
Akbar sudah terbangun dari tidur siangnya yang cukup nyenyak. Karena bayi berusia sebelas bulan itu telah melakukan petualangan yang cukup hebat siang tadi. Lepas dari pengawasan Bu Jum. Kabur keluar rumah dengan baby Walker-nya sampai ke jalan raya di depan rumah.
Entah apa yang akan terjadi tadi, bila Pak Leon tidak berinisiatif berhenti dan mendorong baby Walker bayi itu kembali ke dalam pagar. Asti sudah stres berat menghadapi soal ini. Padahal di dalam rumah pun keadaan memang sedang genting.
Sekarang bayi itu sudah mulai minta diajak Bu Jum main ke ruko depan. Tentunya setelah mandi sore dan memakan nasi tim yang dibuat Asti dengan berbagai campuran sayur dan potongan rebusan daging ayam yang sudah dihaluskan.
Asti membantu Mbak Ning menyiapkan makan malam. Seringnya yang ikut makan hanya Joko dan Lek No saja. Tampaknya Lek No juga agak bosan dengan menu Warung Tenda masakan Chef Danu Sumitro, yang tak jauh dari nasi goreng, mie goreng juga beberapa masakan tambahan olahan Bulek Ratih .
Ternyata di sana ada Pak Leon yang juga sudah nongkrong di warung tenda sejak sore tadi. Pria itu mengenali Akbar yang sedang digendong Joko dan Lek No secara bergantian. Padahal keduanya sedang sibuk mempersiapkan membuka warung itu. Jadilah mereka berkenalan dan ngobrol seru.
Apalagi Akbar tak mau turun dari pangkuan pria itu walaupun azan Magrib sudah berkumandang.
Lek No yang mengajak Pak Leon mampir ke rumah Asti untuk sholat Maghrib berjamaah, setelah pria itu memberi tahu jati dirinya.
Tak lama, datanglah Mbak Ning membawa seporsi nasi tengkleng dan tongseng yang dipesan Pak Leon. Ternyata makanan itu telah direkomendasikan oleh Ibu Ani, istri dari rumah tempat dia menginap sementara.
" Waduh, hati- hati Pak Leon! Pesan menu dengan olahan daging kambing, jauh dari istri. Bahaya, lho!"' Ledek Lek No.
" Saya dan istri memang sudah biasa tinggal berjauhan, Pak. Maklum istri saya juga punya pekerjaan!" Katanya sambil tertawa geli. Ada- ada saja ledekan pria paruh baya itu.
Ternyata Bu RT yang banyak bercerita tadi, tentang Mbak Asti tetangga depan rumahnya itu. Sedikitnya Pak Leon tahu, kalau status Asti adalah janda muda beranak satu. Tetapi pria itu sedikit heran, Asti agak menutup diri. Namun wanita cantik yang masih muda itu memperlakukan dirinya dengan sopan dan ramah.
Mereka ngobrol asyik di halaman belakang. Walaupun bukan malam Minggu, namun pelanggan di Warung Tenda Joko tetap penuh. Ternyata omongan dari mulut ke mulut oleh beberapa pelanggan yang terkesan dengan kenikmatan olahan warung Tenda itu lebih manjur daripada memasang iklan yang harus mengeluarkan biaya juga.
Asti seperti biasa, dia sibuk mengurus rumah dibantu Mbak Ning. Biasanya dia menyetrika pakaian Akbar dan bajunya untuk bepergian keluar rumah. Selain itu dia melihat persediaan berbagai bahan makanan mulai dari bumbu, sayuran dan buah. Kalau ada yang kurang akan dicatatnya untuk dimasukkan dalam daftar belanjaan di pasar esok hari.
Bu Jum seperti biasa, menjaga Akbar sampai bayi itu tertidur di boks di dalam kamar Asti. Setelah bayi itu tetap tertidur. Mereka dapat beristirahat di ruang tengah sambil nonton tv.
Lucunya, Mbak Ning dan Bu Jum tetap mau tidur di satu kamar di samping kamar tidur utama yang ada di lantai satu. Padahal ada banyak kamar di lantai atas. Kecuali ada Ninuk yang menginap barulah Bu Jum baru mau tidur di sana.
__ADS_1
" Mbak Asti, di belakang ada Pak Leon!" Bisik Mbak Ning memberi info.
" Ya, biar aja, Mbak . Biar beliau berbaur dengan orang- orang di daerah sini!"
" Apa Mbak Asti nggak tertarik menikah lagi? Jangan karena ulah Mas Satrio begitu , Mbak jadi kapok, untuk menikah ...."
" Mbak Ning! Saya nggak berani melangkahi takdir Allah. Kalau diberi jodoh , semoga mendapat suami yang lebih baik lagi. Tetapi untuk sementara ini, aku fokus dulu untuk membesarkan Akbar!"
"'Kalau ada yang kirim salam, bagaimana?"
" Untuk Mbak Ning?"
"'Yah, untuk Mbak Asti lah... Saya mah sudah tua. Anak bungsu juga sudah mulai bekerja kemarin..."
" Jangan ngelawak. Mbak Ning! Siapa yang mau sama saya, yang sudah janda dan punya anak, pula..."
" Banyak, Mbak Asti! Coba sesekali kalau Mbak Asti di jalan itu lihat kiri dan kanan. Masih banyak pria yang suka dengan Mbak. Bukan saja Mbak Asti masih muda dan cantik, Tetapi taat beragama juga selalu menjaga pandangannya..."
