
Semua orang sekarang melakukan sesuatu secara dengan diam- diam di belakang Asti. Seperti ketika orang tua Ninuk menengok Mbah Sanjaya yang dirawat di sebuah rumah sakit terbesar di Solo. Mbah Sanjaya adalah kakek Satrio. Penyakitnya itu dengan cepat menggerogoti tubuh tuanya. Sehingga lelaki kini hanya terbaring tak bergerak di ranjangnya, di rumah sakit dalam sebulan terakhir ini.
Begitu juga dengan Joko yang akan menengok Satrio karena mendengar dia mendapat perawatan di rumah sakit kota. Pria itu mengalami kecelakaan tunggal ketika motornya tergelincir di dekat jembatan di luar kota karena jalanan sangat licin setelah hujan turun dengan derasnya kemarin. Satrio memacu motornya itu terlalu cepat, dan kurang menguasai jalan di dekat jembatan itu yang terkenal sangat berbahaya. Pria itu terjatuh dari motor dengan sangat keras sehingga mengalami luka parah pada kaki kirinya dan harus menjalani operasi.
Joko jadi tidak jadi masuk ke tempat Satrio di rawat di sebuah ruangan perawatan kelas satu. Setelah dia melihat di kamar tempat Satrio dirawat itu ada Bude Widya, Ibunya Satrio yang menunggu. Pemuda itu segera berbalik keluar dari ruang khusus perawatan pasien, di lantai dua dari gedung utama rumah sakit.
Di halaman parkir ada dua motor besar yang sudah siap menunggu kedatangannya. Mereka itu Bambang dan Barep. Joko langsung duduk di boncengan Bambang.
" Kita balik saja, sebelumnya mampir ke perumahan dinas , ya. " Ucap Joko.
" Ada apa? " tanya Bambang
" Satrio sudah dijaga sama ibunya." kata Joko cukup tenang." Aku nggak mau cari ribut! dengan Wanita itu."
" Iyalah ... Masa kita harus lawan sama emak - emak, sama juga bohong. Nggak juga bisa menang. Malah malu !" teriak Barep konyol.
Segera kedua motor itu bergerak cepat, meninggalkan halaman rumah sakit yang cukup luas itu. Suara kedua motor itu membelah keramaian arus lalu lintas di kota tersebut menjelang tengah hari.
Mereka mengecilkan suara motornya, saat kedua motor itu mendekati area kompleks khusus.Tempat Asti dulu pernah juga tinggal di sana. Bambang mengantar Joko sampai di depan pintu ke rumah Ibu Anggita. Setelah mereka memasuki kompleks khusus tersebut.
" Om Joko! " Teriak salah satu dari si anak kembar tersebut ketika melihat anak Lek No itu turun dari motor sebuah motor besar di depan rumahnya.
" Ada ibu, nggak?"
" Ada! Bu, Ibu!" Teriaknya lantang.
Ibu Anggita keluar dari dalam rumah, tersenyum lega melihat Joko yang sudah duduk di teras ditemani salah satu anak kembarnya.
"Assalamu'alaikum, Bu!"
" Walaikum Salam, Mas Joko ," jawab ibu itu. "Ada berita apa ini, sampai mau mampir ke mari!"
__ADS_1
" Ini soal kecelakaan Satrio, Bu!"
"Lho, Pak Sadewo apa belum dapat beritanya, juga. Ya? Saya juga baru dengar nih, dari Mas Joko...."
" Saya baru dapat kabar kemarin malam, Bu. Tentang kecelakaan itu. Sebab sorenya Satrio itu di suruh datang oleh Bapak ke rumah. Karena beberapa hari sebelumnya, orang di sekitar sana sering melihat Satrio mengamati rumah Asti, ruko dan Akbar. Pertemuan mereka itu malah membuat Asti bertambah marah. Nggak tahunya Satrio mendapat kecelakaan setelah pulang dari rumah Asti, Bu." Lapor Joko
" Kok bapaknya anak- anak belum memberi tahu masalah itu ke saya, ya. Mas!"
" Itu juga yang saya minta sama Ibu. Jangan memberi tahu masalah ini kepada Asti. Sebab Satrio mengira semua kesulitan yang terjadi pada keluarganya akhir-akhir ini, karena kutukan yang diucapkan Asti. konyol nggak tuh, Bu!"
" Baik, Mas. Tetapi Mbak Asti masih tergabung di grup WA ibu-ibu yang masih di satu organisasi dengan kami, Mas! Sebab ada beberapa ibu- ibu yang cukup simpati dengan keadaan Asti. Jadi mereka berteman baik, kok..."
" Nggak apa-apa, Bu.!"
" Parah kah luka yang didapat Satrio?"
" Kata dokternya, kaki kirinya patah, dan sudah di operasi."
" Itulah, Mas. Doa perempuan yang didzolimi suaminya itu selalu dikabulkan oleh Allah. Kehamilan Zahra pun bermasalah. Jadi Ibunya Satrio yang sekarang menjaga istrinya itu di rumahnya sekarang..."
