Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 196. Berkumpulnya Keluarga Besar


__ADS_3

Acara makan camilan bersama itu jadi semakin seru. Apalagi setelah para pekerja di mini market " AS Berkah" mulai bergabung setelah, mereka menutup toko. Para pegawai pria di mini market itu menyalami Bulek Ratih dengan takzim. Sebab mereka adalah anak dari tetangga di desanya, tempat dia berasal. Mereka mendapat fasilitas untuk tempat menginap yang cukup memadai, di lantai tiga dari bangunan ruko yang dijadikan mini market tersebut.


Bu Ani dan Pak Sembodo pun juga ikut bergabung dengan keluarga Asti itu. Sambil menikmati oleh-oleh dari Pak Leon. Mereka memperlakukan Bulek Ratih, sebagai orang tua angkat Asti dengan penuh rasa hormat.


Tiga puluh menit kemudian, ada mobil avanza yang biasa dipakai Lek No memasuki halaman ruko di depan warung tenda. Ada pria paruh baya keluar bersamaan dengan gadis muda yang duduk di tengah.


" Ibu ?" Panggil Ninuk senang.


Gadis itu berlari memeluk ibunya... Padahal mereka hanya tidak bertemu dua minggu saja. Serasa anak perempuan tidak bertemu dengan ibunya seperti setahun !


" Ninuk! ambil tasmu! Mau nginap di sini atau ikut bapak pulang!" panggil Joko kesal.


Ninuk berbalik ke dalam mobil dan menarik sebuah tas ransel ala anak kuliahan. Dengan cepat Ninuk menyalami orang-orang yang ada di halaman samping itu. Dari Leon, Bu Jum dan Mbak Ning. Sampai pasangan suami- istri, tetangga depan rumah Asti.


Putri tidak bisa bergabung karena dia harus menidurkan Akbar... Sementara, Asti juga masih menyusui Qani. Kedua anak itu cukup kelelahan karena sore tadi, saat diajak mengunjungi Desa Sendang Mulyo. Mereka dibawa Kang Slamet melihat peternakan sapi milik salah satu tetangga desa. Mbak Asni juga ikut membonceng sambil mengendong Qani. Wanita itu kesenangan karena baru kali ini, adiknya Akbar itu mau dibawa oleh orang lain. Qani adalah bayi perempuan yang paling pemilih. Dia tak mau digendong oleh orang yang tak dikenalnya dengan dekat.


" Assalamualaikum!" suara cempreng Ninuk, sudah di dengar Asti dari pintu kamarnya...Ninuk berlari memeluk kakak sepupunya itu dengan erat.


" Mbak Asti sehat-sehat, kan?" tanya Ninuk sedikit cemas.


Asti agak sangsi dengan kehadiran Ninuk yang justru sangat tidak biasa.... Padahal besok hari Senin, waktunya Ninuk menjalani jam perkuliahan seperti biasanya.


" Iya, sehat. Kamu pasti dapat cerita lain dari Puspita, deh! Ngapain pulang? Sudah selesai ujiannya?"


" Iya, tenang aja, Mbak! Nilai ujianku lulus semua, jadi bisa santai sedikit karena nggak usah ikut perbaikan di Minggu ini. Soalnya Puspita banyak cerita tentang kejadian di Solo itu. Dia aja sampai geregetan, lho! Ketika menceritakan kejadian di restoran itu. Kok, bisa bersamaan dengan kehadiran Mbak Almira dan sahabatnya itu... Padahal dia dan putri sudah merekam pembicaraan mereka.


Tetapi Mas Leon melarang untuk menyebarkan rekaman itu!"


Cerita Ninuk membuat wajah Asti muram... " Sahabatnya Almira itu dan keluarganya juga datang ke sini, sejak kemarin!"


"Hah! Mau ngapain mereka ke rumah ini ? Cari perkara aja mereka itu! Jangan pernah takut, Mbak. Perbuatan Almira sudah salah, malah didukung secara salah sama orang lain ! " Ujar Ninuk berapi -api.

__ADS_1


" Tunangan sahabatnya Almira itu, ternyata sudah lama menawarkan kerjasama dengan Mas Leon... Bahkan Almira bisa mengintip akun bisnis mereka ... Jadi Almira selalu mengikuti kegiatan Mas Leon lewat media sosial itu!"


