
Dua buah Mobil melaju dengan kecepatan sedang dan mendekat kearah pintu gerbang yang dijaga oleh beberapa orang.
Dua buah Mobil itu berhenti ketika ada yang menghentikannya. Tapi tak benar-benar berhenti dengan damai.
"Matikan mesinnya" kata salah satu dari lima penjaga gerbang. Namun dua pengemudi di Mobil itu tidak menghiraukannya. Mereka berdua malah menginjak pedal gas dan membuat bunyian pada kenalpot yang meraung dengan keras.
Kemarahan langsung terpampang diwajah lima penjaga itu dan mereka mengayunkan tongkat besi yang sudah berada ditangan mereka.
Sadam menginjak lebih dalam pedal gas, hingga ban berdecit dan mengeluarkan asap karna pergesekan. seketika dia melepaskan pijakan rem. Mobil melesat sempurna menabrak tiga orang yang menghalangi.
Baaam!!
Pintu gerbang langsung rubuh seketika. Meskipun Mobil bagian depan hancur tapi Sadam tidak memikirkannya. sedang Jani yang mengemudikan Mobil satunya berakselerasi dengan memutar setir dengan cepat dan membuat Mobil berputar memungkinkan belakang Mobil untuk menabrak penjaga yang melepaskan diri dari Mobil Sadam.
Seketika sekumpulan penjaga yang berjaga didalam keluar menuju pintu gerbang yang rubuh. Mereka dapat meyakini bahwa diluar sedang ada yang ingin membuat masalah.
Sadam dengan santai keluar dari Mobil diiringi oleh Jani dan Hendri. Begitu pula dengan Mobil satunya, Jaya keluar dengan Ilham dan juga Rey.
Mereka berenam seperti seorang mafia yang datang dengan keberanian menghantarkan permusuhan menghancurkan mental lawan. Hanya dengan enam orang itu saja bisa menghabiskan separuh kekuatan yang dimiliki oleh Organisasi kultivator.
Segerombolan orang langsung menyerbu ke enam orang yang berdiri diantara dua buah Mobil.
Plak plaak! Akhg!
Beberapa orang langsung terkepar terkena pukulan dari Sadam. Mereka berenam membawa dominasi yang tak terkalahkan. Maju tanpa gentar menghantar lawan kekematian ataupun patah tulang.
__ADS_1
Tidak ada keraguan yang tergambar diwajah mereka. Hanya tatapan tajam yang meruntuhkan mental.
Beberapa orang sudah tidak bisa bangun lagi. beberapa lagi berlarian karna melihat kekuatan orang yang akan dilawan. Mereka berlari masuk kedalam untuk mengabari para tetua yang berpangkat tinggi.
Ao Tian muncul dengan sebuah teriakan. "Minggir kalian" teriaknya kepada bawahannya yang hanya menyesakan jalan. Langkahnya terasa berat karna memang tubuhnya besar dengan tinggi dua meter dan lingkar pinggang empat puluh.
Hendri adalah yang paling kecil tubuhnya. Tapi dia yang lebih dulu maju menghadang orang yang baru datang itu. Dia menatap Ao Tian dengan tatapan layaknya elang yang ingin memangsa babi gemuk.
Meski lawan tinggi dan besar namun tidak menyurutkan niat Hendri untuk melawannya. Dia bergerak lebih dulu tanpa omong kosong. Dengan tubuh kecilnya memungkinkan dia bergerak lebih cepat dan fleksibel. Satu ayunan kaki menendang paha bagian dalam Ao Tian. Namun Ao Tian bukan juga anak kemarin sore yang mudah dikalahkan. Pertahanannya cukup kuat.
Hendri melentingkah tubuh kecilnya ke samping kanan setelah gagal merubuhkan Ao Tian. Setelah mendarat ditanah dia kembali melonjak dengan tinju yang mengarah ke dada. Ao Tian menangkis dan pertarungan tinju terjadi.
Hendri menangkap kedua tangan Ao Tian lalu meluncur masuk dikolong kaki, kemudian menendang bokong Ao Tian dengan cukup keras hingga tubuh besar itu terbanting dengan punggung lebih dulu ketanah.
Baaam!! Agrh!! Tanah seperti bergertar ketika karung besar terhempas.
