Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 15. Kepindahan Asti


__ADS_3

Tampaknya Bude Ayu masih belum menerima kalau Asti harus pindah ke tempat Satrio untuk memulai tugas barunya. Selama dua hari ini, Satrio rela berangkat dan pulang kerja ke rumah Bude Ayu, yang lama perjalanannya lebih dari 1 atau 2 jam setiap harinya.


Rumah dinas itu berada di sebuah pemukiman yang letaknya di pinggir kota. Di seberang jalan perumahan adalah jalan provinsi yang tak pernah sepi dilalui kendaraan seperti truk, bus dan mobil- mobil niaga setiap harinya.


Satrio sudah membayar orang untuk merapikan rumah dinas itu. Tadinya dia berniat membeli perabot rumah tangga yang sesuai dengan keinginan istrinya. Tetapi melihat keseharian Asti yang tinggal di rumah peninggalan kakek buyutnya, tentu seleranya akan berbeda.


Akhirnya Satrio membuka internet dan mencari berbagai desain dan perabot rumah tangga yang lebih modern, minimalis dan multi guna .


Untungnya Asti tidak banyak berkomentar saat memasuki rumah dinas yang mempunyai dua kamar tidur itu. Lebih banyak menampilkan sisi maskulin suaminya dengan perabot kayu ringan dengan warna hitam dan coklat tua.


Bude Ayu hanya betah tinggal di rumah itu selama dua hari. Karena daerah itu sangat ramai. Apalagi ada rel kereta api yang jaraknya hanya 1 km dari tempat itu. Walaupun sudah lama namun rel itu masih aktif digunakan oleh pihak PT KAI.


" Pusing Bude, setiap hari ramai terus. Nggak bisa tidur ...."


" Ya udah. Mau pulang kapan? Tapi jangan rindu sama kita ya, Bude. Rindu itu berat, biar aku saja! "


Goda Satrio dengan ucapan recehnya. Dia juga memandangi wajah Asti yang terlihat lucu. " Mau ketawa, ya ketawa aja. Asti. Jangan mesem- mesem begitu!"


Asti akhirnya tidak bisa menahan tawanya. Mana bude paham dengan dialog singkat yang diambil dari adegan di film remaja itu? Sehari- hari Bude nontonnya sinetron . Jari- jarinya dengan terampil mengubah tombol dari satu saluran tv ke saluran lain bila ada iklan yang cukup lama tayangnya.


" Kamu nginap ya, Asti. Nanti?" Tanya Bude Ayu sambil melipat dan memasukkan pakaian ke dalam tas bepergiannya.


" Tanya sama pak sopir, De . Aku boleh menginap di sana berapa hari, Pak ?"


Satrio segera menjulurkan jari telunjuknya. Bude malah ngedumel. Padahal wanita itu maunya Asti menginap lebih lama dirumahnya.


Dari hari ke hari Satrio semakin bucin dan posesif sama istrinya. Mungkin hanya terkena sindrom pengantin baru yang semakin lama akan semakin memudar kemesraannya itu oleh perjalanan waktu .


Sabtu Sore baru Satrio bisa mengantar setelah menyisihkan sebagian urusan pekerjaannya . Asti mempercayakan urusan tokonya pada adik Bulek Ratih yang tinggal di sebuah desa di belakang pasar.

__ADS_1


Selama Asti sibuk mengurus hari pernikahannya, Dania dapat dipercaya. Segala urusan toko dan keuangan dari gadis berusia 20 tahun itu, dia selalu bersifat jujur dan terbuka. Seminggu dua kali Asti datang ke toko itu diantar dan dijemput Satrio. Dia melarang Asti memakai motor matiknya karena jalan provinsi itu sangat ramai dengan lalu lintas dan rawan kecelakaan.


Rumah dinas ini kata Satrio hanya rumah sementara. Mungkin paling lama 2 tahun lagi suaminya itu akan ditempatkan di daerah lain, dan Asti harus siap mengikuti Satrio kemana pun .


Kalau soal cinta dan perasaan, Asti berusaha mencintai lelaki yang sudah menjadi suaminya karena ketentuan Allah. Bahkan lelaki itu mampu mematahkan kutukan yang disandang Asti selama ini.


Banyak hal baru yang datang dalam hidup Asti setelah menikah dengan Satrio. Dia harus tinggal di kota kecil yang sangat ramai, juga jauh dari desanya. Bertetangga dengan para istri yang suaminya seprofesi dengan Satrio. Mengikuti berbagai kegiatan dan organisasi khusus ibu- ibu di lingkungan kerja suaminya.


Asti terus belajar dan beradaptasi dengan kehidupan rumah tangga. Sebagian pekerjaan rumah tangga adalah makanan sehari- harinya mulai dari masak, merapikan rumah, setrika, cuci baju, juga piring. Karena jauh dari pasar , Sehari - hari para ibu di perumahan ini berbelanja kebutuhan dapur dengan menunggu tukang sayur keliling yang menjajakan barang dagangannya dengan menggunakan gerobak.


