
Kedatangan Istri baru Leon dan keluarganya di rumah Pak Basuki H. Murti, telah didengar oleh kerabat dari keluarga besar dari kedua orang tua Leon. Berita itu segera menyebar di grup keluarga besar mereka. Sebab selama ini keluarga orang tua Leon masih sangat dihormati oleh para sanak saudara dari mereka dengan berbagai kepentingannya. Kebanyakan dari mereka masih berupaya menjadi bagian dari keluarga itu demi keuntungan diri pribadi... Karena nama ayah Leon dan kedua menantu lelakinya, masih mempunyai peranan penting di berbagai bisnis mereka.
Sebagian dari para kerabat itu berharap dapat ikut ambil bagian dalam perusahaan properti besar " Abadi Murti" yang terus berkembang pesat. Terutama dibawah kepimpinan Pak Pandu Abimanyu Rafif. Menantu dari anak perempuan pertama, Bapak Basuki H. Murti. Atau mereka masih dapat numpang nama besar Pak Murti, yang cukup dikenal di lapisan masyarakat tertentu.
Besok paginya, di rumah orang tua Leon itu, berdatangan satu persatu keluarga dari pihak Ibu Anggun atau dari famili Pak Murti. Padahal ayahnya Leon itu masih harus banyak beristirahat di kamarnya. Setelah pasca operasi jantungnya. Jadi beliau hanya berdiam di kamarnya setelah kunjungan dokter pribadinya pagi tadi
Jadilah Ibu Anggun tetap menerima kedatangan mereka dengan tangan terbuka. Meskipun para ART bertambah repot, karena harus menjamu mereka juga mengurus kedatangan tamu-tamu tak diundang itu. Mereka mau juga menerima bantuan dari Mbak Ning dan Bulek Ratih di dapur. Sementara Bu Jum mengasuh Akbar.
Siangnya, Leon malah membawa Istri dan anaknya ke rumah Mbak Mesya, kakak perempuannya. Keluarga mereka masih tinggal dalam satu kompleks perumahan yang sama di kawasan elite tersebut. Jadi tidak terlalu jauh jaraknya dari rumah orang tua mereka
Pria itu membawa motor matic milik salah satu penjaga rumah di kediaman orang tuanya. Mbak Mesya tentu dengan senang hati menerima kehadiran Leon, Asti dan Akbar.
Ternyata yang diceritakan oleh Bu Jum benar adanya... Rumah Mbak Mesya itu lebih besar, lebih mewah daripada rumah Pak Basuki Murti.
Rumah megah itu terdiri dari 3 lantai, dengan sebuah taman di rooftop di lantai dua bangunan modern itu. Sedangkan di taman belakang ada kolam renang, dengan kursi santai di sekelilingnya. Lengkap dengan tiga payung besar sebagai peneduh.
Karena siang ini, tidak sedingin kemarin. Leon mengajak keponakan perempuannya yang berumur 8 tahun itu berenang bersama Akbar. Seketika suara riuh terdengar di sana. Ada teriakan Akbar yang gembira juga suara anak perempuan itu berteriak menyoraki Om dan sepupu barunya itu.
Sementara Asti dan Mbak Mesya duduk santai di sisi kolam renang itu. Di meja itu sudah disediakan oleh ART minuman dingin, kue- kue dan satu kotak makanan yang jarang didapat di daerah Asti, pizza.
" Itu Hanum Clara Anindita, si bungsu! Dia kelas 2 SD dan bersekolah di daerah sini saja. Sedangkan kedua kakak laki-lakinya kami masukan ke pesantren di daerah Magelang. Maklum zaman sekarang, pergaulan para remaja sudah sangat mengkhawatirkan para orang tua. Jadi kami berfikir untuk memberikan mereka pendidikan agama sejak dini!"
" Alhamdulillah!" bisik Asti.
Mbak Mesya kembali tersenyum.
" Leon sengaja membawamu ke sini, pasti karena takut kamu tidak nyaman dengan kedatangan kerabat kami di rumah sana... Nggak semua semua kerabat kami itu bersikap baik dengan tulus. Apalagi para istrinya, suka nggak sinkron antara ucapan di depan dan di belakang kami!"
Asti mengangguk setuju. "'Biasa itu, Mbak. Diantara banyak saudara, pasti ada yang iri dengan keberhasilan keluarga Mbak Mesya!"
Wanita itu tersenyum," Coba kita rumahnya dekat, ya? Jadi kita bisa berbisnis bersama. Mama sudah fokus ngurus Papa sejak beliau sakit. Jadi beberapa usahaku dipercayakan dengan para manajer saja !"
__ADS_1
" Nggak apa-apa, Mbak. Bayar tenaga orang lain, hal itu lebih baik! Daripada memperkerjakan kerabat sendiri. Terkadang mereka malah tak bisa dipercaya. Kadang bertindak semaunya karena masih saudara..."
" Maaf, Mbak Mesya. Apa tahu, nama anak perempuan kecil yang ada di rombongan kerabat keluarga yang datang dari Solo. Waktu di acara pernikahan kami?"
"Oh, itu. Aurora namanya ... anaknya Widati. Anak kecil itu cucu dari adiknya Papa yang tinggal di Pekalongan... Ada apa dengan anak itu?"
" Dia memberi Akbar permen karet, sampai Akbar masuk rumah sakit, dan dirawat sehari semalam.."
