
Bu Haji Anissa sudah mendapatkan berita tentang konveksi Ibu Tuti. Ternyata sudah lama wanita itu menderita sakit stroke. Jadi usaha itu sementara dipegang oleh menantu perempuannya, yaitu istri dari anak pertamanya. Namun pengalihan itu menimbulkan perpecahan di dalam keluarga mereka. Sebab anak yang lain juga ingin mendapatkan bagian dari usaha konveksi itu yang cukup besar pangsa pasarnya. Terutama masalah mendapat kemudahan dalam mendapatkan sumber keuangan.
Akhirnya Bu Shawa, sang menantu mengalah. Wanita itu kembali ke rumah orangtuanya bersama suami dan anaknya dan membuat usaha serupa. Sedangkan usaha Bu Tuti, dilanjutkan oleh anak- anak yang lain. Namun karena kurang berpengalaman, akhirnya banyak pelanggan yang komplain karena mutu jahitan sangat jelek dan dibawah standard.
" Besok Bu Shawa mau datang ke ruko ini. Kita buat perjanjian baru aja, Asti!"
" Apa nggak apa- apa, Bu. kita pindah ke konveksi lain?"
" Yah, gimana? Baju yang kita pesan nggak saja nggak sebagus yang dulu ..."
" Ya, sudah. Yah kurang bagus dan di bawah standar , biar Asti bayarin aja, Bu! Nggak usah dikembalikan ke Bu Tuti!"
Senyum Ibu Haji Anissa, terkembang sempurna. Dia selalu mengutamakan mutu dan harga yang sesuai. Sebab gaun- gaun itu dengan dibawa dan dipakai oleh pelanggan nya bepergian ke luar negeri.
"Eh, iya. Ini ada banyak yang seukuran dengan Asti, Bulek Ratih, dan Ninuk juga..."
Pesanan Bu Haji Anissa itu adalah gamis dan setelan wanita untuk pakaian berhaji atau ihram. Hampir semua berwarna putih, atau netral dan dengan model yang lebih longgar dan tertutup. Umumnya dibuat dari bahan katun terbaik yang mudah menyerap keringat.
Setelah dikumpulkan, ada satu kodi . Asti yang membayarnya untuk digunakan mereka bertiga, dia, Bulek Ratih dan Ninuk. Kebetulan ukuran tubuh mereka hampir sama, yaitu L.
Besoknya, Asti menemui Ibu Shawa di ruko Bu Haji Anissa. Mereka membuat kesepakatan baru. Sambil bercerita banyak tentang usaha konveksi milik mertuanya itu.
Ternyata menurut beliau, adik- adik iparnya itu, tidak membayar upah para penjahit dengan layak. Sehingga banyak pekerja yang pindah dan bekerja di konvensi lain, termasuk konveksi baru miliknya. Jadi sekarang konveksi ibu mertuanya mengunakan tenaga penjahit yang belum berpengalaman, dan mendapat upah yang minimum.
Tampaknya Ibu Shawa dan suaminya, berusaha mencari peluang dalam bisnis itu. Mereka cukup berpengalaman selama mengurus konveksi itu. Mereka segera memasarkan hasil produksi yang hampir sama, berupa baju gamis berbagai model dengan merk yang baru.
Asti dan Bu Haji mendapat harga khusus, sebab mereka adalah pelanggan potensial dari konveksi sebelumnya. Apalagi, mereka langsung membayar setelah barang dikirim. Tentu dengan catatan barang yang rusak boleh dikembalikan, atau ditukar.
Tiba- tiba saja, Mbak Ning sudah datang ke ruko ini. Wajahnya tampak sedikit cemas tetapi ragu- ragu. Sebab dia melihat majikannya sedang berbicara penting dengan Bu Haji Anissa dan satu orang ibu yang lain.
" Mbak Asti, dicariin ibu Heboh, lagi!"
Suara bisik- bisik Mbak Ning, mengejutkannya. Pantas Mbak Ning sampai mencari dirinya di ruko ini.
" Memang dia ada di mana, Mbak?"
" Di teras depan! Pintu rumah sudah kami tutup rapat. Mas Yanto sudah bersiaga di pagar depan."
