Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 87. Beda Cerita dengan Mas Santo


__ADS_3

Bude Diah ikut menikmati makan siang di rumah itu. Asti kini sedang menemui Bu Haji Anissa yang ternyata masih belum berangkat ke ruko. Dia juga membawa Akbar. Agar Bu Jum bisa lebih tenang saat makan bersama mereka. Karena tidak terganggu oleh sikap Akbar yang sekarang ini semakin suka mencari perhatian kalau banyak orang berkumpul.


Bu Haji membuka sebuah tas kulit yang berisi pasport keluarga Asti dan Lek No. Tanggal keberangkatan sudah dipastikan untuk minggu terakhir di bulan Januari. Itu juga atas permintaan Lek No agar dia masih dapat mengawasi panen padi di sawah mereka.


" Nanti Akbar Ikut Bu Haji, ya?" Kata Bu Haji Anissa menggodanya.


Bayi gemoy itu hanya senyum- senyum saja. Pipi bulatnya itu selalu membuat orang gemas dan ingin mencubitnya. Dia berjalan menjelajahi ruang tamu yang sangat luas dan besar itu. Rumah khas desa dengan seperangkat kursi tamu dari kayu jati di sudut ruangan.


Biasanya ruangan ini digunakan untuk pengajian, arisan para bapak atau tempat warga setempat bila mengadakan musyawarah atau rapat dadakan.


" Alhamdulillah, selesai semua Bu Haji ..."


" Ya. Insya Allah. Ini paspor kamu pegang saja dulu, Asti. Nanti akan kami kirim juga koper dan alat perlengkapan sholat untuk setiap jemaah ke rumahmu saja, ya?"


" Iya, Bu. Bagaimana baiknya saja! "


" Nanti kalau kamu ke pergi belanja ke kota, jangan lupa cari stroller anak khusus untuk traveling. Biar si Endut ini bisa duduk nyaman, Kalau digendong terus lumayan berat juga. Bisa encok kita!"


" Rencananya kami baru mau belanja setelah tahun baru aja, Bu Haji. Untuk keperluan perempuan sudah kamu cicil sejak sebulan lalu. Maklum banyak perintilannya ... Kalau buat lelaki lebih simpel jadi bisa sekaligus dibeli semua."


Bu Haji tertawa. Dia juga cukup repot mengurus keperluannya sendiri. Di mana pun, para perempuan suka berdandan dan menyesuaikan dengan pakaian yang akan mereka kenakan. Terlebih untuk wanita berhijab juga harus memadu- padankan pakaian mereka dengan aksesoris agar serasi.


Jadi mereka umumnya membeli berbagai perlengkapan itu dengan warna netral. Nggak kebayang saja, kalau wanita menjalankan umroh berpakaian hijab masa kini dengan berbagai warna trend warna sekarang. Seperti yang biasa dipakai para hijaber pada beberapa konten di YouTube atau aplikasi internet lainnya.


Bisa- bisa mereka nanti dikira lampu lalu lintas jalan raya atau kue pelangi yang bertaburan di halaman masjid di Mekkah dan Madinah. Saking meriah dan ramainya paduan warna yang mereka kenakan.


Bu Haji juga memberi buku tuntunan Umroh sebanyak lima buah. Kantor biro perjalanan umroh yang dipimpin Pak Haji Anwar memang sudah cukup berpengalaman dengan tugas seperti ini. Jadi sudah cukup terpercaya. Apalagi Bu Haji juga sering membantu pekerjaan administrasi di kantor suaminya itu.

__ADS_1


" Asti, jangan lupa! Berdoalah di depan Ka'bah nanti, agar Allah memberimu pendamping hidup yang terbaik. Suami yang mencintaimu dan menerima semua ke lebihan kekuranganmu. "


" Amin, Bu Haji!" ujar Asti kalem.


" Percayalah! Semua ujian yang kamu jalani ini akan berakhir dengan manis. Kamu telah menjadi wanita dan ibu yang tangguh buat Akbar!"


Selama ini peran Bu Haji Anissa, bagi Asti melebihi sebagai tetangga terbaik. Dia seperti ibu angkat baginya. Pantas saja wanita cantik dan santun ini sangat dicintai oleh suaminya. Hatinya sangat lapang, sabar juga penuh perhatian terhadap sesama.


Bude Diah sudah dijemput oleh Mas Santo dengan motor nmax terbarunya. Pemuda lajang yang baru saja merintis menjadi seorang pengusaha itu sering bepergian dengan motornya untuk mempercepat jarak tempuh. Sedangkan dua mobilnya digunakan di toko elektroniknya itulah sebagai kendaraan operasional saja.


Pemuda itu dengan santun menyalami para wanita yang sedang ngobrol dengan ibunya di dalam rumah Joglo. Dia juga menemui Lek No di teras depan dengan para pekerja yang beristirahat di sana setelah pulang bekerja dari sawah.


"Kayaknya ada sesuatu yang membuat Asti agak repot sekali, ya!" Tanya Bude Diah hati- hati.


Bulek Ratih terdiam. Namun dia juga tidak mau para kerabat di sana berprasangka tak baik terhadap Asti dan keluarganya.


"Asti akan membawa kami semua pergi umroh bersama, Mbak! Jadi agak sibuk mengurus semua keperluan tersebut. Kebetulan kami mempercayakannya pada kantor biro punya tetangga depan rumah. Insya Allah, kita akan berangkat akhir Januari!"


