
Menjelang pertengahan Bulan November hujan mulai sering turun di daerah Ini. Lek No menjadi sibuk dengan urusan sawahnya, sehingga jarang datang ke rumah Asti. Sebab di sawah cukup tersedia air, dan harus dijaga dengan baik.
Sesekali Bulek Ratih yang mampir ke rumah Asti karena ikut mobil Joko. Biasanya wanita itu kangen dengan si cucu, Akbar. Namun Ibunya Joko menolak untuk diminta menginap oleh Asti. Karena di rumah sedang banyak pekerjaan , dengan berbagai persiapan. Padahal Bulek Ratih sudah dapat bantu dua orang saudaranya yang ikut menumpang di rumahnya itu.
Sampai hari, di awal Bulan Desember, Asti agak di kejutkan dengan postingan ucapan dukacita, untuk keluarga Bapak Suparlan. Dari seorang ibu yang merupakan anggota dari sebuah group WA , yang adminnya itu telah memasukan nama Asti sebagai bagian dari pertemanan mereka.
Bukankah nama Pak Suparlan itu mengingatkan Asti pada sepak terjang istrinya, Jeng Inneke? Iseng Asti mencoba menghubungi Ibu Anggita lewat WA. Sekedar mencari tahu untuk mendapatkan fakta dan berita yang lebih nyata.
Ternyata berita itu benar adanya! Ibu Anggita sekilas memberitahu, kalau kecelakaan itu terjadi pada Jum'at malam, di sebuah jalan jalur Selatan, di daerah Cilacap.
Keluarga Pak Suparlan pergi bersama seluruh anggota keluarga untuk menghadiri pernikahan adik bungsunya, sekaligus pulang kampung. Rencananya Pesta pernikahan itu akan dilaksanakan pada Minggu paginya.
Berita itu semakin simpang- siur. Karena terkendala jarak. Sampai Ibu Anggita mendapat berita yang paling tepat, dari anak buah suaminya yang langsung memantau ke daerah itu.
Mobil yang Pak Suparlan kendarai menabrak pembatas jalan dan masuk jurang. Karena dikendarai dengan kecepatan tinggi, sekaligus menghindari tabrakan dari kendaraan lain yang datang dari arah berlawanan.
Semua penumpang di dalam mobil itu mengalami luka parah. Mereka dirujuk ke rumah sakit terdekat. Sampai Ibu Anggita mendapat kabar terbaru, kalau anak perempuan yang paling besar sudah meninggal dunia di tempat kejadian akibat luka parah setelah kepalanya terhantam sangat kuat.
" Innalilahi wa innailaihi Raji'un" Hanya kata- kata itu yang dapat Asti sampaikan. Dia terduduk lemas. Berita kecelakaan itu akhirnya muncul pada berita di Sabtu siang, di sebuah stasiun televisi swasta.
" Nuk, kamu sudah dengar kecelakaan mobil yang menimpa keluarga Bu Inneke, belum?"
Saat itu, Ninuk yang sudah sampai di kamar kostnya. Dia agak terkejut.
"Masa Ibu Inneke yang itu, Mbak? Tetangga kita yang cantik, sopan dan tidak sombong itu... "
Asti mencoba memberi pengertian kepada Ninuk agar jangan mengungkit keburukan tetangganya dulu itu. Sedangkan yang bersangkutan sedang mengalami musibah. Apalagi ada Akbar yang tertarik dengan hape yang dipakai oleh ibunya Bayi mulai bergerak mendekat Asti dan mencoba mengetahui siapa lawan bicara ibunya itu.
" Dedek Akbar, Tante Ninuk jadi Tante julit , Dek!"
Akbar hanya teriak - teriak saja saat Asti mendekatkan hape ya di telinga anak itu.
__ADS_1
" Tante kapan ke rumah? Akbar kangen!" ujar Asti mengeja ucapan itu agar diterima dan dikuti Akbar. Ninuk tertawa geli mendengar bahasa planet yang diucapkan Akbar. Bayi itu berusaha berbicara dengannya
" Mbak Sabtu depan aku sudah balik. Pas Ujian semesteran sudah selesai semua."
" Ya, sudah. Kamu nanti hati- hati kalau pulang naik motor. Nanti!"
" Iya, Mbak. Salam buat semua..."
Bu Jum yang sedang menyiapkan susu untuk Akbar di botolnya, agak tertegun mendengar suara percakapan antara Mbak Asti dan Ninuk.
" Ada berita duka lagi, Mbak?"
" Belum tahu, Bu Jum. Ini tetangga di rumah dinas dulu. Satu keluarga mengalami kecelakaan di Cilacap!"
Bu Jum segera menyebut nama Allah. " Tadi saya juga sempat dengar berita yang Mbak Asti tonton. Yah, Cuma sekilas menyebut asal kotanya saja!"