" Wah, minta diperkarakan ini Almira... Minta Mas Leon cari pengacara saja, Mbak! Terus laporkan masalah ini ke Pak Hermawan... Pasti ada pasal yang dapat dikenakan atas perbuatan Almira itu! Biar dia mendapat hukuman penjara... Nggak mempan juga perempuan itu dilaknat oleh orang - orang satu kabupaten!"


" Ribet ngurusin masalah begituan, Nuk! Paling gampang, sih... Kerjasama itu dibatalkan saja! Jadi Mas Leon dapat menutup akun bisnisnya dengan Mas Qosim itu!"


Sampai ada sesosok pria yang muncul mendekati mereka dari pintu samping. Kedatangannya yang secara diam-diam, cukup mengejutkan mereka.


" Mas Joko, ya ?" tanya Ninuk untuk meyakinkan dirinya.


Joko menatap adik dan sepupunya itu dengan pandangan sedikit malas. " Huh, cewek kalo sudah ketemu, pasti hobinya ngerumpi... Sana kamu dicari ibu, Ninuk!"


Ninuk segera menghambur keluar rumah... Pasti kakaknya itu sedikit kesal ketika Ninuk memaksakan minta dijemput pulang dari tempat kosnya. Sehingga Joko harus melakukan perjalanan pulang yang lebih jauh lagi, karena harus berbalik arah ke kota sebelah.Menjemput di tempat kostnya.


"Iya, sabar kenapa..." Jawab Ninuk kesal karena kena omelan lagi dari kakaknya yang cuma semata wayang... Kadang Mas Joko itu cerewetnya melebihi si Mbah Surti! Seorang nenek yang kerjaannya setiap hari mengomel. Wanita tua itu tetangga di samping rumah mereka. Coba kalau dia punya s kakak yang lain, mungkin Mas Joko yang ini bisa dia ditukar tambah atau dijadikan agunan pinjaman di bank!


" Warung tenda ramai, Ko?"


" Biasa... Apa perempuan bercadar tadi yang datang bersama keluarganya itu yang disebut Pak Cakra sohibnya Almira? Perempuan lain yang dimanfaatkan Almira untuk kepentingan dirinya saja...Dasar Almira itu, pandai memanfaatkan situasi..."


" Lek No! " panggil Asti pada seorang pria paruh baya yang sedang dibuatkan kopi oleh Ninuk di dapur warung tenda.


Pria itu menerima salam dari Asti... Ayah Joko itu sampai menolak untuk bermalam di rumah saudaranya yang baru pulang dari rantau. Karena mau tahu keadaan Asti dan keluarganya.


Lek No tidak tenang, setelah mendengar cerita tentang Asti yang mendapat serangan mental dari sahabatnya Almira... Jadi dia hanya sekedar melihat keberadaan saudaranya itu sebentar dan pamit kembali ke desanya. Karena sudah agak sore, jadilah Joko yang mengemudikan mobil itu... Karena jalan di antara dua kabupaten yang menjadi perbatasan dua provinsi ini merupakan bukit-bukit yang terjal dan curam.


" Kamu nggak apa-apa, Asti!?"


" Nggak apa-apa, Lek! Bagaimana keadaan keluarga Lek Sanusi di kampungnya?"


" Anak - anaknya masih tinggal di Bali, karena di sana ada usaha yang cukup lumayan. Lek Sanusi hanya berdua saja dengan istrinya untuk tinggal sementara di kampung. Mereka akan menggurus pembagian warisan itu bersama adik- adiknya yang lain. Kapan -kapan mereka mau mampir ke sini!"

__ADS_1


" Iya, Asti juga sudah lama nggak berjumpa dengan Bulek Mina!"


Mungkin sejak Asti masih duduk di bangku SD kelas 6... Asti sudah tidak bertemu lagi dengan keluarga mereka.


Beberapa tahun yang lalu, Lek Sanusi dan istrinya datang ke rumahnya di Desa Sendang Mulyo. Mereka pamit kepada Pak Harjo Winangun. Mereka mendapat tawaran bekerja mengelola sebuah rumah makan di Denpasar, Bali.


