Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 211. Kesalahan Mbak Tia


__ADS_3

Asti sudah meminta izin kepada suaminya untuk memakai kartu kredit yang diberikan oleh suaminya itu. Namun jarang sekali dia gunakan. Tetapi Leon malah memberikan kartu kredit miliknya yang akan digunakan Asti untukmu membeli berbagai bahan makanan dan keperluan rumah tangganya selama menginap di sini.


" Pakai kartu kreditku saja! Kalau mau beli daster atau pakaian anak-anak, baru pakai kartu kreditmu Asti!" ujar Leon maklum.


Leon memeluk istrinya dengan lembut. Muji selalu menyampaikan apa pun yang selalu diributkan oleh Mbak Tia itu. Ternyata begitulah tingkah laku wanita muda yang dipercaya oleh ibunya itu. Dia sudah memanfaatkan kebaikan dan kelengahan ibunya untuk kepentingan dirinya sendiri


Sejak kemarin Leon sudah berhati-hati membicarakan hal ini kepada ibunya. Terutama soal dana keperluan rumah tangga yang selalu ditransfer ke rekening Mbak Tia yang jumlahnya sangat besar. Di luar rekening gaji yang diterima Mbak Tia setiap bulannya.


Dalam waktu empat bulan saja, Tia mampu mengubah kebiasaan orang-orang di rumahnya ini. Padahal dulunya, mau apa pun para supir, Art laki-laki dan petugas keamanan yang menjaga rumah ini selalu bebas. Apalagi soal makanan dan minuman yang selalu tersedia di dapur, hampir 24 jam. Karena mereka juga memperkerjakan 3 orang petugas keamanan orang yang bergiliran berjaga di rumahnya ini.


Mereka bisa minum kopi berapa gelas pun tidak di larang. Malah sekarang jatah ngopi hanya dua kali dalam satu hari. Yaitu pagi dan malam hari saja! Hal itu yang disampaikan Mbak Tia atas perintah Ibu Anggun.


Pikir mereka semua, karena Ibu Anggun sedang mengalami kesulitan dalam hal ekonomi. Sehingga banyak melakukan penghematan. Sebab biaya berobat Pak Murti ke dokter ahli jantung sangat mahal. Apalagi Dokter Budi Santoso selalu datang setiap pagi untuk mengecek kesehatan jantung beliau dalam dua bulan terakhir ini.


Soal makanan, Tia memaksa Mbak Siti membuat dua menu yang dibedakan untuk anggota keluarga dan para pekerja. Untuk menu pekerja diusahakan hanya ada lauk telur, tahu, tempe dan ikan saja! Sayurnya pun yang sehari - hari mudah didapat seperti sayur bayam, lodeh ataupun sayur gudeg.


Beruntungnya, Mbak Siti pintar masak jadi walaupun menu masakannya sederhana tetap enak dan lezat saat dinikmati oleh para pekerja di rumah itu... Para supir, petugas keamanan sampai dua ART laki -laki.


Ibu Anggun tertegun saat mendengar laporan yang disampaikan oleh Muji dan Mbak Siti, atas inisiatifnya Mas Leon. Tadi Leon meminta Mbak Tia berbelanja kebutuhan dapur dan sayur di pasar tradisional, diantar salah satu supir dengan mobil keluarga.


Ibu Anggun juga dapat melihat rekaman CCTV yang dapat dinyalakan kembali karena disengaja dimatikan oleh Mbak Tia.. Dengan alasan agar tidak boros dalam pemakaian listrik.. Terlihat betapa leluasanya wanita muda itu memasuki kamar tidur utama milik majikannya. Seakan-akan hal itu biasa dilakukannya. Bahkan tampak dia membawa sesuatu dari kamar itu seperti bungkusan atau wadah. Seharusnya tugas Mbak Tia menjaga keamanan di dalam rumah, saat ibu Anggun menjaga suaminya di rumah sakit.

__ADS_1


Lihatlah sekarang, wanita muda itu tampak sangat gelisah. Sejak kemarin, Ibu Anggun belum juga mentransfer uang kebutuhan rumah tangga yang biasanya diterimanya setiap akhir bulan.


Kemarin Leon sudah menguangkan sejumlah gaji berbentuk tunai, yang akan dibayarkan kepada supir, ART yang lain dan pekerja di rumah ini. Dengan catatan mereka tidak menyampaikan hal itu kepada Mbak Tia. Alias dirahasiakan.


Baru seminggu berada di rumah orang tuanya ini, Leon sudah mendengar segala tindakan kecurangan Mbak Tia dalam segala hal. Termasuk mengintimidasi ART lama sehingga mereka tidak betah dan memilih berhenti kerja pada majikan mereka, pasangan suami Istri Murti.


Padahal Mbok Kar saja sudah bekerja di keluarga Murti, sejak Leon sekolah di SD dan mereka menempati rumah dinas Pak Basuki Murti yang ada di Jakarta. Wanita itu yang itu mengurus semua keperluan Leon beserta kedua kakaknya, karena mereka tidak selalu bisa mengikuti setiap Pak Murti pindah bertugas dan ditempatkan di berbagai daerah di Indonesia.


