Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 71. Wanita Cantik yang Mencari Asti


__ADS_3

Sehari- hari Asti berada di toko pakaian muslimah miliknya di pasar Kecamatan. Walaupun lebih sering pulang lebih dahulu ke rumah, dibandingkan dengan Dania. Namun ada perubahan sedikit pada diri Dania. Gadis muda itu sudah jarang datang ke Warung Tendanya Joko. Mungkin dia pernah melihat Mbak Almira ada di sana dan terlihat akrab saat ngobrol dengan sepupunya itu.


Asti tak mau banyak mengatur Dania. Sebab dia tahu, gadis itu agak terlalu kuat dengan pendiriannya, walaupun hal yang dilakukan sering salah.


Sekarang, asalkan gadis manis itu jujur, teliti dan ramah menghadapi pembeli baginya sudah cukup. Sebab Asti hanya akan memarahi Ninuk saja dan menasehatinya bila anak Lek No itu salah. Karena dia menganggap Ninuk adalah adiknya. Ya, Keluarganya juga.


" Mbak, ini ada dua gamis kiriman Bu Tutik yang kurang bagus jahitannya!" Lapor Dania.


Asti memperhatikan dua gamis berwarna gold dan peach itu, yang tadi dia berikan Dania. Segera dia menelpon Ibu Tutik di nomor biasanya, namun tidak dijawab.


"'Dipisahkan saja, Dania! Nanti kalau Ibu Tutik kirim barang yang lain, baru kita titipkan gamis ini!."


Sampai besok paginya, nomor Bu Tutik tetap tak bisa dihubungi. Iseng- iseng, Asti mampir ke ruko milik Bu Haji Anissa. Setelah pulang lebih cepat dari pasar. Ternyata, Bu Haji Anissa masih itu ada di rukonya itu. Sampai pembicaraan mereka jadi klop, soal mutu jahitan dari konveksi Ibu Tuti , yang semakin menurun saja kualitasnya.


" Nanti aku tanya adikku saja, Asti. Mengapa Bu Tutik susah dihubungi kalau ada telpon dari kita!" Pinta Ibu Haji Anissa.


Wanita itu akan kembali ke rumahnya sore itu. Tentu setelah ke kantor suaminya sebuah Biro Perjalanan Haji dan Umroh milik keluarga Usman Said. Kantor itu jaraknya tiga kilometer saja dari ruko ini.


Asti baru saja selesai sholat Asar ketika mendengar suara salam dari Mas Yanto. Benar saja, penjaga rumahnya itu membawa tamu, seorang wanita yang sangat cantik dan berdandan penuh gaya. Anehnya, dia menanggapi senyum ramah Asti dengan wajah yang sinis dan terlihat sangat meremehkan penampilannya hari itu.


" Ada apa, Mas Yanto?"


" Ini, Ibu Ini mau cari Mbak Asti, katanya!"


" Maaf, nama Ibu siapa, ya?Sebab saya belum pernah bertemu dengan Ibu."


" Saya Corinne Fasha, istri Pak Leon Narendra Murti !"


Justru Asti yang kaget. " Tetapi Pak Leon tidak tinggal di rumah ini!"


Wanita cantik itu menatap tak percaya pada wajah Asti yang masih muda dan cantik. Tetapi terlalu sederhana dan berhijab. Tentu ini bukan selera suaminya !


"'Saya Nastiti Anjani, pemilik rumah ini. Mari kita berbicara di dalam rumah saja, biar lebih nyaman!"


Hati Asti sudah merasa tidak enak. Sambil masuk ke dapur meminta Mbak Ning membuat minuman untuk tamu yang tak diundangnya itu!


" Mas Yanto, Mas!" Panggil Asti menuju ke pagar depan. Di depan pagar ada sebuah mobil Jeep terbaru dengan sebuah merek yang cukup terkenal karena bagus dan mahal harganya.


