
" Mas dan Mbak sehat- sehat saja kan?" sambut Yusuf sangat terharu.
Dia memeluk tubuh Lek No yang lebih kokoh dan berisi. Sebab hampir setiap hari, Lek No bekerja di sawah. Dia mengolah puluhan hektar sawah untuk ditanami padi. Juga kebun kelapa yang sangat luas, bagian dari warisan leluhur Winangun. Walaupun kini dibantu oleh dua orang pria dari saudara istrinya. Tetap saja pria itu masih rajin mengayunkan paculnya!
Pria ini dan istrinya yang berbesar hati mau mengasuh dan merawat keponakannya dari sejak bayi itu berusia 2 bulan, sampai tumbuh dewasa seperti ini. Juga sudah berumah tangga, sampai dua kali menikah. Asti juga sudah mempunyai dua anak yang masih balita. Tetapi mereka semua sehat dan lucu.
Padahal pada saat itu, pasangan Pak Sarno dan Bu Ratih juga baru menikah beberapa bulan yang lalu. Mereka tinggal di sebuah rumah di samping rumah Joglo. Rumah khusus yang didirikan oleh Pak Winangun untuk keponakan itu.
" Mari kita makan dulu! Akbar sudah capek dan kelelahan juga itu! " ujar Pakde Muin bijaksana. Karena kalau mereka membicarakan soal masa lalu, semalaman pun diceritakan juga tak akan pernah cukup. Setelah tahun- tahun berganti membawa kesedihan itu. Kenangan itu akan terus menorehkan kehilangan yang amat bagi Asti. Terutama dengan ketidakhadiran sang ibunya, di dalam hidupnya. Belum lagi Yusuf dan Ardi yang juga mengalami permasalahan hidup yang bertubi-tubi. Sebab kedua Juwono bersaudara itu selalu menekan mereka.
Seharian tadi Akbar sangat bersemangat berjalan di sepanjang ruang di meseum Angkut. Sebuah tempat yang benar- benar tertata bagus dan modern. Bukan seperti mesum pada umumnya. Karena ada peraturan dan banyaknya larangan untuk para pengunjung. Selain harus izin untuk berfoto di sana. Kebanyakan benda - benda di meseum tidak boleh disentuh oleh para pengunjung.Takut merusak koleksi benda yang langka karena umurnya yang sudah lama. Juga barang tersebut merupakan peninggalan masa lalu yang sangat berharga.
Justru di meseum Angkut kita dapat memegang dan juga naik ke dalam mobil-mobil tersebut. Di sana juga bebas berfoto - foto. Apalagi pada bagian museum yang ada jalan rayanya, dengan pemandangan teras rumah atau halaman depan berbagai negara yang cantik... Mereka dapat menikmati pertunjukan ala- ala panggung Broadway di tengah jalan yang menjadi pertunjukan yang paling ditunggu oleh para pengunjung di sana.
Selain memamerkan berbagai mobil - mobil antik yang masih bisa berjalan dan terawat dengan baik. Para pemain dan penarinya pun juga mengenakan kostum pertunjukan yang menarik yang disesuai pada zamannya.
Pertempuran itu bergaya mafia, di Amerika sana. Akbar sampai berteriak senang! Ketika terjadi adegan tembak-menembak. Pakde Muin yang selalu mendampinginya karena bocah lucu itu bertanya banyak hal. Apalagi dia tahu kalau sang kakek mempunyai senjata api sungguhan. Maklumlah pensiunan seorang polisi!
Mereka sekarang sudah kembali ke penginapan dan menikmati makan malam dengan menu pesanan yang berbeda. Selain ada sate ayam dan ayam bakar untuk anak-anak yang bumbunya tidak terlalu pedas. Juga ada rawon sapi yang fenomenal dan berbagai makanan penutup seperti bakwan Malang, jajanan khas kota itu yang sudah dikenal secara luas.
Karena ada tambahan anggota keluarga lagi yang menginap, Pakde Muin memesan satu kamar lagi di lantai dua. Om Ardi tidak keberatan tidur satu kamar dengan Pak Jan supir kakaknya, karena di kamarnya tersedia double bed.