Mereka sudah mendapat bantuan pinjaman uang dari Pak Harjo Winangun, untuk ongkos berangkat ke Bali, juga biaya hidup kedua anaknya yang paling besar untuk dititipkan Bulek Mina pada kedua orangtuanya di kampungnya.


Padahal keluarga Bulek Mina yang berada di Wonogiri , kebanyakan adalah keluarga yang cukup berada. Namun mereka tak mau peduli sedikit pun kepada suami- istri itu yang mengalami kesusahan. Apalagi membantu masalah keuangan dari saudara itu. Setelah usaha ternak ayam petelur mereka bangkrut..


Jadilah suami istri berangkat di Bali, selama bertahun-tahun... Di sana mereka juga mencoba berbagai usaha untuk dijadikan penghasilan tambahan... Sebab daerah itu sangat potensial, berbagai sektor wisata mendatangkan pengunjung dari wisatawan domestik dan mancanegara. ... Setelah beberapa kali buka usaha yang berbeda, akhirnya usaha konveksi baju- baju santai ala Bali itu yang paling paling sukses dikembangkan oleh Lek Sanusi dan istrinya.


Mereka segera mengambil kedua anaknya yang masih tinggal di kampung, untuk tinggal bersama di Bali.. Setelah usaha itu semakin berkembang dan cukup berhasil. Anak anak sebelumnya diasuh oleh kedua orang tua Bulek Mina di kampung. Mereka hidup sederhana dan penuh keprihatinan.


Sekarang anak-anaknya mereka sudah dewasa .. Ada yang ikut yang meneruskan usaha konveksi keluarga. Malah ada yang menjadi ASN dan bekerja di sebuah kantor pemerintahan... Ada juga yang menjadi Chef di sebuah hotel terkenal di pulau Dewata itu.


Joko mengeluarkan beberapa kantong oleh-oleh pemberian keluarga Lek Sanusi. Yang menarik perhatian adalah Pai susu dan salak gula pasirnya yang paling terkenal.


Karena Lek No tidak jadi bermalam di rumah saudaranya itu, Bulek Ratih tidak jadi menginap di rumah Asti. Mereka pamit pulang untuk kembali ke desa. Rencananya, besok Ninuk yang akan mengantar Joko ke desa untuk mengambil mobilnya.


Tampaknya semua kegiatan Asti dan orang - orang di halaman samping rumah itu terus diawasi oleh mata tajam Ibu Atiek itu dengan seksama... Wanita itu tak beranjak dari sana, sejak satu jam yang lalu. Apalagi setelah dia melihat pasangan suami- istri yang tampaknya merupakan sesepuh keluarga Asti itu naik mobil Avanza untuk pulang ke rumahnya.


Tanpa sengaja, mata Ninuk bertatapan dengan wanita paruh baya itu. Sebab walaupun usia wanita itu sudah senja, jiwa kepo ibunya Nurwati itu terus meronta -ronta.


" Mereka itu keluarga temannya, Mbak Almira?" Bisik Ninuk di telinga Asti. Mau nggak mau Asti mengangguk.


Dia juga sudah mulai mengantuk. Beda dengan Ninuk yang sekarang sudah terbiasa begadang untuk belajar atau menyelesaikan tugas - tugas kuliahnya.


Leon mengandeng Asti masuk rumah. Dia juga perlu beristirahat, karena cukup lelah dengan perjalanan bisnis siang tadi. Walaupun dalam perjalanan pulang pergi ke Madiun, mobilnya lebih banyak dikemudikan oleh Cakra asistennya.


Suasana di warung tenda mulai berangsur angsur sepi menjelang pukul 21.00. Tanpa diberi komando, para pekerja sudah mulai membersihkan dan mengangkut barang - barang dagangan. Beberapa piring mie goreng dan nasi goreng sudah dimasukkan ke dalam wadah stereo foam oleh Mas Danu.

__ADS_1


Nanti makanan itu dibagikan kepada pegawai Mini market, anak muda kampung sini yang menjaga keamanan ruko atau beberapa orang lain yang lewat di warung mereka.


Itulah prinsip dagang mereka...Tak ada bahan makanan yang disisakan untuk besok. Sebab mereka nanti akan menyiapkan bahan makanan yang baru lagi. Jadi masakan untuk pembeli di warung untuk esok adalah dari bahan- bahan yang segar dan terjaga kebersihannya.


__ADS_2