
Semakin siang, tamu yang berdatangan ke rumah Asti semakin banyak. Terutama para tetangga yang datang dari desa Sendang Mulyo, keluarga besar Pak Sanjaya dan kerabat Bulek Ratih yang tinggal di sebuah desa di belakang pasar kecamatan.
Bulek Ratih menyambut kerabatnya itu dengan penuh kebahagiaan. Sampai mereka pun ditemani Bulek Ratih untuk mencoba berbagai makanan yang disediakan.
" Mantumu seng ganteng itu, Yu? " tanya seorang kerabatnya.
Sementara pria yang tunjuk oleh kerabatnya itu sedang duduk di pojok dekat dekat pintu masuk rumah samping. Pak Leon tidak sendirian di sana ada Joko dan Pak Harry yang menemani. Mereka ngobrol sangat baik akrab dengan suara pelan.
Tak lama, Bulek Ratih menarik tangan Pak Leon untuk dikenalkan kepada kerabatnya. Pria itu tersipu-sipu saat dipuji ketampanan oleh beberapa ibu- ibu. Meskipun m menurut Leon sudah cukup berumur! Maklum orang desa, kalau ngomong polos dan apa adanya.
" Kok, milih Asti yang janda, Nak? Saya juga punya anak gadis yang cantik dan berpendidikan tinggi. Mungkin cocok dengan reputasi dan kedudukan Nak Leon..."
Wajah Leon agak memerah. " Saya juga seorang duda, Bu! Mungkin jodoh saya dengan Asti. Kan, cocok tuh. Janda dengan duda!"
Mulut wanita paruh baya itu terdiam. Bulek Ratih membiarkan saja, tetapi tersenyum masam. Karena dia cukup mengenal anak sulung dari Mbah Suwiryo, adik neneknya.
Mereka sekeluarga merasa lebih tinggi derajatnya dari kerabat yang lain, karena hidup berkecukupan di desa itu. Sehingga kalau berbicara sering semena- mena kepada orang lain. Hanya wanita tak berani menentang keluarga Lek No dan Asti yang menyandang nama Winangun. Karena dia tahu kalau warisan Winangun akan selalu membuat hidup Bulek Ratih dan anak - anaknya selalu hidup berkecukupan.
" Itu saudaranya, Ibu Ratih?"
"Iya. Begitulah Nak Leon... Kita harus pandai -pandai saja bersikap. Maklum masih berkerabat, kalau dia tidak diundang. Nanti malah timbul masalah yang lain," jawab Bu Ratih sabar.
" Nggak apa-apa, Bu! Mulut dan bicaranya sangat ajaib... Padahal sudah berumur!"
" Asti, mana, ya. Bu?" tanya Leon hati- hati.
" Sepertinya masih mendampingi ibu Bos memilih makanan yang ada di gubuk sana!"
Dari tenda samping terdengar tawa Akbar dan kedua putra kembar Ibu Anggita yang berlarian ke sana- kesini. Sebab di samping rumah Bu RT masih ada sisa lahan yang biasanya digunakan oleh para remaja bermain bulu tangkis.
Bu Jum terus mengawasi mereka bermain. Di sana Juga Eyang Uti yang menikmati segelas dawet hijau yang manis dengan es batu yang terasa menyegarkan.
" Ibu sudah lama mengasuh Akbar?" tanya Eyang Uti.
" Sejak Mbak Asti pindah ke rumah ini, Bu. Sebab Mbak Asti harus sering keluar rumah mengurus berbagai surat juga berjualan lagi di pasar.... Jadi Akbar harus berada di rumah karena masih bayi!"
" Dulu saya yang mengurus Akbar saat dia baru berumur sebulan. Saya juga baru tahu, kalau perempuan muda yang dibawa Pak Satrio menginap di rumahnya itu adalah Zahra, selingkuhannya..."
__ADS_1
Ucapan Mbok Bayah itu membuat kedua wanita itu kaget. " Jadi Zahra sudah senekat itu untuk menghancurkan rumah tangga orang lain, juga menyakiti Asti?" Kata Eyang Uti sambil berpikir keras.
" Apa sekarang kesulitan yang dialami mereka adalah hasil karma karena kejahatannya itu , ya?" Ujarnya lagi.
