Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 160. Kehadiran Mantan Ibu Mertua


__ADS_3

Bulek Ratih mengajukan usul untuk mengadakan pengajian ibu-ibu untuk syukuran kehamilan empat bulanan Asti yang akan diadakan di rumah ini. Acara itu dalam masyarakat Jawa disebut Mapati Hang atau Walimatul Haml, dalam bahasa Arabnya.


Leon menyetujui hal itu karena itu bentuk rasa syukur dirinya kepada Allah SWT, setelah Papanya kembali sehat. Juga dia telah diberi kepercayaan untuk menjadi ayah sekaligus orang tua yang akan mempunyai dua anak sekaligus dalam pernikahannya ini.


Apalagi semua keperluan acara itu akan ditangani oleh Bulek Ratih dan Bu Haji Anissa. Dua wanita yang menjadi ibu angkat sekaligus menjadi ibu peri bagi Asti. Karena kebaikan dan ketulusan mereka kepada Asti.


Acara itu hanya dilakukan secara sederhana saja. Mereka akan mengundang ibu - ibu pengajian dari tetangga Asti, dan beberapa orang tetangga Bulek Ratih di desa Sendang Mulyo. Selain itu mereka akan menyiapkan menu makan siang untuk peserta acara pengajian itu. Nanti setelah acara selesai, para tamu juga akan diberikan bingkisan dan kue-kue yang bisa dibawa pulang.


" Sibuk, Yang?" bisik Leon melihat istrinya... Dari dia datang masuk kamar, hanya melihat Asti asyik dengan hapenya.


Ternyata Ninuk memberikan contoh beberapa foto-foto jenis barang untuk bingkisan pada acara empat bulanan itu. Dari berbagai barang pecah belah sampai perlengkapan makan sehari- hari.


" Nggak, sih! Mas sudah makan?" tanya Asti lagi.


" Aku mandi dulu aja, ya! Akbar sedang bersama Joko di warung tenda."


Tampaknya kesenangan Akbar dengan otomotif, yang membuat anak itu suka berlama-lama berada di warung tenda milik Omnya itu. Si bayi itu senang melihat mobil, truk dan bus yang lalu lalang di jalan raya depan ruko. Bahkan Akbar tidak takut untuk naik alat-alat berat yang ada di proyek. Asti sering membawa Akbar ke kantor Leon sambil membawakan makan siang untuk suaminya itu dengan dijemput dan diantar Dimas.


Karena belum tahu jenis kelamin bayi yang ada di rahim Asti. Jadi mereka memilih bingkisan dengan warna netral. Asti lebih suka memberi mangkok sayur plastik yang unik karena ada tutup dan sendoknya. Tetapi Leon lebih tertarik memberikan handuk berukuran sedang untuk bayi dari bahan yang halus. Dengan berbagai mitos dibalik pemberian handuk, yang kurang baik. Akhirnya pemberian handuk mandi dicancel.


Asti jadi memesan mangkuk sayur itu dari sebuah situs penjualan online. Ternyata barang yang datang cukup bagus. Mereka membeli 40 buah dan 10 buah wadah sendok dengan isinya yang lengkap...Berupa sendok dan garpu yang serasi dengan motif dan warna gagang alat makan itu dengan wadahnya.


Acara itu diadakan pada Sabtu siang nanti. Rencananya Leon akan hadir di sana untuk mendampingi Asti. Apalagi mereka mendatangkan seorang Ustazah yang terkenal di daerah ini untuk memberi tausiah. Sayangnya, Leon tertahan di proyek siang itu, karena beberapa alat berat di proyek mengalami berbagai kendala.


Selama acara itu berlangsung, Asti tetap duduk tenang. Sebab di sisinya ada Ibu Haji Anissa, Bulek Ratih, Ninuk, Lek No dan Joko. Sementara di halaman belakang bersiap-siap Mbak Ning, Bu Jum dan beberapa orang pekerja di warung tenda.


Para ibu cukup antusias ketika selesai acara pengajian dan pembacaan doa... Mereka telah disiapkan hidangan makan siang. Setelah mereka minum dan mencoba berbagai camilan diedarkan di atas piring-piring.


