
Joko membawa mobilnya keluar dari daerah perkampungan itu yang terletak di antara perbatasan kota dan sebuah kabupaten lainnya.
Sebenarnya dia mau lebih banyak tahu tentang akhir dari perkembangan permasalahan yang dibuat Almira... Tentu sekarang wanita itu harus berhadapan dengan Mas Qosim dan Mbak Nur untuk membuktikan semua ucapannya itu.
Tampaknya, permasalahan yang ditimbulkan Almira itu sudah dilimpahkan pada seorang pengacara muda yang cerdas dan handal. Mahendra Suwondo, sejak awal pria yang sudah lama berkecimpung dalam bidang hukum itu sudah sangat tertarik dengan berbagai perbuatan Almira yang dibeberkan Pak Leon dengan gamblang.
Untungnya, Joko dan Pak Cakra melihat keadaan Almira baik-baik saja. Dia sehat walafiat, dan tetap tegar dengan segala keangkuhan dari kesalahan yang dibuatnya. Jadi wanita itu bisa dituntut secara hukum dengan segala tindakannya yang banyak merugikan Pak Leon, Asti dan keluarganya.
" Kita cari makan siang dulu, Joko!
Kok, saya lebih suka berada di proyek.. Menggurus puluhan pekerja di sana. Daripada harus menghadapi permasalahan dengan Almira ini! Bikin pusing!" Kata Pak Cakra sambil mengumpat lirih.
Joko tertawa sumbang. Dulu dia dan Leon yang berhasil membuktikan dan memvideokan perbuatan Almira sampai sangat viral kita diunggah ke sebuah media sosial. Sekarang dia akan meneruskan permasalahan ini ke jalur hukum, agar Almira mendapatkan pelajaran sesungguhnya dengan segala perbuatan itu.
Mereka mampir di sebuah warung makan di pinggir jalan yang cukup ramai. Ternyata Joko yang memilihkan menu nasi liwet dengan berbagai pelengkapnya dengan makanan khas lainnya. Mungkin Pak Cakra merasakan sedikit perbedaan cita rasa masakan ala pesisir di daerah Semarang dengan masakan khas daerah Solo dan sekitarnya... Masakan di sini terasa sedikit manis bagi orang awam. Sebab ada tambahan kecap atau gula merah dalam mengolah berbagai masakan itu.
Pak Sudi, melihat kedatangan anaknya majikannya dengan calon suaminya ke rumah kost ini. Sehari- hari Mbak Nur tinggal di rumah adik ayahnya yang jaraknya lebih dekat dengan sekolah Paud yang didirikan Ibu Atiek beberapa tahun yang lalu. Mereka para wanita itu bekerja di Paud yang sudah punya banyak mempunyai puluhan murid. Termasuk Almira yang bekerja di Paud itu untuk diperbantukan di bagian administrasi.
" Assalamualaikum!" sapa keduanya hampir bersamaan.
Pak Sudi yang menjawab salam itu. Sementara Almira hanya menatap kedatangan mereka dengan wajah yang mulai diliputi rasa cemas.
" Tadi Mas Joko, sudah ke sini, kan. Pak Sudi?"
__ADS_1
" Iya, Mas Qosim. Mereka nggak lama kok... Terus pamit pulang!" jawab Bapak itu
Nur mengambil duduk agak jauh dari Almira. Sedangkan Mas Qosim duduk di sebelah Pak Sudi, yang sangat dipercaya untuk menjaga rumah kost ini. Selama bertahun-tahun pria ini bekerja pada kedua orang tua Nurwati, dan dapat menjaga amanah majikannya itu.
" Tadi Bapak mendengar permasalahan yang disampaikan tamu yang menemui Mbak Almira?"
" Saya nggak berani dengar, Mas! Kami juga duduk agak jauh di dekat pintu parkiran motor!" Ucap Pak Sudi terus terang. Sebab dia dan istrinya tidak berani mencampuri urusan lain. Kalau soal kenyamanan kamar kost, Pak Sudi akan bertanggung jawab sepenuhnya.
" Baiklah, Pak Sudi boleh mendengarkan kali ini! Biar Nur yang menyampaikan kepada Mbak Almira."
Nurwati Fatimah mulai menatap wajah Almira. " Almira apa yang selalu kamu ceritakan pada saya dan Ibu tentang Asti itu semuanya adalah fakta dan mengandung kebenaran, kan ?"
Almira terkejut. " Maksud kamu apa? Aku berbohong soal hubungan ku dengan Pak Leon, dan Asti yang menjaga orang ketiga diantara kami!"
" Sudahlah, Almira! Banyak orang bilang lidah itu tak bertulang! Semakin kamu banyak bicara, semakin banyak lagi kebohongan yang kamu buat... Kami menyesal telah menolong dan mempercayai semua ucapan sampahmu itu! Bahkan kami sampai bertindak semena-mena kepada Mbak Asti karena terpengaruh dengan kebencian, iri dan rasa dendammu itu!"
" Terserah! Selama berbulan - bulan yang kamu ceritakan kepada kami tentang Pak Leon itu adalah khayalanmu yang paling ngawur, Almira! Tidak semua keinginan kita akan terkabul, walaupun sudah berupaya keras untuk mewujudkannya. Seperti impianmu untuk mendapatkan suami seperti Pak Leon... Tentu lelaki seperti dia akan menyempurnakan semua perjuangan seorang gadis sederhana dari desa untuk menjadi istri seorang pengusaha sukses dan terkenal! Pria itu juga tampan, cerdas dan kaya pula! Sebab kamu akan sangat puas dan bangga dengan segala pencapaianmu itu kan. Bukan begitu, Almira?"
" Tetapi, sadar woy, Almira! Pak Leon tentu lebih mengetahui dengan siapa dia berhadapan! Kamu Almira, gadis yang sangat ambisius ...