" Ibu Heboh, ngomong apa?"
" Katanya, mau ngomong baik- baik, sama Mbak Asti!"
__ADS_1
Bu Haji Anissa dan sepasang suami istri yang menjaga tokonya itu jadi memandang mereka agak curiga. Sebab mereka berbicara pelan tetapi serius.
" Ibu- Ibu, Asti pamit dulu. Di rumah ada tamu! Assalamualaikum."
Segera Mbak Ning dan Asti berjalan keluar ruko. Mereka masuk ke rumah lewat pintu samping. Sebab di sana ada seorang pegawai Joko yang sedang membersihkan berbagai sayuran untuk campuran mie goreng dan nasi gorengnya.
" Sam, Mas Joko mana?"
"Lagi ambil pesanan di warung Pak Amri, Mbak!"
" Ya, Udah. Aku ke teras depan dulu!"
Benar saja, Ibu Corinne itu sudah menunggunya di teras depan. Hati Asti sudah berdebar tak karuan. Takut terjadi huru- harga lagi. Malas rasanya dia harus bertengkar dengan sesama perempuan, hanya karena seseorang lelaki. Siapkah Pak Leon Narendra Murti itu?
" Mbak Asti, maaf menganggu waktunya?"
Wajah Asti tercengang, tumben wanita itu mengenal bersopan- santun? Asti tersenyum sedikit, bimbang.
"Ada yang bisa saya, bantu. Bu? Kalau soal Pak Leon. Ibu bisa menemui beliau di rumah Pak RT saja!" ujarnya sarkas.
Wanita itu langsung memandang Asti kesal. Padahal dia mau bertukar informasi tentang si mantan. Namun, dia menyadari kalau Asti tidak nyaman dengan peristiwa yang ditimbulkan karena kehebohan yang kemarin.
" Hanya mau tanya tentang foto wanita berhijab itu bukan Mbak Asti, ya?"
"Maaf, Mbak. Saya masih menyimpan emosi dengan cara Leon yang menghilang begitu saja setelah menceraikan saya. Sampai ada yang memberitahu kalau dia mempunyai proyek di daerah ini."
Asti terdiam. Semakin berkurang rasa hormat kepada wanita ini, yang sangat tidak menghargai dirinya dan suaminya itu. Apalagi dia mendengar wanita ini yang berselingkuh. Ampun, deh!
" Apa tanah ini masih atas kepemilikan Pak Rahman Sodiq?"
"Bukan! Itu mantan suami Bude saya. , Mbah Kakung yang membeli tanah ini sebagai hadiah pernikahan untuk mereka. Karena rumah dan sawah di desa akan diberikan kepada ayah saya, sebagai warisan untuk anak laki-laki di dalam keluarga Winangun."
Ibu Corinne membuka hapenya sambil mencari sesuatu. " Apa ini Pak Rahman, mantan suami Budenya Mbak Asti?"
Asti tercengang saat Ibu Corinne menunjukkan foto Pak Rahman Sodiq dengan dua anak laki- laki yang sudah remaja dan istrinya keduanya yang masih kelihatan awet muda dan cantik.
" Iya, ini beliau. Apa Ibu kenal?"
" Yang saya tahu, Bapak ini sering menginap di rumah mertua , kalau datang ke Jakarta. Katanya dia harus rutin berobat di rumah sakit di Gatot Subroto, Jakarta."
" Pak Rahman sudah menikah lagi, setelah bercerai dengan Bude Saya. Sekarang beliau tinggal di Tangerang."
__ADS_1
" Benar! Rumah yang ditempati Pak Rahman itu seharusnya buat saya, tetapi Leon memberikan rumah itu kepada Pak Rahman dan sebagai gantinya lelaki itu memberikan lahan milik keluarganya di desa sana untuk proyek perumahan barunya itu!"
Asti hanya mampu memahami sedikit." Apa Bapaknya Pak Leon adalah atasan Pak Rahman Sodiq?"
" Betul, Pak Basuki Murti itu mantan mertua saya. Beliau seorang jenderal sebelum pensiun. Sedangkan istrinya mempunyai banyak usaha dari membuka kafe di beberapa kota sampai berbisnis kuliner."