__ADS_1
Qani sekarang dijaga oleh Bu Jum. Sedang Akbar dan Hafiz segera bermain bersama dijaga Mbak Putri. Kedua balita menjadi akrab setelah berkenalan. Usia mereka hampir pun sebaya, hanya berbeda setahun. Pak supir juga bertambah berjumlahnya menjadi tiga orang... Mereka juga mencari tempat duduk yang nyaman untuk beristirahat dan merokok.
Sementara Asti , Leon dan Bulek Ratih, Lek No dan pasangan Pakde Muin dan istrinya duduk mengelilingi Ardi dan Yusuf. Banyak cerita yang akan disampaikan mereka kepada keluarga Asti. Apalagi Juwono bersaudara itu melarang Pak Yusuf melakukan kontak dengan keluarga Winangun di desa Sendang Mulyo. Seakan - akan tidak kembalinya Emilia ke desa itu adalah kesalahan keluarganya yang ada di Kota Banjarmasin. Juga kesalahan Yusuf juga, karena sangat terlambat mendapatkan berita tentang tidak kembalinya Emilia ke Jawa
" Ayo bercerita lah, Mas Yusuf! " Pinta Pakde Muin.
Pria mantan anggota polisi itu yang dulu dimintai tolong oleh almarhumah Bude Ayu untuk mencari jejak kakak Emilia yang bermukim di Surabaya.
Ternyata semua usaha mereka itu dulunya, selalu dihalang-halangi oleh Juwono bersaudara dengan kepentingannya pribadinya yang tersembunyi.
" Saya yang menyuruh Emilia kembali ke Jawa! Setelah lima hari di sana. Emilia dan saya bergantian menjaga adik- adik yang dirawat di rumah sakit! Keadaan di sana benar - benar sangat kacau. Ayah dan Ibu Syarifah dianiaya anak buah Pak Alek...Sebab mereka salah paham mendengar laporan dari para pedagang yang berjualan secara tak resmi. Padahal mereka memberi setoran terbanyak untuk para penjaga keamanan itu."
" Setelah 5 hari menggurus adik-adik yang dirawat di rumah sakit, juga menggurus rumah yang terbakar itu. Pak Kushari sudah membelikan tiket pesawat untuk mereka kembali ke Surabaya dengan penerbangan besok sore. Malamnya Emilia sudah bersiap - siap pergi karena sudah merapikan tas yang berisi semua pakaian dan beberapa dokumen.. Saya malah harus kembali ke rumah sakit! Karena keadaan Jamal menjadi sangat kritis malam itu!"
Mata lelaki itu menerawang agak jauh dengan pandangan yang sangat sedih. " Saya pikir Emilia sudah pergi bersama Pak Kushari besoknya. Anehnya Emilia tak pamit kepada saya... Begitu juga dengan Tante Hera, sangat terkejut dengan sikap Emilia itu!"
" Sampai ada saudara yang ditugaskan Ayah menjaga gudang. Seperti melihat Emilia pergi malam itu dengan Pak Manaf dan beberapa orangnya di pelabuhan ... Mereka naik speedboat. Dua hari, Aris menunggu kembalinya mereka di pelabuhan itu ... Tetapi mereka tidak kembali. Orang-orang di sana pun tak banyak memberi informasi yang berarti... Tetapi Aris justru melihat Pak Manaf sudah ada di kampungnya seminggu kemudian."
" Siapa Pak Manaf?" tanya Pakde Muin waspada.
" Pria itu yang dulu pernah menjadi kekasih Ibu Syarifah, ibu sambung saya! Lelaki itu menikah dengan wanita yang dijodohkan keluarganya... Ayah yang menolong Ibu Syarifah yang dianiayai oleh keluarga Mila Sanah, karena dianggap menjadi pengacau dalam pesta pernikahan mereka. Pak Manaf dan Bu Mila menikah karena adanya perjodohan dengan hubungan kekerabatan di antara keluarga mereka itu!"