Hidangan makan siang itu berupa sop iga sapi, perkedel kentang, juga tempe goreng tepung dan sambel rebus cabe rawit yang khas ulekan Bulek Ratih. Tak lupa dengan kerupuk.


Pulangnya para ibu- ibu itu mendapat bingkisan yang dimasukan dalam tas kain hijau muda dengan tulisan ucapan terima kasih. Di dalamnya ada wadah sayur cantik dan satu boks kue- kue jajanan pasar.

__ADS_1


Bu Ustazah Mardiah Yusuf pun diberi bingkisan tempat sendok, kue-kue juga ditambah parsel buah. Ninuk dan Izzah yang membawakan barang- barang itu sampai ke dalam mobil wanita itu, yang diparkir di samping ruko. Asti masih sempat memberikan amplop ke tangan wanita itu.


Sejak kedatangan Ibu Ustazah itu, wanita itu selalu mengelus perut buncit Asti dan terus komat-kamit membacakan doa untuk kebaikan si Ibu dan bayinya.


Para pegawai tenda itu mulai makan siang. Sebelumnya mereka sudah membereskan tempat acara yang digelar dengan menggunakan tikar dan karpet.


Bulek Ratih sudah menggotong panci sayur yang lebih kecil ke meja di halaman samping. Ninuk juga membawa piring dan sendok. Mereka mengelar tikar di halaman samping rumah... Di sana juga bergabung Lek No, Joko Mas Yanto dan Pak Rob.


Sebenarnya pantang bagi Bulek Ratih untuk memberikan makanan sisa dari sebuah acara di rumahnya kepada orang lain. Apalagi untuk orang -orang yang sudah membantu kelancaran acara tersebut.


Jadi wanita itu selalu membagi hasil masakannya itu dalam tiga wadah yang berbeda. Satu panci besar untuk dimakan para tamu. Di panci yang lebih kecil untuk anggota keluarga atau orang di rumah dan satunya lagi untuk orang yang membantu mereka dalam acara tersebut.


" Assalamualaikum!" Sebuah suara wanita terdengar dari pintu depan rumah.


Karpet dan tikar sudah digulung. Bangku, meja dan kursi sudah dikembalikan ke tempat semula. Jadi ruang tamu dan keluarga saat itu kosong dan lengang.


" Walaikum Salam!" Jawab Bu Jum, yang menerima tamu itu.


Wanita yang lebih tua memakai hijab rapi dan mahal. Sementara perempuan yang muda menggunakan gaun ketat dari bahan denim, dengan lengan pendek terbelah. Tinggi gaun itu di atas lutut. Sepatu high heels warna biru cerah. Wanita itu memakai makeup full. Belum lagi rambut pirangnya yang sebahu. Dia lebih mirip dengan Mbak - Mbak yang sering menjadi pemandu di sebuah karaoke. Sejenis tempat hiburan malam yang keberadaannya mulai menjamur di daerah ini yang menjadi jalan pintas menuju ke perbatasan Jawa Timur.


" Bisa kami bertemu dengan Asti?" tanya Ibu Itu.


" Maaf, ibu dan Mbak siapa, ya? Sebab acara pengajian di sini sudah selesai sejak satu jam yang lalu.. "


Takutnya Bu Jum, mereka datang terlambat untuk acara pengajian itu. Tetapi cara perempuan muda itu berpakaian seperti itu lebih cocok untuk jalan ke mall daripada datang ke pengajian.


" Saya Ibu Widya mau bertemu dengan Mbak Asti!" Ucap wanita itu setelah dipersilakan duduk.


Sesaat Bu Jum berbalik masuk ke dalam rumah untuk memanggil majikannya. Sedangkan kedua wanita itu mengamati bangunan rumah besar Asti yang berlantai dua dengan segala isinya dan furniture yang sangat cocok dan harmonis dengan gaya rumah itu yang bertema minimalis modern.