" Saya sudah berusaha menolong Mbak Asti, Bu. Tetapi menurut Pak Ustadz, lebih baik Mbak Asti yang mengalah dan keluar dari rumah itu. Sebab taruhannya adalah kewarasan jiwa dan nyawa Mbak Asti sendiri ..."
" Maksud Mbok Bayah, ada yang mengirim santet ?"
" Banyak, Bu... Kata pak ustadz, yang ngirim itu ada yang punya dendam lama, ada merasa iri. Nah, yang muda ini diberi warisan dari neneknya untuk mengikat pria yang diinginkannya, tak peduli kalau statusnya masih suami orang!"
Bu Jum jadi merinding juga. Sebab dia melihat sendiri saat Mbok Bayah membawa seorang ustaz muda datang ke rumah Asti, pada saat itu sudah agak malam. Pria itu berusaha memberi keyakinan untuk Asti agar lebih memperkuat ibadahnya. Karena hanya dengan pasrah dan berserah diri, juga memohon pertolongan kepada Allah, niscaya hidup kita selalu diberi perlindungan. Ternyata kiriman sihir yang dilakukan oleh orang yang iri dan dendam demikian hebatnya daya hancurnya. Pernikahan Mbak Asti yang kandas.
Akbar tampak senang bermain dengan kedua anak Ibu Anggita. Mbok Bayah membantu Eyang Uti menyuapi si kembar yang makan lahap dengan lauk yang disajikan di meja prasmanan.
" Pak Leon yang punya proyek pembangunan perumahan itu, kan?" tanya Eyang Uti lagi.
" Iya, Bu. Di rumah Bu RT inilah Pak Leon tinggal Kost dengan asistennya. Sepertinya sudah banyak rumah yang dipesan, karena proyek itu setiap hari terus dikerjakan!"
" Apa Jauh dari tempatnya ini, Bu?"
Tamu- tamu dari rombongan Ibu Anggita sudah mulai pamit pulang. Eyang Uti mengajak si kembar bersiap - siap. Lucunya salah satu dari anak kembar Itu mengandeng Akbar. Eh, si bayi itu pun menurut saat akan dibawa ke sebuah mobil, yang diparkir di seberang halaman tempat mereka bermain.
Tentu saja Bu Jum tertawa. Mereka sama- sama cocok saat bermain bersama tadi. Saling menjaga dan menyayangi.
" Adek Akbar dibawa pulang, ya. Bu?" tanya si kembar yang lain, kepada Ibu Anggita.
Asti tertawa geli. Sebab dari Akbar masih bayi, si kembar itu yang sudah akrab dan ikut menjemurnya.
"Hey, ini anak, Om! Jangan dibawa, dong, " ledek Leon. Sambil meraih Akbar dan menggendongnya.
Wajah si kembar mulai tidak sedap karena ngambek. Eyang Uti tetap menyuruhnya mereka masuk ke dalam mobil. Bayi itu berkali- kali melihat si kembar karena kehilangan teman bermainnya. Mau ikut, tetapi dia sangat nyaman dalam gendongan Pak Leon.
" Semoga pernikahan kalian langgeng, selalu diberi keberkahan dan awet sampai kakek nenek!"
Begitulah ucapan yang diberikan oleh para tamu terhormat itu kepada pasangan itu. Termasuk Ibu Safitri dan menantunya. Mereka dikawal oleh dua ajudan sang suami, dengan mobil berjenis niaga yang tampak baru.
Tadi Ninuk telah menyerahkan sovenir untuk para tamu itu. Mereka juga sangat senang dengan hadiah kenang- kenangan itu. Walaupun acara itu seperti acara syukuran biasa, namun Asti mengaturnya agar tamu menikmati acara itu dan berkesan.
__ADS_1
Akbar kembali tertidur di pelukan Pak Leon. Namun, segera diberikan nya kepada Bu Jum untuk ditidurkan di salah satu kamar di lantai atas. Tadi Akbar juga sudah mengantuk, tetapi tetap dipaksakan bermain dengan si kembar.
Leon dan Asti terus menyalami beberapa tamu yang datang dan juga yang pamit pulang. Para tetangga cukup puas, karena mereka juga melihat para tamu menikmati semua makanan yang disajikan.
