
Kedatangan Bulek Ratih sudah diketahui oleh Joko sebelumnya. Tadi pagi Asti sudah menelpon Joko berkali- kali tentang peristiwa yang terjadi di pasar. Apalagi Pak Hermawan agak kaget, karena Asti mempunyai pegawai baru pengganti Dania.
" Tenang, saja Asti... Kalau mereka minta nomor Dania dan alamat rumahnya, kasih saja! Secara tidak langsung Dania ikut juga terlibat. Karena dia sudah meminjamkan kunci tokomu pada Jago. Tetapi aku sudah menggantinya setelah kunci itu ada di tangan mu. Sebenarnya sasaran mereka adalah toko emas di sebelahnya. Karena Dania terlalu detail menceritakan keadaan toko itu yang merupakan toko emas terbesar di wilayah kita ini.
Bulek Ratih agak lega mendengar keterangan dari anaknya itu. Apalagi sebelumnya mereka sudah memecat Dania. Hanya Joko tidak menceritakan perbuatan Dania yang lain. Biarlah itu nanti menjadi bahan penyelidikan polisi lebih lanjut. Nggak mungkin juga Jago bersembunyi di rumah Dania di desa sana. Akan sangat besar resikonya. Walaupun agak jauh dari pasar, tetapi pemukiman di desa tempat Dania tinggal itu cukup ramai dan padat penduduknya.
Mereka menunggu kedatangan Asti pulang dari pasar. Hampir satu jam kemudian terdengar suara motor Asti memasuki halaman depan rumah. Setelah sembuh dari sakitnya, Asti kembali naik motor untuk berangkat dan pulang ke pasar. Walaupun dia menjalankan motornya itu tidak terlalu cepat. Sebab dengan motor dia lebih mencapai pasar atau pun ke tempat lain tanpa terjebak dengan padatnya lalu lintas di simpangan ruko atau perempatan depan pasar kabupaten.
Akbar sudah menempel terus dengan ibunya sejak Asti pulang sore tadi. Padahal di rumah juga sudah ada kedua orang tua Joko. Dia tadi mau ikut sebentar dengan Bulek Ratih tetapi lebih suka minta gendong ibunya lagi.
" Ini anak manja, nggak jelas ini..."
Ledek Asti.
Tentu Akbar masih merasakan kehilangan saat ibunya itu menjalani perawatan di rumah sakit dan menginap di sana beberapa hari. Sekarang ini Asti makan lebih banyak lagi dan cukup beristirahat. Asti berusaha tetap menjaga kesehatannya agar dapat berangkat umroh bersama keluarganya akhir bulan ini.
Tawa Akbar membahana ketika dibawa bermain ke halaman ruko. Anak itu senang tubuhnya diangkat dan diayun- ayun seperti menjadi pesawat terbang. Di sana pasti ada Pak Leon dan dua orang asisten itu. Satu - satunya hiburan murah bagi orang - orang itu untuk menghilangkan kepenatan setelah bekerja. Mereka seharian berada di proyek pembangunan perumahan itu.
Pembicaraan tentang Dania akhirnya mereka hentikan. Sebab Lek No berniat kembali ke desa. Sementara Bulek Ratih ingin menginap. Dia juga berharap keadaan Dania cukup aman. Takutnya Dania melakukan sesuatu hal di luar perkiraan mereka.
Sampai kedatangan Ayah Dania di warung tenda cukup mengejutkannya Joko. Pria itu tampak terlihat cemas dan khawatir. Sampai Joko membawa pria itu ke rumah Asti untuk berbicara lebih terbuka.
" Mbak Asti, Maafkan Dania, ya! Anak itu sudah seminggu lebih di rumah saja. Katanya dia dapat tawaran menjaga toko di sebuah ruko di kota. Baru kemarin dia berangkat ke sana. Dia sudah pamit sebelumnya pada Mbak Asti. Jadi toko sudah ada pegawai baru yang akan menggantikan pekerjaannya..."