Pantas saja, Asti menolak pemberian harta gono-gini, juga nafkah buat anaknya... Ternyata Asti telah menjadi orang kaya baru, rupanya! Begitulah pemikiran kedua wanita itu secara selintas.

__ADS_1


" Mbak Asti. Ada tamu? Namanya Ibu Widya."


Kontan saja Asti kaget mendengar nama itu. Nama mantan ibu mertuanya yang tiba-tiba berbalik arah, menyerangnya hanya karena dia mengajukan tuntutan perceraian kepada Satrio.


Masih belum yakin, Asti menanyakan satu hal lagi. " Dia datang sendirian, Bu Jum?'


"Berdua! Tetapi perempuan yang bersamanya lebih mirip pemandu karaoke, deh! Saking dandanan menor dengan baju terbuka!"


Ninuk, Bule Ratih dan Joko berpandangan. Termasuk Lek No. Mereka kurang yakin dengan maksud kehadiran wanita yang dulu sangat mereka hormati. Karena Ibu Widya adalah puteri sulung Mbah Sanjaya. Sayang perceraian Asti dan Satrio telah membuat pria yang merupakan kakak dari Almarhum Mbah Putri itu kecewa dan tak berdaya.


" Ayok, kamu aja, Bu! Yang bantu dampingi Asti. Kalau ada apa-apa. Nanti kita yang maju!" ujar Lek No menyuruh istrinya menemui wanita itu bersama Asti.


Diam- diam Lek No menghubungi Leon. Pria itu terpaksa pulang setelah mendengar ada mantan mertua Asti yang datang. Walaupun Leon yakin di rumah itu sudah ada banyak pria yang akan membela istrinya. Tetapi Asti lebih mudah dihancurkan mentalnya dengan kata-kata hinaan atau segala hal buruk yang menyangkut diri pribadinya.


" Tumben, Bu Widya. Ada angin apa sampai mau mampir ke rumah ini?" Sambut Bulek Ratih. Wanita itu sangat tidak suka dengan cara Satrio menyakiti Asti. Malah sekarang Ibu Widya mendampingi Zahra yang berpenampilan mirip perempuan "Nggak Benar itu ".


Asti terdiam. Tentu dengan gaji Satrio sebagai abdi negara, Zahra tidak dapat berfoya-foya seperti dulu lagi, semasa dia menjadi selingkuhan suaminya. Dulu segala barang mahal yang dibeli mantan suaminya itu karena transferan dari ibu sambungnya. Wanita itu sangat gesit menjalankan berbagai bisnis resto sampai membuka toko oleh-oleh di Purwokerto. Semuanya itu memberi kehidupan yang makmur bagi Pak Cahyadi. Walaupun dia dan Ibu Widya sudah pensiun sebagai ASN.


Mbak Ning dan Bu Jum secara kompak membawakan mereka minum, kue- kue basah dan buah. Kedua wanita itu menyajikannya secara sopan di meja rendah di ruang tamu yang berkesan minimalis.


" Silahkan, Bu, Mbak!" Ujar Asti masih sopan.


Tampaknya mata Bu Widya sangat awas saat mengamati gundukan di perut Asti yang tidak lagi rata. Sebab siang ini Asti masih memakai gaun gamis terusan berwarna merah maron. Gaun bagus berbahan halus itu dia pakai untuk menghormati kedatangan para ibu yang mengaji di rumahnya ini.


" Kamu hamil berapa bulan Asti?"


Tanpa sadar Asti mengusap perutnya. " Alhamdulillah, jalan 4 bulan, Bu ...."


" Iya, Bu Widya. Baru saja kami selesai menyelenggarakan pengajian untuk kehamilan Asti ini!" Terang Bulek Ratih.


Mereka terdiam lama. Asti yang sudah malas berbasa-basi tidak mengindahkan kehadiran Zahra. Toh, wanita itu tak merasa bersalah telah menjadi orang ketiga di rumah tangganya. Lihat saja, dia berdandan sangat menor, layaknya perempuan yang merasa bisa menggoda iman para lelaki lainnya.

__ADS_1


__ADS_2