Sistem Konglomerat

Sistem Konglomerat
Masalah Yunita 2


__ADS_3

"Jangan main kasar dengan wanita" Ucap Zai yang kini sudah berada disamping Yunita dan menghempaskan pergelangan tangan yang sebelumnya dia tangkap. Lalu dia memegang bahu Yunita dan berkata "Bangunlah, Aku akan melindungimu" Ucapnya sambil menatap mata Yunita yang basah.


"Siapa kau, Berani sekali menggangu urusanku, Ini masalah hutang, Kau jangan ikut campur" Teriak Orang tua itu kepada Zai.


Dia sangat marah karna urusannya di ganggu, Ini adalah cara yang sudah lama dia pikirkan untuk mendapatkan tubuh Yunita dan dia pun mulai menipu Ayahnya Yunita dengan hutang yang berbunga hingga akhirnya kesempatan datang.


Tapi kesempatan itu pun harus terganggu oleh pemuda ber-Jas yang datang.


"Aku bukan siapa-siapa, Aku hanya orang yang tidak suka melihat wanita dipukul" Ucap Zai dia tak ingin mengaku bahwa Yunita pacarnya, Takutnya Yunita akan salah paham dan menyebabkan situasi yang sulit nantinya. atau mengatakan kata Bosnya, Orang juga tidak akan percaya karna dia terlalu muda.


"Pergilah jika kau bukan siapa-siapa" Teriaknya lalu mengayunkan tangan nya untuk mendorong pemuda itu.


Zai hanya mengibaskan tangannya, tangan Lelaki tua itu pun tertangkis.


'Keras sekali tangannya seperti balok kayu' Batin Orang tua itu.


"Mau aku laporkan kepolisi kamu? Hah!" Teriak nya lagi lalu menyuruh dua orang yang berbadan besar yang sudah dia bayar untuk membantunya meredam pengganggu. "Lempar dia kejalanan, Jika melawan patahkan saja kakinya" Ucapnya kejam.


Satu orang dengan codet diwajahnya maju dan mengayunkan tangan besar miliknya.


"Mundurlah Yun" Zai maju selangkah kerumunan pun mundur dan membuat lingkaran, Karna pertunjukan ini jarang terjadi di komplek itu. mereka pun bersemangat untuk melihat. setiap detiknya slalu bertambah penontong yang datang.


Ayunan tangan itu begitu cepat.


Wosssh...!


"Uugh kasian pemuda tampan itu, Apakah dia akan mati dengan pukulan itu?"


"Lihat saja jangan bertanya, Aku juga kasian dengannya, Demi menolong wanita dia mengorbankan hidupnya"


"Kau benar, Niatnya memang baik, Tapi sepadankah?"


Zai menunduk dan membiarkan tangan besar itu lewat, Kemudian dia mengayunkan tangannya keatas dan menghantam siku bawah Orang itu hingga terdengar suara.


Kraaaak..! Aaaaaah..! teriakan kesakitan keluar dari mulut orang itu dan terlihat tulang yang mencuat keatas, Dia terduduk menahan sakit pada sikutnya yang patah.


Semua orang yang semula menyayangkan tindakan pemuda itu kini tau alasannya mengapa dia begitu berani.

__ADS_1


Di Komplek itu, Sudah terkenal Jarwo sebagai penindas. tapi sekarang dia merasakan akibatnya. sungguh nasib yang sial. yang awalnya di anggap untung.


Melihat tangan kawannya mudah dipatahkan, Bang Kur mundur satu langkah karna terkejut. 'Ini tak mudah dilawan' Pikirnya, Melawan akan hancur mundur hanya malu. dengan cepat dia memutuskan pemikirannya. Dia meraih tubuh Jarwo dan membawanya kabur.


Penonton membuka jalan kepada Bang Kur dan jarwo yang kesakitan memegang tangannya. lalu menutup kembali lingkaran yang sebelumnya terbuka.


"Sekarang siapa lagi yang kau andalkan orang tua?" Tanya Zai.


"Aku akan menelpon polisi" Ucapnya lalu meraih ponselnya disaku dan meletakkannya ditelinga. tapi sebelum itu tersambung, Zai lebih dulu meraihnya dan memutuskan sambungan.


"Sebenarnya aku bukannya takut berurusan dengan polisi, hanya saja aku tak ingin ribet, Apa mau mu sebenarnya?" tanya Zai lagi.


"Ini adalah surat hutang, Dan harus dibayar olehnya" Parjo menunjukkan kertas yang ditanda tangani oleh seseorang yang bernama Sukirman.