" Iya, Mbak ! " Sahut Mas Yanto sambil berlari menghampirinya. Setelah namanya dipanggil.

__ADS_1


" Tolong, minta Bu RT datang ke rumah ini, ya! Bilang Mbak Asti ada perlu!"


Ketika Asti masuk kembali ke dalam rumah, berbarengan dengan minuman yang telah disajikan Mbak Ning.


" Silakan, diminum. Bu!"


" Ini bukan rumah, Leon?"


Pertanyaan yang langsung pada tujuannya, itu cukup mengejutkan Asti. Apa seperti ini gaya orang yang lahir dan besar di Kota Jakarta? Tidak mengindahkan sopan- santun, juga bersikap meremehkan. Asti belajar banyak dari sikap dan watak yang dulu diperlihatkan Zahra! Wanita muda yang tak tahu malu itu.


" Ibu Corinne salah! Ini Bukan rumah Pak Leon, dan beliau tidak pernah tinggal di sini!"


" Tetapi kenal Leon, kan?"


"Saya kenal, beliau... Karena sebagian besar tanah yang akan dijadikan proyek perumahan itu, masih terkait dengan keluarga pemilik tanah ini juga!"


"Maksud, Mbak apa, ya?"


" Begini, Ibu Corinne. Tanah ini, warisan Bude Ayu, kakak almarhum Ayah saya. Kakek saya membeli tanah ini sebagai hadiah pernikahannya dengan Pak Rahman Sodiq. Keluarga beliaulah yang sebagian besar tinggal di desa sana!"


" Informasinya begitu, kok! Leon sering ke mampir ke rumah janda yang memakai hijab. Nggak tahunya , rumah ini ada di depan proyek yang sedang digarap Leon rupanya."


" Sekarang kalau ada yang bilang janda dan memakai hijab, iya betul. Itu Saya. Asti! Tetapi saya tidak pernah jalan berdua dengan Pak Leon! Apalagi menerima beliau menginap di sini. Itu fitnah namanya, Bu!"


" Tetapi benarkan, Leon menginap di rumah ini?" Tanya Wanita itu seperti sebuah tuduhan.


" Bu, saya sedang memanggil Ibu RT yang tahu banyak tentang keberadaan Pak Leon. Jadi, lain kali ibu berhati - hati bila mendapat sebuah informasi, dicek dulu kebenarannya!"


Dari arah pintu depan terdengar suara, yang menandakan kehadiran Ibu Ani, istri Pak RT Sembodo. " Assalamu'alaikum, Asti!"


" Walaikum Salam, Bu RT. Mari masuk saja!"


" Ada apa, Asti? Sampai Yanto agak serius memanggil saya, dan memaksa untuk datang ke rumahmu!"


" Ini , Bu RT, istrinya Pak Leon Narendra Murti! Dia banyak mendapat informasi yang salah tentang saya dan Pak Leon! "


Bu Ani tertawa geli. " Ibu yang namanya Bu Corinne?"


" Iya, saya Corinne Fasha!"

__ADS_1


"Bukannya Ibu dan Pak Leon sudah bercerai tiga bulan lalu? Pak Leon dan dua asistennya juga tinggal di rumah saya, sejak dua bulan ini.


Ibu Corinne salah kalau mengira Mbak Asti ada hubungan dengan Pak Leon! Biar kami tinggal kampung, kita sangat menjaga ajaran agama, kesusilaan dan sopan santun saat bertamu ke rumah orang dengan baik!"


Wanita cantik itu terkejut dengan serangan balik dari Bu RT. Pantas sejak siang tadi di depan rumah Mbak Asti ribut-ribut. Ternyata wanita ini mencari Asti! Sedangkan Mas Yanto tetap tak mau membukakan pintu pagar rumah, saat wanita itu meminta masuk. Karena tidak mengenal tamu itu.


