
Om Ardi sudah bersiap untuk diantarkan Lek No ke desa Sendang Waru. Tentunya setelah mereka menyelesaikan sholat Ashar berjamaah di musholla depan rumah Joglo.
Kata Lek No, mushola yang cukup besar dan bagus itu dibangun atas inisiatif Pak Harjo Winangun. Beliau juga mewakafkan sebagian tanah warisan orang tuanya, untuk dibangun mushola itu. Tepatnya berada seberang jalan depan rumah Joglo. Di samping mushola itu, juga berdiri rumah besar milik Pak Haji Anwar Said. Tanah itu dibeli dari Pak Harjo Winangun dengan harga yang murah.
Ayah Pak Haji Anwar Said adalah sahabatnya Pak Harjo Winangun. Mereka dulu bersama-sama belajar di sebuah pesantren terkenal di dekat daerah Magelang, Jawa Tengah. Ayah pak Haji Anwar Said setelah menyelesaikan pendidikannya di sana, meneruskan kepemimpinan orang tuanya. Yaitu menjadi salah satu pemimpin partai politik di daerahnya. Lain halnya dengan keinginannya Pak Anwar Said muda, justru dia ingin berdakwah dengan memberikan pengajaran agama Islam ke desa- desa terpencil. Terutama masyarakat yang kehidupan ekonominya agak kurang.
Justru masyarakat di desa-desa yang berada di daerah yang terisolir atau di Pemda itu masih kuat menjaga budaya lamanya yang berasal kepercayaan nenek moyang mereka. Ajaran seperti itu sulit dihilangkan, karena sudah menjadi kebiasaan masyarakat itu dalam kehidupan sehari-hari.
Pak Haji Anwar dan Istrinya Bu Haji Anissa mengawali mengajarkan agama itu dengan memberi contoh dari kehidupan rumah tangga. Sehingga mereka menjadi teladan bagi pasangan suami istri yang lainnya. Kehidupan mereka sangat harmonis.
Pasangan Pak Haji Anwar dan istrinya juga dihormati masyarakat desa Sendang Mulyo. Apalagi bantuan dari Pak Harjo Winangun sampai pasangan itu menetap di sana, dan menjadi warga desa Sendang Mulyo.
Desa itu dulunya merupakan tempat petilasan salah satu pangeran Jawa dan pengikutnya. Mereka menetap sementara di desa itu untuk menghindari konflik besar yang muncul di istana. Sebab banyak kepentingan rakyat yang harus dikorbankan, ketika mereka tunduk dengan penjajah dari Negara Belanda.
Bahkan para pangeran muda yang lainnya lebih memilih bekerja sama dengan penjajah daripadanya mengangkat senjata. Di daerah terpencil itulah mereka beristirahat. Di suatu gubuk di tengah hutan bambu dan di sekelilingnya ada hutan jati. Bagai benteng pertama yang kokoh dan kuat.
Justru tempat Pangeran dan pengikutnya beristirahat dan berlatih kanuragan dan berbagai ilmu bela diri itu dijadikan tempat keramat. Terutama bagi orang-orang tua yang berpandangan kuno dan kolot. Mereka masih mempertahankan adat-istiadat, kebiasaan juga tradisi lama dari ajaran pendahulunya. Terkadang berbagai tradisi itu agak menyimpan dari ajaran agama Islam yang sesungguhnya.
Seperti kebiasaan menyiapkan sesajian di rumah orang meninggal dunia selama 7 malam dari hitungan sejak orang itu meninggal. Padahal keluarganya juga mengadakan yasinan atau acara doa bersama dengan membaca surat -surat dari Al Qur'an . Tentu keluarga yang sedang berduka cita juga mengundang tetangga di kiri dan kanan rumah untuk ikut berdoa bersama mereka, keluarga yang sedang berduka cita
Terkadang para orang tua, atau si Mbah A, sering menyiapkan sesajen lengkap di hari hitungan tertentu. Sesajen itu diletakkan di berbagai sudut dan tempat di desa ini yang dianggap angker atau keramat.
Masih banyak pula para orang tua yang telah berumur, masih kurang tekun menjalankan ibadah mereka. Karena kewajiban sebagai seorang muslim adalah beribadah, terutama mendirikan sholat. Banyak dari para penduduk itu jarang sholat tepat waktu. Apalagi bila mereka sedang mengerjakannya suatu pekerjaan yang amat penting, sholat itu pasti ditunda terkadang ditinggalkannya. Misalnya sedangkan bekerja di sawah atau dalam perjalanan yang sangat jauh.
Bahkan para pria dewasa banyak yang tidak berpuasa di bulan Ramadhan, karena mereka harus bekerja lebih keras lagi bila di bandingkan dengan bulan- bulan sebelumnya. Alasannya adalah mereka harus mengumpulkan uang yang lebih banyak lagi untuk berbagai keperluan di hari Raya Iedul Fitri .