Saat berbicara, wanita itu tampak bangga sekaligus muak. Ada rasa tak nyaman dari gerakan tubuhnya.
" Sejak kami menikah, keluarga besar Basuki Murti tidak terlalu menyukai keberadaan saya, yang menurutnya bukan standar menantu idaman. Sebab saya tidak sesuai dengan status sosial dan derajat mereka."
" Jadi saya ingin membuktikan kalau saya pun bisa lebih sukses dari mereka. Saya membangun usaha di bidang fashion dan aksesoris. Usaha itu semakin berkembang dalam dua tahun saja. Namun setahun yang lalu, tiba- tiba Leon mengajak saya pindah ke Semarang. Saya tolak! Sebab semua usaha saya berpusat di Jakarta dan Surabaya"
" Sampai Mbak Alya, kakaknya Leon memberikan foto- foto saya dengan seorang laki- laki saat kami bertemu di Singapura. Sejak itulah kami mulai sering bertengkar. Puncaknya, Leon menceraikan saya dengan tuduhan perselingkuhan."
" Apakah Ibu benar- benar berselingkuh ?" tanya Asti tak percaya.
" Iya, saya yang salah... Setidaknya, Leon mau mendengarkan penjelasan saya dulu. Bukan main talak saja! Saya mengira dia melakukan hal itu karena ada perempuan lain. Saya nggak terima dong! Kita menikah memang baru tiga tahun! Tetapi bertahun- tahun sebelumnya kami berpacaran saling mencintai dan memperjuangkan cinta ini, untuk mendapat restu orang tuanya."
" Apakah Ibu Corinne tahu? Satu hal yang menghancurkan dalam sebuah pernikahan, yaitu perselingkuhan!"
Wajah wanita cantik itu langsung pucat. Bibirnya bergetar, menahan tangis. "' Saya sadar, hubungan saya dengan Frans sudah terlalu jauh. Pria itu selalu buat saya. Setelah saya harus berjuang sendiri untuk menjadi layak dan pantas sebagai menantu di lingkungan keluarga besar Leon!"
"'Lalu untuk apa ibu mencari informasi tentang sang mantan?
Kalau pun ada perempuan lain, wajar dong! Sebab Ibu dan Pak Leon sudah bercerai! Pak Leon berhak hidup bahagia..."
" Saya juga mendengar Mbak Asti memilih bercerai ketika suami berselingkuh dengan wanita lain."
" Iya, saya merasakan sakit hati, karena dia tidak menjaga komitmen janji pernikahan. Bahkan sampai berselingkuh dengan perempuan lain. Kehadiran anak sayalah yang membuat saya tetap berpikiran waras, dan bekerja keras untuk memberikan kehidupan yang lebih baik."
Mbak Ning yang sedang membawa minuman agak kaget melihat si ibu heboh menangis terisak - Isak sambil duduk di bangkunya. Cepat - cepat wanita meletakkan dua cangkir teh, sepiring cemilan lalu kembali ke dapur.
" Maaf, agama Ibu apa?"
Dengan wajah penuh air mata dia menatap Asti agak kesal. " Saya muslim, Mbak!"
"Astagfirullah! Bertobatlah, Bu. Mohon ampun kepada Gusti Allah. Ibu berdosa besar sampai melakukan perzinahan. Sepanjang hidup, nggak akan mendapat berkah dan akan selalu mendapat kesialan!"
" Maaf," Ujar Asti lagi. " Bukan saya bermaksud menggurui! Ibu bertanyalah pada guru ngaji atau Ustadz, agar dibimbing dalam usaha untuk memperbaiki kesalahan yang telah Ibu buat."
Sungguh wanita zaman sekarang, sangat mudah terjebak dalam dosa! Sekali lagi Asti menatap wajah Cantik Ibu Corinne. Yang dalam segala hal mirip dengan tindakan yang pernah dilakukan Zahra kepadanya.
__ADS_1
Apakah inti wanita modern seperti ini? Tidak menghargai sebuah lembaga pernikahan, berhubungan dengan orang lain tanpa ikatan yang sah, dan menghalalkan segala cara untuk memuaskan ego dan nafsunya?