Sistem Konglomerat

Sistem Konglomerat
Janda Memimpin


__ADS_3


Zai melajukan mobil nya di jalan Ahmad yani dengan santai, Sesekali dia melihat keindahan yang ada di samping nya yang terlelap dalam keadaan mabuk. Terkadang dia mengusap pucuk kepala Juli.


Dia menyukai wanita matang ini, entah sejak kapan itu terjadi. "Juli, Bangun, hei!" Zai menguncang pelan bahu Juli tapi tak ada respon sama sekali.


Dia mengetuk pagar dua kali, Dan beberapa saat berlalu terlihat bayangan seorang wanita keluar dari rumah menuju pagar.


"Bi, Juli nya tertidur di mobil dan tak mau bangun" Ucap Zai kepada Bi Ati yang sedang membukakan pagar.


"Bawa masuk saja ke kamar tuan muda" Sahut Bi Ati.


Zai langsung saja mengangkat kembali Juli dan membawa nya ke kamar, Sedangkan Bi Ati menemani Rendy yang berada di kamar lain nya.


Tubuh Ramping itu di turun kan nya di atas kasur empuk, Juli menggeliat menampilkan dua melon matang yang mengintip.


Zai tak kuasa menahan, Dan dia tau jika dia terus dalam keadaan ini, sesuatu yang baik pasti akan terjadi, Jadi dia segera berbalik bangkit dari kasur dan berjalan, Akan tetapi, Tangan lembut Juli menarik nya untuk berbalik kembali.


"Apa aku terlalu tua, Hingga kamu tidak ingin melanggarku?" Tanya Juli dengan mata yang sedikit terbuka.


"Juli, Kamu itu muda dan cantik, siapa yang tidak mau melanggar mu, Jika di beri kesempatan, tapi..!"


"Tapi apa Zai, Apa kau malu karna aku Janda?" Tanya Juli dengan posisi menggoda dan menurun kan tali baju di bahu nya. Menampilkan bahu yang putih seputih giok dan kulit yang kenyal jika di sentuh.


"Bukan itu maksud ku Jul!" Zai hampir salah tingkah di buat nya.


Tapi Juli tidak memberikan Zai banyak waktu lagi untuk berpikir, Dia berinesiatif untuk menyerang nya lebih dulu,


Juli duduk kemudian berdiri dan berjingkit sedikit karna perbedaan pada tinggi badan mengharuskan nya seperti itu jika ingin memulai permainan.


Malam itu Janda yang sudah lima tahun berjuang menahan gejolak rasa akhir nya mengeluarkan semua yang terpendam, Dia bermain layak nya pemain handal.

__ADS_1


Janda memang beda, dia bisa menguasai jalan nya permainan dengan baik, Hampir saja Zai KO di buat nya. Dan untung sistem selalu ada sebagai pendukung nya, bukan hanya mendukung untuk mengguncang dunia, tapi juga mendukung untuk mengguncang Janda.


Zai mengambil sebutir pil untuk mengembalikan kondisi nya seperti semula tanpa sepengetahuan Juli.


Kalau janda sudah beraksi, maka akan sulit untuk berhenti, Semua suara terdengar di dalam kamar itu, dari Erangan dan tepukan pantat yang beradu.


Janda selalu berkesan di hati penggemar nya...


-


Sedang kan di kamar yang sepi, berjarak sepuluh meter dari kamar yang kini sedang ramai dengan suara lenguhan.


Seorang wanita yang juga Janda, terlihat frustasi mendengar nya. Tak mungkin dia tidak tahu apa yang terjadi sebenar nya, Karna dia Janda bukan wanita polos yang tak mengerti apa apa.


Dia mengambil sesuatu di dalam tas nya, Yang memang kadang di perlukan jika sesuatu yang mendesak dalam diri nya meronta.


Dan saat ini tekanan batin dan mental memburu nya, Dia gagal faham, mengapa lelaki yang bersama nyonya itu sangat kuat hingga berjam jam lama nya masih saja mampu mengimbangi nyonya nya.


Ketika dengan suami pertama nya, dan suami kedua nya, dia tak pernah merasakan rasa berada di puncak nya.