Kembali Pak Leon berkumpul dengan keluarganya di ruang tengah. Namun ada ibu yang Izin menumpang untuk menidurkan anak mereka sebentar di lantai atas. Joko sudah menggelar karpet dan kasur di lantai atas juga dilengkapi bantal dan kipas angin yang terus menyala.
Kamar Asti dikunci oleh Bulek Ratih dan kuncinya dipeganginya, semua atas saran Mbak Mesya. Kamar kosong di sebelahnya dipenuhi dengan tumpukan kado dan sebuah kotak besar dipenuhi amplop sumbangan.
Ibu Anggun dan keluarganya kembali ke paviliun Bu Ani untuk beristirahat. Beberapa gubuk makanan mulai dirapikan oleh pekerja katering. Sementara makanan utama ditambahkan lagi wadah - wadah.
Lek No meminta para tetangga yang ada untuk makan lagi sebagai acara penutup. Dari orang tua sampai anak- anak mulai antri mengambil piring dan sendok. Semua hidangan yang dipesan Asti melimpah ruah. Bahkan ada makanan tambahan yang tersisa di boks plastik yang dibawa masuk ke dalam rumah. Itu jatah tuan rumah.
Suasana sore itu tambah ramai. Ada beberapa anak muda membawa gitar dan alat pengeras suara. Mereka bernyanyi dengan iringan gitar. Beberapa anak laki-laki ikut berjoget. Pak RT tertawa gembira. Segala kelelahan setelah acara ini menjadi sirna.
Asti sudah sholat Ashar dan berganti pakaian. Walaupun bukan baju penganten umumnya, namun berkebaya dan kain batik panjang , ditambah wajahnya yang mengunakan make up seharian, sangat tidak nyaman. Tubuhnya teras panas dan gerah.
Tanpa sadar matanya melihat sebuah koper hitam besar. Koper itu tampak bagus dan mahal. Mungkin ini koper milik Pak Leon. Belum sempat Asti merapikan kamarnya, terdengar suara ketukan di pintu kamarnya.
" Yang, aku numpang tidur sebentar, ya? Semalam diajak Pak Cakra diskusi. Malah nggak bisa tidur sampai pagi!" ujar Pak Leon yang sudah tampak kelelahan.
Tak lama Pak Leon mulai membaringkan tubuhnya di sana. Sebelumnya dia mengambil ganti dari koper hitam itu. Hati- hati Asti keluar dari kamar dan menutup pintu.
Pihak katering sudah mengemas beberapa barang dari meja besar. Tumpukan piring-piring, sendok dan gelas sudah diangkut ke mobil boks yang parkir di dekat warung tenda.
Sementara para tamu juga sudah mulai pamit pulang. Joko membantu Izzah dan Ninuk untuk menggotong dua kardus suvenir yang masih tersisa ke dalam rumah.
Di meja makan bersusun wadah berisi makanan. Bu Jum dan Mbak Ning yang menempatkan makanan itu atas saran dari Mbak Dewi Rini. Sang manajer katering. Wanita itu menyalami Asti dan pamit setelah semua barang- barang sudah masuk ke mobil boks kedua.
" Terima kasih, Bu Dewi. Salam buat Pak Tanto dan istri..." Ucap Asti. Suami istri itulah adalah pemilik usaha katering itu.
Lek No ikut mengawasi pembersihan yang dilakukan Pak Rob dan dua anak muda lainnya. Sepertinya acara syukuran pernikahan Asti menjadi acara milik bersama. Para tetangga ikut bergotong- royong merapikan barang- barang.
Beberapa Ibu - ibu sangat senang saat menerima bungkusan plastik yang berisi nasi, sayur, lauk juga kue- kue. Bulek Ratih dan kedua asistennya, yang dengan cepat membungkus makanan itu.
Kue- kue ditumpuk di kotak tertutup untuk pekerja yang akan mengambil peralatan pesta dan menurunkan tenda.
Asti dibantu Bu RT dan ibu lainnya mulai memasukkan makanan yang masih tersedia itu ke dalam wadah stereo foam. Makanan itu akan dibagikan kepada orang- orang yang ada di pinggir jalan sana... Dari tukang ojek, penjual yang mendorong gerobak sampai beberapa tukang becak yang mangkal di sebuah pohon besar di seberang ruko.
__ADS_1