
Wanita itu langsung terkejut mendengar nada serta kalimat yang tidak mengenakan di hati serta telinga. Bahkan semua mata memandang ke arah Zai yang terlihat begitu santai minum teh.
Namun ada sebuah senyuman tersungging ketika Zai menyesap teh itu. Dari wajah semua orang yang ada disana. Tentu mereka tau apa yang dicampur dalam teh itu.
Namun sayang, kebodohan mereka begitu menonjol terlihat oleh Zai. Zai tentunya sudah tau dan antisipasi lebih dulu. Dia memakai 100 poin penukaran untuk memperkuat daya tahan tubuhnya dari racun, entah racun dari jenis mematikan apapun, maupun afrodisiak yang dicampur. Zai akan tetap seperti biasa.
Ketika tidak melihat adanya perubahan pada diri Zai. Benak mereka diisi oleh berbagai pertanyaan yang mengganggu. Tapi tidak ada yang berani mengungkapkannya.
Sedangkan wanita yang hendak memijat Zai itu mundur perlahan dengan kekesalan yang teramat dalam. 'Tak mungkin obat itu tidak bereaksi sama sekali kepadanya. Ini aneh?!' Wanita itu membatin. Tapi dia berusaha tersenyum dan mundur perlahan.
"Aku masih perawan, tapi jikalau tuan Muda tidak berkenan, mengapa harus mengatakan kalimat yang sulit" ucap Wanita itu, berusaha terlihat sedih ketika Zai menatapnya.
Tapi Zai tetap pada pendiriannya dia pun berkata lagi. "Ada hal apakah kau mengundangku kesini, jika tidak ada yang menguntungkan buatku, aku rasa aku masih ada kegiatan yang lainnya" kata Zai terdengar tidak mengenakan bagi Kang Lai.
Tak pernah dia mendapati ucapan yang seperti itu seumur hidupnya.
"Aku ingin mengajakmu bekerja sama denganku. Aku ingin menaklukan kekaisaran yang ada di seberang lautan sana. Kita bisa membagi wilayah itu" ucap Kang Lai mengungkapkan keinginannya.
Diam! Zai terdiam. Dia tidak tahu bahwa ada kekaisaran lain di dunia yang sekarang ditempati. Tapi tugas sistem hanya untuk membantu putra mahkota untuk naik tahta. Dan dia belum bisa memastikan siapa sebenarnya putra mahkota yang disebutkan sistem. Dari penjelasan Kang Hong sendiri. Tidak ada yang menjadi putra Mahkota. Karna tahta akan diperebutkan sesuai kekuatan masing-masing putra Kaisar.
Zai belum memahami hal itu. Mungkin itu patut dipertanyakan dengan Laila. Siapa yang harus dibantu dan tidak.
"Aku tidak bersedia!" Ungkap Zai tegas.
"Yah sangat disayangkan! Padahal aku sangat berharap dengan kekuatanmu" ucap Kang Lai penuh kekecewaan.
"Kalau begitu, maaf mengecewakanmu" Zai menangkupkan tinjunya kedepan lalu berdiri. "Terima kasih atas jamuannya. Aku senang menerima sambutan ini" ucap Zai lagi. Dia pun segera keluar dari ruangan.
Sepeninggal Zai dari ruangan itu. Ada beberapa orang yang muncul dan berlutut di hadapan Kang Lai.
"Apakah yang Mulia ingin kami membunuhnya. Agar tidak menjadi duri dalam daging nantinya?" Salah satu bertanya.
__ADS_1
"Jika bisa hidup. Bawa ke ruang bawah tanah. Jika tidak bisa, buang saja ke laut"
"Baik yang mulia!"
Lima orang itu langsung menghilang dari pandangan. Semua memiliki kecepatan yang super cepat.
Zai dapat merasakan ada beberapa orang yang sedang mengikutinya.
Segera dia turun dari udara dan mendarat di puncak sebuah gunung dimana ada pohon rindang berdiri disana. Dia duduk perlahan.
Seketika saja. Lima orang muncul dan membatasi ruang gerak Zai. Tapi Zai tetap santai. Dia pun bertanya "apa pesan dari Kang Lai?" Tanyanya.
Satu orang di ranah bumi tahap puncak. Tiga orang ranah bumi tahap menengah, satu orang ranah bumi tahap awal.
