Sistem Konglomerat

Sistem Konglomerat
Kirana diculik


__ADS_3

Kawasan elit yang dimana hanya ada orang kaya yang akan tinggal disana. Seorang wanita masih melihat-lihat dan tak sadar sudah jauh berjalan meninggalkan tempat dimana dia pertama kali berada disana.


Kawasan itu mencakup luas Seribu hektar dengan satu rumah memiliki luas lima ratus meter persegi. jadi disana hanya ada dua puluh Rumah saja.


Tidak jauh dari kantor pemasaran itu. dua orang berjalan santai menikmati pemandangan sambil mengedarkan pandangannya ke segala arah.


"Kemana sih Kirana ini? Jalan-jalan Kok terlalu jauh." Keluh Juli yang sudah penat kakinya karna mereka berdua sudah melewati dua tembok rumah yang berdiri megah. di rumah ketiga Juli berkata lagi dengan kesalnya "Ditelpon juga tidak mengangkat. Apa dia sengaja mempermainkan kita?" Dia sangat kesal sekali "Mana kursi tidak ada untuk duduk" Dia terus mengoceh dengan keluhan yang hanya didengarkan Zai tanpa menjawab.


Karna perempuan kalau marah diamkan saja. jika dijawab akan susah dan terlebih akan menjalar kemana-mana..


Zai membungkukan tubuhnya lalu berkata "Naiklah kepunggungku. biarkan tubuh ini menjadi tempat ternyaman untuk istirahatmu." katanya sambil tersenyum. Tidak menunggu lama. Juli langsung melompat ke punggung Zai dan tersenyum manja. sambil mengalungkan kedua tangannya dileher Zai. Zai pun berkata dengan candaannya "Jangan terlalu erat nanti aku ga bisa nafas" katanya.


Juli tidak menghiraukannya hingga Zai harus pura-pura batuk. di sela candaan mereka. Suara teriakan terdengar.


Tolooooong!!


"Sayang itu seperti suara Kirana! Jangan-jangan ada yang mau nyulik dia?" Juli bergegas menunjuk arah suara. Zai segera berlari dengan beban yang masih berada dipunggungnya. Namun hal itu tidak mengurangi kecepatannya.


Suara teriakan kembali terdengar. "Itu rumah nomor Empat" Ucap Juli. Pendengaran Juli cukup tajam. Tapi Zai juga bukan tidak mendengar. hanya saja dia diam untuk memberikan Juli kesempatan bersuara.


Tidak berapa jauh dari tempatnya berdiri. Zai dan Juli melihat dua orang sedang memegang tangan Kirana pada posisi kiri dan kanannya. ada Lima orang disana. mereka tertawa bahagia.


"Tidak ku sangka akan menemukan wanita yang lumayan cantik. cukup untuk bersenang-senang hari ini!" Orang itu berkata dengan penuh semangat.

__ADS_1


Juli segera mengambil Ponselnya dan menghubungi ibunya. dan meminta untuk disampaikan prihal itu kepada manager agar bisa menindak lanjuti masalah ini.


Sedang Zai naik melompat tembok setinggi tiga meter itu hanya dengan satu hentakan kaki saja. dia langsung menggunakan Skill Parkour nya dan melompat turun dengan berguling lalu berjalan perlahan dengan memanfaatkan beberapa pohon besar yang berbaris ditaman untuk bersembunyi.


Dari satu pohon ke pohon lainnya. dia berguling. tak memperdulikan baju yang kotor karna itu masih bisa dibeli atau dicuci. tapi jika terjadi sesuatu dengan Kirana maka dia akan malu. Bahwa seorang penguasa bawah tanah kehilangan adik ipar didepan mata.


"Brengsek kalian. Kalian akan menanggung akibatnya jika melecehkan aku... Cuih!" Kirana meludah kewajah orang yang ada dihadapannya. dia bukan ahli bela diri. jadi ketika dirinya ditarik dengan paksa dan dibawa kedalam rumah besar itu dia tidak bisa melawan. bahkan mulutnya dibekap ketika ingin berteriak.