Apa kah dia bermimpi, tentu tidak, karna semua itu sudah terjadi.


-


-


Di pagi buta ketika Mentari belum terbit, Zai bangun dengan suasana hati yang galau, Bagaimana tidak, esensi kehidupan nya terkuras banyak.


Dia bangkit berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya yang di penuhi cairan lengket.


Sepuluh menit berlalu, Dia keluar lagi dari kamar mandi dan masih melihat senyum yang terpampang di wajah Juli.

__ADS_1


"Mungkin ini pertama kali nya dia merasa puas dan keluar tak terhitung banyak nya. Hingga dia sangat terlelap dan kelelahan" Gumam nya. Sambil menyibak kan rambut Juli dan terlihat senyum kepuasan disana.


Zai mencium kening nya dan membuat Juli terbangun. "Sayang mau lagi?" Tanya nya.


"Sudah pagi, Nanti anak mu bangun dan kesini, takut nya kita ketangkap basah oleh nya, Apa kamu tidak malu? Juga tadi malam kamu berteriak begitu kencang, aku curiga Bibi yang menemani anak mu mendengar nya. Apa kamu tidak malu?" Sahut Zai yang mengacak ngacak rambut Juli.


"Hah..!" Wajah Juli terkejut mendengar, lalu mulai memerah ketika mengingat perjalanan panjang mereka berdua melalui malam.


"Aku akan keluar dulu, untuk mengecek anak ku!" Ucap nya lalu berjalan menuju kamar mandi dan mencuci muka nya.


Sesaat kemudian dia keluar dari kamar mandi lalu keluar dari kamar nya dan berjalan kearah kamar anak nya.


Dia perlahan mendorong pintu, dan berjinjit masuk untuk memastikan sesuatu.


Ketika dia sudah berada di dalam kamar tersebut. Dia melihat peralatan karet yang berada di sebelah Bi Ati yang tertidur. Dan dia juga melihat ada cairan yang tersisa di betis nya.


"Haih... Apakah karna aku dia seperti ini" Gumam nya. Lalu dia berjalan mendekati Bi Ati dan membangun kan nya.


Bi Ati terkejut dan segera bangun ketika mendengar suara nyonya nya memanggil.


"Eh iya Nyonya, Ada apa?" Sambil tangan nya mengambil alat bantu itu dan menyembunyikan nya.


Juli melirik ke arah Mainan karet yang di sembunyikan oleh Bi Ati itu, lalu dia tersenyum.


"Sudah sana bibi mandi, Liat tu ada yang netes di kaki" Ucap Juli terkekeh.


Bi Ati langsung melihat ke arah kaki nya, memang benar dia disana menemukan caira bening yang lupa dia bersihkan karna kelelahan.


Wajah Bi Ati langsung memerah karna malu ketangkap basah. 'Ini semua gara gara Nyonya, Kenapa juga mengerang terlalu luar biasa, Jadi nya begini kan' Rutuk nya dalam hati tapi dia tetap bangkit dan keluar dari kamar itu menuju kamar mandi yang ada di dapur.


Tapi sebelum itu suara Juli terdengar kembali. "Ingat Bi, Ini rahasia kita, jangan Bibi gibah kan dengan orang lain, Jika aku ada mendengar Hal buruk tentang ku dari komplek ini, Maka bibi akan aku tuntut" Ucap nya dengan sedikit ancaman. Siapa yang ingin keburukan nya di ketahui oleh banyak orang

__ADS_1


"Baik Nyonya!" Sahut Bi Ati dengan sedikit gentar, karna selama lima tahun dia bekerja dengan keluarga ini, dia tak pernah melihat Nyonya nya itu bersikap kasar atau mengancam. Ini kali pertama nya, mungkin karna aib yang mengenak kan itu. Memikirkan nya lagi membuat Bi Ati gatal kembali dan dia bergegas berlari ketempat tujuan nya.


Juli keluar dari kamar setelah mencium kening putra nya, dan kembali ke kamar nya untuk melihat orang terkasih nya yang sudah meluluhkan jiwa raga nya semalaman..


__ADS_2