"Oh, ya. Lek Sam. Semoga saja pekerjaan Dania di kota lebih baik dengan gaji yang lebih besar..." Ucap Asti sabar.
Tanpa sadar Asti bergumam sedih. Tega sekali Dania berbicara bohong kepada orangtuanya yang terlihat pasrah dengan kehidupan keluarganya yang sangat susah. Asih menyelipkan empat lembar uang lima puluh ribuan ke tangan pria itu, saat ayahnya Dania itu pamit untuk pulang. Telapak tangan lelaki itu tampak kasar dan kapalan karena digunakan untuk bekerja keras di sawah sehari-hari. Sebagai buruh tani untuk membiayai kebutuhan hidup keluarganya.
" Nggak coba mie goreng atau nasi goreng di warungnya Joko, Lek?" tawar Asti lembut.
__ADS_1
" Nggak usah, Mbak Asti! Takut ibunya anak-anak di rumah menunggu terlalu lama. Tadi pamitnya ke sini cuma sebentar. Terima kasih banyak Mbak Asti! " ujar pria itu lagi.
Tanpa sadar Asti mengikuti langkah pria itu yang berjalan keluar dari rumah, lewat pintu samping untuk mengambil sebuah motor tua yang tadi di parkir di sana. Motor yang dipakai oleh ayahnya Dania itu adalah milik Lek No. Dulu Asti yang meminta motor bekas itu kepada Lek No, untuk digunakan Dania berangkat dan pulang bekerja . Daripada dia memakai sepeda onthel, mungkin membuatnya agak malu. Sebab trend anak muda di daerah mereka sekarang adalah menggunakan sepeda motor untuk bepergian kemana pun. Sepeda onthel hanya di gunakan oleh orang - orang yang usianya lebih tua.
Air mata Asti menitik perlahan, mengenang hal itu. Sebaik apapun orang tua kita, tetapi seorang anak telah memilih jalan hidupnya masing-masing untuk masa depannya.
Perbuatan Dania nanti, takutnya akan sangat mengecewakan kedua orangtuanya. Karena gadis muda itu sudah menentukan langkahnya sendiri. Tentu agak melenceng jauh dari impian gadis - gadis muda yang sebayanya dengannya.
Sebuah pelukan erat diterimanya dari Bulek Ratih yang telah mendengar semua percakapan Asti dengan bapaknya Dania itu. Bulek Ratih kurang sreg berbicara dengan suami sepupunya itu, sehingga dia hanya berdiam di ruang tidur utama bersama Bu Jum dan Akbar.
Kemiskinan membuat keluarga Dania dijauhi tetangga desa juga para saudara dan kerabatnya. Padahal kehidupan saudara dari pihak ibu atau bapaknya itu lebih baik dari mereka. Tetap saja tak banyak orang yang mau membantu.
" Sudahlah... Jangan kamu pikirkan nasib Dania selanjutnya! Anak itu terlalu keras kepala! Kalau diberi tahu atau dinasehati orang lain, nggak mau dengar. Banyak orang yang memperingatkan kalau pacarnya itu bukan pemuda yang baik ...." Kata Joko ketus.
Joko pun tadi datang menyelinap diam- diam. Dia tahu ada gelagat kurang baik dengan kedatangan suami sepupunya ibunya itu. Padahal mereka sehari- hari bekerja di sawah Asti di Desa Sendang Mulyo. Mengapa harus mendatangi Asti ke rumahnya ini?
Dia tambah curiga ketika melihat mata Asti agak merah. Bagaimana pun Asti sudah banyak membantu keluarga Dania. Walaupun Dania kurang bisa menerima keadaan keluarganya yang agak sulit dalam masalah perekonomiannya. Tetapi jangan hal itu dijadikan alasan untuk berbuat sesuatu yang negatif dan merugikan orang lain.