Begitulah, Mbak Asti. Majikannya ini. Selalu menghindari pria yang naksir padanya. Bukan karena wanita muda itu kaya dan punya warisan yang banyak dari keluarga bapaknya. Tetapi dia wanita muda yang mandiri, cantik dan pekerja keras .
Lek No terkagum- kagum mendengar penuturan Pak Leon tentang kaburnya Akbar dari halaman rumah. Juga fakta ada ular yang juga masuk rumah. Itulah yang menjadi pembicaraan mereka, selain situasi dan keadaan di sekitarnya mereka saat ini.
Pria itu terlihat masih menginap di rumah Bu RT, karena mobilnya masih terparkir di garasi rumahnya. Asti hanya meminta agar Mas Yanto juga memperhatikan keadaan dalam rumah. Takut Akbar kabur lagi karena menikmati petualangan barunya itu.
Sejak pagi, Pak Roh sudah sibuk dengan tetangga depan, memasang pagar kawat berduri yang lebih rapat di tembok samping kanan rumah. Maklum kebun itu banyak ditumbuhi semak- semak tinggi, walaupun banyak pepohonan yang sedang berbuah seperti mangga dan jambu air.
Siang ini, Asti membawa Bu Jum dan Akbar ke desa Sendang Mulyo. Ada urusan soal pembelian bibit padi dan urusan pembayaran upah para buruh tani yang akan dipekerjakan musim tanam berikutnya.
Lek No walaupun sudah berpengalaman lebih separuh dari hidupnya untuk urusan sawah dan kebun. Tetap melibatkan Asti yang sangat pandai mengatur keuangan.
__ADS_1
Di sana ada Lek Paijo dan Lek No yang mendengar penjelasan Asti. Bibit- bibit akan disemai di sawah yang paling dekat dengan sumber air. Selanjutnya adalah berapa banyak buruh tani yang perlu diperkerjakan nanti untuk menanam padi di sawah. Beberapa upah yang dikeluarkan selama musim tanam dan pemeliharaan.
" Ini simpan, Lek, Perinciannya! Nanti Asti transfer lagi kekurangannya. Lek No sama Lek Paijo bisa ambil di ATM dekat pasar kalau perlu uang tunai!"
Bulek Dian sudah membawakan mereka teh manis dan jadah. Makanan itu berasal olahan ketan. Beras ketan itu dikukus sampai tanak lalu ditumbuk di lumpang batu, lalu diberi campuran kelapa parut dan sedikit garam. Setelah ketan menyatu dan ***** akan dicetak pada wadah dari besi atau plastik. Setelah agak menyatu atau dingin barulah dipotong- potong dan disajikan.
Beras ketan juga merupakan hasil dari sawah mereka yang ada di perbatasan desa lain. Padi ini agak lebih panjang umurnya daripada padi biasa. Jadi banyak petani yang kurang tertarik menanamnya.
Di ruang tengah, Bulek Ratih mengajak Akbar jalan dengan memegangi kedua tangannya. Dasarnya Akbar memang bayi yang suka cari perhatian, dalam sekejap dia menjadi tontonan dari anggota keluarga Bulek Ratih.
" Sudah enteng ini, Akbar. Kalau dituntun, sebentar lagi juga jalan ini!"
Pembicaraan kaburnya Akbar juga menjadi tertawaan semua orang. Lek No sampai terpikir untuk membuat palang, di pintu ruang depan di rumah Asti.
Justru yang jadi pembicaraan asyik saja menikmati nasi tim yang diberi kuah sup ayam dan ceker.
" Kapan Ninuk pulang, Lek?"
" Katanya Sabtu depan," kata Lek No.
Sejak Ninuk kuliah pun, keluarga Lek No jadi pembicaraan para tetangga. Karena di desa mereka hanya orang- orang mampu saja yang akan membiayai anak perempuan mereka sekolah sampai ke perguruan tinggi.
Apalagi Ninuk juga tidak diterima kuliah di PTN. Jadi pikir mereka, Lek No dan istrinya hanya bergaya saja! Alias keluar uang banyak hanya untuk pamer. Sebab hidup keluarga Lek No semakin makmur dari tahun ke tahun.
Joko pun kini sudah punya usaha warung tenda yang sangat laris. Asti malah sudah membangun rumah bertingkat dua yang modern dan bagus . Belum lagi sewa yang diterima dari empat ruko yang terletak di daerah yang sangat strategis.
Padahal Joko dulu juga melanjutkan kuliahnya pun sambil bekerja di sebuah pabrik di Semarang. Sampai dia diwisuda dan menjadi sarjana juga.
Sekarang Bulek Ratih tidak gusar atau sakit hati bila dijadikan objek gosip dan omongan para tetangga di desanya. Istri Lek No itu hanya tersenyum manis, karena gosip yang sampai di telinganya berbeda dari fakta yang ada.
__ADS_1
Belum tahu saja apa yang akan terjadi selanjutnya nanti! Pikir Ibunya Joko dan Ninuk itu tersenyum geli. Para tetangga yang julit itu akan ternganga mulutnya kalau mendengar berita ini. Sebab Asti sudah mendaftar dan membayarkan mereka ongkos untuk umroh bersama tahun depan. Mereka didaftarkan lewat biro haji milik Pak Haji Anwar. Mereka semua akan berangkat bersama tahun depan. Asti dengan bayinya Akbar, disertai semua keluarga Lek No. Pasangan suami istri itu dengan kedua anaknya, Joko dan Ninuk juga
Begitulah kata pepatah dahulu "Semakin tinggi suatu pohon, semakin besarlah angin yang akan meniupnya."