Mereka memandang Zai dengan tatapan penuh penindasan. Namun yang ditatap hanya biasa-biasa saja. "Apa kalian pikir dengan menatapku seperti itu, aku akan mati! Bukankah kalian terlalu naif dan bodoh?" Ucap Zai
Kalimat itu sungguh menyakiti hati mereka. Segera setelahnya kelimanya menyerang Zai tanpa aba-aba.
Zai melambaikan tangannya. Sebuah formasi muncul segera. Tubuh mereka langsung kehilangan kuasa tubuh dan melayang tanpa dapat dikendalikan. Seolah waktu dihentikan di sekitarnya dan hanya dia yang bisa berjalan sesuai aturan waktu yang ada "Dengan kekuatan seperti ini, kalian berani datang untuk menangkapku?" Zai menggelengkan kepalanya.
Duar! Darah menyembur ketika kepala salah seorang pecah.
[Selamat: tuan membunuh tingkat bumi tahap awal mendapatkan dua ribu poin penukaran, tujuh ratus poin peningkatan]
Duar! Zai menjentikkan jarinya lagi.
[Selamat: tuan membunuh tingkat bumi tahap menengah mendapatkan tiga ribu poin penukaran, seribu poin peningkatan]
"Hasil yang memuaskan!" Ucap Zai.
Dia menjentikan jarinya untuk ketiga kali. Namun jeda waktu yang berhenti telah berakhir. Tiga orang itu bergerak mundur dan tak berani mendekat lagi.
__ADS_1
"Akhirnya aku bisa menggerakan tubuhku" salah satu dari tiga orang berkata. "Kita harus menyerangnya dengan serangan jarak jauh" ucapnya lagi.
"Kau benar ketua Dong! Sebaiknya kita tetap menjaga jarak seraya memberikan serangan. Sebelumnya kita tidak waspada hanya karena melihat tingkatannYA yang berada di ranah inti energi.
"Sepertinya dia memiliki teknik yang bisa menutupi penglihatan kita tentang kultivasi sesungguhnya yang dia miliki" orang lagi memberikan pendapat.
"Majulah kalian bertiga. Jika kalian bisa melukaiku dengan satu serangan. Maka aku akan menyerang. Tapi jika tidak. Bersiaplah kalian untuk menyerah dengan suka rela dan menjadi bawahanku, bagaimana?"
"Baik!" Sahut ketiganya. Tersenyum. Ini seolah memberikan mereka hadiah tanpa bersusah payah. Bagaimana mungkin mereka menolak penawaran yang sangat menguntungkan. Mereka lupa bahwa tingkatan lawan tidak terlihat sama sekali yang berkemungkinan lebih tinggi dari mereka.
Pikir mereka tak mungkin lawan lebih kuat karena masih terlalu muda.
"Bersiaplah anak muda!" Seru salah satunya yang langsung melesat dengan kekuatan penuh yang terkumpul dari pedangnya. "Pedang penghancur bintang!"
"Pedang pemusnah raga!"
"Tongkat sakti nirwana!"
Ketiganya mengeluarkan serangan dahsyat. Terlihat penuh energi. Kekuatan yang terkandung tidaklah main-main. Namun Zai memiliki jubah dewa matahari yang bisa menahan serangan dari dua tingkat yang berada diatasnya.
Jadi dia ingin menguji kebenaran itu.
Baaam! Serangan gabungan menghantam tubuh Zai yang berdiri tegak. Asap tinggi mengepul debu terangkat menutupi Zai.
"Haha. Dasar bodoh, kau pikir dirimu hebat" celoteh Wong, dia yang paling kuat diantara yang lainnya. "Ayo kita pulang dan melapor bahwa target telah menjadi abu!" Katanya lagi
"Dia tidak hebat sama sekali, tidak seperti sikapnya yang arogan" ucap Hu Tian.
"Hahaha Ayo berangkat!" Kata Xiao Hui.
Zai mengibaskan tangannya dan debu segera menghilang. "Apakah yang tadi adalah serangan terkuat kalian? Cih hanya menggelitik tubuhku saja" tubuh Zai perlahan terlihat oleh ketiganya.
__ADS_1
Segera mereka ingin lari tapi sesuatu menahan pergerakan mereka dan memaksa mereka tertahan di udara.
"Mengapa lari, bukankah kalian sudah berjanji, seorang lelaki yang dipegang adalah perkataannya. Apa kalian paham?" Tanya Zai yang muncul di hadapan mereka bertiga. Dan memberikan tanda budak yang telah dipelajari dari teknik formasi segel..