
Pak Haji Anwar Sa'id sudah mulai membuka acara. Beliau melihat sebentar ke arah ibu dan kakak Pak Leon yang hadir sebagai bagian dari keluarga pria. Duduk agak jauh, adalah Damar dan Pak Cakra asisten Pak Leon. Mereka siap untuk mulai acara lamaran ini.
Para tetangga yang duduk di depan teras pun akan mendampingi Pak Leon. Olah karena karena pria itu sudah dianggap sebagai bagian dari masyarakat di lingkungan ini. Setelah tinggal cukup lama di paviliun yang merupakan rumah milik Pak RT Sembodo.
Secara umum, Pak Haji Anwar memaparkan tentang arti ikatan pernikahan. Juga kewajiban masing-masing seorang suami dan istri dalam sebuah ikatan pernikahan. Semua tamu mendengarkan ceramah singkat itu dengan khidmat.
" Bagaimana Nak Leon? Sudah siap kembali menjadi seorang suami yang bertanggung jawab dan seorang ayah bagi Akbar?"
" Siap, Pak Haji!" Jawab Leon sangat yakin.
"'Silakan!" ujar pria itu. Sebab Pak Leon akan menyampaikan niat sucinya itu tidak hanya di hadapan keluarga Asti. Juga disaksikan para tetangga mereka yang sudah mengenalnya dalam waktu lebih dari enam bulan.
" Nastiti Anjani, maukah kamu menikah denganku? Menjadi istri dan ibu dari anak-anakku kelak.?" Tanya Pak Leon pelan namun suaranya sangat jelas
"Ayok, Jawab Mbak!" Pinta Pak Haji Anwar. Semua orang terdiam, menunggu dengan agak tegang jawaban yang akan diberikan Mbak Asti, pada tawaran lamaran pria itu.
" Bismillah.... Saya mau menikah dengan anda, Pak Leon !" Jawab Asti pelan.
" Alhamdulillah!"
Ucapan itu keluar dari mulut Pak Sarno dan istrinya hampir berbarengan. Juga dari ucapan Ibu dan Kakak Pak Leon, Mbak Mesya Rubiandini Murti.
Segera saja Pak Cakra meletakkan dua kotak perhiasan itu di atas meja. " Ini adalah tanda kalau Mbak Asti sudah menjadi tunangan Pak Leon. Ini perhiasan merupakan hadiah dari keluarga Pak Leon. Sedangkan ini cincin pertunangannya!"
Semua orang terkesiap ketika Pak Leon membuka kotak besar berbalut beludru hitam itu. Isinya seperangkat perhiasan terbuat dari emas. Di sana ada kalung, liontin dan gelang yang serasi.
Ibunya Pak Leon secara simbolis memakaikan empat gelang di tangan kanan Asti. Sementara Mbak Misye berdiri dan memakaikan kalung di leher Asti.
Begitu juga dengan Pak Leon yang menyerahkan sebuah cincin berlian yang sangat indah. Asti memakai benda itu di jari manisnya sebagai tanda kalau dia adalah tunangan dari pria itu karena telah menerima lamarannya.
" Selamat datang di keluarga Murti. Saya senang dan bahagia kalau Asti segera menjadi adik ipar saya." Ujar Mbak Mesya agak terbata.
__ADS_1
Di ruang tengah, Ninuk menitikkan air mata. Bukan air mata kesedihan. Tetapi air mata kebahagiaan. Gadis remaja itu berharap pernikahan Mbak Asti nanti akan selalu dilimpahi kebahagiaan dan keberkahan.
" Bagaimana, Ibu Anggun Sarwenda Murti ? Pak No, memohon jangan terlalu lama mereka bertunangan. Segera saja kita menentukan hari baik untuk pernikahan mereka?"
" Saya setuju, Pak! Mungkin paling lambat bulan depan saja. Saya mohon doa dari para tamu dan keluarga yang hadir malam ini. Agar ayahnya Leon segera pulih sehingga dapat menyaksikan anak bungsu ini menikah dan kembali berumah tangga!"
Ada koor ucapan aamiin bersamaan, setelah Pak Haji Anwar juga mengirim surat alfatihah, untuk mendoakan kesembuhan ayah Pak Leon.
" Tentu dengan niat yang mulia, agar semua berjalan dengan baik. Bagaimana Nak Leon, bulan depan kita tentukan hari pernikahannya. Nanti Biar Pak No menentukan tanggal yang pas di hari baiknya itu!"
" Siap pak! "Jawab Pak Sarno antusias. " Begini Ibu Anggun dan Mbak Mesya... Asti hanya bersedia menikah secara sederhana saja. Tak perlu mengelar pesta dan resepsi besar- besaran. Apalagi bapaknya Nak Leon masih dalam masa pemulihan karena sakit. Jadi cukup pernikahan itu dilakukan secara sah menurut agama Islam dan hukum negara. Setelah itu, kami hanya akan mengadakan syukuran dengan mengundang semua penduduk di sini untuk makan- makan bersama."
Pak Leon menatap Asti agak lama. Padahal dia punya banyak kerabat dan teman bisnis yang berasal dari kota Semarang dan beberapa kota lain di Jawa Tengah ini. Namun dia juga harus menghargai permintaan calon istrinya itu. Untuk tidak menggelar acara pesta resepsi mewah dengan mengundang banyak tamu!
" Nggak apa-apa, Pak Sarno.! Saya akan memenuhi permintaan Asti. Bagaimana Ma?"