Terutama untuk membelikan anak - anak mereka pakaian baru, menyiapkan makanan yang enak-enak untuk disajikan kepada keluarga dan tamu. Juga memberi uang kepada orang tua mereka, sebagai tanda bakti.
__ADS_1
Pokoknya berbagai hal yang sifatnya lebih ke acara perayaan di hari lebaran tersebut . Bukan mengutamakan ibadahnya yang harus dikuatkan, agar bisa merayakan hari kemenangan itu dengan kebahagiaan yang hakiki.
Selama dalam bulan Ramadhan itu, umat muslim harus menjalankan berbagai ibadah yang disyaratkan dalam rukun Islam. Selain harus menjalankan ibadah sholat yang lima waktu itu. Mereka juga wajib berpuasa di siang hari, walaupun juga harus bekerja. Setelah berbuka puasa, mereka akan sholat taraweh yang dilakukan di musholla atau di mesjid. Mereka juga harus bangun di dini hari untuk persiapan makan sahur... Agar bisa sehat dan bertenaga lagi untuk berpuasa di esok harinya.
Mushola yang terbilang cukup bagus bangunannya, itu sangat terawat kebersihannya. Apalagi Asti, Lek No dan beberapa warga rajin merenovasi bagian - bagian mushola yang sudah rusak atau kurang layak. Baik dari uang yang terkumpul di kas mushola, dana dari donatur tetap atau sumbangan pribadi.
Justru sehari - hari mushola itu ramai dipenuhi anak - anak laki-laki usia sekolah dari SD sampai SMP, menjelang azan Magrib. Mereka akan sholat berjamaah di sana dengan beberapa orang dewasa yang menjadi imamnya. Biasanya ada Pak Haji Anwar. Kalau beliau berhalangan, diganti oleh Lek No beserta anak buahnya itu. Ada juga para pendakwah muda yang selalu bersedia menjadi iman bagi anak- anak itu. Agar mereka mereka dapat belajar agama yang menjadi pondasi bagi kehidupan mereka di masa depan.
Ada juga pengajian di sore hari yang diikuti anak-anak usia 5 sampai 7 tahun. Mereka belajar mengaji, pada hari Senin sampai Rabu, dibimbing oleh Ibu Siti Maemunah. Seorang pengajar PAUD, yaitu pendidikan pra- sekolah. Bangunan PAUD yang sederhana itu didirikan di belakang kantor kelurahan. Tetapi muridnya masih sedikit tidak sampai dua puluh orang setiap tahunnya.
Banyak anak - anak di desa itu yang langsung masuk di SD kelas 1 pada usia 6 sampai 7 tahun. Karena menurut orang tua mereka, PAUD atau sekolah TK hanya untuk bermain saja, bukan belajar. Memasukan anak usia belajar di PAUD justru lebih banyak mengeluarkan biaya yang besar. Lebih besar dibandingkan bila mereka memasukan anak mereka langsung ke kelas 1 SD di sekolah negeri. Begitulah pandangan skeptis para orang tua di desa- desa di sana.
***
Kang Slamet ikut serta dalam mobil Avanza yang dikemudikan Lek No. Om Ardi duduk di depan, sambil menikmati jalan desa dengan keteduhan pohon -pohon jati yang tumbuh tinggi menjulang dengan daunnya yang cukup rimbun.
Jadi perekonomian warga desa Sendang Waru lebih tinggi. Oleh karena itu, warganya mendapatkan banyak peluang untuk meningkatkan pendapatan. Seperti mudah bepergian dengan cepat. Dapat membuka usaha di pinggiran jalan yang sangat ramai itu. Apalagi jalan itu sekarang sudah diperlebar, diberi penerangan bagus dan beraspal licin.
Mobil Avanza yang dikemudikan Lek No berhenti di depan halaman sebuah rumah besar. Rumah bagus itu juga dipenuhi tanaman hias dan bunga-bungaan. Rumah ini adalah rumah pak Kades Desa Sendang Waru. Rumah Pak Darmaji Hendardi, pria yang berkerabat dengan Keluarga Winangun.
"'Assalamualaikum!" Seru Lek No di depan pintu rumah besar itu yang terbuka lebar.
Sayup - sayup ada suara lemah seorang wanita menjawab salam mereka. Tak lama terlihat seorang wanita tua berjalan terseok-seok keluar dari bagian dalam rumah.
" Masuk, Pak... Monggo! " ucap wanita tua itu, ketika melihat ada dua pria di depan pintu rumah anaknya. Namun dia cukup terkejut setelah melihat tamunya itu dengan lebih teliti lagi. " Kamu , Sarno kan?"
" Iya, Mbah. Pak Darmaji ada?"
