
Pagi itu begitu ramai dengan banyak orang didalam sebuah apartemen. Mereka saling berbincang dengan banyak candaan. Terasa begitu hangat seperti mentari yang tersenyum dengan senang.
Zai bangun dari tidur yang melelahkan. Remuk semua rasanya badan harus melayani satu persatu enam orang secara bergiliran di satu tempat yang sama, ranjang kehormatan.
Dia membuka matanya cukup lebar. Namun sesuatu yang kenyal langsung menekan wajahnya.
"Aku tak bisa nafas" ucap Zai dengan berpura-pura.
Seorang wanita dengan melon yang cukup besar menindihnya. Wanita itu mengangkat bagian atas tubuhnya dan membuka sedikit pakaiannya dan mengeluarkan buah melon segar dengan ujung yang menantang.
Apa kata dunia? Ketika bangun tidur langsung disuguhi hal seperti itu.
Entah dunia kejam atau tidak. Yang pasti dia pun menikmati momen itu.
"Apa kau masih sanggup?" Tanya Nindy yang menyelinap masuk ketika semua istri Zai sedang berbincang di ruang tamu. Dia seperti pelakor yang mencuri waktu dari istri sah.
Mereka pun mulai memainkan irama kesenangan dengan guncangan yang mengusik kediaman. Semua wanita yang ada di ruang makan langsung menyadari ada suatu hal yang janggal.
Namun mereka tidak ingin peduli untuk saat ini. Mereka tau ada dua orang yang menghilang dari ruang makan.
"Sepertinya pelakor kecil itu yang sedang mengguncang tempat tinggal kita" ucap Alisya. Namun tidak ada jejak kemarahan diwajah atau hatinya. Dia sudah menerima semua. Dia juga tidak sanggup melayani jika seorang diri. Untuk melawan lelaki tangguh seperti itu memang diperlukan banyak wanita agar bisa menang.
Di tempat tidur yang bergoyang dengan irama menyenangkan. Dipadukan dengan dua suara antara pertemuan kulit dan juga pertemuan suara mulut.
Satu orang muncul di pintu dengan, bersandar dengan santai membelai melon segar miliknya yang mana kini sudah terbuka utuh tanpa adanya penutup.
Lantai menjadi saksi ketika pakaiannya jatuh.
Zai sudah menyadari kedatangan Vera. Dia pun melambaikan tangannya dan meminta Vera mendekat.
Tidak mungkin Vera menolak, apalagi sekarang sahabatnya lebih dulu bermain
__ADS_1
"Kau curang Nin! Mengapa kau tak mengajakku?"
"Haha maaf Ver, aku kebelet tadi. Ketemu kamar yang ada pujaan hati aku langsung seruduk deh" sahutnya tanpa malu. "Dan lagian kamu sibuk tadi. Mana tega aku ganggu wkwkwk" dia tertawa lantang setelahnya ambruk dengan wajah yang senang. Dia melingkari guling dengan pose indah.
"Sekarang giliranku" kata Vera.
Zai tak bisa menolak rezeki yang datang. Dengan kasih lembut dia mengulurkan tangannya. Vera dengan siaga bersiap untuk naik kuda.
Guncangan kembali datang menggetarkan apartemen. Bahkan kali ini bukan hanya berefek pada Sky Pavilion. Namun yang berada dekat dengan bangunan setinggi dua puluh dua lantai itu.
Sore hari mereka pun akhirnya berhenti. Karena keduanya sudah tak sanggup lagi. Zai mengeluarkan keju miliknya dan itu meleleh dengan sendirinya.
Hari-hari berlalu begitu saja. Tanpa ada yang lebih berarti daripada kultivasi ganda.
Zai menatap ke delapan orang wanita yang duduk satu meja dengannya. Di ruang makan yang besar itu dia berkata. "Aku masih memiliki dua wanita yang belum aku nikahi. Selain Nindy dan Vera. Aku ingin menikahi mereka. Bagaimana tanggapan kalian?" Zai bertanya.
"Kami tentu setuju, sebanyak apapun wanita yang kau inginkan. Aku tetap setuju saja. Karna ku tau batas umurku tidak seperti batas umurmu" Alisya sebagai istri pertama berkata. "Begitu pula dengan mereka. Aku yakin itu" tambah Alisya. Dia adalah nyonya besar. Pemimpin semua istri-istri Zai dan suaranya mutlak. Tidak ada yang membantah karna itu sudah menjadi kesepakatan mereka.
