
Sejak permasalahan yang diajukan oleh anak-anak Pakde Karto kepada Keluarga Winangun soal kepemilikan sawah di desa Sendang, banyak orang - orang yang tinggal di kedua desa yang bersebelahan itu tidak lagi bersimpati kepada keluarga dan kerabat dari mantan kepala desa sebelah. Yaitu kedua istri dan anak -anak dari almarhum Pak Kushari. Juga kakak dan adik dari almarhum yang kata orang serakah dan tamak!
Bagi kaum para tua di sana, mereka jadi mengingat kembali perjuangan Pak Harjo Winangun yang berusaha sangat keras untuk membuka jalan tembus alas bambu... Ternyata bantuan Pak Kushari berikan kepada teman baiknya itu menjadi hutang budi. Sebuah hutang yang harus dibayar cukup mahal dengan terikat nya Bude Ayu pada pernikahan dengan pria itu. Juga rongrongan dari anak-anak tirinya terhadap Bude Ayu, setelah Pak Kushari meninggal. Berbagai sebutan dari para anak beliau ditujukan kepada Bude Ayu yang tidak sedap untuk didengar telinga orang lain.
Lek No sangat berusaha menjaga warisan itu tetap utuh yang telah memberi kehidupan makmur bagi keluarga Winangun ... Juga membuka lapangan pekerjaan bagi petani di desanya itu yang tidak mempunyai lahan sawah sendiri untuk digarap.
" Tenang, Kang! Jangan gusar begitu!" Ujar Kang Slamet kepada suaminya Bulek Ratih itu. Tampaknya lelaki masih agak kesal dengan peristiwa yang baru saja terjadi beberapa hari yang lalu.
" Gimana mau tenang, Slamet! Ada saja orang yang mau mengusik kehidupan keluarga Winangun dan keturunannya. Kemarin masalah Dania, lalu Almira yang belum juga selesai... Sekarang masalah sawah yang pernah di kerjakan Pakde Karto. Coba dari ocehan dari siapa, ya? Kalau tanah itu adalah milik mereka. Sehingga anak-anak Pakde Karto dengan gampangnya menuntut sawah Asti! Ada gitu aturannya, meminjam sawah orang , lalu menguasai lahan sawah itu seperti menjadi milik keluarganya... Kapan Bude Ayu menjual sawah itu kepada Pakde Karto? Malah kita yang rugi bertahun-tahun, karena pembagian hasil sawah yang nggak sesuai... Semakin tahun semakin sedikit!"
" Ntar aku tanya sama Lek Wardi, kan! Dia kan tuh dekat dengan si Tarjo, anaknya Pakde Karto... Jangan - jangan anak sulungnya Pakde Karto itu dapet wangsit. Setelah bertapa lama di Gunungkidul sana!"
" Tambah ngaco, kamu. Met, Slamet!" kata Lek No tambah gusar.
" Kalau mau bertapa itu di Gunung Lawu, gitu! Atau mau cepat kaya? Ya, sana ikut ritual di Gunung Kemukus! Jangan sawah orang diakui... Memang tinggalan Mbah Buyutnya kali!"
Mereka jadi tertawa geli dengan ulah orang-orang yang tidak bertanggung jawab itu..Suka mengusik kehidupan orang lain. Apa Pakde Karto selama ini menganggap sawah yang digarapnya itu milik almarhum adiknya. Hanya karena pria itu menikahi Bude Ayu, yang lama menjanda. Setelah bercerai bertahun-tahun dengan suami pertamanya yang seorang tentara.
Mungkin kalau tidak ditekan Bude Ayu, setelah beliau sakit beberapa waktunya yang lalu, perjanjian itu masih akan berlanjut... Maklum harta kekayaan almarhum Kushari sudah ludes tak bersisa... Sebagian dikuasai oleh adik kandung dan adik iparnya lainnya. Sebagian lagi sudah dibagi ke setiap anak. Namun karena tak punya pekerjaan tetap, harta warisan itu terjual satu- persatu. Untuk kebutuhan makan dan hidup mereka sehari-hari.
__ADS_1
Bagi Sarno Haryadi Winangun, sawah dan kebun milik Winangun harus menjadi milik keturunan Winangun sejati, yaitu Asti dan anak -anaknya itu. Sepertinya dulu juga ayahnya, yang merupakan adik tiri Pak Winangun. Beliaulah yang bahu membahu dengan keluarga kakaknya menjaga kehormatan leluhur Winangun. Sebagai perintis dengan dibangunnya desa- desa di sekitar wilayah ini.
