
Paginya, Asti sudah mendapat banyak kemajuan. Infusnya sudah dilepas atas pantauan dari seorang dokter yang memeriksanya. Mungkin sore nanti Asti bisa pulang. Asalkan kesehatannya cepat pulih.
Justru di siang hari, beberapa ibu tetangga di lingkungan rumah Asti datang menjenguk. Tentu mereka semua dipimpin oleh Ibu Ani, istrinya Pak RT. Belum lama rombongan itu pulang. Datang lagi rombongan yang dipimpin Ibu Haji Anissa dari Desa Sendang Mulyo juga datang.
Ninuk dan Bulek Ratih sampai terharu dengan perhatian para tetangga mereka itu. Apalagi sejak Ninuk kuliah, gadis itu hanya sesekali datang ke rumah orangtuanya di desa. Dia lebih banyak berada di rumah Asti karena rumah itu jaraknya lebih dekat dengan kampus tempat dia belajar. Apabila kosong jam kuliah di Jumat sore dan Sabtu. Dia hanya membutuhkan waktu tidak sampai 60 menit bila ditempuh dengan sepedanya motornya dari tempat kost ke rumah Mbak Asti.
Sorenya Pak Leon juga datang ke rumah sakit. Mereka akan segera membawa Asti pulang ke rumah. Gejala tipes yang dialami oleh Asti belum terlalu parah, tetapi dokter berpesan agar Asti beristirahat lebih banyak di rumah.
Segala pembiayaan rumah sakit sudah diselesaikan oleh Pak Leon yang mempunyai kartu khusus keanggotaan VIP dari rumah sakit itu. Sebab dia dan perusahaan property nya bekerja sama dengan pihak rumah sakit.
Di proyek pembangunan perumahan itu banyak pegawai tetap dan pegawai borongan yang terlibat dengan pekerjaan berat di lapangan. Mereka perlu mendapatkan akses kesehatan dan perlindungan kecelakaan kerja. Rumah sakit swasta itulah tempat rujukan terdekat bagi pegawai yang sakit atau mendapatkan kendala di proyek tersebut.
Dua mobil itulah beriringan menuju rumah Asti. Di dalam Pajero itu Asti duduk ditemani Ninuk. Sementara di Avanza, Joko membawa Kedua orang tuanya dan berbagai tas berisi pakaian milik Asti dan bawaan dari para tetangga. Ada yang berupa buah dan kue- kue.
Sampai di depan rumah, tubuh kurus Asti yang kehilangan bobotnya hampir 6 kg karena sakitnya itu dipapah Joko masuk kamar utama. Akbar menangis histeris melihat kehadiran ibunya. Padahal dia masih berada dalam gendongan Bu Jum. Hampir empat hari lima malam Akbar tak berjumpa dengan ibunya di rumah.
" Sini sayang, anak ibu yang pintar dan sholeh!" bisik Asti terharu.
Akbar masuk dalam pelukan Asti penuh rasa rindu dan haru. Sampai bayi itu tertidur lelap di pelukannya. Hati- hati Ninuk memindahkan bayi itu ke dalam boks. Tempat tidur bayi itu masih cukup kuat dan lapang untuk ditiduri Akbar sampai bayi itu berusia lebih dari dua tahun nanti. Sebab penutupnya akan menjaga Akbar dari bahaya terjatuh.
Di ruang tengah ramai dengan kedatangan bapak-bapak yang mendengar kepulangan Asti. Mereka diterima baik oleh Lek No dan Joko. Pak Leon sudah kembali ke tempat kostnya setelah mengantar Asti pulang dari rumah sakit.
__ADS_1
" Biar Bu Asti, Istirahat. Kami sudah tenang mendengar keadaannya sudah membaik. Kasihan Akbar sejak kemarin rewel terus. Jadi para ibu bergantian menggendongnya ketika diajak Bu Jum keluar rumah."
Cerita Pak Rudi membuat Bulek Ratih trenyuh. Di mana pun mereka berada, kebaikan yang mereka akukan berbalas juga dengan kebaikan. Dia merasa Asti diterima baik di lingkungan ini. Lingkungan yang aman, nyaman dan penuh kekeluargaan untuk membesarkan Akbar dengan seorang ibu yang disebut Single Parent.
Asti tetap harus memakan makanan yang lunak. Sebab kata dokter ada luka di ususnya yang membuat dia sakit, nyeri perut berkepanjangan juga suhu tubuh yang tidak stabil. Mbak Ning menyiapkan bubur nasi yang dicampur dengan kuah sayur. Dia menyiapkan berbagai lauk seperti tahu, perkedel dan gorengan dengan berbagai isi dan sayuran yang dihaluskan dengan alat penghalus makanan milik Akbar.
