
Suara Akbar yang berteriak senang saat digendong Pak Leon terdengar di telinga Asti. Apalagi dua asistennya juga ikut muncul. Bu Jum dan Bulek Ratih berkali-kali saling memandang untuk menyatakan keheranan mereka kalau Pak Leon itu yang benar - benar di hadapan mereka, bukan khayalan belaka.
" Mbak Asti! Akbar sepertinya sudah kedinginan ini!"
Suara berat pria itu yang menyadarkan semua wanita itu untuk kembali ke alam nyata. Termasuk Asti yang bertanya dalam hati, siapa orang yang memberitahu tentang plesiran mereka ini. Pasti Ninuk yang dari tadi mesan- mesem tidak jelas!
Wajah Akbar masih tersenyum senang. Walaupun tak mau diangkat menjauhi pantai. Sampai Bu Jum sudah menyiapkan handuk dan perlengkapan mandinya.
Akbar ternyata senang dengan kehadiran Pak Leon itu. Apalagi pria itu membayar sewa dua pondok untuk mereka beristirahat. Akbar tak suka dimandikan oleh Bu Jum dan digantikan semua bajunya dengan pakaian yang lebih rapi dan hangat.
Pria itu malah sudah memesan andong atau delman untuk membawa mereka berkeliling di pantai Parangtritis ini. Asti menolak ikut karena ingin bersantai. Tadi Ninuk sudah membelikannya es teh manis dalam kemasan sampai dua buah.
" Ibu!" Panggil Akbar lamat- lamat. Sampai anak itu naik ke perutnya. Asti terbangun dari tidurnya yang sebentar. Panasnya udara pantai, bunyi ombak yang memecah pasir dan tiupan udara siang yang kuat cukup melenakannya. Apalagi bila berteduh di pondok nyaman seperti ini.
Wajah Akbar tampak lelah dan mengantuk. Bu Jum sudah mengelap wajah bayi tampan itu dengan tisu basah khusus bayi. Tak lama mata Akbar terpejam di pelukan Asti sementara yang lain mulai menikmati berbagai makanan yang dijajakan di warung di area dekat pantai.
" Biar Mbak Asti nanti sama Akbar dan Bu Jum di mobil saya. Dimas kamu bawa mobil Mbak Asti, ya! Ninuk sama Ibu Ratih di sana jadi duduknya lebih nyaman tidak berdesakkan."
Asti terdiam, dia tidak tersinggung dengan ucapan pria ini untuk memberi solusi terbaik. Padahal sejak mereka berangkat siang kemarin. Mereka tetap nyaman saja berdesakan di mobilnya yang dibilang lelaki itu sempit.
" Pak Leon, nanti mampir ke candi Prambanan sebentar, ya. Ninuk belum pernah ke sana!" Pinta Ninuk.
" Nuk, jangan suka memanfaatkan kebaikan orang! Nggak baik itu!"
" Sorry, Mbak! Pak Leon yang menelepon saya. Ketika kita ke Alun- alun Kidul Keraton Yogyakarta. Mbak! "
__ADS_1
" Iya, Asti. Joko sama Lek No tanya kok cuma berdua saja ke tempat itu! Ya, aku bilang anak ini aja yang nggak bisa diam. Sedangkan yang lain istirahat di penginapan."
Wajah Ninuk mulai merasa bersalah, sebab Asti kurang nyaman dengan kehadiran Pak Leon . Walaupun pria itu beralasan kalau mereka ada pertemuan pagi tadi dengan salah seorang klien penting di sebuah hotel di kota ini .
Pak Leon duduk di depan, dengan seorang asistennya yang membawa mobil Pajero ini. Di belakang Honda Jazz Asti dibawa oleh Dimas dengan Ninuk di sebelahnya dan Bulek Ratih yang tertidur lelap, karena kelelahan.
Sesekali Akbar terbangun. Tadi Asti menidurkannya di bangku tengah. Setelah meminta izin mengunakan beberapa bantalan kursi yang tampak mahal dan serasi dengan warna kulit Jok dan interiornya.
" Om! " Panggil Akbar yang mulai agak jelas bicaranya. Pak Leon kaget mendengar suara lembut Akbar. Akbar minta berdiri di belakang bangku Pak Leon.
Bu Jum mulai mengawasi karena dari berangkat tadi, Asti yang menjaga anaknya itu. Sementara dia dia dibiarkan tertidur oleh majikan itu agar cukup istirahat. Tugas menjaga Akbar sekarang menjadi lebih berat karena bayi yang telah berusia 14 bulan itu sudah mulai jejak berjalan dan tak bisa diam.