" Mau tinggal di mana lagi? Mereka juga sudah menikah secara sah secara agama dan negara."
" Bu, apa boleh saya minta nomor ibu dan Nomor Ibu Imelda?"
" Boleh Mas. Jadi nanti kalau ada hal yang penting langsung telpon saya saja. Jadi nggak perlu jauh - jauh datang ke mari!"
Wanita itu membuka hp dan menyebutkan dua nomor yang tadi diminta Joko untuk disimpan.
"Saya pamit, Bu!" Ujar Joko. Dia melambaikan tangan kepada si kembar yang masih duduk di depan teras. Mereka juga membalas lambaian Omnya Akbar itu dengan senang hati.
"Beres, Bro!" Sahut Joko.
__ADS_1
Kedua motor itu bergerak kembali menuju jalan ke arah luar kota. Mereka juga sempat melihat bekas kecelakaan motor Satrio sudah dibersihkan oleh beberapa petugas.
Pada sebuah rumah, yang tidak jauh di daerah pinggiran kota itu, mereka memasuki halamannya. Di rumah itulah tinggal Ipong dan kakak perempuannya, Mbak Dewi.. Mereka mempunyai usaha warung kopi. Karena rumah itu berada di depan jalan antar lintas kota yang ramai.
Mobil Avanza Joko terparkir di pojok halaman yang sebagian besar masih di penuhi semak- semak. Sebab tak jauh dari tempat itu ada sungai besar di bawahnya.
Di tempat inilah Joko berkumpul dengan teman- teman Bambang lainnya. Ketika siang hari, beberapa anggota kelompok itu bekerja di beberapa tempat. Ada yang membuka usaha bengkel motor, mempunyai percetakan, sampai sablon kaos.
"Terima kasih , Semuanya, ya. Kalau ada waktu mampir ke warung tendaku!" ujar Joko saat mau pamit.
Di menyalami semua orang yang hadir di sana. Sedikitnya Mbak Dewi tahu jalan cerita sepupunya Joko itu mirip dengan jalan hidupnya. Namun, Joko lebih berkepala dingin menghadapi musuh-musuhnya kali ini.
Mbak Dewi cukup trenyuh juga mendengar cerita Bambang dan Ipong tentang sepupunya Joko itu. Diselingkuhi suaminya yang mempunyai pekerjaan yang cukup baik. Namun wanita yang bernama Asti meninggalkan semuanya, karena sudah terlalu lama disakiti oleh suaminya itu. Hampir mirip dengan jalan hidupnya, yang kini harus mengais rezeki berjualan kopi di depan rumahnya, untuk menghidupi dirinya dan dua adiknya yang lain.
Kegiatan Asti di pasar sangat melelahkan. Menjelang hari pasaran di pasar itu, pengunjung memenuhi apa pasar dari pagi buta sampai menjelang siang.
Sebagian hijab koleksi terbaru di toko Asti menjadi incaran para ibu - ibu yang datang dari desa- desa yang paling pelosok sekali pun. Sebab kini ada trend baru, yaitu para wanita akan berpakaian gamis untuk menghadiri berbagai kegiatan di luar rumah. Misalnya ke acara arisan ibu- ibu di lingkungan, undangan pernikahan atau sunatan.
" Besok mau libur atau tutup aja, Dania?"
" Setengah hari aja, Mbak! Mumpung tanggal muda!"
" Ya, sudah. terserah kamu! Aku libur, ya. Kasihan Akbar ditinggal terus sama ibunya kalau pagi!" Jelas Asti.
" Kapan Mbak Asti mau belanja kerudung untuk stok toko. Aku mau ikut!"
" Ya, sudah. Besok siang aja. Nanti Akbar biar aku ajak belanja sekalian."
Hampir pukul 16.00. Barulah Dania dan Asti menutup toko mereka. Tadi Asti sempat membelikan Dania satu dus mie instan, gula, kopi dan telur ayam 1kg. Gadis itu menerimanya dengan mata berkaca- kaca.
Dania keluar lebih dahulu dari tempat parkir motor di belakang pasar. Motor yang dipakai Dania itu adalah motor lama milik Lek No. Sedangkan di rumah Lek No ada motor punya Asti dan sebuah mobil bak terbuka. Kemarin Lek No hampir saja mengambil kredit motor roda tiga untuk ke sawah. Tetapi Bulek Ratih melarangnya. Wanita itu takut tidak bisa membayar angsuran perbulan nya.
__ADS_1
Sayangnya kendaraan roda tiga seperti itu tidak terlalu nyaman untuk dibawa bepergian jauh. Lek No juga menolak saran Asti agar mobil bak terbukanya ditukar tambah dengan mobil yang lebih bagus lagi dan lebih muda umurnya.
Lelaki itu tetap menolak . Lek No lebih mementingkan untuk mengurus sawah dan kebunnya. Dengan mobil bak terbuka itu, urusan membawa berbagai barang untuk di sawah menjadi lebih mudah! Tak perlu mobil yang bagus juga. Asal merawat mesin mobil itu dengan apik, kendaraan itu masih dapat berjalan dengan baik.