__ADS_1
" Hampir dua tahun berlalu, pihak keluarga hanya mengabarkan kalau Tante Hera telah menemukan tas pakaian Emilia yang disembunyikan seseorang di sebuah surau yang hancur dan sudah lama terbengkalai . Kami sudah tidak tahu kemana lagi untuk mendapatkan berita keberadaan Emilia... Sampai Tante Hera juga mencari informasi dengan meminta bantuan seseorang.."
" Tante Hera itu siapa?" tanya Pakde Muin lagi.
" Dia sepupu ayah yang menikah dengan orang kota... Suaminya punya jabatan penting di pemda. Jadilah dialah yang paling dihormati di keluarga kami... Rumah besarnya berada tidak jauh dari perkampungan pedagang yang ada di seberangnya..."
" Orang yang mencari informasi itu memberitahukan kepada Tante Hera, kalau Pak Manaf melakukannya itu disuruh oleh orang Jawa itu, alias Pak Kushari... Ternyata Emilia tidak jadi pulang. Sebab dia mendapat kabar kalau ayah dan ibunya ada di sebuah rumah di kampung nelayan... Tetapi anak buah Pak Manaf menangkapnya dan membawa Emilia pergi dari situ ... Sepertinya ada kepentingan lain dibalik peristiwa kebakaran itu. Selain Pak Manaf, ada beberapa orang yang tidak suka dengan usaha ayah yang semakin besar dan cukup sukses dengan toko sembakonya itu ... Takutnya Emilia diculik dan dibunuh Pak Manaf... Lelaki itu merupakan penjahat besar ... Sudah dua kali dia dilaporkan oleh orang karena masalah hutang. Juga sering keluar masuk penjara. Keluarga besar istrinya selalu membebaskannya dengan jaminan uang yang banyak... Mereka juga malu kepada ayah dan Ibu Syarifah, karena lelaki itu hanyalah menantu yang selalu saja mencoreng nama baik keluarga istrinya yang cukup tersohor di daerah kami sebagai keturunan ulama besar!"
" Sekarang bagaimana dengan Pak Manaf?"
" Pak Manaf terlibat dalam sebuah transaksi barang ilegal di suatu tempat...Dia ditangkap dan dipenjara. Bahkan dia mengalami luka parah saat terlibat perkelahian dengan sesama tahanan di dalam penjara. Entah bagaimana dengan nasibnya itu?"
"Apa ada pihak dari keluarga di sana yang berusaha mencari keterangan dari Pak Manaf itu?"
" Ayah pernah datang ke penjara dan menanyakan tentang keberadaan Emilia! Pak Manaf adalah orang yang sangat kejam dan tidak punya hati nurani! Dia tertawa senang dengan keadaan ayah yang tidak sesehat dulu lagi. Kaki ayah juga lumpuh separuh akibat penganiayaan itu ... Ibu Syarifah meneruskan usaha membuka toko sembako di pasar tradisional di tempat lain.. Toko itu tidak besar. Tetapi cukuplah untuk biaya hidup mereka berdua sehari-hari. Sebab pengobatan untuk Ardi telah menghabiskan semua tabungan dan tanah warisan yang sebenarnya telah dipersiapkan ayah untuk anak-anaknya..."
" Kenapa Pak Kushari ribut soal Emilia, ya? Apa lelaki itu yang menyuruh Pak Manaf menculik Emilia?" bisik Pakde Muin akhirnya buka suara.
" Atau Emilia mengetahui sesuatu? Sebab dia tak jadi pulang malah bermaksud mencari keberadaan ayah dan ibunya? " bisik Yusuf lagi.
Terkadang Yusuf juga merasa tidak nyaman tinggal di kampung itu bersama keluarganya. Mereka dulu pindah ke sana setelah dia lulus SD. Ayahnya yang seorang duda yang menikahi Syarifah. Wanita itu mengurus Yusuf dengan sangat baik. Walaupun wanita itu juga mempunyai anak-anaknya yang dilahirkannya sendiri setelah menikah dengan Ayahnya Tetap Ibu Syarifah tetap memperlakukan Yusuf dengan baik, seperti anaknya sendir.
__ADS_1