
Mereka masih asyik ngobrol di restoran di bawah toko yang menjual berbagai oleh-oleh itu. Sebab keadaan di sana pun masih tetap ramai menjelang malam hari. Pak Yusuf meminta mereka untuk tetap melanjutkan acara wisata berikutnya setelah dari kota Malang atau Batu.
Pria itu sudah berlega hati melihat keponakannya hidup baik, sejahtera dan tampak bahagia... Walaupun dia menyakini kalau Pak Manaf ada hubungannya dibalik menghilangnya Emilia, sang adik. Sedangkan pria itu sendiri berkali - kali keluar masuk penjara, karena tindakan kejahatan yang sering dilakukannya. Tetap saja pihak dari keluarga isterinya itu selalu mengusahakan Pak Manaf agar dapat keluar dari kurungannya itu. Tentu dengan meminta bantuan beberapa pihak. Terutama orang- orang yang mempunyai hutang budi kepada keluarganya, terutama sang kakek sebagai tokoh masyarakat yang sangat disegani di daerahnya itu.
Sampai beberapa tahun kemudian, Tante Hera memberitahu, kalau Pak Manaf masuk penjara lagi. Pria itu dituduh membunuh lawannya dalam arena judi. Terdengar dari berita yang disajikan oleh - orang di kampung seberang kalau Pak Manaf mendapatkan tuntutan hukuman penjara yang cukup, hampir 15 tahun. Namun pria itu baru menyelesaikan hukuman 5 tahun masa tahanan di penjara, ketika pemilik usaha permainan judi itu, terlibat dalam perkelahian sesama tahanan di dalam sel penjara. Dia berkelahi dengan musuh lamanya yang juga dipenjarakan di sana
Pak Manaf dan musuhnya itu terlibat adu duel mati-matian dengan menggunakan tangan kosong. Sampai salah satu dari mereka tidak tertolong nyawanya, saat dilarikan ke rumah sakit. Sebab si korban mendapatkan luka yang parah di kepala dan dadanya akibat baku hantam tersebut.
Sejak itulah Tante Hera tidak lagi mendengar kabar apapun tentang Pak Manaf. Sebab istri dan anak-anaknya sudah lama dikucilkan oleh masyarakat setempat, juga oleh keluarga besarnya sendiri. Mereka semua jengah dengan lelaki yang itu , hanya membuat nama keluarganya menjadi lebih jelek dan terhina. Dengan semua tindakan kriminalitasnya. Padahal Pak Manaf kedudukan hanya seorang menantu, yang masuk dalam keluarga besar Rafli Amar Asegaf.
Tante Hera juga telah kembali ke kampung halaman sang suami di sebuah desa, yang masih berada di wilayah Kalimantan Selatan. Setelah suaminya pensiun dari dinasnya.Wanita Tua itu yang selalu berkirim kabar dengan Yusuf dan adiknya Rahardian.
Tempat perdagangan dan pemukiman itu sekarang sudah direvitalisasi oleh pemerintah daerah setempat. Sebab tempat itu kurang layak untuk dijadikan tempat tinggal bagi penduduk yang ada dari ibukota provinsi Kalimantan Selatan itu. Selain itu, tempatnya tidak tertata dan sangat kumuh. Pemukiman padat penduduk itu juga sering menjadi tempat persembunyian para penjahat. Dengan semakin tingginya tingkat kriminalitas di wilayah itu.
Sekarang lahan pertokoan itu sudah diubah menjadi bagian dari taman kota. Sedangkan tempat pemukiman penduduk yang pernah mengalami kebakaran sampai dua kali itu dibongkar... Jembatan di atas sungai itu diperbaiki, dan jalan itu mengalami pelebaran. Sekaligus nama kampung itu juga sudah lenyap, tak terdengar lagi gaungnya ... Tergerus oleh waktu dan arus pembangunan kota dan perubahan zaman.
Yusuf berusaha melanjutkan kehidupannya setelah kembali ke Surabaya. Walaupun tidak dapat lagi bekerja di perusahaan lamanya.. Karena terlalu lama izin pulang kampung. Namun membawa Ardi, adik bungsunya ke Ibukota Jawa Timur itu seperti mukjizat. Sebab adiknya diberi kesembuhan.