Merasa wajahnya terkena ludah, Segera orang itu menyeka wajahnya kemudian mengayunkan tangan dan mencengkram dagu Kirana. "Kau mau cara yang brutal rupanya." Kata orang itu dengan bringas. wajahnya tersenyum jahat.


Salah satu dari lima orang itu mengambil ponselnya dan membuat video, Ini akan menjadi momen kenikmatan sepanjang masa. Itu rencananya


"Bawa kedalam" Kinoy segera berkata. setelah melepaskan cengkraman tanganya.


Dia meronta, Tapi sebagaimana pun dia meronta. tetap saja kekuatannya tidak banyak. seorang gadis lemah dia bisa apa.


Ketika dua orang itu ingin membawa masuk. Zai melompat dengan dua kaki yang langsung mengarah ke punggung salah satu.


Tubuh orang itu tersentak dan tersungkur menghantam lantai beton. ada sedikit darah yang mengucur di kepalanya.


Sedang satu orang nya lagi terkejut dengan kejutan itu. tapi setelah tersadar dari kejutannya. Ujung tumit sepatu menghantam rahangnya. membuat tubuhnya terputar dan terguling lalu menimpa temannya yang masih memegang kepalanya yang berdarah..


Kinoy dan Konoy menatap dua orang itu. dan kemudian menatap seorang pemuda yang melumpuhkan anak buahnya.

__ADS_1


Kirana yang lepas dari pegangan dua orang itu. segera berlari ke belakang tubuh Zai berharap mendapat perlindungan utuh.


"Larilah ke tempat Kakakmu, Dia ada didepan pagar!" Ucap Zai, Dia meminta Kirana pergi karna tak ingin dia menjadi beban. karna dia melihat lawan yang masih tenang.


'Sistem. apakah kau tau mereka?' Zai bertanya sembari berdiri tegak dari posisinya semula yang siaga. kini dia sangat tenang, seperti air yang tenang menatap tiga orang yang masih berdiri memperhatikannya.


(Analisis selesai. Baju warna merah Bernama Neil. Baju warna abu-abu bernama Kinoy dan yang satunya adalah Konoy. sedang dua yang dibawah adalah Alif dan Sabran)


'Bagus kau tidak bertele-tele dengan mengatakan banyak hal.'' batin Zai. lalu memandang Neil. "Apakah kau pemimpinnya?" Tanya Zai. padahal sejak tadi Neil hanya diam santai dengan Rokok ditangannya dan sesekali menyesap dan menghembuskan asapnya.


"Kau pintar dalam menebak. aku salut kepadamu karna berani menerobos tempat tinggalku. Mungkin kau tidak tau siapa aku?" ucal Neil


"Jelas aku menerobos. jika yang kau culik adalah Adikku. Jika orang lain mungkin akan ku biarkan. tapk itu hanya kemungkinan saja" Zai meraih Kursi dan duduk disana menyilangkan kakinyal


"Oh dia adikmu!" Neil mendekati Zai yang duduk dengan santainya di iringi oleh si Kembar Konoy dan Kinoy "Beri dia pelajaran. agar kedepannya jika masuk rumah orang beri salam" Ucap Neil lagi.


Si kembar Konoy dan Kinoy langsung bergerak dengan cukup cepat. tapi mereka tidak secepat Zai yang bergerak mendahului mereka sebelum mereka sampai kearah Zai.


Zai mengayunkan kakinya menendang kaki duo kembar itu. hingga mereka menjerit kesakitan dan terduduk memegang kaki yang entah patah atau hanya terkilir saja. tapi jika mendengat dari suara 'Krak!' itu mungkin saja kaki itu benar-benar patah.


Neil mengerutkan keningnya. karna dia tau seberapa kuat sikembar yang telah dia latih selama hampir satu tahun itu. Tapi mudah dikalahkan oleh seorang pemuda yang tidak lebih muda dari dirinya.


"Aku sebenarnya tidak ingin berurusan denganmu atau dengan kelompokmu, tapi kalian yang memaksa" Ucap Zai berdiri dan mengambil ancang-ancang. keduanya melakukan hal itu dan mereka masing-masing melepaskan satu pukulan kuat yang menempel ketika di adukan...

__ADS_1


__ADS_2