Sampai Joko menyampaikan permasalahan Dania kepada orangtuanya. Mereka sangat terkejut. Tentu saja Bulek Ratih hapal baju- baju yang merupakan bagian dari hantaran pernikahan saat lamaran Satrio dulu. Hanya itu sisa kenangan yang dimiliki Asti. Sebab berbagai hadiah dan kado pernikahan dari para tamu itu ditinggal Asti di rumah Satrio.
" Bagaimana Pak?" tanya Bulek Ratih kepada suaminya.
Pria itu dulu yang membawa Dania untuk menjaga toko Asti.. Dua tahun berlalu. Gadis itu masih bekerja dengan baik. Saking baiknya, Asti sampai meminta Lek No memberikan motor tuanya untuk dipakai Dania sebagai alat transportasi sehari-hari. Sebab jarak rumah Dania ke pasar kecamatan cukup jauh, hampir 8 km.
" Kita panggil Dania, kalau Asti sudah lebih sehat. Kapan toko dibuka, Bu?"
" Ya, sudah. Besok biar Asti minta Dania datang ke rumahnya sekaligus setoran uang. Takutnya Dania akan melakukan kecurangan yang lebih fatal!"
" Maksud Bapak ?"
"'Selain mengambil baju di toko tanpa izin, laporan keuangan juga pasti direkayasa! Malah gadis itu dipercaya memegang kunci toko lagi. Takutnya dia diperdaya pacarnya itu untuk merampok semua isi toko dengan kunci itu!"
" Kok, Bapak sampai berpikir ke situ?" tanya wanita paruh baya itu semakin bingung.
__ADS_1
" Sejak ikut belajar paket C, Dania sering nongkrong di alun- alun dekat kecamatan. Dia dekat dengan salah satu anak muda yang nongkrong di warung kopi itu. Bapak sudah lihat Dania sudah berboncengan dengan laki - laki itu ke arah kota. Waktu Itu ada sebuah acara hajatan di sana yang acara hiburannya adalah dangdut dari kabupaten. Bu!"
" Tanya Joko, Pak ! Dia cukup kenal dengan anak - anak muda yang ada di sana!"
Selain agak sedih, Bulek Ratih pun gemas dengan sikap Dania yang tak tahu terima kasih. Dia sangat mengenal kehidupan keluarga Dania, karena ibunya masih bersaudara dengan keluarganya. Tetapi ini ibaratnya " ditolong malah mukul" alias mencurangi orang yang sudah menolongnya.
" Memang benar kata Joko ya, Bu! Kalau kita mau buat usaha jangan dipercayakan dengan saudara. Uang itu enak! Jadi kalau bukan kerabat dan dia berbuat salah, langsung ditegur juga nggak masalah."
Lek No pun memahami kalau Asti agak kepikiran tentang permasalahan ini. Berbagai bantuan yang dia diberikan untuk gadis itu dan keluarganya pun seperti tak di hargai oleh Dania
" Bu, nggak usah ngomong soal ini sama Mbak Sun dan suaminya. Mereka juga terlihat jujur dan bekerja keras di sawah kita. Ini memang watak Dania yang mudah terpengaruh oleh pergaulannya sekarang."
Bulek Ratih juga tidak tega kalau Orang tua Dania sampai tidak bekerja di sawah mereka. Sekarang susah mencari pekerjaan sebagai buruh tani. Berhektar-hektar sawah yang ada di daerah mereka pun dari tahun ke tahun mulai berkurang luasnya karena sudah dijual oleh pemiliknya. Kalau dekat dengan jalan raya akan menjadi berbagai bangunan komersial mulai dari pertokoan, kantor, sampai pabrik. Sedangkan yang berada di daerahnya pedalaman menjadi lokasi perumahan seperti yang dimiliki oleh Pak Leon itu.
Dua hari kemudian, Dania datang ke rumah Asti dengan laporan penjualan di tangan dan dompetnya yang berisi uang setoran.
Asti menerima kedatangan Dania di teras samping kanan rumah yang lebih pribadi. Sebab saat itu para anak buah Joko sedang mempersiapkan pembukaan warung untuk sore nanti. Mereka bekerja memotong berbagai sayuran dan membuat bumbu di halaman samping kiri rumah Asti.
" Ini laporannya, Dania?'
" Iya, Mbak! " Jawab Dania patuh.
__ADS_1
Dia mendapat uang setoran hampir dua juta rupiah dalam 4 hari Dania berjualan tanpa pengawasan darinya. Asti mencoba menguji kejujuran Dania kali ini. Sebab di lantai atas ada Ninuk dan kedua orangtuanya yang duduk di balkon. Letak balkon itu ada di lantai atas persis, di bawah teras tempat duduk Asti dan Ninuk yang sedang berbincang.