Ibu- ibu yang dulu pernah berkenalan dengan Asti mengira dia bukan orang Jawa karena wajah dan kulitnya sangat berbeda. Kulit Asti kuning langsat dengan hidung bangir warisan ibunya.


Mereka semakin heran setelah Asti dapat berbicara dengan bahasa Jawa kromo Inggil. Di desa mereka para anak masih menggunakan bahasa Jawa halus ketika berbicara dengan orang yang lebih tua baik di rumah dan di sekolah.


" Mau mandi apa mau makan dulu, mas?" Sambut Asti ketika suaminya pulang kerja. Suaminya tampak sangat lelah.


Segelas air dingin di letakkan Asti di meja, di depan Satrio. Pria itu sibuk melepaskan sepatu dan kaos kakinya. Jari- jari Satrio mulai melepas kancing baju seragamnya.


" Siapa yang mau mandi?" tanya Satrio sambil mencekal erat kedua pergelangan tangan Asti.


" Oh, mau makan . Ya, sudah aku siapkan, ya ?" Bujuk Asti sambil berusaha melepaskan pegangan tangan suaminya dengan susah payah.


" Sayang. iya aku mau makan. Tapi makan kamu!"


Asti terpekik, dia segera ditarik masuk ke dalam pelukan laki- laki itu dengan kuat. Asti merintih - rintih ketika jari- jari kokoh itu menjelajahi seluruh permukaan kulit tubuhnya yang dilapisi daster batik rumahan yang tipis.


" Mas, Mas Satrio. Aduh , lepasin! Mas bau asem, Nih."


Barulah pria itu melepaskan pelukannya, Asti tergolek lemas karena kehabisan oksigen. Satrio tertawa melihat keadaan istrinya yang berantakan. Kerudungnya sudah melorot dari kepalanya. Belum lagi daster batiknya terbuka kancingnya. Napas Asti masih terengah-engah karena ditindih tubuh kokoh dan besar Satrio.

__ADS_1


" Ih, kamu itu, ya. Mas, semakin konyol dan menyebalkan aja!" Ujar Asti sewot. Dia berusaha merapikan kerudung dan daster batiknya.


" Kok, mau aku nikahin?" Ledek Satrio sambil memeluk istrinya itu


gemas


" Daripada menunggu Mas Kusno yang nggak mau langsung melamar , mana belum disunat lagi!"


Satrio mengingat - ingat sosok pria itu yang pernah diceritakan oleh Lek No pernah menginap di rumahnya untuk mendekati Asti.


" Oh, lelaki bermata sipit yang menjaga toko emas di sebelah toko milikmu itu ?"


" Iya kenapa ? Dia cukup ganteng dan baik kok!"


" Awas, kalau ke pasar besok nggak boleh dekat dengan Kusno. Nggak boleh liat- liatan, ya! Kalo kamu macam- macam tak borgol lelaki itu!"


" Kamu ngancem ya lucu, ih..."


" Bebas lha. Punya Satrio gitu!"


" Siapa?"


" Ya, kamu. Kamu istri aku dong. Kamu itu nggak boleh lirik - lirik lelaki lain. Dosa!"


Segera Satrio memeluk istrinya dan mengantarnya ke dapur. Dia mandi dulu karena tadi ada tugas lapangan, jadi badannya gerah. Sementara Asti menyiapkan makanan untuknya.


Saat di kamar, Satrio masih berkutat dengan sisa pekerjaannya. sementara Asti membaca laporan keuangan toko. Sebenarnya di kota ini sudah ada mall walau tidak besar. Beberapa mini market besar.Juga alun- alun kota dengan taman yang luas dan dipenuhi pohon- pohon rindang. Namun dasarnya Asti orang rumahan, dia lebih suka tinggal di rumah setiap Satrio berangkat kerja.


Lagi- lagi Asti ketinggalan berita Ketika menengok tokonya siang itu. Di seberang pasar ada toko elektronik yang dibobol oleh perampok kemarin malam. Kejadian itu bersamaan dengan pembegalan motor di perbatasan desa di belakang pasar. Karena pemilik motor yang dihadang perampok itu masih muda dia melakukan perlawanan. Namun kalah saat dikeroyok dan dihajar oleh kawanan perampok itu.

__ADS_1


Pemuda yang bekerja menjadi penjaga gudang di sebuah pabrik makanan itu hampir sekarat. Dia siuman setelah mendapat pertolongan medis. Dari bibirnya disebutkan ciri- ciri tiga orang yang menghadangnya di tengah jalan malam itu. Salah satunya adalah Mas Timbul dengan ciri khas anting setengah lingkaran ditindik di hidungnya .


__ADS_2