Baaam!
Ao Tian terjatuh lagi ketanah, kini dengan dada yang lebih dulu.
Ao Tian tidak sekalipun dapat melancarkan serangannya. Sedangkan Hendri sudah dua kali membantingnya ketanah. Betapa geramnya dia. Sengaja dia tidak menggunakan Qi untuk melawan karna lawan bertubuh kecil. Tapi yang tak disangka, walau kecil dia lincah dan sulit ditundukan.
Ao Tian mengalirkan Qi seluruh tubuhnya. Dapat dirasakan perubahan itu, dari tubuhnya yang sedikit berlemak mulai menyusut dan mengencang dan kulitnya mengkilat dan mengeras.
"Teknik Kulit baja!" gumamnya. Dia menghentakan kedua tangannya kedada layaknya Kingkong yang hendak mengamuk. Lalu berlari menyongsong tinju Hendri.
__ADS_1
Braaaak!!
Pertemuan dua tinju itu menggetarkan udara. Terlihat Hendri terpental kebelakang, namun dia mendapatkan pendaratan yang sempurna.
Hendri tersenyum. "Ini lebih baik" sepanjang pertarungan, ini adalah kalimat pertama yang dikatakan oleh Hendri.
Ao Tian tidak menanggapi, Dia sangat kesal pukulannya tidak berarti meski lawan terpental. Dia segera berlari mendekati Hendri lagi. Dengan ayunan kaki panjangnya jarak yang sulit pun dapat dia capai.
Hendri menangkap kaki itu meski terjejer kesamping tapi dia tetap berdiri dan tak goyah. Ao Tian ingin menarik kakinya yang diapit oleh lengan dan dada kiri Hendri, tapi sulit untuk menariknya. Sedangkan matanya menatap ayunan tangan lelaki kecil itu yang sudah setengan jalan untuk menghujam kakinya dengan pukulan.
Beng!!
Sangat keras pukulan Hendri, tapi kaki Ao Tian juga sangat keras. Tak habis pikir dengan itu. Kaki kanan Hendri mengayun mencari dua telor puyuh tapi tidak sampai karna memang kakinya juga pendek dan hanya mengenai paha dalam.
Ao Tian berteriak kesakitan membuat alis Hendri mengernyit. 'Apakah kelemahan nya disana?' Hendri tersenyum memikirkan itu. "Ternyata tidak semua bagian tubuhmu sekeras baja. Masih ada celah yang tak mungkin bisa kau tutupi.
Seketika selesai berkata hendri tanpa melepaskan pegangan pada kaki Ao Tian langsung memberikan tendangan bertubi-tubi hingga Ao Tian terus berteriak dengan nyaring. Pilu telinga mendengarnya. Bahkan teriakannya terdengan oleh kultivator diseberang sungai.
"Yao Yan! sepertinya ada teriakan diluar sana, coba kita lihat" kata Gilbert
"Ayo gegas kesana" ucap Yao Yan. Segera mereka naik ke Speedboat yang ada ditepi sungai lalu meluncurkannya dengan cepat.
Sedangkan dua orang kini saling memandang, Mei Chan mengikat kedua tangan Zai pada dipan. Entah apa yang akan dia lakukan tapi yang pasti kini dia duduk diantara pinggang Zai. Zai hanya diam karna dia sedang berpura-pura terkena teknik pemikat. Selain keuntungan untuknya. apa yang bisa dilakukan oleh wanita ini. Hanya dengan teknik itu saja tak akan pernah membuatnya gila. Meski hatinya terkekeh melihat wanita anggun yang terlihat malu tapi mau. tapi dia tidak sampai menertawakannya dengan terbahak.
"Tubuhku akan menjadi milikmu" kata Zai tanpa ekspresi. Skill Menipu yang dia miliki sanggup menipu banyak hati hanya dengan beberapa bait kata.
__ADS_1
Perlahan tangan kecil itu membuka kancing demi kancing baju yang dipakai Zai. Tak dapat Zai pungkiri wanita itu memang cantik tapi yang dia heran, mengapa wanita itu terlihat sangat gugup. 'Mungkinkah dia masih perawan?' Zai menerka dalam hatinya melihat tingkah wanita yang seperti tak pernah menyentuh tubuh lelaki dewasa.