"Siapa Sukirman ini Yun?" Tanya Zai menoleh kesamping karna Yunita sekarang berada disampingnya setelah dua penindas itu pergi.


"Dia ayahku Bos" Sahut Yunita


"Hutang apa hingga sebanyak itu?" Tanya Zai lagi.


"Baiklah aku yang akan membayarnya, Mana Nomor rekeningmu" Ucap Zai.


"Jangan Bos, Kamu tak perlu melakukan hal itu" Ucap Yunita sambil menahan tangan Zai dan menempelkan dibagian lembut dadanya tanpa sadar.


Zai meresapi kelembutan itu tapi dia tetap berkata "Biarkan saja aku membantumu, Hitung hitung kamu juga kariyawan, Jika kariyawan sedang kesusahan adalah kewajiban perusahaan membantu" Ucap Zai pelan.


Orang tua itu pun ingin menguji pemuda yang sok kaya itu, Dia langsung memberikan nomor rekeningnya dan mendesak "Cepatlah jika memang kau kaya"


Zai tentu merasa tersinggung menganggapnya tidak mampu adalah kebodohan, Zai mentrasfer seratus juta seperti jumlah yang tertulis dalam surat perjanjian. "Berikan kepadaku surat perjanjian itu" Ucap Zai dengan tatapan tajam.


Mendapat tatapan seperti itu lumayan membuat gentar hati orang tua itu, 'Tak mendapatkan tubuhnya tapi mendapat uang yang sebesar ini sudah cukup untuk membeli perawan' Setelah bergelut dalam hatinya orang tua itu pun menyerahkan surat perjanjian itu lalu kabur dari tempat itu.


Huuuuu.... Para penonton pun bubar karna tidak lagi melihat pertunjukan.


"Apa aku tak di ijinkan masuk?" Tanya Zai.


"Maaf Bos, ini Kost khusus wanita, Kecuali Bos ganti Klamin" Sahut Yunita.

__ADS_1


"Kalau begitu aku akan pergi saja" Dengan wajah sedikit ditekuk Zai melangkan kakinya.


Kembali Yunita meraih lengan bosnya dengan maju satu langkah, "Kita bisa bicara di kursi luar Bos" Ucap Yunita dengan malu.


Zai tersenyum dalam hatinya. "Baiklah..!" Sahutnya mengikuti Yunita yang menarik tangannya.


'Dia mulai berani menarik musang untuk makan ayam' Batin Zai.


"Kenapa orang tadi bisa tau kamu Kost disini?"


"Sebenarnya rumahku dekat saja dari sini, Tapi karna aku tak ingin melihat ayah yang terus mabuk dan pulang marah-marah dengan ibu, Makanya aku memilih ngekost"


"Pantas saja mudah dia mencarimu, kalau boleh tau rumah orang tua tadi dimana?"


Yunita pun memberitahukan alamat rumah orang tua tadi tanpa curiga sedikitpun.


Zai langsung mengirim WA kepada Torax dan jelas memintanya untuk menghukum orang tersebut.


"Aku harus pergi dulu, Aku masih ada urusan yang lainnya, Ingat besok harus hadir dikantor, Jika tidak aku akan mencari sekertaris baru" Ucap Zai lalu dia berdiri


"Makasih banyak Bos sudah membantuku, Aku berhutang banyak kepadamu dan perusahaan, Jika aku bisa membalas. maka akan ku balas budi ini, kelak jika Bos menginginkan sesuatu dariku, Aku akan melakukannya tanpa berpikir" Ucapnya tulus.


"Benarkan semua yang ku inginkan kamu akan lakukan?" Tanya Zai menggoda.


Wajah Yunita pun memerah ketika sadar bahwa ucapannya salah.


Tapi dia tak meralat karna sudah terucap, Itu seperti janji yang harus ditepati.


"Tak usah dipikirkan, Aku akan pergi" Ucap Zai lagi sambil mengacak ngacak rambut di pucuk kepala Yunita dan melangkahkan kaki setelahnya menuju Mobil yang terparkir agak jauh dari sana.....


...............


Empat orang turun dari pesawat internasional Syamsudin Noor dan langsung menuju kota banjarmasin dengan taksi. "Pak tau alamat ini tidak?" Tanya Bawi yang duduk disamping supir taksi itu, Dia menyerahkan selembar kertas bertuliskan alamat lengkap.


"Apa mau di antar kesana?"


"Yaaa..."Sahut Bawi dengan cepat.

__ADS_1


__ADS_2