" Dania ngakunya sudah izin keluar kerja di tokoku. Sebab dia sudah mendapatkan tawaran kerja menjaga ruko di kota..." Kata Asti berusaha menjelaskan dengan hati yang masih sedih.
" Biarkan Dania dengan keputusannya itu! Kamu jangan melow begitu, ah... Kayak anak perawan aja. Tuh, kasihan Akbar yang dari tadi mencari ibunya...."
" Sial ..." Desis Asti, mendengar gurauan Joko yang terasa tidak lucu di telinganya. " Daripada kamu, Jones alias Jomblo ngenes..." Balas Asti gemas.
Bulek Ratih malah tertawa terbahak-bahak mendengar adu mulut antara saudara sepupu itu
" Sudah! Sudah pada tua, kalau becanda kayak anak kecil. Sana Joko urus warungmu, ntar kabur tendanya dibawa angin!"
" Ih, Si Ibu! Dari dulu Asti aja yang selalu dibelain..Aku tuh anak laki- laki satu- satunya. Ini nggak Asti, nggak Ninuk, selalu aja dibelain terus walaupun salah..."
__ADS_1
" Bulek kita cariin cewek buat dijodohkan dengan Joko, yuk! Biar dia nggak bengong dan ngomel terus kayak Mbak Muh yang kehilangan sirihnya."
Mata Joko melotot. " Dikira ini Zaman Siti Nurbaya apa? Mau mencarikan jodohkan buat aku! Sorry La Yau, Aku bisa cari sendiri!"
" Iya, tetapi Mbak Almira nggak minat, tuh. Kasihan, deh ...."
Joko tersenyum masam mendengar ledekan Asti yang memang kena di hatinya. Apalagi setelah mendengar Mbak Almira juga menerima perjodohan dari saudara jauhnya yang tinggal di Magelang... Ternyata calon suami Mbak Almira itu seorang perwira dari dinas Angkatan Darat yang bertugas di Yogyakarta.
Joko segera keluar dari kamar Asti. Benar sih, pendapat banyak orang. Kalau perempuan ngomong itu nggak pernah salah. Apalagi perempuan itu adalah orang yang kita sayangi, menyerah saja!
Sementara di dalam kamar, Bulek Ratih dan Asti meneruskan gosip tentang si Joko itu.
" Memang pernah Joko ngomong ke Mbak Almira kalau dia suka?" tanya Bulek Ratih kurang percaya.
" Mana berani dia Bulek! Anakmu itu kalau lawan begal atau orang kayak si Jago itu pantang mundur! Disuruh ngomong ke cewek yang dia suka, malah mundur..."
" Kemarin Lek No pernah ngomong, kalau Joko tertarik dengan temannya Ninuk, kok." kata wanita itu pelan.
" Masa? Ada kemajuan juga si Joko ini. Tetapi Bulek, temannya Ninuk kan banyak. Siapa namanya?"
" Waduh, Bulek lupa ... Katanya dia pernah pergi ke rumahnya, gitu. Yang bapaknya punya kolam ikan lele."
Tawa Asti terdengar geli." Oh, ke rumahnya Hafizah Rohimah. Gadis itu dipanggilnya Izzah, Bulek. Cantik dan Sholehah juga, anaknya. Tetapi dia seumuran sama Ninuk ... Baru juga masuk kuliah kemarin. Nunggu lulusnya Izzah, paling cepat tiga tahun lagi."
Senyum Bulek Ratih terukir semakin lebar ." Ya, tunangan dulu juga nggak apa - apa. Sambil menunggu usaha Joko nanti semakin berkembang. Buat tambah modal untuk pesta merayakan pernikahannya. Iya, nggak?"
Asti dengan penuh sayang memeluk wanita itu." Duh, yang mau punya calon mantu. Bahagia banget, ya, Bulek?"
" Kita doakan saja, semoga Joko berani melamar gadis itu. Kalau, nggak? Keburu digaet pemuda lain. Ha, ha." Tawa Bulek Ratih semakin membahana.
__ADS_1