Baru dua hari kemudian, ada perkembangan terbaru. Pak Suparlan juga meninggal dunia karena mengalami komplikasi saat akan dioperasi. Ibu Suparlan juga mengalami patah kaki dan harus disambung dengan pen. Sedangkan kedua anaknya masih menjalani perawatan intensif karena mengalami luka parah dan masih mendapat perawatan.
Di perumahan dinas itu, Mbok Bayah menyambangi rumah Ibu Anggita. Tanpa sadar saat melewati rumah dinas Satrio dan rumah Pak Suparlan, wanita tua merasa tidak nyaman dan ada rasa takut. Tiba- tiba saja buluk kuduknya merinding tanpa ada penyebabnya.
Di rumah itu, Ibu Anggita hanya ngobrol berdua saja dengan ibunya tentang perbuatan Jeng Inneke terhadap Asti. Takut kalau pembicaraan itu didengar oleh orang lain karena akan menimbulkan fitnah.
" Apa itu azab buat Ibu Suparlan karena menghancurkan pernikahan Asti, Ma?"
Si Eyang Putri terdiam. Dia kurang yakin dengan hal itu. Dua bulan yang lalu juga, Zahra juga sudah menghilang dari rumah dinas Satrio. Sampai Mbok Bayah memberi tahu, kalau Zahra memilih melahirkan bayinya di rumah orangtuanya di Wates.
" Rumah Satrio kok jadi serem ya, Bu!" ujar Mbok Bayah. " Saya Jadi takut saat lewat di depannya. Merinding nggak jelas, begitu."
" Masa sih, Mbok? Siang- siang begini, bisa melihat yang aneh- aneh!" Ledek Ibu Anggita.
" Pantas, Pak Sayur pun tidak berani mangkal lagi di dekat rumah Pak Satrio lagi, ya?" Sambung Eyang Uti.
__ADS_1
" O, begitu, Eyang Uti? Ibu- ibu di sana pun sudah jarang nongkrong di dekat rumah itu lagi. Katanya seperti ada yang mengawasi. Huh!" Seru Mbok Bayah lagi.
Jenazah Pak Supardi dan anak perempuannya langsung disemayamkan di rumah orang tua Pak Suparlan. Sedangkan Bu Suparlan dan dua anak yang lain masih terbaring di rumah sakit.
Asti jadi mau tahu kelanjutan dari peristiwa itu. Namun Ibu Anggita tak memperoleh berita lainnya. Hanya dari pihak keluarga Pak Suparlan mengupayakan kedua anggota mereka dapat dikuburkan di lahan pemakaman milik keluarga di daerah Cilacap tersebut.
" Mau menengok Ibu Suparlan di rumah sakit, Mbak Asti?"
" Dirawat di mana, Bu?"
" Di Cilacap, Mbak?" Kata Ibu Anggita meledeknya.
" Waduh, sudah jauh tempatnya, belum lagi penerimaan Jeng Inneke, nanti! Dipikirkannya saya datang hanya untuk melihat penderitaan dan duka cita yang sedang dihadapinya itu. Terima kasih, Bu Anggita. Bantu kirim doa saja, ya!"
Wanita itu hanya tertawa. Dia juga faham. Segala hal tentang Asti sudah membuat Istri Pak Suparlan itu langsung berpikiran negatif. Padahal Asti itu wanita muda yang sabar dan santun.
Sampai pembicaraan mereka menyangkut soal uang bulanan Untuk Akbar. Kata Ibu Imelda, Satrio sudah dua bulan terakhir ini tidak lagi mengirimkan uang nafkah untuk anak yang tidak diakuinya itu.
Asti meminta agar Ibu Anggita dapat mempergunakan uang nafkah Akbar itu untuk membantu anak- anak yatim yang selalu menjadi sasaran kegiatan organisasi para istri abdi negara itu.
"Uang itu mau kamu sumbangkan semua Asti? Benar ini?" tanya Ibu Anggita tidak percaya.
" Iya, Bu. Tolong atur juga agar ada uang duka buat keluarga Ibu Suparlan!"
" Asti, pikiran dulu. Itu haknya Akbar, Lho?"
" Hak yang diminta dengan paksa oleh Ibu Imelda. Saya sudah tidak peduli dengan Satrio dan istri barunya itu, Bu!"
Akhirnya terjadilah kesepakatan antara Ibu Anggita dan Ibu Imelda, juga Asti. Sebab uang itu segera ditransfer, dengan nilai yang cukup besar hampir sepuluh juta rupiah. Di rekening Ibu Imelda masih ada yang tersisa lebih dari tiga juta rupiah. Asti mempersilakan, Ibu Imelda mempergunakan untuk dirinya maupun orang- orang di kantornya. Sebab wanita itu yang dulu dengan sangat gigih memperjuangkan haknya di pengadilan agama untuk mendapatkan uang nafkah untuk anaknya.
Padahal, Asti hanya menuntut hak asuh anak saja! Siapa mau menerima uang bulanan, kalau sebenarnya Satrio tidak ikhlas memberikan untuknya. Pria itu selalu menghina Asti di belakangnya dan menyumpahi segala jati diri Asti.
__ADS_1