Mereka telah sampai di area parkir halaman Candi Prambanan. Kompleks Candi itu juga sangat luas, karena terdiri dari beberapa bangunan candi lainnya.
Pak Leon pun tidak ikut masuk. Sebab Akbar sudah mulai minta digendong lagi . Kedua asisten Pak Leon yang akan mendampingi mereka ke kompleks candi tersebut yang harus berjalan agak jauh lagi.
Asti tertarik dengan berbagai warung yang menjajakan makanan di sana. Mereka memilih makanan berkuah seperti bakso. Akbar segera minum susu yang sudah dibuatkan buat Asti. Dari termos air panas dan sedikit campuran air mineral agar segera dapat diminum Akbar.
Pak Leon juga membeli sate ayam dengan lontong yang banyak dijajakan pedagang di sana, dengan mengunakan gerobak kecil atau meja kecil.
Pria itu membawa Akbar keliling area parkir yang sangat ramai. Di tangan anak bayi itu sudah ada mainan dan balon berbentuk pesawat terbang yang banyak dijajakan pedagang di dekat pagar.
Mereka duduk - duduk di taman sambil menikmati makanan yang cukup banyak diberi oleh Asti tadi. Akhirnya, Asti mengeluarkan stroller. Karena Akbar sudah tidak mau turun lagi dari gendongan pria itu. Untungnya Akbar mau, jadilah bayi itu bisa duduk lebih nyaman.
" Bobok aja, Dek! Tante Ninuk sama Mbah Ratih masih lama di dalam."
__ADS_1
" Lama?" tanya Akbar membeo. Anak itu sudah dapat mengikuti perkataan dari orang - orang dengan mengambil kata paling belakang.
Pak Leon Juga sudah masuk ke Pajero untuk mengambil dua botol air mineral. Di bawah rimbunnya pepohonan dan tiupan angin sejuk. Mereka beristirahat sampai Akbar akhirnya tertidur.
Hampir dua jam lebih Pak Leon dan Asti menunggu. Sebelum rombongan itu kembali ke tempat parkir.
Wajah lelah Ninuk, Bu Jum dan Bulek terlihat saat mereka muncul dari pintu keluar area candi. Asti mengeluarkan kantong kresek yang berisi berbagai macam makanan untuk mereka. Pak Leon juga ikut membantu membawa lima botol air mineral dingin yang dapat belinya dari sebuah warung tadi.
" Akbar sudah tidur Asti?" tanya Bulek Ratih. Karena melihat stroller dibuka penutupnya. Sehingga sosok Akbar tidak terlihat lagi.
" Sudah tidur agak lama, Bulek. Ada satu jam lebih!"
Mereka makan dari beberapa makanan yang ada di plastik mika dan bungkusan kertas nasi berupa lontong dan sate ayam. Sendok plastik selalu tersedia di tas perlengkapan Akbar. Ninuk malah kembali masuk ke dalam pagar tempat orang banyak berjualan di sana. Gadis itu membawa dua plastik mika berisi rujak.
" Ini makanan penutupnya!" katanya berbangga diri.
" Kebanyakan gaya kamu, Nuk! Kalau lahir di desa tetap aja disebut orang desa. Pake ngomong makanan penutup!" Ujar Asti sewot.
Bulek Ratih juga geli. Dia dulu pernah disuruh mencoba oleh Asti berbagai makanan ala orang barat, yang sudah dibeli buat oleh Ibu Anggita. Tetapi tidak doyan karena banyak menggunakan campuran susu atau keju juga telur yang menurutnya terlalu amis dan membuat mual di perut desanya, itu!
Mereka kembali ke mobil masing-masing setelah Akbar terbangun karena tawa ceria Ninuk. Bulek Ratih sempat bercerita kalau Mbah Buyut Asti berasal dari daerah ini, kemudian dibawa merantau oleh keluarga ke daerah Surakarta.
Keluarga dari Mbah Buyut putri adalah pedagang. Makanya mereka satu keluarga sekali berpindah - pindah karena situasinya saat itu masih kurang aman.
Pak Dimas kembali membawa mobil Honda Jazz milik Asti. Sedangkan asisten yang membawa mobil Pajero sport milik Pak Leon ini bernama Pak Cakra. Mereka adalah pria muda yang menjadi asisten Pak Leon selama penyelesaian persiapan pembangunan perumahan tahap I, yang dimulai awal tahun baru bulan depan.
__ADS_1