__ADS_1
Wajah Wanita tua itu menatap tajam pada pria di sebelah Sarno, bapaknya Joko dan Ninuk.
"Ini siapa, No? Kalau perlu pak Kades, tunggu sebentar, ya. Dari siang tadi mereka berada di kelurahan ! Ngurusin Si Kerto malah jadi kerepotan itu Darmaji dan istrinya. Pakde Kerto itu semakin neko- neko aja dan terus membuat geger tetangganya. Mati nggak, hidup juga menyusahkan semua orang...!" Omel wanita tua itu.
" Ini Ardi , Mbah. Omnya Asti... Apa tambah parah sakit Pakde Kerto ? " tanya Lek No.
" Iya, No! Mbah Samsudin, sepupunya Sib Kerto sudah menyuruh si Tarjo, anak sulungnya. Untuk menanyakan apa Bapaknya itu mempunyai pegangan atau jimat. Takutnya benda pegangannya itulah yang memberatkan kepergian Pakde Kerto sampai saat ini!"
" Belum umurnya juga mungkin Mbah! Rahasia umur seseorang itu kan mutlak milik Allah SWT!" Ucap Ardi menyela komentar wanita tua itu. Dia memberikan penjelasan secara gamblang. Maklum... susahnya seseorang di saat akan menghembus nafasnya di akhir hidupnya, kadang membuat orang lain juga menjadi takut. Sehingga menimbulkan cerita yang sedikit menyeramkan apa lagi bila ditambah imajinasi orang yang menyaksikan secara langsung.
Sedikitnya Ardi sudah mempelajari tentang Qada dan Qadar dalam pembelajaran agama Islam. Namun percampuran kepercayaan animisme dengan agama terdahulu sebelum masuknya Agama Islam pun sudah ada sejak zaman dahulu. Terutama ketika para Wali Songo mulai mensyiarkan agama Islam di seluruh tanah Jawa.
Ardi dititipkan oleh kakaknya pada di sebuah pesantren saat berusia 11 tahun. Pak Kyai yang memimpin pesantren itu menerimanya dengan sangat baik. Beliau malah menempatkan Ardi di rumahnya. karena melihat keterbatasan bocah itu dengan kedua kakinya yang terluka dan memerlukan penganan medis.
Bahkan Pak Kyai tidak hanya mengajarkan agama saja kepadanya. Juga memberikan berbagai bekal hidup berupa keterampilan lainnya. Jadi Ardi belajar di pesantren itu sekaligus menjalani terapi. Bahkan Ardi mulai ikut serta dalam kegiatan ekonomi di pesantren itu. Yang membuka berbagai usaha di depan pesantren.Semua usaha itu dijadikan, sebagai sarana belajar para muridnya.Jadi mereka siap lahir batin apabila diterjunkan ke masyarakat.
Di pesantren mereka belajar berbagai bidang usaha dari pertanian, peternakan sampai membuat sablon, jahit menjahit, memasak sampai bertukang. Yaitu mendirikan sebuah bangunan dengan berbagai keterampilan yang diperlukan, dari rancang bangun, tukang kayu,tukang batu sampai merangkai kabel untuk pelistrikan.
Ardi dengan keadaan kakinya yang cacat menjadi pribadi yang lebih tabah, sabar dan tawakal... Setelah menjalani terapi setahun lebih, dia baru bisa menggunakan s tongkat untuk membantunya berjalan. Setelah semakin kuat, dia bisa berjalan lagi tanpa bantuan alat penyangga. Walaupun jalannya agak terpincang - pincang karena kakinya yang terluka itu agak mengecil ukuran dari kaki kanannya yang normal.Tentunya setelah kaki itu harus mendapatkan beberapa kali tindakan di meja operasi karena tulangnya yang patah.
" Mungkin saja, Nak! Orang seusia Mbah ini kan ada di urutan pertama saat akan dipanggil Allah SWT, Setidaknya Si Mbah harus siap. Misalnya lebih memperbaiki ibadah, lebih banyak lagi berbuat kebajikan ."
Saat mereka berbincang - bincang, ada seseorang yang mengucapkan salam dan masuk ke hati depan rumah. Tampak Pak Darmaji dan istri Bulek Ika sudah mengenali tamu yang datang sore ini. Terlihat wajah pasangan suami - istri itu juga agak kelelahan.
"Lho, ada tamu?' ucap Wanita itu terkejut... Sambil memandangi pria lain yang ada di sebelah Pak Sarno.
"Ini siapa, No?" tanya Pak Darmaji kemudian.Setelah mereka bersalaman - salaman, dan ngobrol agak lama ... Lek No dan Ardi juga telah meminum kopi yang disajikan... Malah isi kopi di gelas itu tinggal separuhnya.
__ADS_1