentang kekuatan pemuda itu, pasti akan dia timpuk menggunakan kursi yang didudukinya karna hanya bermain-main saja.

__ADS_1


"Cepatlah! Ayo bertarung!" Penontong yang tidak bisa menahan sabar berkata. Dan kemudian suara teriakan mengikuti.


"Lawan" kata itu terulang dari mulut ribuan orang. Memaksa Zhong Gong mengambil keputusan. Ditambah tatapan tajam dari Kang Lai.


Zhong Gong menganggukan kepalanya. Kemudian dia menarik pedang dari sarungnya dan menghunuskan kedepan. "Maafkan aku Nak! Salahkan dirimu sendiri yang memilih untuk mati seperti ini!" Kata Gong Zhong seraya menghentakan kakinya ke lantai dan melompat cukup tinggi. Dan menebaskan pedangnya. Berharap itu adalah serangan tunggal. Semua orang pun mengira Zhong Gong ingin mengakhiri pertandingan tanpa membuat lawan menderita.


Akan tetapi, semua hal tidak seperti yang dibayangkan oleh semua orang.


Semua mata tertuju ke arah pedang yang kini tertahan oleh dua jari.


"Ini tidak mungkin!" Gumam Zhong Gong. Dia menatap pemuda berpakaian aneh itu dengan tatapan tidak percaya. Bahwa serangannya yang mengandung tiga puluh persen kekuatan ranah raja bumi dapat ditahan dengan mudah. Dia mencoba menariknya. Namun Zai memainkan kedua jarinya dan terdengar kraak! Pedang itu patah jadi dua.


Lagi-lagi tatapan mata semua orang melotot. Bagaimana mungkin pikir mereka. Seorang yang tidak terlihat memiliki kekuatan bisa mematahkan pedang dengan hanya memakai jari.


"Mungkin dia mengolah fisik dengan begitu baik. Sehingga dapat melakukan hal itu" kata salah satu penonton.


"Mungkin juga. Hanya itu kemungkinannya" sahut orang disampingnya.


"Terlalu bodoh itu menyakitkan, tapi terlalu pintar itu membodohkan" gumam Laila yang mendengar semua apa yang dikatakan oleh penonton.


"Apa yang membuatmu tidak yakin. Apakah karena aku terlalu lemah menurutmu? Biar aku tunjukan apa itu kekuatan yang sebenarnya" selesai berkata. Zai langsung menghilang dari pandangan semua orang, terutama Pandangan Zhong Gong yang tak bisa merasakan ataupun melihat keberadaan lawan.


Tidak ada angin yang menderu, namun sebuah pukulan mengarah ke tengkuk Zhong Gong. 


Bugh! Pukulan itu tak terhalaukan membuat Zhong Gong terpelanting hampir keluar dari arena. Jika bukan arena itu luas. Dapat dipastikan Zhong Gong akan langsung tereliminasi.


Datang lagi Zai ke hadapannya dengan sangat cepat.


Menendang kepala hingga membuat dongakan yang tinggi. Zhong Gong dipermainkan seperti bola mainan anak kecil yang ditendang dan dilempar kesana kemari. Tanpa bisa melawan.

__ADS_1


Kang Lai memiliki wajah yang rumit. Tak menyangka andalannya bisa di buat seperti bola yang tak berharga.


__ADS_2