Vera dan Nindi juga memilih untuk tinggal disana. Walaupun mereka belum sah menjadi istri. Entah mengapa? Padahal sebenarnya lebih enak jika menjadi istri. Tapi menurut mereka berdua, itu hanyalah status saja dan belum penting..
"Baiklah kalau begitu, aku akan menjemput mereka!" Katanya, dia pun berdiri dan pamit.
Zai menerbangkan helikopternya ke jakarta dan mendarat dengan sempurna di gedung Pt Megah Jaya.
...……...
"Ayah!' Zai memanggil Orlando yang sedang berjalan entah mau kemana.
Seketika Orlando menoleh dan melihat menantunya yang datang, dia pun tersenyum lalu berkata. "Bagaimana keadaanmu, apakah ada metode tertentu untuk bisa sekuat dirimu. Bagi dengan ayah dong" ucapnya menyenggol Bahu Zai.
"Nanti aku berikan, saat ini aku tidak membawanya, Bagaimana dengan semua pesaing bisnis kita, ayah?" Tanya dia lagi
__ADS_1
"Berjalan dengan lancar. Ini juga berkat koneksimu yang begitu banyak tersebar. Tidak ada lagi yang berani mengusik perusahaan ini. Akan tetap Megah dan Jaya seperti namanya" sahut Orlando. "Dan semua perusahaan yang sudah berani unjuk gigi menghadapi kita dulu, kini sudah di akuisisi menjadi milik kita"
"Bagaimana dengan keluarga Bramasta?"
"Mungkin mereka jadi gelandangan setelah Bramasta meninggal akibat minum racun. Dan Anaknya yang bernama Hesti, sesuai dengan amanatmu. Akan dihukum seumur hidup didalam penjara" katanya. Lalu mengajak Zai ke kantin.
Para kariayawan perusahaan dan empat orang yang setia serta diunggulkan oleh Zai menyapa ketika melihat dia lewat bersama Orlando. Pemimpin saat ini.
Zai melambaikan tangan saja tentunya. "Naikan gaji kariawan sebesar sepuluh persen. Agar tidak ada dari mereka yang berpikiran jahat untuk perusahaan Ayah! Setiap pohon yang kuat tergantung pada akarnya" kata Zai mengingatkan mertuanya. "Intinya jangan pelit dengan kariawan" kata itu ditekankannya lagi.
"Tentu Nak!" Orlando sangat senang dengan pesan yang menantunya itu katakan. Karna dia pun memiliki pemikiran yang kurang lebih sama. "Memang tak salah Juli mendapatkanmu menjadi suaminya" Orlando tersenyum dan menepuk bahu Zai. Kebanggan muncul dihatinya untuk sang menantu.
Tak berapa lama. Andre mengantarkan dua gelas Kopi yang memang di sengaja dia mengambilkan dari pelayan kantin. "Permisi bos" sapanya.
"Duduk Dre!"
"Maaf bos, saya tidak berani" sahut Andre.
"Tak apa, duduk saja" timpal Orlando.
Zai juga menganggukan kepalanya. "Kapan kamu akan melamar Lidya? Jangan bilang kalian tidak ada hubungan apa-apa" Pertanyaan Zai begitu menohok dihati Andre. Benar dia menyukai tapi masih belum ada kata saling memiliki. "Jika kau terlalu lama, bisa-bisa dia digaet olehku. Hahaha" Zai tertawa cukup lantang. Hingga semua orang di kanting memandang kearah mereka. "Tidak! AKu hanya bercanda saja, jika kau mau aku bisa mengadakan pesta pernikahan yang meriah untuk kalian berdua, bagaimana?" Tatap Zai cukup lama.
"Baik bos. Aku tidak akan menolak kebaikan Bos. Entah orang akan berkata apa, aku tidak akan mungkin menolaknya. Aku akan segera melamarnya." Ucap andre yang begitu bersemangat.
Tidak berapa lama dia selesai berkata, pucuk dicinta ulam pun tiba.
Lidya datang bersama temannya. Andre langsung berdiri ketika melihatnya. Mereka sudah sama-sama saling menyukai hanya saja masih terhalang ego untuk mengakui.
"Lidya! Apa kau mau menikah denganku" teriak Andre. Semua orang menatap dia. Sesaat kemudian sebuah suara masuk di antara keheningan.
"Terima, terima, terima" entah siapa yang memulai. Namun hal itu menjadi pemicu keduanya untuk saling mendekat.
__ADS_1