Banyak kerabat dan orang lain yang baik hati selalu mengulurkan tangan kepada kakak - adik untuk memberikan bantuan. Terutama dari pihak keluarga di kampung halamannya untuk membiayai pengobatan Ardi yang terus menjalani terapinya sampai bisa berjalan kembali.
" Saya juga mendengar kalau Pak Kushari menikahi Bude Ayu!" ucap Yusuf.
__ADS_1
" Pria itu pandai memanfaatkan situasi dan kebaikan Pak Harjo Winangun... Dia menikahi Ayu Sulaksmi agar bisa dipilih lagi menjadi kepala desa... Padahal warga desa Sendang Waru sudah jengah dengan kelakuan anak - anaknya yang selalu saja membuat masalah dan keonaran di mana - mana!" Ucap Lek No buka suara.
" Kami tetap mengasuh Asti dan tinggal di rumah Joglo... Bude Ayu juga tidak nyaman dengan statusnya sebagai istri ketiga Pak Kushari itu. Mereka juga menikah hanya secara agama ... Waktu itu Bude Ayu tak mampu menolak titah ayahnya, untuk menikah lagi. Hampir 7 tahun Bude Ayu menjanda, setelah bercerai dari suami pertamanya..."
" Apa Bude Ayu merasakan kalau pria itu bukan pria baik-baik?" tanya Pak Yusuf.
" Iya, setelah pria itu mengantar mereka ke Surabaya untuk mencari Pak Yusuf dan Nak Ardi." Ucap Lek No berusaha meyakinkan mereka ... " Padahal Pak Imam baru pulang nggak sampai seminggu dari Surabaya. Dia menceritakan keberadaan kalian di sana ...Malah kalian sudah nggak ada di sana... Mereka mencari dan bertanya-tanya kepada beberapa orang yang ada di tempat itu .. Tetapi hampir semua orang tidak mengetahui keberadaan Pak Yusuf itu ...Hanya ada seorang wanita yang berjualan nasi di tempat itu, yang sempat memberi tahu, kalau adiknya Pak Yusuf itu tinggal di pesantren... Tetapi wanita itu ketakutan ketika didatangi seorang kepala preman di depan mal itu. Jadi tak bisa bercerita banyak!"
" Iya, saya menitipkan toko itu kepada teman baik saya, yang orang asli Surabaya ... Pokoknya saya selalu dibantu banyak orang-orang yang baik! Terutama menghindari Juwono bersaudara itu yang menjadikan kami seperti musuh besarnya saja!"
" Apa ada yang tahu, kemana gadis - gadis di daerahmu itu merantau atau mencari pekerjaan?" tanya Pak Muin lagi.
" Kebanyakan dari mereka bermimpi bisa bekerja di Malaysia...Sebab upah untuk bekerja di pabrik dan berbagai tempat usaha di negara itu sangat besar ... Tetapi mereka harus mempunyai data diri yang lengkap kalau tidak mau ditangkap sebagai pendatang ilegal!"
Yusuf termenung. " Mungkin! Apalagi semua surat-surat penting itu tertinggal di dalam tas besarnya...Apa para orang jahat itu sengaja melakukan hal itu untuk membalas dendam. Sebab Emilia tidak bisa kemana-mana di negara itu tanpa dokumen yang lengkap, juga...."
Mereka sama - sama terdiam dan berpikir panjang. " Mengapa Pakde Muin bisa mengatakan itu?" tanya Pak Yusuf mau tahu.
" Sebab Asti pernah bermimpi bertemu ibunya, saat dia dalam keadaan tak sadar setelah mendapatkan tindakan medis. Asti mengalami sedikit masalah setelah melahirkan anak pertamanya. Sepertinya Emilia yang dilihat Asti masih hidup... Karena dia tidak mau bergabung dengan Bagas suaminya, Pak Harjo Winangun dan Bude Ayu. Mereka semua sudah meninggal kan? Sepertinya Asti melihat wajah ibunya itu terlihat sangat menderita dan putus asa. Adakah seseorang yang berbuat jahat kepadanya, sehingga dia harus terpisah dari bayi dan keluarganya?"