" Lho, kok Leon nggak cerita? Memang Widati terlalu memanjakan anak itu, Sehingga tidak pernah dilarang apa pun. Hanum saja dilempar kepalanya oleh Aurora karena tidak boleh pinjam boneka Barbie miliknya. Dahi anakku itu sampai benjol. Eh, aku kasih tahu ke ibunya, perempuan itu hanya senyum saja. Nggak ada inisiatif darinya agar anaknya minta maaf."
Leon menyudahi acara berenangnya itu. Setelah tubuh Akbar yang basah kuyup dibawa Bu Jum ke kamar mandi untuk dibilas dan diberi baju ganti. Sedangkan anak yang bernama Hanum itu masih berenang dengan lincahnya seperti putri duyung.
" Yang, kamu yang nelpon Bu Jum tadi untuk kemari?"
Pertanyaan Leon itu mengalihkan perhatian Asti. Padahal dia dan kakaknya perempuannya itu sedang ngobrol dengan asyiknya.
" Apa sih, Mas? Mbak Mesya yang panggil, Bu Jum. Biar kami ngobrol dan lebih santai di sini..."
" Mas Leon, sopan sedikitlah. Ini ada Kakakmu! Mana nggak pake baju lagi..."
" Ambil handuk, Yang!" Panggil Leon lagi.
Mbak Mesya jadi tertawa karena ulah adiknya itu. Sampai Asti berani mengusir si pengganggu itu. Setelah mengulurkan sebuah handuk ke tangan suaminya.
"Sana , Mas! Mandi, ganti baju yang rapi. Nanti kalau masuk angin aku minta Mbak Ning yang yang kerokin kamu, mau?"
" Enggaklah, Yang!" Jawab Leon
cengengesan.
Leon segera beranjak menuju kamar mandi dengan shower, yang disediakan di dekat kolam renang sana. Hanum pun akhirnya ikut keluar juga dari kolam renang itu.
__ADS_1
Kini Akbar yang muncul. Bayi lucu itu sudah berganti pakaian yang bersih. Rambutnya tersisir rapi. Bayi itu hadir dengan semerbak harum minyak telon khas untuk bayi.
Anak itu berlari ke kursi Asti sambil minta dipangku. Akbar itu mau mencoba sedikit demi sedikit pizza yang Asti suap kan ke mulutnya. Dia meniru Hanum yang juga makan pizza yang dipesan oleh ibunya tadi lewat jasa kurir secara online.
" Mas Pandu masih mengawasi proyek yang di dekat rumahmu itu! Jadi tak banyak kerabat yang turut campur di sana! Sebab urusan uang pada proyek itu sangat besar. Kalau
mereka sih, hanya mau menikmati hasilnya saja. Tanpa perlu bersusah payah untuk bekerja!"
Ucapan Mbak Mesya membuat Asti tertegun tak percaya. " Benar itu, Mbak?"
"Benar! Berapa usaha dan proyek yang dipegang sepupu Mama, atau adik ipar Papa banyak yang Gatot, alias gagal total. Makanya, Mas Pandu langsung memegang pimpinan kantor yang di Semarang karena banyak proyek di Jawa Tengah ini, yang ditangani perusahaan Abadi Murti. Biar Alya dan suaminya tetap di Bandung dulu!"
Pantas, Leon sangat bersungguh-sungguh dalam mengawasi setiap bangunan yang berdiri di sana. Tentu menjaga nama baik perusahaan dan mengamankan modal besar yang tertanam di sana.
Mereka tak mampu menolak ajakannya Mbak Mesya untuk makan bersama di rumahnya itu. Apalagi seorang ART telah menyiapkan masakan spesial di siang itu yaitu Soto Kudus. Masakan itu berasal dari daerah kota yang berada di Utara Jawa Tengah.
Informasi tentang kesukaan Asti akan soto dibocorkan oleh Leon, kepada kakaknya. Setelah pria itu mulai mengamati kalau Asti sangat suka makanan berkuah itu bila diajak makan keluar rumah.
Bu Jum sangat tertarik dengan berbagai variasi masakan bernama soto. Karena hampir di setiap daerah di Pulau Jawa ini mempunyai kreasi masakan seperti ini. Namun dengan bumbu dan campuran isi soto yang berbeda-beda.
Sebagain besar masakan soto dari daerah Jawa Tengah selalu menggunakan tauge untuk isiannya.
Juga kuahnya bening berwarna sedikit coklat karena diberi kecap. Jadi rasanya agak manis.
Lainnya halnya soto Bandung, yang pernah Bu Jum nikmati pada jamuan di acara pernikahan anak kakaknya, yang tinggal di Cimahi belum lama ini. Soto daging itu menggunakan lobak untuk isiannya. Kadang lobak itu diiris tipis bulat, atau dipotong dadu. Tambahannya adalah kacang kedelai yang direbus baru digoreng.
Asti sesekali masak soto ala Jawa Timuran yang lebih kaya rasa dan bumbu. Biasanya soto itu tidak menggunakan tauge, tetapi irisan kol, bihun dan suwiran daging ayam.
Kuahnya pun berwarna kuning pekat dari tambahan bumbu bernama kunyit.
Biasanya kalau memasak soto dengan daging ayam, cocoknya memang dengan berkuah bening. Lainnya halnya untuk soto daging, biasa menggunakan santan untuk lebih meningkatkan rasa dari racikan soto itu.
__ADS_1
Mereka pamit setelah acara makan - makan selesai. Rencananya Leon akan kembali pulang besok sore. Setelah istirahat di rumah orangtuanya satu malam lagi. Asti dan kedua ART itu mulai merapikan pakaian dan bawaannya ke dalam koper dan tas- tas yang berjejer di luar kamar paviliun.