Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 47. Renungan Asti


__ADS_3

Sejak peristiwa di SPBU hampir empat hari yang lalu, Asti masih terus merenung. Terkadang dia tak percaya kalau dia harus mengalami hal ini pada rumah tangganya yang baru seumur jagung. Perselingkuhan!


Pernah saat pertama kali Ninuk memberi informasi tentang kedekatan Satrio dengan salah satu perawat di rumah sakit itu. Asti mencoba berbicara baik - baik kepada suaminya itu. Lelaki yang berjanji akan mencintai, menghormati dan menjadi imam dalam biduk rumah tangga yang mereka jalani.


"Mas , aku dapat laporan, nih. Kalau Mas suka nganter cewek muda dan cantik, lho!"


" Siapa yang bilang? Kamu itu suka denger gosip ibu - ibu kompleks di sini yang nggak jelas! " Jawab Satrio masih santai.


"Tapi kamu nggak seperti itu kan? Tebar pesona sama cewek - cewek yang masih muda."


"Asti, kenapa sih kamu itu nggak percaya suami sendiri? Kalau kita berteman sama perempuan di kantor itu hal biasa. Makanya gaul, Asti! Ini bukan kayak di kampungmu yang serba kolot dan terlalu fanatik!"


Tentu saja Asti kaget dengan suara Satrio yang semakin meninggi. Untung Akbar sudah terlelap. Suaminya itu langsung keluar kamar. Bahkan tidak menegur Asti sampai beberapa hari kemudian.


Bahkan Asti harus mendengar sendiri perkataan Satrio saat ngobrol di warung nasi di belakang kantor itu. Pada saat Asti baru selesai mengikuti kegiatan keorganisasian di kantor Satrio. Setelah dia absen tiga atau empat kali.


Seperti biasa, banyak agenda kegiatan dari istri anggota polisi itu yang akan dijalankan. Mereka bubar rapat tepat ketika azan Dzuhur berkumandang di depan masjid terbesar di kota ini yang letaknya ada di seberang jalan raya. Tepat di depan kantor.


Asti sengaja membawakan Satrio makan siang untuknya dan membungkus 4 potong puding kelapa kesukaannya. Tadi pagi Asti hanya sempat menyiapkan nasi goreng dan sepotong ayam goreng untuk sarapan suaminya.


Para ibu- ibu itu mulai meninggalkan lapangan parkir kantor yang cukup luas . Tadi Asti sempat bertanya pada OB tentang keberadaan Satrio.


Ternyata suaminya masih duduk-duduk di dalam warung itu. Sementara teman- temannya yang lain sudah menyeberang jalan raya di depan kantor itu menuju masjid untuk sholat berjamaah.


Sungguh Asti dikejutkan dengan ucapan Satrio dan rekannya itu, dari dalam warung. Memang mereka hanya ngobrol iseng, bergurau atau bercanda. Tetapi mengapa Satrio tega mengumbar kekurangan dari fisik istrinya sendiri sampai hal- hal yang sangat tabu untuk dibicarakan di depan umum.


" Jangan gitu, Bro. Lo mentang- mentang dapet cewek baru yang lebih muda dan bohay. Kasihan, padahal istrimu baru aja melahirkan!"

__ADS_1


" Selingan doang, Jek! Bosan juga setiap hari disediain ikan asin melulu. Sesekali coba ayam muda , dagingnya masih empuk. Mantap!"


" Dasar Satrio, edan! Edan Kowe, ya. Cah gendeng!"


Mereka berdua ditambah si bapak penjaga warung tertawa terbahak- bahak. Suara tawa mereka sampai terdengar keluar warung.


Mendengar hal itu dada Asti terasa teriris sembilan. Pedih. Dia pernah mendengar kasus tentang ikan asing itu, yang menimpa seorang artis karena celaan dari mantan suaminya itu. Sampai kasus itu viral , si mantan dilaporkan ke polisi, maju ke pengadilan dan berakhir di balik jeruji penjara.


Segera Asti berbalik dari warung nasi itu lewat pintu pagar samping gedung tempat Satrio bekerja. Cepat dinyalakan motor beatnya yang masih diparkir di sudut halaman.


Rasanya Asti mau menjerit, menangis atau marah saat itu juga! Namun tidak berdaya... Di Lapangan parkir masih dipenuhi para ibu- ibu yang masih satu organisasi dengannya. Apalagi di sana ada Ibu Suparlan yang sibuk menawarkan para tetangganya itu untuk ikut pulang dengan menumpang mobilnya.


Di sebuah jalan, Asti melihat seorang bapak tua sedang mendorong gerobak berisi kayu kayu bekas. " Pak sudah makan siang?"


"'Belum, Nak," jawab bapak tua itu pelan sambil memberhentikan gerobaknya. Untuk menjawab sapaan Asti.


"Ini ada rejeki untuk bapak. Untuk makan siang !"


Kantong kresek berisi dua kotak plastik makanan itu segera berpindah tangan. Tadi Asti juga sempat menyelipkan selembar uang dua puluh ribuan di dalam kantong kresek itu.