" Ya, Nggak apa-apa juga, Leon! Papamu juga belum tentu sanggup menghadiri sebuah perayaan atau pesta walaupun hanya sebentar. Mama setuju saja dengan acara syukuran itu. Sederhana tetapi penuh makna kekeluargaan."
" Asti kamu tidak menolak kan, kalau kita mengadakan acara syukuran yang agak besar setelah Papanya Leon sembuh dan sehat seperti sediakala. Sekaligus mengenalkan kamu sebagai menantu baru di keluarga kami?" tanya Ibu Anggun lagi.
" Satu lagi! " Potong Mbak Mesya cepat. " Asti coba ubah panggilan kamu, jangan panggil Pak Leon! Dia akan menjadi calon suamimu, kan ? Panggil yang mesra begitu. Tolong panggil aku, Mbak! Sedangkan ini Mama, alias calon Mama mertua!"
Semua tertawa dengan permintaan Mbak Mesya yang sebenarnya cukup sederhana. Sejak tadi mereka memang mendengar Asti masih memanggil Pak pada lelaki yang telah melamarnya hari ini.
" Bu Sarno? sudah siap?" tanya Pak Haji Anwar, bergurau. Dia menatap Bulek Ratih sebentar memberi kode untuk penutupan acara lamaran sederhana ini.
" Siap, Pak Haji ... Monggo, silahkan mencicipi hidangan yang telah kamu siapkan!" Kata Bulek Ratih yang sangat paham.
" Bu Sarno, jadi kita nggak boleh nambah, dong? Kan hanya dicicipi artinya hanya boleh makan sedikit!" Cetus Temannya Pak Haji Anwar konyol.
Semua bapak-bapak tertawa mendengar gurauan itu. Mereka sudah mendapatkan info sedikit. Kalau masakan Bu Ratih adalah juara di kelasnya. Sebab tongseng dan tengkleng beliau adalah menu favorit di warung tenda yang hanya dijual di setiap malam Minggu saja
__ADS_1
Lek No memandu para tamu menuju ruang tengah untuk mengambil hidangan . Termasuk Ibu Anggun dan Mbak Mesya.
Malah Pak Cakra membawa beberapa kantong tas menuju kamar Asti, diantar Bu Jum. Ternyata itu semua bingkisan hadiah dari sanak keluarga Pak Leon yang tinggal di Semarang. Mereka bersuka cita dengan niat lelaki itu untuk menikah lagi.
Rumah itu semakin ramai dengan berbagai obrolan akrab disertai menikmati hidangan dengan sate lontong yang lezat. Ada juga yang lebih memilih masakan tongseng dari Bu Ratih.
Asti memandang tumpukan hadiah yang tersusun di atas ranjangnya yang besar. Bulek Ratih hanya tersenyum sambil mengendong Akbar. Tadi Mbak Mesya pesan agar Asti menyimpan kembali perhiasan itu dengan hati- hati ke dalam wadahnya. Sebab rumah ini dipenuhi banyak tamu. Apalagi harga seperangkat perhiasan emas itu cukup mahal.
Sekarang Asti sudah melepas gelang, cincin dan kalungnya untuk disimpan di kotak safe depositnya. Benda berbentuk kotak besi itu dibelinya untuk menyimpan surat- surat penting, uang dan perhiasan miliknya.
" Akbar ngantuk, Nak?" tanya Asti lembut. Sambil mengusap kepalanya.
Bulek Ratih segera menidurkan Akbar di ranjang. Sebelum dia keluar dari kamar Asti untuk membantu para wanita di dapur. Walaupun dia tahu, Bu Ani dan ibu- ibu yang lain dapat diandalkan peranan mereka untuk malam ini.
Tiba - tiba saja pintu kamarnya diketuk. Di sana ada Mbak Mesya dan Leon. Mereka maklum, Asti masih di dalam kamar karena harus menidurkan Akbar terlebih dahulu.
" Hey, boy. Mau bobok?"
Mata Akbar menatap kehadiran Pak Leon dengan setengah mengantuk. Tak lama Bu Jum masuk membawa susu hangat dalam botol kecil.
" Sudah, Mbak! Biar Akbar sama saya dulu. Mbak Asti masih harus menemani para tamu!"
Pak Leon mengiringi Asti keluar dari kamar. Tadi Akbar menangis keras di lantai atas, karena mencari ibunya. Padahal biasanya juga dia tidur sama Bu Jum tanpa rewel atau menangis.
" Maaf, saya menidurkan Akbar dulu!" ujar Asti yang menemui Ibu RT yang sibuk mengurusi makanan di meja.
Di dalam kamar, Mbak Mesya ikut mengelus kepala Akbar sampai bayi ini terlelap. Wanita itu menatap Bu Jum yang mengurus Akbar sejak bayi itu berusia 5 bulan.
" Apa bapaknya nggak pernah jenguk anak ini, Bu?"
" Hanya sekali, Bu. Tetapi Mbak Asti melarangnya datang kembali. Sebab ucapan lelaki itu yang tidak mengakui Akbar sebagai anaknya sudah membuatnya sakit hati!"
__ADS_1
" Apa suami Mbak Asti kepincut wanita yang lebih muda? Padahal usia Asti pun belum 25 tahun kan?"
" Mas Satrio kena pelet gadis belia, Bu. Tetapi sangat mahir memanfaatkan situasi. Dia bisa melempar berbagai tuduhan yang anehnya dipercayai oleh Mas Satrio. Entah dosa apa nanti yang akan didapatkannya, karena melakukan banyak hal sampai dia bisa dinikahi oleh mantan suami Mbak Asti itu!"