" Apa Sandia Kabat juga ikut berperan di sana? Padahal lelaki itu juga sudah menikah dan punya anak banyak! Dulu dia yang ngotot melamar Emilia! Hanya Ayah yang menolak karena waktu itu Emilia masih sangat muda dan baru lulus SMP. Sampai Emilia dikirim ke kerabat Ibu Syarifah yang sudah lama menetap di Yogyakarta. Di sanalah Emilia bersekolah sampai lulus SMA dan bertemu dengan Bagas, ayahnya Asti!"
__ADS_1
Mereka sama-sama terdiam lagi. Sungguh sulit memperkirakan apa yang sedang terjadi saat itu pada diri Emilia. Sampai dia nekat pergi tanpa pamit dan tak kembali ke Jawa?
" Ayok, kita masuk kamar masing-masing untuk istirahat. Besok kita rencanakan untuk berwisata. Semua harus istirahat!" Pinta Pakde Muin.
***
Pagi harinya mereka sarapan di restoran itu dengan menu yang lebih sederhana. Ada yang makan nasi goreng, bubur ayam ataupun hanya minum kopi saja!
Anak-anak bersemangat ketika mereka akan berkunjung ke Jatim Park 2 untuk melihat meseum Satwa dan kebun binatangnya juga. Hafiz sudah akrab dengan Akbar. Mereka dijaga oleh ketiga ART yaitu Bu Jum, Putri dan Mbak Ning!
Para kaum muda beristirahat di belakang resto sambil menikmati beberapa gorengan yang dijajakan para pedagang keliling.
Asti bersama Ninuk , Bulek Ratih dan Bu Sarah selesai merapikan barang-barang di kamar masing-masing. Mereka nanti akan beristirahat dulu di penginapan dan berencana jalan pukul 21.00 malam untuk ke Gunung Bromo. Om Ardi berencana akan ikut ke rumah Asti di Desa Sidodadi. Sementara Pak Yusuf akan kembali ke Surabaya. Ada kesepakatan kalau mereka akan bertemu lagi di Surabaya nanti, sambil mengantar Om Ardi pulang ke rumahnya.
Tampaknya Ardi sudah terbiasa mempercayakan semua usahanya itu kepada teman dan rekan usahanya itu.Mereka membangun usaha itu dengan kepercayaan selama bertahun- tahun. Justru keadaan Ard, menurut para anak buahnya dianggap sebagai berkah. Sebab semua perhitungan soal urusan bisnisnya selalu tepat! Berbagai usaha mereka semakin maju dan terus berkembang.
Apalagi Ardi adalah sosok bos yang sangat perhatian kepada anak buahnya. Bahkan menjadikan para pegawainya itu sebagai bagian dari keluarganya. Jadi dia tidak khawatir kalau akan ditinggal seminggu untuk mengunjungi desa tempat Asti dilahirkan dan tempat keluarga dari almarhum suami kakaknya itu berada.
Leon kali ini ikut dalam kunjungan ke Jatim Park 2. Sebab Qani menjerit-jerit senang ketika melihat gedung - gedung tinggi dengan banyaknya patung gajah beraneka rupa di halaman gedung di mesum Satwa.
Maklum saja, sejak kelahiran bayi itu, Asti sudah jarang pergi ke mana-mana. Selain lebih repot karena harus membawa dua balita kalau bepergian kemana pun. Asti pun mulai sering sakit-sakitan.
__ADS_1
Sekarang dia bertekad untuk hidup lebih baik dan lebih sehat lagi. Yaitu untuk dapat terus menjaga dan merawat anak-anaknya sampai mereka dewasa dan mandiri. Leon dan Asti pun bertekad untuk memberi mereka pendidikan yang terbaik. Tidak hanya pendidikan di sekolah formal setinggi-tingginya. Anak- anaknya itu juga akan diajarkan agama, akhlak dan Budi pekerti. Agar mereka kelak menjadi manusia muda yang berbudi, mandiri dan berguna di masyarakat.