" Terima kasih banyak, ya. Nak! Semoga Allah senantiasa melindungi mu dari berbagai kesulitan hidup, banyak rejeki, diberi banyak berkah dan barokahnya."


" Amin ... Mari, Pak!"


Sejenak, kemarahan dan sakit hatinya itu terobati dengan doa tulus dari pak tua tadi. Saat kembali menjalankan motornya untuk pulang ke rumah, Asti terus beristigfar dan bersholawat. Hilang segala rasa hormat Asti pada Satrio, secara perlahan- lahan.


Sejak itulah, Asti tak pernah menuntut hal apa pun pada Satrio! Dia mulai menjaga kesehatan tubuh dan mentalnya, agar tetap bisa merawat Akbar.

__ADS_1


Satrio pun sudah jarang mengajaknya ngobrol dan bercengkrama seperti biasa. Malah dia sudah tak pernah mengendong Akbar lagi, karena lebih sibuk dengan telpon dan laptopnya. Apakah itu berupa pekerjaan dari kantor atau berkomunikasi dengan si gadis muda yang telah menawan hati Satrio.


Hari- hari terus berlalu, dari minggu menjadi bulan. Asti semakin fokus terhadap penyelesaian rumah barunya. Walaupun mungkin Satrio tidak mau mengakui hubungannya dengan wanita yang berprofesi sebagai perawat itu. Tetap Asti ingin segera keluar dari rumah dinas itu. Sudah tidak betah rasanya.


Mungkin nanti akan ada gadis- gadis muda lain yang akan masuk ke dalam rumah tangga mereka. Sebab selama ini Satrio hanya mencari kesempurnaan dari seorang wanita. Bukan menjaga komitmen mereka sebagai pasangan dalam berumah tangga!


Dua hari setelah Ninuk kembali ke sekolahnya, karena dipanggil oleh wali kelasnya. Barulah Satrio pulang. Lelaki itu tampak sangat berbeda. Dia memangkas rambutnya dengan gaya yang lain. Juga memakai parfum dengan aroma yang berbeda. Pandai juga si gadis belia itu menggurus suami orang!


Lihatlah, Asti benci sekali melihat wajah datar Satrio yang seolah- olah tak bersalah itu. Pergi berkencan dengan wanita lain. Tanpa mempedulikan istri dan anaknya lagi!


"Kamu nggak masak, Dek?" tanya Satrio sore itu. Setelah dia pulang, mandi lalu berganti pakaian rumah.


" Mas nggak ngasih tahu kalau pulang malam ini. Nggak sempat masak. Akbar rewel sejak kemarin siang..."


Ya, Allah. Satrio tidak bergeming sedikitpun ketika diberitahu tentang keadaan anaknya. Dia malah keluar dari kamar dengan agak marah.


Tak lama, terdengar suara - suara ribut di dapur. Dia masak mie instan mungkin. Sebab persediaan makanan dan sayuran di kulkas mulai menipis. Kalau hanya sawi atau kol masih ada. Juga stok mie instan dan telur.


Sejak Satrio pergi tanpa kabar, Asti makan seadanya. Biasanya dulu dia berbelanja ke pasar untuk membeli lauk- pauk untuk makan Satrio. Misalnya dua ekor ayam yang sudah dipotong- potong 8 atau 12 per- satu ekornya oleh si penjualnya. Nanti di rumah, Asti akan membuat bumbu ungkep memasak daging ayam itu dan menyimpannya di Freezer. Hanya pada bagian ceker, kepala dan leher saja yang sering Asti pisahkan untuk menambah kaldu pada sayur sop atau soto.


Tak ada simpanan rendang daging , atau lauk-pauk berprotein lainya. Sehari- sehari Asti hanya masak sayur dengan membeli dari tukang sayur yang lewat. Menggunakan lauk tempe dan tahu yang dia olah dengan berbagai variasi masakan. Alhamdulillah saja, tubuhnya sehat, Air ASI-nya lancar!


Pintu kamar sengaja Asti kunci dari dalam. Akbar baru saja tertidur. Adanya Satrio tentu akan mengganggu anaknya itu. Kemarin Mbok Bayah masih membawa baju Satrio yang diambilnya dari laundry.


Menjelang dini hari Asti terbangun. Dia semakin rajin sholat malam. Segalanya telah dia serahkan kepada Allah SWT. Termasuk memohon diperlihatkannya secara nyata bukti hubungan Satrio dengan pacarnya itu.


Ketika Asti keluar dari kamar mandi. Dari kamar sebelah terdengar ada suara orang berbicara di telepon. Namun Asti sudah tak peduli lagi, dengan polah tingkah lelaki itu!

__ADS_1


Mereka terus saling diam. Tak ada seorang pun berniat untuk mengambil insiatif untuk memulai berbicara. Bahkan Asti tak lagi menyediakan sarapan ketika Satrio berangkat kerja. Tak ada amplop uang belanja, ya tak ada makanan buat suaminya makan dan sarapan. Dia sudah membeli cinta dari perempuan itu mudahan-mudahan kenyang!


__ADS_2