Semua orang terdiam. Sampai Mas Santo pun masuk dan duduk di sebelah ibunya. Lelaki yang tampak sangat sayang kepada wanita yang telah melahirkannya itu seperti meminta izin untuk mengungkapkan suatu berita yang sangat penting.


" Ini soal Mbak Nanik... " Kata pemuda itulah memberi jeda sebentar. " Memang ini tak ada hubungannya dengan masalah Zahra dan Satrio! Tetapi Ninuk pernah cerita kan sama Bulek, kalau perempuan itu yang bertamu ke tetangga di rumah dinas Satrio?"


" Iya, sih. Katanya sampai tetangganya Asti marah- marah sama Ninuk!" Ujar Bulek Ratih.


" Pak Suparlan itu masih berkerabat dengan pria yang bersama Nanik. Beliau punya usaha rental mobil yang cukup besar di kota asalnya. Istri dan anak- anaknya mempunyai toko emas di berbagai pasar dan pusat perbelanjaan di kota itu


" Terus hubungan dengan Nanik?" tanya Bu Jum kepo.

__ADS_1


" Pak RT dan RW di Sendang Ranti, pernah memberi surat keterangan yang diminta Nanik untuk menikah secara siri dengan pengusaha itu. Tetapi beberapa teman pernah melihat Mbak Nanik sering mengunjungi gubuk Mbah Karmo Sastro di atas gunung Watu."


" Mbak Asti sudah mengerti kaitannya? " tanya Santo pelan. Namun jawaban Asti hanya berupa gelengan kepala.


" Entah Mbak Nanik menggunakan pengasihan untuk menaklukkan pengusaha tua itu agar mendapatkan hartanya atau santet untuk menghancurkan pernikahan Mbak Asti dan Mas Satrio!"


"Waduh, nekat banget ya si Mbak Nanik ini!" komentar Mbak Mar.


" Yah, begitulah... Ilmu Mbah Karmo Sastro sangat tinggi, apa pun yang diinginkan oleh orang yang memakainya pasti berhasil. Namun syarat yang diminta juga cukup berat! Kalau kurang sedikit saja, ajian itu akan berbalik dan meminta tumbal!"


Mereka yang hadir di sana memang pernah mendengar soal Mbah Kromo ini, kecuali Asti! Sebab dia dididik oleh Mbah Kakung sejak kecil dengan agama Islam yang ketat, kuat dan taat.


Belum lagi berbagai kemampuan si Mbah Kakung dalam mengelola hasil sawah dan kebunnya. Semua diajarkan kepada Asti sejak dia duduk di bangku SMP. Sayangnya, pergaulan Asti pun jadi semakin terbatas sejak rumor itu mulai berkembang seiring dia tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik.


Banyak orang yang tinggal di. desa, sampai sekarang pun lebih mempercayai dukun atau paranormal. Orang di desa pergi ke dukun bukan hanya untuk berobat. Ada yang minta penglaris, lulus berbagai ujian, naik pangkat, dipuja oleh penggemar sampai meminta mengirim santet untuk memperdayai lawannya dengan berbagai alasan.


Belum lagi berbagai mitos yang bertebaran di tanah pelosok Jawa ini karena kepercayaan masyarakat setempat atau ajaran nenek moyang yang masih terus dipertahankan.


Padahal banyak kaidah dan ajaran itu yang sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Hal itu disebabkan oleh rendahnya taraf hidup masyarakat sebagai petani, kurangnya ajaran agama yang dibarengi sulitnya mendapatkan akses pendidikan di daerah. Pada umumnya mereka hanya dapat menyelesaikan sekolah sampai SD. Sebab keberadaan sekolah SMP atau SMA belum merata. Mereka harus bepergian lebih jauh lagi ke daerah lain atau ke kota terdekat.


" Kemarin Joko sudah mendapat berita tentang kecelakaan yang dialami oleh keluarganya Pak Suparlan yang memakan dua korban meninggal. Sebelumnya, Mbak Nanik juga sudah dilabrak oleh istri dan anak- anak dari pengusaha itu."


" Mbak Nanik, anak dan ibunya diusir dari rumahnya di Griya Sentosa Kahyangan. Mereka hanya sempat membawa pakaian saja. Sebab barang - barang di rumah dihancurkan. Ternyata, semua harta dan kekayaan pengusaha itu adalah milik keluarga Istrinya."


Samar - samar Asti menyimak perkataan Mas Santo. Dia baru memahami mengapa Mbak Nanik dekat dengan Bu Suparlan. Apalagi Mbak Nanik tinggal di rumah yang termasuk daerah elite di kota itu.


" Cuma.. Baru kemarin sore Santo mendapat kabar. Kalau Nanik dicegat orang tak dikenal di dekat terminal Kecamatan. Lelaki itu menyiram sesuatu ke muka Nanik dan langsung kabur dengan motornya."

__ADS_1


Kembali para pendengar setia Mas Santo bertanya- tanya. Sebab itulah informasi terbaru yang baru mereka dengar saat ini. Bulek Ratih sudah tak mempedulikan keluarga Nanik dan orang tuanya yang dulu tinggal desa dekat Sendang Ranti.


"Innalilahi wa innailaihi Raji'un" Ucapan Asti terdengar perlahan. Sepertinya beberapa tindakan kejahatan sekarang di wilayah ini banyak meniru dari peristiwa yang terkenal dan menghebohkan masyarkat pada tahun-tahun sebelumnya.


__ADS_2