" Mari ke rumah saya, saja! Pak Leon biasanya kembali dari proyek sebelum Maghrib. Nanti dia akan makan malam di warung tenda dekat ruko depan! Rumah, ruko dan warung itu semua milik Mbak Asti! Mbak Asti mendapat warisan ini dari Budenya , mantan istrinya Pak Rahman Sodiq!"


Ibu Corinne enggan berdiri dari bangku. Sekarang malah dia langsung keluar rumah Asti tanpa mengucapkan sepatah kata pun! Tidak ada permintaan maaf, apalagi terima kasih, karena sudah dijamu Asti dengan baik!


" Mbak , Magrib nanti aku ke sini lagi, ya?"


" Siap , Bu RT! Mau dibuatin tahu isi lagi?"


" Boleh, tuh! Yang banyak cabe rawitnya. Pasti tambah asyik ngobrolnya."


Mas Yanto hanya mengelus dada, sebab perempuan cantik itu juga membalikkan arah mobilnya secara sembarangan, sehingga menimbulkan bunyi raungan. Untung Akbar masih tidur lelap. Kalau sampai menangis dan terbangun anaknya karena suara keras mobil itu, bisa juga dibawain Asti gagang sapu untuk mengetok kepala perempuan itu. Biar sadar diri!


Benar saja, sehabis magrib, Bu RT datang ke rumah Asti, juga membawa pasukannya. Para Ibu tetangga dekat, di samping dan depan rumah Asti. Mereka ngobrol ramai tentang kedatangan wanita yang bernama Corinne itu.


" Sejak pagi, wanita itu tanya- tanya tentang perempuan yang berhijab, Mbak Asti!" Kata Ibu Malik, yang memakai hijab bunga merah.


Rumah ibu itu terletak paling depan dari jalan ini. " Iya saya sebut saja nama Mbak Asti saja! Sebab Mbak Asti kan yang paling benar memakai hijabnya. Bukan kayak kita- kita ini yang masih preman."


Ibu- ibu lain tertawa geli. " Tetapi, apa dia masih nggak rela diceraikan Pak Leon? Kata Mas Damar , salah satu asistennya. Wanita itu diceraikan Pak Leon , karena berselingkuh dengan seorang pejabat dari satu daerah."


" Masa sih, Bu? Pak Leon seganteng dan sebaik itu , istrinya malah selingkuh?" tanya Ibu yang lain.


Waduh tambah panas dan ramai saja cerita itu. Apalagi, Mbak Ning keluar sambil membawa satu wadah mangkok plastik besar berisi tahu isi dan sepiring kecil lombok rawit. Ditambah satu teko teh manis hangat.


" Apakah tadi Ibu Corinne ketemu dengan Pak Leon?" tanya Asti.


" Ketemu, Mbak! Cuma Pak Leon sudah kebal mendengar tangis dan drama perempuan itu. Jadi perempuan itu disuruh kembali ke Jakarta. Hanya yang membuat Pak Leon kesal, saat nama Mbak Asti dilibatkan!"


Asti tersenyum miris. " Saya juga bingung... Dapat informasi dari mana Ibu Corinne itu? Kalau rumah dan ruko saya adalah pemberian Pak Leon. Cuma Bu RT yang tahu kan? Pak Leon sejak pertama kali datang, ya tinggal di rumah ibu kan?"


" Iya, mana perempuan itu ribut sama Mas Yanto terus minta dibukain pintu pagar. Akhirnya sama Mas Yanto dikunci gemboknya. Lelaki itu agak takut juga ketemu Ibu Corinne walaupun cantik dan berpenampilan modern tetapi tingkah lakunya bar- bar! " Seru Bu Malik lagi.


Mereka masih tertawa terbahak - bahak. Apalagi banyak ibu - ibu tetangga yang melihat Ibu Corinne pergi, diusir Pak Leon. Sampai digeret masuk ke dalam mobilnya. Wanita itu seperti kalah telak!

__ADS_1


__ADS_2