Apalagi Leon yang terbiasa dimanja, dan mendapatkan segala kemudahan hidup di kota besar. Jadi dia tidak betah tinggal di daerah terpencil yang minim fasilitas hiburan dan keramaian. Sesekali dia datang ke daerah ayahnya bertugas di daerah dalam rangka liburan sekolah. Tetapi lebih suka menyelesaikan pendidikan di Ibu Kota Jakarta. Bahkan dapat melanjutkan pendidikannya di kampus luar negeri


" Kok kamu tahu tindakan Tia ini, Leon?"


" Ya, Allah... Maafkan Mama, Leon! Mama mengira selama ini keadaan baik-baik saja... Walaupun agak curiga mengapa para pembantu yang lama bergantian minta berhenti bekerja!"


" Sudahlah....Ma. Biar Leon yang mengatasi masalah ini. Nanti Dimas yang bantu semuanya..."


" Asti mau pulang pasti gara-gara Tia, kan? Sejak kemarin Mama lihat Tia ngomel melulu... Padahal biasanya dia begitu rajin menyelesaikan semua tugasnya!"


" Coba Mama periksa di kamar tidur utama... Apa ada barang berharga atau koleksi perhiasan Mama yang hilang? Bukan Leon mencari perkara, ini! Tetapi Mbak Tia akan lebih cepat ditangani polisi bila ada barang-barang hilang atau dicuri!"


Leon dan Dimas awalnya tidak curiga dengan segala perubahan yang cepat terjadi di rumah ini. Dulu ada banyak ART yang bekerja di rumah ini sejak lama. Tetapi para pekerja pria banyak memberi tahukan sifat Mbak Tia yang di luar perkiraan mereka. Saat itu Ibu Anggun lebih fokus menggurus suaminya yang kesehatannya mulai menurun.

__ADS_1


Dapur ramai karena ada Asti dibantu Bulek Ratih dan Mbak Siti yang sedang menyiapkan keperluan untuk sarapan bagi anggota keluarga di rumah ini. Lek No dan Joko berada di halaman samping menjaga Qani dan Akbar. Di sana ada kolam ikan dengan koi yang besar-besar. Sehingga Lek No dapat bersantai setelah berhari - hari sibuk mengurus hasil panen sawah dan kebun.


Suasana ruang makan jadi ramai. Ibu Anggun melayani sarapan untuk Pak Basuki yang dimasak secara khusus dengan banyak mengurangi lemak dan daging. Sementara Mbak Siti menyediakan sarapan nasi goreng komplit yang terhidang di atas meja.


Qani dan Akbar disiapkan bubur sumsum dengan kuah gula aren. Akbar makan dengan hati - hati karena sudah diajarkan Bulek Ratih untuk makan sendiri.


Setelah sarapan, Lek No membawa Pak Murti dengan kursi rodanya untuk berjemur di taman di halaman depan rumah. Kedua cucunya pun ikut serta. Qani dengan stroller yang didorong Bu Jum. Sementara Akbar dipangku Lek No saat mereka duduk di bangku taman.


Asti sudah meminta izin untuk kembali besok. Sebab ada laporan dari mini market yang belum masuk minggu ini. Tanpa mereka sadari ada Mbak Tia yang menguping pembicaraan mereka di ruang keluarga itu.


" Huh, ngaku punya usaha, sok kaya! Keluarganya aja semua bertampang ndeso, belagu! Nggak ada aura di wajah mereka kalau punya banyak duit....Apalagi wajah Mbak Asti melas kayak gitu... Ntar Pak Leon aku rebut, baru rasa!" ujar Mbak Tia ngedumel di ruang cuci.


" Tia! Kamu ngomong apa!" Tegur Mbak Siti kesal. "Awas kalo kamu punya niat macem-macem dengan keluarga ini! Dipanggil polisi dan dimasukin penjara baru tahu, kamu!"


" Kamu apa-apaan , sih. Mbak! Memangnya aku ngambil perhiasan ibu yang ada di laci meja riasnya? Main panggil Polisi!"


" Ya, aku mana tahu! Nanti kan ketahuan siapa yang berbuat curang dan menjadi maling di rumah ini. Soalnya Dimas sudah mengaktifkan kembali CCTV di seluruh ruangan ini... Sekarang Pak Sadli yang memantau dari pos depan!"


Wajah Tia memucat! Mendengar ucapan rekan kerjanya itu. CCTV yang sudah aktif kembali dan disebut tentang polisi yang akan dipanggil ke rumah ini!..


Tia menghentikan pekerjaannya yang sedang mencuci dengan mesin cuci. Terburu - buru masuk ke dalam kamarnya. Tanpa dia sadari, Muji segera mulai merekam kegiatan Mbak Tia itu dengan kameranya. Saking terburu-buru nya, pembantu rumah tangga itu sampai terlupa menutup pintu kamarnya dengan rapat.

__ADS_1


__ADS_2