***
Orang tua Leon pun akhirnya berkesempatan mengunjungi rumah Lek No dan Bulek Ratih di desa. Pria tua itu merasakan udara kedamaian kehidupan desa yang berbeda dari kehidupannya setelah masa pensiun dari dinas ketentaraan. Setelah cukup menikmati rumah Joglo khas Jawa yang menaungi keluarga Asti, pria itu mau berjalan - jalan di halaman depan rumah yang luas dan dipenuhi berbagai pohon besar. Yang paling terlihat mencolok adalah pohon -pohon Jati yang tumbuh subur di depan jalan atau di kebun warga desa.
Apalagi ayahnya Pak Leon itu tidak sungkan saat dibonceng motor oleh Kang Kasat. Mereka berkeliling untuk melihat sawah dan kebun kelapa milik Asti yang luasnya mengelilingi sebagian wilayah Desa Sendang Mulyo.
Sorenya, rumah Joglo jadi semakin ramai didatangi para tetangga, yang juga, melihat tamu istimewa dari keluarga Lek No. Ternyata mereka orang Tua Pak Leon yang merupakan besan dari Lek No dan Bulek Ratih.
Apalagi para tetangga Bulek Ratih yang sebagian besar ibu-ibu, sangat tidak menyangka kalau wanita cantik yang terlihat masih muda itu adalah mertua Asti, Ibu Anggun Murti
Segala macam panganan khas orang desa dibawa para tetangga untuk kedua orang tua Leon itu. Mereka membawakan buah-buahan yang dipetik dari kebun...Berbagai makanan yang berbahan dasar singkong atau ubi atau olahan dari bahan beras ketan.
Keadaan bertambah ramai ketika Leon menyusul bersama Asti dan anak-anaknya. Seketika rumah itu menjadi riuh oleh suara canda dan tawa mereka.
" Ayo Pak Sarno dan Bu Sarno ikut acara liburan bareng dengan keluarga kita di Yogyakarta bulan depan!"
Tentu saja Bulek Ratih mau saja menerima undangan secara terbuka itu. Entah mengapa wanita itu merasa nyaman dengan keluarga Leon yang sudah kaya raya dan terhormat sejak dahulu. Tetapi sikap mereka tidak tinggi hati.. Bahkan dengan mudah berbaur dengan kehidupan keluarga mereka dan masyarakat desa ini yang hidup sederhana.
__ADS_1
Asti duduk santai dengan Ibu Anggun sementara anak-anaknya di gendong Lek No dan Leon... Mereka senang momong kedua balita itu yang lucu dan tidak bisa diam. Apalagi Qani yang sudah mulai merangkak kemana -mana. Tak peduli bayi itu sudah mandi tadi sore. Sekarang bajunya kotor karena merangkak di lantai rumah Joglo yang terbuat dengan lantai plester semen dan tegel zaman dahulu.
" Ya, ampun... Qani kenapa kamu masuk kolong, Nak ! " protes Asti melihat anaknya ada di bawah meja makan besar itu.
Leon tertawa saja. Malah mulut bayi itu mulai manyun dan mau menangis karena merasa dimarahi ibunya. Benar saja, keluarlah suara tangis bayi itu yang segera dipeluk ayahnya.
" Manja!" omel Asti, sambil mencolek dagu bulat Qani.
Mata Qani yang bulat menatap wajah Asti dengan pandangan yang berbeda. Yah, hubungan Leon dengan Qani sangat dekat... Begitulah cerita orang, kalau seorang ayah adalah cinta pertama buat anak perempuannya.
Mungkin yang berbeda adalah Akbar... anak itu baru berumur dua bulan saja sudah diabaikan oleh ayahnya, yaitu Satrio Wibowo. Keburu lelaki itu berpaling kepada perempuan lain. Yang lebih cantik, muda dan berani. Akbar hanya mengenal Lek No dan Joko saja sebagai pengganti peran seorang ayah di dalam hidupnya.
Setelah selesai sholat berjamaah di mushola depan, Leon mengajak orang tuanya kembali... Supir sang ayah malah masih bertamu di rumah Pak Haji Anwar. Di rumah besar itu banyak dihadiri para pemuda yang penuh bersemangat berdakwah di desa-desa terpencil di sekitar daerah ini.
" Maaf, Pak!" Ujar Imron agak malu... Supir muda itu harus dipanggil Kang Kasar yang mencarinya sejak tadi.
Alphard yang membawa kedua orang tua Leon berjalan di belakang. Di sana selain ada kedua orang tua Leon juga ada Qani yang dipangku Bu Jum. Di mobil Leon, Akbar bersikeras duduk di depan sendiri... Asti mengalah dan duduk di tengah.
Di bagasi belakang ada bawaan berupa buah nangka matang yang sangat wangi baunya. Sekantong plastik jambu air Cincalo yang besar-besar.. Belum lagi beberapa hasil keterampilan tangan ibu- ibu di desa ini, yang pandai mengolah berbagai panganan. Mulai dari kerupuk, sambel pecel dan kue ampyang kacang.
__ADS_1