Sehingga Pak Leon menghindari mu! Sampai kau tuduh Mbak Asti menggunakan jasa dukun untuk main pelet untuk merebut perhatian Pak Leon darimu. Justru kamu yang gila, karena penolakan Pak Leon itu. Ternyata saya baru mengenali sekarang, salah satu sisi gelap dari jiwamu itu ... Kamu itu
sangat menjijikkan! Bertobatlah Almira dengan semua tingkah laku buruk mu itu... Pak Leon sudah menyiapkan pengacara hebat yang dapat menyeret kamu ke penjara. Mungkin itu harga yang pantas untuk perbuatanmu pada mereka! "
__ADS_1
Almira bergerak gelisah dari duduknya. Sebab bila ancaman Joko dan Pak Cakra tadi benar, habislah dia. Mata Nur menatap pada sebuah amplop coklat di depan meja itu.
" Nggak apa-apa! Rencana pernikahan kami batal... Mungkin itu harga yang pantas akan perbuatan saya dan ibu kepada Mbak Asti! Ini tidak seberapa menyakitkan dari cara kami menghina dan menjatuhkan harga diri Mbak Asti dan keluarganya.... Semoga kamu bisa merenungkan segala perbuatan buruk itu Almira... Introspeksi diri! Atau kamu bisa masuk rumah sakit jiwa karena terlalu jumawa dan melupakan ada ketentuan Allah yang nggak bisa kamu tentang!"
Nurwati berdiri dari duduknya. Mas Qosim yang sudah berkoordinasi dengan calon bapak mertuanya untuk membantu Pak Leon menuntut Almira. Si Bapak itu sudah gerah dengan tingkah Istri dan anaknya yang terus menjatuhkan nama baik Asti... Padahal mereka sudah ke rumah istri pak Leon itu. Berbicara dengan Pak RT dan para tetangga di sana. Semua cerita yang disampaikan Almira selama ini sangat berbalik faktanya.
Mas Qosim, tahu kalau perusahaan yang menaungi proyek pembangunan perumahan di desa Sekarwangi itu adalah perusahaan properti terbesar di Jawa Tengah ini. Pemimpin utama perusahaan itu yang berkedudukan di Semarang adalah kakak ipar Pak Leon sendiri. Suatu kesempatan kecil yang diberikan lelaki bijaksana itu kepadanya, selain menutup akun bisnisnya. Yaitu agar calon istri dan calon ibu mertuanya diberi pengertian, kalau selama ini mereka dipengaruhi oleh Almira, yang pandai memanfaatkan orang lain untuk keuntungan pribadinya.
Lelaki itu melakukan itu semua sebagai permintaan maaf kepada Pak Leon , juga kepada Mbak Asti! Dia juga ingin Nur kembali berkaca! Bahwa orang yang dibela dan dibantunya selama ini adalah orang yang bersalah.
" Kamu harus berada di rumah ini! Kalau kamu berani melarikan diri dari masalah ini lagi, awas! Pak Mahendra Suwondo sudah bertindak atas nama Pak Leon untuk mengerahkan pihak yang berwajib untuk menjaga di luar rumah selama 48 jam!"
Semua ketar-ketir mendengar ucapan pria sopan itu yang terasa sangat dingin dan penuh ancaman.
" Saya pamit pulang, Nur!"
Lelaki muda itu berdiri dari duduknya. Dia mengangguk kepada Pak Sudi lalu melangkah keluar.Di kepalanya terus saja berputar - putar berbagai masalah yang berdatangan sejak Nurwati mulai menaruh perhatian dengan semua urusan bisnisnya. Terutama setelah mendengar tentang perusahaan properti milik Pak Leon yang banyak memerlukan suplai bahan baku dan bahan jadi dalam penyelesaian proyek perumahannya.
" Kamu nggak usah datang lagi ke Paud... Urusanmu nanti dengan Pak pengacara itu. Dia teman baik Mas Qosim!"
" Nur...Aku mohon ... Maafkanlah aku!"
" Untuk apa, Almira?" bantah Nurwati dengan keras. " Saya sangat mempercayaimu... Bahkan menyerang wanita yang menurutmu perebut kebahagiaanmu... Tapi tak apa, kalau aku tak berjodoh dengan Mas Qosim... Itu semua karena kecerobohan aku dan ibu!"
__ADS_1
Nurwati segera menatap Almira lagi. " Kamu nggak mau memberitahu kedua orang tuamu di kampung kalau Pak Leon menuntut kamu untuk dengan masalah hukum? Tentu hukumannya adalah masuk penjara! Siapa tahu mereka masih berupaya untuk membela anak kesayangan ini. Misalnya bisa saja menjual warung kecil di depan rumahmu itu kali! Yah... walaupun itu sekarang itu jadi sumber penghidupan keluargamu, selain uang pensiun dari ayahmu... Apa kamu nggak punya harta kekayaan lain apa seperti punya Asti? Mungkin kamu punya sawah yang berhektar-hektar, kebun buah- buahan yang produktif dan bisa dipanen hasilnya setiap tahun, begitu.... Atau ruko besar di pinggir jalan begitu, seperti milik Mbak Asti! Itu warisan dari ayah dan kakeknya, lho! Jadi jangan mimpi kamu! kalau semua itu akan jadi milikmu! Apabila dulu kamu berhasil merebut Pak Leon dari sisi Mbak Asti!"
Pak Sudi dan istrinya jadi kaget dengan ucapan Mbak Nur itu yang tampaknya hanya tertuju pada Almira... Kata-kata yang sangat tajam dan bermakna denotasi.... Mungkinkah ini semua terucap dari bibir Mbak Nur karena rasa kecewanya yang sangat dalam?